WHAT'S NEW?
Loading...

Pesan Bapak, Ambil Saja!


Kembali ke rutinitas, berseragam dan kantor. Sesutau yang dulu persah saya hindari, bekerja tetapi bebas tanpa terikat harus memakai baju apapun. Tetapi nyatanya takdir berkata lain, balai desa dengan aturan baju kheki setiap senin dan selasa menjadi hal yang mau tidak mau harus saya patuhi. Meski awalnya males juga tetapi seiring berjalannya waktu saya pun sudah mulai berdamai. Bukankah memang seperti itu seharusnya? Berdamai adalah cara terbaik move on dari masa lalu.

Pagi ini langit sedang mendung ketika saya berangkat. Mood yang saya jaga agar tetap baik ternyata berubah gegera bata yang dipesan tak sesuai harapan. Bata 500 buah yang dipesen kepada Pak Bambang dibarengkan dengan pemesanan bata untuk Paud Lestari yang mangkrak laiknya Hambalang, kualitasnya jelek.

Hal yang membuat mood saya berubah adalah ketika bata itu saya bawa dan tunjukan kepada bapak namun reaksinya mengisyaratkan kekecewaan. Meski tak diperlihatkan dengan ucapan, akan tetapi rasa sensitif saya mengiyakan akan isyarat itu. Setelah saya konsultasikan ke Pak Bambang, ia tak mempermasalhkan ketika pemesanan itu saya batalkan karena ia memahami bahwa kualitas batanya tak sesuai harapan. Plong, lega rasanya.

Namun kelegaan itu lenyap ketika saya mengirim sms ke bapak mengabarkan bahwa bata yang sudah dipesan tidak diambil. Jawabannya, kon jikot bae. Suruh diambil saja.


Entahlah, perintah itu di ambil masih dalam rasa kecewa atau karena terpaksa sudah kadung pesan. Benar-benar mbingungi, menyisakan rasa bersalah. Dan sampai tulisan ini dibuat, saya belum mengkonsultasikan lagi ke Pak Bambang terkait bata yang kata bapak suruh diambil saja.

Pringamba, 27 November 2017

0 komentar:

Post a Comment