Namaku Hujan

07:23:00

Perkenalkan namaku Hujan. Orang biasa memanggilku dengan sebutan hujan, gerimis ataupun kremun. Aku adalah orang yang kehadirannya dirindukan. Jika lama tak kelihatan biasanya orang-orang akan bertanya, kapan aku datang, sudah lama aku tak datang dan berbagai ungkapan lain yang menginginkanku segera muncul.

Sayangnya harapan itu membingungkanku lantaran saat aku hadir, keluhan menyerbuku. Kenapa hujan terus, kapan terangnya, jangan hujan dulu atau yang lebih parah orang-orang menyalahkanku karena hadirku membuat beberapa tempat menjadi banjir. Hello, bukankah itu salah mereka?

Begini, saat diriku lama tak turun sebenarnya aku sedang memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertindak dan bersikap baik. Membersihkan sungai dari tumpukan sampah bukan menambahi dengan yang baru. Membuat peresapan air agar aku bisa lewat bukan dicor dengan adukan semen sehingga aku harus mencari resapan dengan mengalir ke tempat yang rendah.

Ah, manusia. Kenapa pula masih menyalahkanku padahal mereka sendiri yang membuat kerusakannya. Mereka tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tapi buktinya? Mereka dengan seenaknya mengotori jalan dan sungai dengan bungkus makanan yang mereka makan. Pertanyaannya, apakah ilmu yang mereka dapat hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau agar dianggap orang berpendidikan. Hah?

Seharusnya mereka intropeksi dan belajar dariku. Aku sama sekali tak membedakan mana yang kaya dan miskin, mana yang taat dan yang maksiat, mana yang sudah menikah atau jomblo. Aku datangi mereka semua tanpa terkecuali. Tidak seperti hukum, mereka mimilih datang pada yang berduit. Masih salahkah aku?

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day16

Sekretaris Desa, Penulis and Self Development

Artikel Terkait

Previous
Next Post »