Tertipu Gegara Tergiur Harga Murah

23:30:00

Dua hari yang lalu saya tergiur oleh akun istagram abal-abal penjual smartphone yang menampakan identitas sebagi penjual barang black market (BM) dengan harga serba Rp. 500.00,- Sialnya, karena dalam kondisi butuh dan sedang meminimalisir pengeluaran, saya tidak memikir dua kali ketika mata menangkap sinyal barang yang diinginkan ada di depan mata. Setelah menghubungi nomor penjual dan menanyakan barang ready stok, saya segera mentransfer uang dan berharap barang akan cepat sampai. Sayangnya, itu palsu.

Hal tersebut saya ketahui ketika siang tadi ada nomor yang menghubungi saya dengan mengatasnamakan pihak bea cukai. Katanya karena barang tersebut termasuk ilegal saya harus mentrasnfer senilai Rp. 3.700.000,- untuk damai dan sebagai pengganti PPN. Katanya lewat JNE, kenapa sampai di tangan pihak bea cukai ya? Kejanggalan pertama.

Awalnya cukup panik karena disertai ancaman jika tidak mau membayar maka barang akan dibawa ke kantor kepolisian. Saya hubungi pihak penjual abal-abal. Gila, dia menyarankan untuk mengikuti apa yang diminta oleh orang yang mengatasnamakan petugas bea cukai. Katanya jika saya membayarnya, uangnya akan dia ganti minggu depan. Sampai bawa-bawa nama dunia akhirat ketika saya meragukan omongannya. Modus untuk mengelabui korban.

Kecurigaan saya pun muncul. Jika saya mentransfer otomatis pihak penjual juga akan mendapat jatah. Pada titik ini saya mengira bahwa pihak penjual barang black market kerja sama dengan pihak bea cukai yang merugikan pembeli. Modusnya si penjual pura-pura tidak tahu.

Sebenarnya ketika ada nomor yang menghubungi dengan memasang profil petugas bea cukai, jelas terasa kejanggalannya. Kenjanggalan kedua. Logikanya, jika memang benar barang dijual dengan harga murah dan itu dilarang, tentu sang penjual juga paham bagaimana cara menghindarinya. Nah ini justru saya yang di umpankan sebagai mangsa untuk membayar pajak. Logikanya jika barang sudah di toko, jasa pengirman entah JNE/Tiki/Pos tentu tidak akan menyitanya karena yang dikirim barangnya jelas bukan obat terlarang atau senjata terlarang.

Untuk memastikan kebenarannya maka saya menghubungi teman di Jogja yang mempunyai konter hp untuk meminta saran. Dia bilang jangan mau karena sudah pasti penipuan. Katanya, dulu temannya juga pernah mengalaminya, kasusnya bukan smartphone tetapi laptop. Uang 3 juta bablas, hilang sia-sia. Selepas telfon maka nomor yang tadi menghubungi saya blokir untuk menghindari teror. Niatan untuk transfer juga saya abaikan.

Untuk meyakinkan, saya mengecek informasi mengenai apa yang saya alami di internet. Ternyata memang benar bahwa banyak pihak yang mengatasnamakan petugas bea cukai untuk menakut-nakuti mangsanya dengan no +885. Setelah saya cek nomor yang digunakan ternyata nomor ID Taiwan +886 bukan ID Indonesia. Modus untuk menghilangkan jejak.

Menyadari atas apa yang terjadi hari ini, saya langsung melakukan terapy healing dengan metode reframing untuk menghilangkan penyesalan yang sia-sia. Pertama, apapun yang terjadi, saya sadar bahwa saya mempunyai peran disini. Artinya hal tersebut terjadi karena saya tergiur oleh harga murah dan mau melakukan transfer. Kedua, saya menerima kejadian ini bahwa saya telah tertipu. Saya mengakuinya. Ketiga, saya mengikhlaskan uang yang sudah saya transfer dan memaafkan orang tersebut.

Terakhir saya mencoba untuk menarik garis kesimpulan bahwa pengalaman itu mahal. “Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu, termasuk tahu bahwa ada beberapa penjual abal-abal dengan harga murah dibawah harga kewajaran adalah penipu.”

Prinsip ini juga berlaku untuk apapun, jika kamu ingin mendapatan sesuatu yang lebih maka kamu harus rela membayar dengan harga yang mahal. Harga disini bisa berupa tenaga, waktu dan pikiran bukan hanya uang.

Menyesalkah saya?


Tidak. Saya bahkan menghargai dan mensyukuri atas apapun yang saya alami sebagai sumber pembelajaran. Dan pengalaman ini saya tulis untuk saya dedikasikan buat diri saya sendiri sebagai alarm pengingat dan untuk kamu yang membaca agar jangan mengalami apa yang saya alami. Salam.

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day5
30 Days Challenge Writing

Sekretaris Desa, Penulis and Self Development

Artikel Terkait

Previous
Next Post »