Why I am Here?

21:54:00 Add Comment
Pernah merasa jenuh dengan rutinitas yang sama setiap hari? Rutinitas yang menuntutmu melakukan hal yang sama setiap harinya.

Tentu saja pernah, lumrah sebagai manusia seperti itu.

Dan tahukah kamu bahwa pekerjaan saya sebagai sekretaris desa adalah salah satu diantara pekerjaan yang mudah di serang kejenuhan kecuali bagi mereka yang mampu mengelola emosinya serta  tahu alasan kenapa dia di situ.

Lalu, bagaimana dengan saya?

Jujur dalam beberapa minggu terakhir ini saya merasa jenuh. Pekerjaan numpuk, internal yang masih butuh pembenahan serta jabatan baru yang membuat saya harus banyak belajar. Akan tetapi setelah merenung dan mencoba untuk instropeksi diri saya menemukan alasan, “Why?” Kenapa saya ditempatkan di balai desa?

Alasan tersebut merupakan proses tadabur yang jika saya selami lebih dalam bisa menjadi alasan penguat atau obat untuk sebuah kebosanan. Itu menurut saya, entah menurutmu.

Pertama, sebagai pelengkap.

Begini, di desa saya ada beberapa perangkat yang kurang menguasai komputer. Tentu saya memaklumi karena memang mereka adalah orang lama yang dulu tak pernah bersentuhan dengan komputer dan usianya juga lumayan sepuh. Di luar itu saya meyakini bahwa di masyarakat mereka punya pengaruh dan perannya masing-masing. Karena tuntutan sebagai perangkat desa itu bukan hanya sekedar administrasi namun semua yang berkaitan dengan persoalan di masyarakat, perangkat desa pasti ikut.

Tugas saya, melengkapi mereka dalam hal administratif dan hal lain yang berkaitan dengan aturan-aturan bagi desa.

Alasan kedua kenapa saya ditempatkan di balai desa adalah sebagai sarana kebermanfaatan. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain?

Manfaat di sini banyak bentuknya, mulai dari pelayanan kepada masyarakat, keberlangsungan tata pemerintahan yang muaranya adalah kebaikan untuk Desa Pringamba. Jika dirunut lagi, bagi saya ini bagian dari rasa cinta untuk Indonesia. Kenapa? Karena desa adalah bagain kecil dari Indonesia. So, menjadi perangkat desa sama halnya bagian dari Cinta Tanah Air. Bukankah begitu?


Dua hal tersebut adalah pembacaan atas apa yang saya alami. Sebagai penguat sekaligus pengingat sehingga saat kerja bisa memberikan yang terbaik. Kalau orang sering menyebutnya sebagai motivasi internal.


Puncak Midangan (Dokpri)

Pringamba, 19 Maret 2019

Curhat Hari Ini

21:23:00 Add Comment

Boleh saya bercerita? Tentang aktifitas hari ini yang cukup menyebalkan namun tetap harus saya syukuri.

Begini, pekerjaan di kantor sebenarnya lancar. Hanya saja cukup menumpuk gegara banyak yang tertunda. Berlebih tuntutan aturan membuat saya merasa pusing. Bukan pusing sakit tetapi karena banyak yang harus dikerjakan sementara raga tak bisa menjelma 10 laiknya Naruto.

Dari amatan saya selama bekerja di balai desa, ada satu syndrom yang bagi saya cukup merugikan terutama bagian pengembangan diri stagnan. Ini simpulan saat ini, kalau pada akhirnya nanti berubah ya tidak masalah.

Kenapa?

Pertama, lingkungan monoton yang membuat saya harus berinteraksi dengan orang yang sama setiap hari. Karakter, sifat dan semua yang melekat padanya membuat saya berpikir apakah selamanya saya akan bekerja di sini. Entahlah, hari ini saya ingin menikmatinya dulu.

Kedua, bekerja dengan orang lain itu beragam rupa. Ada yang rajin, ada yang tengah-tengah dan ada pula yang terlihat menyebalkan. Sebagai sekdes, itu tanggung jawab saya untuk mengkoordinir sekaligus tantangan. Apa yang bisa saya buat untuk memperbaikinya?

Yang membuat jenuh itu saat pekerjaan yang bukan tanggung jawabnya dilimpahkan begitu saja. Bisa saja saya menggunakan prinsip untuk menerima sebagai bahan untuk menaikan kemampuan, namun yang saya enggan adalah karena banyak tugas lain yang juga menuntut untuk segera diselesaikan. Sementara yang lain ada yang begitu acuhnya.

Sekali dua kali mungkin maklum, tetapi jika terus-terusan kan repot.

Saat hal ini terjadi, saya hanya ingat pada niatan awal ketika ingin mendaftar menjadi perangkat desa. Niatnya untuk ibadah sebagai wasilah agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Selebihnya, lakukan semampunya.

Pertanyaanya, apakah saya akan terus bertahan dengan pekerjaan ini? Entahlah, lihat saja nanti.

Yang jelas, saya harus bisa menjaga diri untuk selalu positif. Dan mengusahakan diri untuk selalu belajar.

Sekian.

“Tulisan ini hanya sebagai meditasi. Jangan anggap serius .. Haha”

Sumber : desapringamba.info

Solusi Saat Ini : Petakan dan Rumuskan Masalahnya

22:42:00 Add Comment

Sumber : Pixabay.com


Menjadi sekretaris desa ternyata bukan hal yang mudah, meski bukan berarti sulit. Yang jelas ada tanggung jawab lebih dibanding dengan perangkat lain, salah satunya mengkoordinir supaya pemerintahan di desa bisa berjalan lancar. Persis seperti fungsi yang ada dalam peraturan, sebagai koordinator. Hal tersebut merupakan tantangan saat ini yang menjadi PR dan harus saya selesaikan. Apa saja?

Pertama, kondisi kantor yang saat ini belum stabil. Masih ada yang cukup acuh dengan kehadiran, akibatnya timbul rasa kecemburuan antara satu sama lain. Meski hal ini bukan menjadi patokan utama namun setidaknya kehadiran itu lumayan berpengaruh terutama pada suasana kantor. Saya mengamati ada ketidakjelasan tentang apa yang harus dilakukan (untuk tidak mengatakan tidak tahu tugasnya, red).

Kedua, posisi saya sebagai orang baru dengan umur termuda cukup membuat saya iwuh jika ingin menegur. Ini PR kedua yang harus saya atasi. Solusinya, arahkan. Tentu dengan arahan yang jelas, ibarat mengarahkan seseorang untuk jalan ke arah barat maka saya wajib tahu kenapa ia harus berjalan ke barat. Tujuannya harus jelas, tidak mengambang.

Ketiga, bekerja di kantor itu bukan bekerja individu. This is team. Banyak orang dengan berbagai ragam karakter. Maka PR yang harus saya pecahkan adalah mengenali setiap perangkat satu per satu. Bukan hanya sekedar tahu namanya, namun sifat, karakter dan sisi kehidupannya pula sehingga saat ada sesuatu yang kurang pas maka saya bisa memandang dengan kacamata bijaksana.

Terakhir, pesan untuk diri saya sendiri, “Nikmati apa yang ada dihadapanmu. Fokuslah pada solusi bukan masalahnya. Apa yang sekiranya bisa kamu lakukan, lakukanlah. Tak perlu membandingkan tentang apa yang kamu lakukan dengan yang orang lakukan. Mulai petakan dan rumuskan apa yang terbaik untuk mengurai setiap PR yang kamu miliki.”

Tabik
Mad Solihin