Therapy Forgiveness, Terapi Menyembuhkan Rasa Kecewa

07:06:00

Pernah merasa kecewa atau marah dengan seseorang sehingga sampai hari ini masih menyisakan luka? Atau pernah merasa dikhianati sehingga sampai saat ini masih menyimpan dendam?

Jika itu yang kamu rasakan, sayapun pernah merasakannya. Dan itu sungguh menguras energi hingga pada akhirnya luka itu sembuh berkat Therapy Forgiveness, memaafkan.

Begini, dendam yang kita simpan sebenarnya laiknya pisau yang menikam tubuh kita. Kemanapun kita pergi, pisau yang menikam tersebut terus kita bawa. Bahkan semakin kita mendendam serta menceritakannya kepada orang lain, maka tikamannya semakin dalam dan tambah menyakitkan.

Curhat, bercerita tentang apa yang kita alami sama sekali tidak akan menyembuhkan. Apalagi cerita dengan tujuan agar orang lain tahu bahwa si A adalah pengkhinat sehingga yang mendengar akan iba dan mengiyakan lalu setuju bahwa kamu adalah korban. Ibarat tikaman, apapun obat yang kita gunakan sama sekali tidak ada gunanya jika pisau masih saja menusuk bagian tubuh kita. Lalu, apa solusinya?

Lepaskan dulu. Cabut tikaman pisau yang menusuk tubuh kita, baru setelah itu mencari obat dan menutupnya dengan perban.

Sama, dendam dan kecewa bisa kita obati setelah kita mencabutnya. Caranya? Dengan memaafkan. Kok bisa? Karana dengan memaafkan sama halnya kamu mencabut pisau tikaman di tubuhmu. Saya berani menjamin, saat dendam masih tersimpan maka energi kita sebagian akan dikeluarkan untuk memikirkannya. Saat melihat atau ada orang lain bercerita tentangnya maka hati kita menjadi bergemuruh, marah dan muak. Sia-siakah itu? Sangat sia-sia dan sama sekali tidak ada kebaikannya.

Pertanyaannya, “Apakah kamu ingin menyembuhkannya?”

Jika iya, maka maafkanlah. Sadari dan terima bahwa apapun yang terjadi kita punya peran disitu. Kecewa karena disakiti misal, disitu kita punya peran karena kita membiarkan seseorang hadir dalam kehidupan kita bukan?

Setelah menyadari dan menerima, tugas selanjutnya adalah kita mengikhlaskan dan memaafkannya.

Begini caranya. Pejamkan mata dan katakan ini sambil membayangkan orang yang pernah menyakiti kita, “Wahai .... (sebutkan nama) Terima kasih telah hadir dalam kehidupan saya. Mulai sekarang dan seterusnya, apapun yang telah terjadi saya menerimanya dengan ikhlas dan saya memaafkanmu. Saya ikhlas dan saya memaafkanmu. Saya ikhlas dan saya memaafkanmu. Saya ikhlas dan saya memaafkanmu. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.”

Itu yang saya lakukan atas apapun yang terjadi. Intinya menerima dengan ikhlas. Percayalah, jika kamu melakukannya dengan sungguh-sungguh maka hatimu akan terasa lega, lebih lapang dan perlahan perasaan kita menjadi normal kembali.

Terakhir, jika kesalahan itu merupakan kesalahan fatal dan besar menurutmu, satu pesan saya, “Maafkanlah kesalahannya tetapi jangan melupakannya.”

Tabik
Mad Solihin
Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day9

Sekretaris Desa, Penulis and Self Development

Artikel Terkait

Previous
Next Post »