Namaku Hujan

07:23:00 Add Comment

Perkenalkan namaku Hujan. Orang biasa memanggilku dengan sebutan hujan, gerimis ataupun kremun. Aku adalah orang yang kehadirannya dirindukan. Jika lama tak kelihatan biasanya orang-orang akan bertanya, kapan aku datang, sudah lama aku tak datang dan berbagai ungkapan lain yang menginginkanku segera muncul.

Sayangnya harapan itu membingungkanku lantaran saat aku hadir, keluhan menyerbuku. Kenapa hujan terus, kapan terangnya, jangan hujan dulu atau yang lebih parah orang-orang menyalahkanku karena hadirku membuat beberapa tempat menjadi banjir. Hello, bukankah itu salah mereka?

Begini, saat diriku lama tak turun sebenarnya aku sedang memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertindak dan bersikap baik. Membersihkan sungai dari tumpukan sampah bukan menambahi dengan yang baru. Membuat peresapan air agar aku bisa lewat bukan dicor dengan adukan semen sehingga aku harus mencari resapan dengan mengalir ke tempat yang rendah.

Ah, manusia. Kenapa pula masih menyalahkanku padahal mereka sendiri yang membuat kerusakannya. Mereka tahu bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik, tapi buktinya? Mereka dengan seenaknya mengotori jalan dan sungai dengan bungkus makanan yang mereka makan. Pertanyaannya, apakah ilmu yang mereka dapat hanya sekedar menggugurkan kewajiban atau agar dianggap orang berpendidikan. Hah?

Seharusnya mereka intropeksi dan belajar dariku. Aku sama sekali tak membedakan mana yang kaya dan miskin, mana yang taat dan yang maksiat, mana yang sudah menikah atau jomblo. Aku datangi mereka semua tanpa terkecuali. Tidak seperti hukum, mereka mimilih datang pada yang berduit. Masih salahkah aku?

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day16

Lulus Tes, Awal dari Sebuah Perjuangan Baru

11:29:00 Add Comment

Hari ini untuk kedua kalinya saya mengikuti tes pendaftaran perangkat desa. Jika satu tahun lalu saya mendaftar untuk posisi Kasi Pemerintahan maka pendaftaran kali ini untuk posisi Sekretaris Desa. Lebih bergengsi? Tentu saja. Tetapi bukan soal jabatan yang saya kejar bahkan untuk mendaftar awalnya juga tidak ada niatan. Hanya saja dorongan dari orang-orang terdekat yang meminta dan memang ada kesempatan, sayang rasanya jika tidak diambil maka setelah itu saya meniatkan diri untuk mengikuti penjaringan dan penyaringan perangkat desa lagi.

Syukur alhamdulillah, perjuangan untuk mengikuti tes seleksi membuahkan hasil. Nilai ujian hari ini mendapat peringkat pertama lagi. Itu artinya tugas saya lebih menantang lagi. Ada amanah yang lebih besar yang saya emban. So, lulus tes adalah awal dimulainya perjuangan baru.

Melalui tulisan ini saya ingin mengingatkan diri saya sendiri bahwa menjadi apapun adalah sebuah sarana melakukan kebaikan dan kebermanfaatan untuk orang lain, termasuk menjadi sekretaris desa. Maka, meniatkan diri sejak awal menjadi pondasi yang sangat penting. Niatkan untuk beribadah kepada Allah melalui jalur membantu orang lain, meniatkan diri untuk belajar pada level lebih tinggi dan tentunya meniatkan diri untuk melakukan kebaikan demi kemajuan desa.

Pasalnya sekretaris desa adalah orang nomor satu dalam hal administrasi, maka wajib untuk selalu belajar dan merendahkan hati. Menjaga sikap dan attitude, siap dengan resiko yang ada dan tentunya harus mulai membaur lebih akrab dengan masyarakat.

Pertanyaanya, apakah ini pucak tarakhir dari karir saya?

Saya tidak tahu. Hari ini saya ingin menikmati apapun yang ada. Melakukan apa yang ada di depan mata. Melakukan yang terbaik sebisa mungkin. Mensyukuri apapun yang terjadi. Bismillah.
Bersama Peserta Tes Sekretaris Desa
#30DWC #30DWCJilid16 #Day15

Ibu, Orang yang Tidak Pernah Berhenti Berdoa untuk Anaknya

20:51:00 Add Comment

Ibu, beliau adalah salah satu orang yang selalu khawatir dengan keadaan saya. Meskipun saya terbilang orang yang sejak kecil tidak berada di rumah namun sampai hari ini kekhawatiran ibu selalu ada saat saya berpergian. Biasanya beliau akan bersungut-sungut meminta bapak untuk menanyakan kabar saya, posisi dimana, pulang kapan dan bagaimana keadaan saya, intinya beliau ingin memastikan bahwa saya dalam keadaan baik-baik saja. Hal ini saya tahu kerena kebiasaan beliau saat ingin menanyakan kabar kakak perempuan saya yang ada di Jambi biasanya diawali dengan raut wajah sebel lantaran bapak menyikapinya dengan santai.

Tak hanya itu, dalam pesannya bapak juga menyelipkan kata-kata bahwa beliau bertanya karena ibu yang memintanya. Berlebih ungkapan ibu saat saya sedang di rumah juga pernah mengutarakan bahwa beliau merasa tidak tenang saat saya berpergian dan tak ada kabar. Entah karena saya anak terakhir atau alasan lain, yang jelas saya menangkap hal ini sebagai sinyal bahwa beliau sangat menyanyangi anaknya termasuk diri saya.

Bagi saya, ibu adalah orang terbaik yang ada dalam kehidupan saya. Beliau adalah orang yang selalu saya mintai doa restu saat melakukan sesuatu. Dan saya meyakini bahwa beliau adalah orang yang selalu menyebut nama saya dalam doanya tanpa saya meminta. Haqul yakin bahwa keberkahan dan kemudahan yang saya dapat hari ini adalah berkat doa beliau yang tidak pernah berhenti.

Terima kasih ibu atas kebaikan yang engkau berikan selama ini. Semoga lelahmu menjadi lantaran turunnya berkah dari Sang Pencipta. Selalu diberkahi dengan kesehatan dan kemudahan. Aamiin

__
Note : Tuhan, tulisan ini adalah refleski pribadi. Semoga Engkau ijinkan hamba-Mu ini untuk selalu berusaha menerbitkan senyum di wajahnya. Kepada pembaca, doakan ibu saya agar selalu sehat dan diberkahi umur panjang ya. Aamiin

Sumber : Dokpri
#30DWC #30DWCJilid16 #Day14 #MADSOLIHIN

Konggres, Moment Penentuan Harapan Baru

06:50:00 Add Comment

Sudah beberapa hari ini saya absen menulis. Bukan malas tetapi lebih karena keadaan dimana sejak Jum’at malam sampai Selasa saya berada di Cirebon, tepatnya di pondok Pesantren KHAS Kempek, tabarukkan dalam acara Konggres IPNU IPPNU.

Konggres ini adalah salah satu agenda wajib tiga tahunan dimana disitu terjadi penentuan Ketua Pimpinan Pusat IPNU IPPNU. Pemikiran saya mumpung masih ikut di IPNU, jadi sayang kalau melewatkan moment ini. Selain Konggres ada juga Konferensi Wilayah (Konferwil) untuk pemilihan ketua tingkat provinsi, sedangkan untuk Kabupaten atau Kota namanya Konferensi Cabang (Konfercab) dan untuk tingkatan kecamatan namanya Konferensi Anak Cabang (Konferancab).

Lalu, tidak bisakah saya menulis di sana?

Sulit. Begini ceritanya. Sewaktu di area konggres saya ikut salah satu teman yang menjadi tim sukses salah satu calon ketua. Pada akhirnya saya ikut menjadi salah satu orang yang berdiri di barisannya. Walhasil saya belajar bagaimana dinamika kontestasi pemilihan ketua itu berlangsung. Seru dan asyik ternyata. Hal itu membuat saya sulit meluangkan waktu untuk menulis berlebih batre hp sengaja saya awetkan agar tidak cepat ngedrop dengan mematikan paket data.

Moment ini adalah moment penentuan dimana harapan menjadi tumpuan saat menentukan siapa yang harus dipilih, A atau B. Harapan akan kebaikan dan kemajuan IPNU IPPNU kedepan meski pada kenyataannya ada orang yang berdiri dibalik layar, orang yang mengback-up segala keperluan termasuk ketika terpilih. Orang dibalik layar inilah yang akan menjadi link dalam melakukan kebijakan. Tantangannya, seberapa bijak ketua terpilih dalam memanfaatkan jaringan tersebut. Kekuasaannya hanya untuk orang yang mendukung dan mengabaikan orang yang tidak memilih atau sama adilnya?

Terakhir, Selamat Kepada Rekan Aswandi atas terpilihnya sebagai Ketua PP IPNU 2018-2021 dan Rekanita Nurul Hidayati Ummah atas terpilinya sebagai Ketua PP IPPNU 2018-2021. Semoga amanah dan mampu membawa organisasi menjadi lebih baik lagi.

Logo Konggres IPNU IPPNU
#30DWC #30DWCJilid16 #Day13

Jangan Menilai Seseorang dari Covernya

18:07:00 Add Comment
Kemarin malam saat bertemu dengan seseorang dengan pakaian kaos dan celana jeans, saya mengira dia orang biasa hingga pada saat kami duduk dan cerita, ternyata ada hal unik dan luar biasa yang melekat dalam kisah hidupnya.

Ceritanya, dia adalah seorang santri yang dulunya ketika di pondok tidak pernah memikirkan bagaimana keadaan nantinya. Menjadi pengusaha sama sekali tidak pernah ada dalam bayangannya.

Hingga pada waktu mukim dia ditawari untuk membeli usaha batako dengan harga 250 juta. Paket usaha sekaligus 8 karyawan yang dulu bekerja di sana.

Usaha batako ini adalah milik seorang pemuda Jakarta yang menikah dengan gadis desa putri dari kepala desa setempat. Setelah menikah pemuda ini diberi modal untuk membuka usaha batako hingga sukses.

Delapan tahun berjalan dan usaha semakin maju. Hanya saja kesuksesannya justru membuatnya kluyuran, selingkuh dengan wanita lain. Mengegahui hal ini, sang istri menggugatnya dan berakhir cerai. Hal tersebut membuat usaha batako yang dirintis tutup. 

Momen itulah yang akhirnya menjadi berkah buat Muhummad Ismun. Dia ditawari untuk membeli usaha batako tersebut. Meski awalnya ragu tetapi atas saran dari sang karyawan bahwa usaha ini menjanjikan maka dibelilah dengan harga 250 juta yang harus dilunasi dalam tempo dua bulan.

Setelah dibeli, usaha tersebut langsung dibuka. Atas izin Tuhan, hasil dari usaha tersebut mampu melunasi 250 juta dengan tempo 2 bulan. 

Mendengar cerita tersebut, saya geleng kepala karena takjub yang pada akhirnya memberikan pesan untuk diri saya supaya jangan melihat seseorang hanya dari covernya saja. Karena dibalik cover, kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya.

Sumber :Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day12
Melawan Takut

Melawan Takut

05:42:00 Add Comment
Hari ini saya memberanikan diri untuk ikut acara Konggres IPNU IPPNU di Cirebon, sebuah forum tertinggi sebagai ajang pemilihan ketua Pimpinan Pusat IPNU IPPNU periode 2018-2020.

Lalu apa yang saya takutkan?

Sebenarnya bukan takut, lebih tepatnya khawatir tatkala ada pekerjaan yg harus diselesaikam namun posisi tidak di rumah. Hanya itu sebenarnya.

Namun jika dipikir ulang, pekerjaan adalah rutinitas yang tidak akan pernah selesai, hanya beda momen. Selesai satu pekerjaan, pekerjaan lain masih menunggu diselesaikan. Pada poin ini, deadline menjadi hal yang menuntut. Tapi yang pasti, pekerjaan masih tetap berjubel.

Pandangan tersebutlah yang mendasari saya kenapa memberanikan diri ikut hurmat Konggres dalam rangka mencari berkah para masyayih Nahdlatul Ulama. Minimal saat bertemu dengan teman-teman dari berbagai daerah cukup menjadi penghibur atas kejenuhan yang kadang mendera saat aktifitas tidak sesuai harapan.

Dan resep yang saya pakai saat takut melanda adalah lawan. Lawan dengan melakukan apa yang ditakutkan. Saat hal itu terjadi, percayalah kekhawatiran dan ketakutan itu hanya ilusi belaka. Pikiran yang mengganjal untuk beralih dari zona nyaman ke zona yang lebih menantang.

#30DWC #30DWCJilid16 #Day11

Give The Best for You

02:52:00 Add Comment

Beberapa hari ini saya cukup disibukkan dengan urusan perkantoran, apalagi akhir tahun harus membuat laporan pertanggungjawaban. Maklum, uang yang digunakan adalah milik negara sehingga pelaporan adalah hal yang wajib. Sekecil apapun anggaran yang dipakai maka harus ada laporan penggunaannya untuk apa? Apakah sesuai dengan peraturan atau tidak?

Jlimet, tentu saja. Tetapi itulah cara kerja pemerintahan dalam memproteksi adanya pelanggaran meski sebenarnya masih ada celah yang bisa digunakan untuk melakukan pelanggaran. Maka jangan heran ketika banyak berita beredar mengenai kasus korupsi atau kepala desa yang terciduk gara-gara menggunakan Dana Desa. Ada dua kemungkinan, pertama ril memang itu dilakukan atau yang kedua, salah dalam administrasi. Bentuknya? Bisa laporan yang kurang lengkap atau penggunaannya tidak sesuai dengan peruntukannya. Note, meskipun uang itu real dibelanjakan tetapi tidak sesuai administrasi, ya tetap salah.

Menyikapi kejadian tersebut maka disinilah peran amanah pegawai diuji. Tentang cara kerja, kejujuran dalam melakukan pekerjaan dan ketelitian pembuatan laporan sebagai bentuk transparasi anggaran. Sebagai bukti bahwa pegawai melakukan pekerjaan dengan benar.

Pertanyaannya, sesuaikah gaji dengan pekerjaan yang dilakukan?

Bagi saya inilah tantangan kedua. Kenapa? Karena dari apa yang dilakukan untuk ukuran seseorang yang telah berkeluarga, penghasilannya tidak mencukupi. Berlebih sudah mempunyai anak dan menanggung biaya sekolah. Itu yang saya lihat dari beberapa rekan kerja di kantor.

Maka give the best for you, memberikan perform terbaik adalah tantangan tersendiri. Pada posisi ini kita dituntut untuk kreatif dalam memecahkan masalah. Menyelesaikan tugas dan tanggungjawab kantor serta mencari peluang sampingan untuk bisa menopang urusan keluarga tetap terjaga, dapur mengepul dan kendil tidak jomplang.

Apa yang saya ceritakan diatas adalah salah satu diantara alasan kenapa saya memulai belajar bisnis online di Akademi Bisnis Digital (ABDI). Pertama, sebagai lelaki yang nantinya menjadi kepala keluarga maka mau tidak mau harus bisa mencukupi kebutuhan keluarga. Kedua, karena bisnis online ini bisa dilakukan dimanapun asal terkoneksi internet. Panduannyapun lengkap, mudah dipahami dan aplikatif. Bisa dikatakan ini menjadi solusi atas tanggungjawab yang besar namun imbalan belum sesuai yang diharapkan.

Lalu apa itu Akademi Bisnis Digital?

Info lebih lengkapnya Anda bisa mengunjungi link ini, Panduan Memulai Bisnis Onlinedari Nol.

Tabik
Mad Solihin


#30DWC #30DWCJilid16 #Day10

Therapy Forgiveness, Terapi Menyembuhkan Rasa Kecewa

07:06:00 Add Comment

Pernah merasa kecewa atau marah dengan seseorang sehingga sampai hari ini masih menyisakan luka? Atau pernah merasa dikhianati sehingga sampai saat ini masih menyimpan dendam?

Jika itu yang kamu rasakan, sayapun pernah merasakannya. Dan itu sungguh menguras energi hingga pada akhirnya luka itu sembuh berkat Therapy Forgiveness, memaafkan.

Begini, dendam yang kita simpan sebenarnya laiknya pisau yang menikam tubuh kita. Kemanapun kita pergi, pisau yang menikam tersebut terus kita bawa. Bahkan semakin kita mendendam serta menceritakannya kepada orang lain, maka tikamannya semakin dalam dan tambah menyakitkan.

Curhat, bercerita tentang apa yang kita alami sama sekali tidak akan menyembuhkan. Apalagi cerita dengan tujuan agar orang lain tahu bahwa si A adalah pengkhinat sehingga yang mendengar akan iba dan mengiyakan lalu setuju bahwa kamu adalah korban. Ibarat tikaman, apapun obat yang kita gunakan sama sekali tidak ada gunanya jika pisau masih saja menusuk bagian tubuh kita. Lalu, apa solusinya?

Lepaskan dulu. Cabut tikaman pisau yang menusuk tubuh kita, baru setelah itu mencari obat dan menutupnya dengan perban.

Sama, dendam dan kecewa bisa kita obati setelah kita mencabutnya. Caranya? Dengan memaafkan. Kok bisa? Karana dengan memaafkan sama halnya kamu mencabut pisau tikaman di tubuhmu. Saya berani menjamin, saat dendam masih tersimpan maka energi kita sebagian akan dikeluarkan untuk memikirkannya. Saat melihat atau ada orang lain bercerita tentangnya maka hati kita menjadi bergemuruh, marah dan muak. Sia-siakah itu? Sangat sia-sia dan sama sekali tidak ada kebaikannya.

Pertanyaannya, “Apakah kamu ingin menyembuhkannya?”

Jika iya, maka maafkanlah. Sadari dan terima bahwa apapun yang terjadi kita punya peran disitu. Kecewa karena disakiti misal, disitu kita punya peran karena kita membiarkan seseorang hadir dalam kehidupan kita bukan?

Setelah menyadari dan menerima, tugas selanjutnya adalah kita mengikhlaskan dan memaafkannya.

Begini caranya. Pejamkan mata dan katakan ini sambil membayangkan orang yang pernah menyakiti kita, “Wahai .... (sebutkan nama) Terima kasih telah hadir dalam kehidupan saya. Mulai sekarang dan seterusnya, apapun yang telah terjadi saya menerimanya dengan ikhlas dan saya memaafkanmu. Saya ikhlas dan saya memaafkanmu. Saya ikhlas dan saya memaafkanmu. Saya ikhlas dan saya memaafkanmu. Terima kasih, terima kasih, terima kasih.”

Itu yang saya lakukan atas apapun yang terjadi. Intinya menerima dengan ikhlas. Percayalah, jika kamu melakukannya dengan sungguh-sungguh maka hatimu akan terasa lega, lebih lapang dan perlahan perasaan kita menjadi normal kembali.

Terakhir, jika kesalahan itu merupakan kesalahan fatal dan besar menurutmu, satu pesan saya, “Maafkanlah kesalahannya tetapi jangan melupakannya.”

Tabik
Mad Solihin
Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day9

Hidup Itu Sawang Sinawang

07:38:00 Add Comment

Kemarin saya pergi ke toko untuk membeli peralatan tulis kantor (ATK) karena salah satu tugas yang saya miliki sebagai Kasi Pemerintahan adalah mengurusi kegaiatn kantor dengan segala tetek bengeknya. Toko Ria, begitulah nama yang terpampang di depan gedung dan di stempel kwitansi pembelian. Yang menarik adalah saya yang biasanya cuek dengan kehidupan orang lain, kemarin mencoba mengawali pembicaraan dengan pertanyaan kepada cewek penjaga toko tersebut.

Jangan tanya pada saya siapa namanya karena saya juga tidak tahu. Pertanyaan saya bukan menjurus pada gombalan anak muda yang memecah keheningan dengan pertanyaan basa-basi. Ada beberapa pertanyaan yang saya ajukan. Sudah berapa lama kerja disini? Tokonya buka sampai jam berapa? dan Apakah minggu buka?

Tiga pertanyaan itu cukup membuat saya instropeksi diri, merenung untuk mensyukuri apa yang saya miliki. Pertama, si cewek itu sudah 5 tahun bekerja di situ. Kedua, buka dari pagi sampai jam 5 sore, istirahat dan buka lagi jam setengah tujuh sampe jam sembilan malam. Ketiga, minggu libur. Toko tutup.

Menariknya adalah simpulan saya hidup itu sawang sinawang memang begitu adanya. Saya bisa saja berseloroh, “Wah dia beruntung ya kerja di sana, tidak capek dan tidak pusing memikirkan SPJ.” Padahal, mungkin dia juga ingin seperti orang lain.

Hidup itu aneh. Kadang kita ingin seperti orang lain tetapi orang lain ingin seperti kita.

Termasuk ketika saya melihat dari sudut pandang orang luar melihat si cewek bekerja di toko alat tulis kantor tersebut, tentu saja saya akan berkomentar, “Kerjanya enak banget. Sante lagi.” Itu kacamata saya sebagai orang luar, padahal dia bekerja sudah 5 tahun dengan rutinitas yang sama. Hanya minggu yang libur. Gaji, maybe kisaran 1-2 jutalah. Terus saya bilang enak?

Itulah hidup. Kita kadang membayangkan tentang apa yang terjadi pada orang lain terlihat lebih menyenangkan sehingga kita lupa untuk mensyukuri atas apa yang kita punya. So, sudahkah kamu mensyukuri apapun yang kami miliki saat ini?

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day8

Bekerjalah Untuk Diri Sendiri Bukan Untuk Perusahaan

01:40:00 Add Comment
Sumber : Pixabay(dot)com
Beberapa hari terakhir ini saya tidur cukup larut malam. Alasannya? Mengonline-kan website desa.

Begini ceritanya. Tahun 2018 ini pemerintah desa menganggarkan dana untuk mengaktifkan Sistem Informasi Desa (SID) berupa website sebagai media untuk trasnfer informasi seputar kegiatan desa. Selain karena ada aturan yang mengharuskan, ada juga unsur untuk menciptakan keterbukaan informasi kepada masyarakat terkait kegiatan pemerintahan desa.

Pada poin ini saya sebenarnya punya dua pilihan, pertama meminta pihak lain untuk mengurus terkait setting hosting, domain beserta tetek bengek lain perihal website. Saya hanya memberinya uang sebagai ungkapan terima kasih yang penting terima beres. Atau memilih poin kedua, mengurus sendiri dan oprek sendiri lantaran belum pernah melakukan sebelumnya.

Dihadapkan pada dua pilihan di atas saya teringat sebuah pesan yang disampaikan oleh Andra Donatta, “Bekerjalah untuk diri sendiri bukan untuk perusahaan.” Penjelasannya begini, saat kita bekerja untuk perusahaan otak kita akan berpikir bahwa apapun yang kita lakukan perusahaanlah yang untung. Padahal saat kita menerima tanggungjawab lebih seperti saya memilih untuk mengurus dan mengonlinekan sendiri, saya sedang membangun skill baru. Dan ini jelas lebih menguntungkan. Kamu tahu kenapa? Karena dengan tanggungjawab baru ini saya jadi mempunyai skill baru. Dan skill baru ini melekat bukan pada perusahaan atau lembaga dimana saya bekerja tetapi melakat pada diri saya sendiri.

Itulah alasan kepana saya lebih memilih menerima tanggungjawab ini meskipun resikonya saya harus meluangkan waktu lebih banyak daripada yang lain dan berpikir lebih banyak dari yang lain.

So, siapapun kamu dan dimanapun kamu bekerja, saat menerima tantangan baru, terima saja. Termasuk kamu yang saat ini menerima tanggungjawab sebagai guardian di program 30 Days Writing Challenge, saya yakin kamu akan mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang lebih dari yang lain. Pun saya meyakini bahwa pengalaman yang kamu dapatkan itu melekat pada dirimu. Bahkan saat program 30DWC ini selesai, ilmunya akan selalu terbawa.

Tabik
Mad Solihin
#30DWC #30DCWJilid16 #Day7 

Merasa Tak Berguna? Ini Cara Saya Mengatasinya

07:41:00 Add Comment

Ada satu moment dimana saat itu saya merasa menjadi orang yang tak berguna, idealisme untuk menjadi seperti superhero muncul namun betolak dengan realita. Ada rasa iri kenapa saya tak seproduktif dan sebermanfaat orang lain. Bahkan aktifitas bercengkrama dengan orang lain terasa menjadi hal yang sia-sia. Bagaimana denganmu, apakah pernah merasakannya?  

Tentu saya tak ingin perasaan tersebut berlarut sehingga saat hal itu muncul saya mencoba untuk mengcounter dengan merenung dan mencari tahu apa sebabnya. Maka muncullah insight bahwa perasaan tersebut hadir karena saya tidak mempunyai live maping dan redupnya prinsip yang saya miliki. Pada poin ini saya tidak tahu apa sebenarnya yang saya inginkan sehingga gagasan untuk menyusun daftar Skala Prioritas dan daftar “To do list” sebuah rincian tentang apa saja hal yang harus saya lakukan bisa menjadi solusi. Pasalnya saat hal tersebut berlarut saya akan merendahkan diri melaui self talk negatif.

Bahayakah ini? Tentu.

Saat kita merendahkan diri maka yang muncul hanya perasaan dan pikiran negatif. Akibatnya jelas, kita tidak bisa melakukan sesuatu dengan sempurna. Yang ada hanya klaim saya gak bisa, saya gak becus dan saya saya lain yang cenderung negatif. Padahal jika kita cepat menyadarinya maka kita bisa memperbaiki prinsip yang redup tersebut dengan cepat. Caranya, kita mengontrol pikiran dan perasaan atas apa yang terjadi dengan renspon positif. Karena setiap hal yang terjadi semua bersifat netral sampai kamu memberikannya arti negatif atau positif.

Sumber : Pixabay(dot)com

#DWC30 #DWCJilid16 #Day6 #Squad1
#30DaysChallengeWriting

Tertipu Gegara Tergiur Harga Murah

23:30:00 Add Comment

Dua hari yang lalu saya tergiur oleh akun istagram abal-abal penjual smartphone yang menampakan identitas sebagi penjual barang black market (BM) dengan harga serba Rp. 500.00,- Sialnya, karena dalam kondisi butuh dan sedang meminimalisir pengeluaran, saya tidak memikir dua kali ketika mata menangkap sinyal barang yang diinginkan ada di depan mata. Setelah menghubungi nomor penjual dan menanyakan barang ready stok, saya segera mentransfer uang dan berharap barang akan cepat sampai. Sayangnya, itu palsu.

Hal tersebut saya ketahui ketika siang tadi ada nomor yang menghubungi saya dengan mengatasnamakan pihak bea cukai. Katanya karena barang tersebut termasuk ilegal saya harus mentrasnfer senilai Rp. 3.700.000,- untuk damai dan sebagai pengganti PPN. Katanya lewat JNE, kenapa sampai di tangan pihak bea cukai ya? Kejanggalan pertama.

Awalnya cukup panik karena disertai ancaman jika tidak mau membayar maka barang akan dibawa ke kantor kepolisian. Saya hubungi pihak penjual abal-abal. Gila, dia menyarankan untuk mengikuti apa yang diminta oleh orang yang mengatasnamakan petugas bea cukai. Katanya jika saya membayarnya, uangnya akan dia ganti minggu depan. Sampai bawa-bawa nama dunia akhirat ketika saya meragukan omongannya. Modus untuk mengelabui korban.

Kecurigaan saya pun muncul. Jika saya mentransfer otomatis pihak penjual juga akan mendapat jatah. Pada titik ini saya mengira bahwa pihak penjual barang black market kerja sama dengan pihak bea cukai yang merugikan pembeli. Modusnya si penjual pura-pura tidak tahu.

Sebenarnya ketika ada nomor yang menghubungi dengan memasang profil petugas bea cukai, jelas terasa kejanggalannya. Kenjanggalan kedua. Logikanya, jika memang benar barang dijual dengan harga murah dan itu dilarang, tentu sang penjual juga paham bagaimana cara menghindarinya. Nah ini justru saya yang di umpankan sebagai mangsa untuk membayar pajak. Logikanya jika barang sudah di toko, jasa pengirman entah JNE/Tiki/Pos tentu tidak akan menyitanya karena yang dikirim barangnya jelas bukan obat terlarang atau senjata terlarang.

Untuk memastikan kebenarannya maka saya menghubungi teman di Jogja yang mempunyai konter hp untuk meminta saran. Dia bilang jangan mau karena sudah pasti penipuan. Katanya, dulu temannya juga pernah mengalaminya, kasusnya bukan smartphone tetapi laptop. Uang 3 juta bablas, hilang sia-sia. Selepas telfon maka nomor yang tadi menghubungi saya blokir untuk menghindari teror. Niatan untuk transfer juga saya abaikan.

Untuk meyakinkan, saya mengecek informasi mengenai apa yang saya alami di internet. Ternyata memang benar bahwa banyak pihak yang mengatasnamakan petugas bea cukai untuk menakut-nakuti mangsanya dengan no +885. Setelah saya cek nomor yang digunakan ternyata nomor ID Taiwan +886 bukan ID Indonesia. Modus untuk menghilangkan jejak.

Menyadari atas apa yang terjadi hari ini, saya langsung melakukan terapy healing dengan metode reframing untuk menghilangkan penyesalan yang sia-sia. Pertama, apapun yang terjadi, saya sadar bahwa saya mempunyai peran disini. Artinya hal tersebut terjadi karena saya tergiur oleh harga murah dan mau melakukan transfer. Kedua, saya menerima kejadian ini bahwa saya telah tertipu. Saya mengakuinya. Ketiga, saya mengikhlaskan uang yang sudah saya transfer dan memaafkan orang tersebut.

Terakhir saya mencoba untuk menarik garis kesimpulan bahwa pengalaman itu mahal. “Ada harga yang harus dibayar untuk mendapatkan sesuatu, termasuk tahu bahwa ada beberapa penjual abal-abal dengan harga murah dibawah harga kewajaran adalah penipu.”

Prinsip ini juga berlaku untuk apapun, jika kamu ingin mendapatan sesuatu yang lebih maka kamu harus rela membayar dengan harga yang mahal. Harga disini bisa berupa tenaga, waktu dan pikiran bukan hanya uang.

Menyesalkah saya?


Tidak. Saya bahkan menghargai dan mensyukuri atas apapun yang saya alami sebagai sumber pembelajaran. Dan pengalaman ini saya tulis untuk saya dedikasikan buat diri saya sendiri sebagai alarm pengingat dan untuk kamu yang membaca agar jangan mengalami apa yang saya alami. Salam.

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day5
30 Days Challenge Writing

Menulislah Untuk Diri Sendiri

22:47:00 Add Comment

Jika kamu merasa tidak percaya diri atas apa yang kamu tulis, pesan saya, “Menulislah untuk dirimu sendiri. Dedikasikan tulisanmu untuk dirimu bukan untuk orang lain.” Percayalah, saat kamu mengikuti nasehat ini maka beban self talk negatifmu akan berkurang. Karena pada kenyataannya apapun yang muncul dari pikiranmu itu hanya sugesti yang tak berdasar.

Prinsip inilah yang saya terapkan untuk diri saya saat ini. Kenapa? Karena saat namamu belum terpatri di hati orang lain maka apa yang muncul serasa tak bernilai sebagaimana ungkapan dari Founder Alibaba, Jack Ma. “Ketika kamu miskin, belum sukses, semua kata-kata bijakmu terdengar seperti kentut. Tapi ketika kamu kaya dan sukses, kentutmu terdengar sangat bijak dan menginspirasi.”

Ungkapan itu berlaku untuk hal apapun. Maka tugas kita saat ini adalah memberikan yang terbaik termasuk dalam hal menulis. Boleh jadi apa yang kita tulis hari ini seperti tak bernilai tetapi 10 tahun kedepan akan menjadi inspirasi sehingga banyak orang menjadikannya sebagai referensi dan quote bijak. Bisakah seperti itu? Tentu saja.

Pesan kedua untuk diri sendiri, tulislah sesuatu dengan hati sehingga yang membaca juga menerimanya dengan hati. Tulislah apa yang ingin kamu tulis. Jangan terlalu banyak mikir tulisannya bagus atau tidak? Tulis saja. Karena perihal kualitas akan terbentuk seiring banyaknya jam terbangmu dalam mendalami dunia tulisan. Perihal pembaca, percayalah  setiap tulisanmu punya jodohnya sendiri. Tulis saja. Dedikasikan saja untuk diri sendiri dulu. Kalaupun nantinya banyak yang membaca dan menginspirasi anggap saja itu bonus.

Hanya itu pesan saya. Selamat menulis dan semoga tulisan ini berjodoh denganmu.

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Day4
30 Days Challenge Writing

Jangan Menjadi Orang Lain, Melalahkan. Sungguh!

22:25:00 Add Comment

Jika tak suka pedas jangan paksakan diri untuk makan dengan sambal meski orang-orang disekitar melakukannya. Tidak enak dan rugi sendiri. Sama, dalam kehidupan kamu tidak perlu menjadi orang lain agar bisa diterima. Memakai topeng dalam setiap interaksi itu sungguh melelahkan dan meresahkan. Maka, jadilah dirimu sendiri.

Saya mengalaminya. Tahu rasanya? Melelahkan, sungguh. Beneran.

Jujur, saya adalah tipikal orang yang suka dengan kesunyian. Berinteraksi dengan orang lain seperlunya. Kalaupun berkumpul dengan orang lain saya lebih banyak diam, bicara sesekali saat benar-benar dirasa penting. Apalagi dengan orang baru, kadang cukup sulit mencari topik pembicaraan. Hal itu menjadi salah satu diantara alasan kenapa saya suka dengan dunia tulis menulis. Kenapa? Karena dengan menulis saya mampu menuangkan apa yang saya rasakan dengan bebas.

Dalam group online seperti WA, telegram, facebook ataupun group-group lain saya juga lebih banyak menjadi silent reader. Lebih banyak mengamati, comment seperlunya dan memilih untuk japri langsung jika ada keperluan. Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa menerima kenyataan ini dan rasanya lebih nyaman. Berbeda dengan dulu saat memaksakan diri untuk menjadi orang lain, menjadi orang rame yang ternyata itu menyiksa.

Saya sadar segala sesuatu ada nilai positif negatifnya. Menjadi orang yang rame misalnya, biasanya orang di sekitar akan lebih banyak karena pertemuannya menjadi hidup. Topik pembicaraannyapun biasanya selalu ada.

Apakah saya ingin berubah? Tentu saja. Namun kunci awal dari perubahan adalah menemukan kesadaran akan diri sendiri dan menerimanya dengan ikhlas. Mengakui bahwa diri saya orang pendiam dan tidak suka keramaian, misal. Setelah sadar maka tugas saya adalah belajar untuk membuka diri dan memperbaikinya. Ibarat gelas gosong, untuk bisa di isi air maka harus tahu bahwa gelas tersebut memang kosong dan siap untuk diisi. Intinya, menyadari diri sendiri dan menerimanya dengan ikhlas.

Lantas, sudahkah kamu menyadari bagaimana diri kamu sebenarnya dan menerinya dengan ikhlas?

Sumber : Pixabay(dot)com
#30DWC #30DWCJilid16 #Squad1 #Day3

Cintai Apa yang Kamu Lakukan

21:47:00 2 Comments
Sumber : Pixabay(dot)com
Pernah membandingkan pekerjaanmu dengan orang lain? Saat perjalanan pulang misal, melihat montir bengkel motor, penjual bakso dengan gerobak dorong, tukang cuci motor ataupun tukang somay yang menjajakan dengan cara memikul?

Dulu awal-awal bekerja di balai desa saya sempat gelisah, masih selalu mencari peluang di luar yang sekiranya lebih sesuai passion. Akibatnya pikiran menjadi bercabang dan tidak fokus. Bekerjapun masih setengah hati. Baguskah itu? Tentu saja tidak. Bekerja sesuai passion atau menjalankan hobi yang dibayar tentu menjadi impian setiap orang tetapi bukan berarti mengabaikan apa yang sudah didapat dengan cara bekerja asal-asalan.

Ada sebuah ungkapan yang saya dapat dari status istagram teman, Kamil namanya. “Jika engkau tidak mendapatkan apa yang kamu cintai maka cintailah apa yang kamu dapatkan?”

Ungkapan tersebut cukup menyentuh apalagi sebelumnya telah mendengar ceramah dari seorang kyai yang mengatakan bahwa apa yang kita lakukan bisa bernilai ibadah. Apapun itu. Menjadi tukang tambal ban contohnya. Jika dengan menambal ban bocor bisa membuat pemilik sepeda motor kembali bekerja, bukankah menambal ban juga bernilai ibadah. Apakah bermanfaat? Pasti. Saya meyakini hal itu. Berlebih hasil dari pekerjaannya untuk menafkahi keluarga dan membiayai sekolah anaknya. Double manfaatnya.

Prinsip inilah yang mungkin menjadi jawaban atas apa yang saya cari. Who am I? Apa alasan Tuhan menciptakan saya?

Setelah belajar mengamati dan melakukan banyak perenungan ternyata intinya sederhana, bersyukur. Bersyukur atas apa yang kita miliki hari ini, bersyukur atas apa yang kita alami sampai hari ini dan bersyukur atas segala nikmat Tuhan yang tak bisa dinilai. Caranya? Hadirkan cinta dalam setiap hal yang kita lakukan.

Dampaknya luar biasa. Fokus kita akan berubah, bukan pada mencari pekerjaan yang terlihat lebih menguntungkan tetapi pada apa yang bisa kita lakukan untuk menebar manfaat lebih banyak. Sebagai perumpamaan, bekerja menjadi perangkat desa sebenarnya banyak yang bisa saya lakukan, membuat vidio perihal tata cara membuat ktp, akta, kartu keluarga atapun vidio informasi lain yang isinya bersentuhan langsung dengan masyarakat. Bukankah itu bermanfaat? Pasti.

So, sudahkah kamu mencintai apa yang kamu lakukan?

#30DWC #30DWCJilid16 #Day2
#30DaysChallengeWriting

Alasan ikut Program 30 Days Challenge Writing

18:07:00 2 Comments
Sumber : Pixabay(dot)com

30 Days Writing Challeng adalah program yang sudah cukup familiar di telinga saya, pasalnya dalam beberapa postingan Istagram, Mas Rezky Firmansyah selaku inisiator beberapa kali menyebutnya, bahkan saya tahu pembukaan  Program 30 Days Writing Challenge jilid 16 ini dari istigramnya beliau. Pertanyaannya kenapa saya tertarik ikut program ini?

Helvy Tiana Rossa dalam salah satu vidio yang saya tonton di youtobe pernah berujar bahwa menulis itu ibarat berenang. Sepandai apapun seseorang mempelajari teori tentang renang tetapi tidak pernah menceburkan diri ke air, maka selamanya tidak akan pernah bisa berenang. Kuncinya, nyebur ke air. Begitu pula dengan seorang penulis, kuncinya ya menulis, menulis dan menulis.

Nah program 30 DWC bagi saya adalah salah satu tempat untuk menggembleng diri, membangun habit dan menciptakan kebiasaan menulis dengan cara langsung praktek laiknya belajar berenang, not only about theory. Poin ini menjadi alasan pertama saya ikut program ini.

Challenge, mendapat tantangan adalah alasan kedua saya ikut. Pasalnya, saya merasakan sendiri dan mengamati jika seseorang mendapat tantangan biasanya kekuatan yang ada dalam dirinya akan muncul. Bahasa akrabnya, the power of kepepet. Berlebih ada deadline dan sanksi tersendiri jika melanggar.

Challenge ini tidak lain merupakan solusi atas musuh terbesar seseorang yang mendeklarasikan diri menjadi penulis yaitu tidak konsisten dan malas. Adanya program 30 DWC ini menjadi semacam kawah candradimuka yang hasilnya ada dua, terpental karena tidak kuat atau bertumbuh lebih cepat. Apalagi adanya support komunitas yang mempunyai hobi sama dan mentor yang membimbing. Hasilnya akan lebih powerfull. Semoga.

Terakhir, siap untuk perang?? Let’s go to start war in the sea of words.

#30DWC #30DWC16 #Day1

Memulai Bisnis Online

23:53:00 Add Comment
Sumber : Pixabay(dot)com


Sejujurnya saya tak pandai dan tak suka dengan yang namanya menjual. Hanya saja fakta mengenai bisnis adalah tentang jual beli, not money if not selling. Itu artinya saya harus belajar tentang jual beli, titik.

Berawal dari ikut acara Internet Marketer Nahdlatul Ulama (IMNU) di Ponpes Entrepreuner Ar-Ridwan Wonosobo, saya mulai tertarik dengan bisnis online. Ekspetasi awal saat ikut sebenarnya karena berkaitan dengan internet yang salah satunya ada materi tentang blogging, dunia yang selama ini saya minati. Berlanjut dengan materi tentang bisnis online yang memanfaatkan media sosial seperti facebook dan istagram untuk jualan. Hal itulah yang melatarbelakangi saya akhirnya terjun dan belajar lebih dalam tentang bisnis online.

Sebagai awalan saya mencoba menghubungi teman untuk ikut menjajakan barangnya hingga akhirnya menemukan salah satu akun istagram yang membuka lowongan sebagai reseller. Saya hubungi nomor yang ada di bagian description dan mendaftarkan diri untuk jadi reseller. Walhasil, saya membuat toko online di Istagram sesuai dengan penjelasan yang saya dapatkan dari materi di dropshipaja(dot)com.

Apakah langsung berhasil? Tidak. Saya baru mendapatkan pembeli kurang lebih 3 bulan setelah toko online saya buat karena memang waktu itu belum paham mengenai cara mendapatkan atau mendatangkan traffic pengunjung ke toko online yang saya kelola.

Di sela-sela itu, karena ketertarikan pada bisnis online akhirnya membuat saya banyak berselancar untuk mencari-cari informasi hingga ketemulah Akademi BisnisDigital (ABDi).

Saya tonton vidio satu dan duanya yang disediakan GRATIS. Saya pelajari lagi vidionya dan akhirnya saya gabung. Mindset saya dulu saat gabung adalah investasi leher ke atas jauh lebih baik daripada dihabiskan tidak jelas, artinya apa yang berkaitan dengan otak berupa ilmu akan kembali berkali lipat dari nilai yang kita tukarkan untuk gabung. Itu yang mendasari saya kenapa saya beranikan diri untuk bergabung.

Akademi Bisnis Digital, Bisnis Online, Bisnis Digital
Sebagian Materi di Akademi Bisnis Digital (Dikpri)

ABDi inilah yang menjadi titik pertama saya mempelajari dasar-dasar mengenai dunia bisnis online. Mulai dari produk yang ideal untuk dijual, sistem leanding page yang bagus, alur sistem audience dari cold ke warm sampai ke hot audeince, serta bagaimana cara beriklan dengan tarffic gratisan dan paid traffic berupa FB Ads dan Istaram Ads.

Beruntungnya, karena sistem webinarnya memang di desain secara terstruktur mulai dari nol sampai bisa beriklan di FB Ads membuat saya lebih mudah mempelajari saat ada materi lain. Berlebih ilmunya aplikatif, artinya toton dan praktek. Untungnya lagi di ABDi ini sudah disediakan produk bagi orang-orang yang belum mempunyai produk dan ingin memulai bisnis online yang artinya bisa sebagai tambahan penghasilan.

Info lengkap tentang Akademi Bisnis Digital (ABDI) bisa klik disini.

Kenapa Harus Berbisnis?
Karena dengan bisnis penghasilan yang biasanya didapat dalam waktu satu bulan bisa di didapat dalam waktu satu atau tiga hari. Alasan inilah yang pada beberapa waktu terakhir ini menguatkan saya lebih mendalami mengenai bisnis online.

Bayangkan, jika sekali transaksi dapat keuntungan 500 ribu maka hanya dalam 3 hari dapat keuntungan setara gaji 1 bulan. Gila kan?

Andai saya tahu bisnis seasyik ini, saya menyesal kenapa baru memulai. But I know, never late to start. Tidak ada kata terlambat untuk memulai.

Pringamba, 05 November 2018