Pesan Bapak, Ambil Saja!

Pesan Bapak, Ambil Saja!

11:15:00 Add Comment

Kembali ke rutinitas, berseragam dan kantor. Sesutau yang dulu persah saya hindari, bekerja tetapi bebas tanpa terikat harus memakai baju apapun. Tetapi nyatanya takdir berkata lain, balai desa dengan aturan baju kheki setiap senin dan selasa menjadi hal yang mau tidak mau harus saya patuhi. Meski awalnya males juga tetapi seiring berjalannya waktu saya pun sudah mulai berdamai. Bukankah memang seperti itu seharusnya? Berdamai adalah cara terbaik move on dari masa lalu.

Pagi ini langit sedang mendung ketika saya berangkat. Mood yang saya jaga agar tetap baik ternyata berubah gegera bata yang dipesan tak sesuai harapan. Bata 500 buah yang dipesen kepada Pak Bambang dibarengkan dengan pemesanan bata untuk Paud Lestari yang mangkrak laiknya Hambalang, kualitasnya jelek.

Hal yang membuat mood saya berubah adalah ketika bata itu saya bawa dan tunjukan kepada bapak namun reaksinya mengisyaratkan kekecewaan. Meski tak diperlihatkan dengan ucapan, akan tetapi rasa sensitif saya mengiyakan akan isyarat itu. Setelah saya konsultasikan ke Pak Bambang, ia tak mempermasalhkan ketika pemesanan itu saya batalkan karena ia memahami bahwa kualitas batanya tak sesuai harapan. Plong, lega rasanya.

Namun kelegaan itu lenyap ketika saya mengirim sms ke bapak mengabarkan bahwa bata yang sudah dipesan tidak diambil. Jawabannya, kon jikot bae. Suruh diambil saja.


Entahlah, perintah itu di ambil masih dalam rasa kecewa atau karena terpaksa sudah kadung pesan. Benar-benar mbingungi, menyisakan rasa bersalah. Dan sampai tulisan ini dibuat, saya belum mengkonsultasikan lagi ke Pak Bambang terkait bata yang kata bapak suruh diambil saja.

Pringamba, 27 November 2017

Membangun Desa Berbasis Data

08:12:00 Add Comment
Penyampaian Materi oleh Mas Edi (Dokpri)
“Terkumpulnya bahan pokok penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa adalah inti dari kegiatan Sekolah Pembaharuan Desa agar APBDes atau Dana Desa digunakan sesuai aturan dan tepat sasaran,” itulah poin yang saya tangkap dari pertemuan asistensi pendidikan pembaharuan desa oleh Mba Alimah dan Mas Edi pada hari Minggu (12/11).

Ada beberapa tahapan yang saya tahu, pertama sosialisasi. Ini menjadi hal yang sangat penting mengingat atmosfir orang pedesaan adalah orang yang acuh, tidak suka ribet apalagi kumpulan. Berlebih kebanyakan sudah berkeluarga, lebih baik ke kebun ngurus tanaman salak.

Kedua, pembagian kelompok. Dari orang-orang yang ikut dalam Sekolah Pembaharuan Desa, dibagi menjadi empat kelompok atau tim yaitu, Tim Aset dan Potensi Desa, Tim Marginal, Tim Kesejahteraan dan Tim Kewenangan.

Ketiga, penugasan lapangan. Kegiatan yang ketiga ini berupa survei langsung ke masyarakat, mencari data sebagaimana mekanisme yang sudah dijelaskan dalam pertemuan sebelumnya.

Keempat, pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data ini berpedoman pada survei yang telah dilakukan oleh masing-masing tim. Artinya setiap tim mempunyai data sendiri dengan kriteria yang berbeda antar tim. Namun semuanya mempunyai muara yang sama, yaitu sebagai pedoman pemerintah dalam melakukan pembangunan di desa. Data yang telah terkumpul tersebut kemudian diolah, dipilah-pilah dan dikelompokan pada 4 bidang pembangunan desa, yaitu bidang pemerintahan, bidang pembangunan, bidang pembinaan masyarakat dan bidang pemberdayaan masyarakat.

Jika penyusunan RPJMDes biasanya difokuskan pada kebutuhan dan usulan masyarakat saat Musrengbangdes, maka dalam kegiatan Sekolah Pembaharuan Desa diajari untuk menyusun atas dasar data apresiatif. Yaitu data yang dikumpulkan atas partisipatif masyarakat desa.

Data apresiatif ini akan menjadi rujukan saat pemerintah desa bermaksud melakukan pembangunan ataupun memberikan bantuan kepada masyarakat. Selain itu, data ini mampu meminimalisir kecemburuan dan penyelewengan, bahwa si A dekat dengan Kades maka di bantu, atau si B keluarga Kades maka mendapat prioritas bantuan. Dengan data yang telah terkumpul, masyarakat mampu mengontrol sekaligus mengusulkan siapa yang berhak menerima bantuan.

Selain beberapa hal di atas, data tersebut juga menjadi kunci dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) satu tahun yang akan datang. RKPDes tersebut pada akhirnya di bawa dalam forum Musrengbangdes untuk mendapat pengesahan sekaligus dibuatkan peraturan desa (Perdes).

Dalam kesempatan tersebut, selaku pamateri Mas Edi juga menyampaikan bahwa awal mula adanya APBDesa adalah untuk mempercepat pembangunan, mempercepat pengentasan kemiskinan dan kemandirian desa. Maka sudah seharusnya masyarakat dilibatkan dalam penyusunan APBDesa tersebut.


Pringamba, 22 November 2017

Mimpi Itu Bayar, Tidak Gratis

13:19:00 2 Comments

Ada ketenangan saat persyaratan tahap II program RKMentee2018 terselesaikan. Setidaknya saat besok bangun pagi saya sudah tidak lagi memikirkan tentang bagaimana vidionya. Ada kelegaan dan mungkin bisa membuat tidur malam ini nyenyak. Kira-kira begitu yang saya rasakan sekarang. Kepanikan yang sempat muncul kini telah lenyap.



Bagiamana tidak panik, saat mendapat pengmuman lolos pendaftaran RKMentee2018 tahap I, saya harus membuat dua vidio untuk persyaratan tahap II. Ini benar-benar menantang saya untuk keluar dari zona nyaman dan menembus dunia yang tak pernah saya jajaki. Ada memang teman yang biasa membuat vidio, sayangnya mereka di Jogja. Gak mungkin kan saya ke Jogja hanya untuk membuat vidio, selain tidak mungkin karena alasan pekerjaan, juga karena bisa saja ia sedang sibuk dengan kegiatannya.

Belum lagi ketika di vidio tersebut saya harus menceritakan tema pendidikan (tema yang saya pilih dari beberapa tema) dan How do you see yourself in 10 years? Jika membuat tulisan mungkin saya akan bisa lebih santai, tetapi ini vidio. Saya harus berhadapan dengan camera pula. Hal yang selama ini saya hindari selain berfoto.

Namun dari situ saya menjadi terpacu untuk bisa menjadi vidio maker. Mendokumentasikan kehidupan di sekitar, salah satunya kegiatan yang ada di desa.

Persyaratan yang wajib saya penuhi jika ingin lolos seleksi tersebut membuat saya belajar untuk membuat vidio. Awalnya bingung, apakah dengan animasi atau rekaman langsung. Browsing, mencari referensi di istagram dan youtobe. Bongkar pasang aplikasi, download vidio maker di playstore. Tidak cocok, hapus. Download lagi yang lain, tidak cocok, hapus lagi. Maklum, memori internel terbatas. Jadi ketika ingin memasang aplikasi baru, aplikasi lama yang sudah terpasang harus saya hapus.

Tak hanya itu, saya juga belajar menulis scrip dan menghafalkannya. Saat perekaman, beberapa kali mengalami kesalahan. Rekam, ada yang kelupaan, berhenti kemudian hapus. Rekam lagi, salah, ulang lagi. Hingga pada akhirnya menetapkan vidio yang saya upload ke istagram sebagai vidio terakhir yang saya anggap baik.

Apakah langsung berhasil? Ternyata tidak. Ukuran vidio terlalu besar sehingga tidak bisa diupload  ke istagram ataupun dikirm lewat email.

Browsing lagi, bagaimana cara mengecilkan ukuran vidio? Hingga ketemu aplikasi VidCompact untuk mengkompres agar ukuran vidionya menjadi kecil. Sayangnya, kualitasnya menjadi berubah agak buruk. Karena tinggal satu hari, maka saya mengusahakan selesai hari ini. Takut besok terbentur dengan kegiatan yang lain.

Benar kata Mas Budi Waluyo, mimpi itu bayar. Bukan dengan uang, melainkan dengan ketekunan, kerja keras dan pantang menyerah.

Akhirnya, apapun hasilnya saya sudah melakukan dan mengusahakannya dengan maksimal. Tinggal berdoa, semoga Allah mengabulkan dan meloloskan pada tahap selanjutnya. Aamiin


Pringamba, 17 November 2017

Investasi Leher Ke Atas

11:01:00 Add Comment

Setiap bulan harus ada investasi yang saya keluarkan.
Inilah prinsip yang sekarang saya pegang terutama untuk investasi leher ke atas. Kenapa? Karena jika saya tak menyisihkan uang untuk investasi maka seberapun uang yang saya miliki akan habis tak berbekas. Rugi kan?

Seperti halnya bulan ini, saya menyisihkan uang untuk membeli buku Dream Book. Satu motivasi saya, untuk mengisi otak agar tak kekeringan.

Perihal buku, sekarang saya juga lebih selektif. Jika dulu yang penting murah dan terlihat menarik, maka sekarang saya lebih memilih buku yang memang benar-benar saya butuhkan, buku yang mampu mendukung tercapainya apa yang saya impikan.

“Kenapa saya butuh buku ini? Apa manfaatnya? Apakah ini akan mendukung saya dalam mengupgrade diri saya menjadi lebih baik?”


Dokpri

Pringamba, 16 November 2017
Pentingnya Pendidikan Masyarakat Desa

Pentingnya Pendidikan Masyarakat Desa

08:35:00 Add Comment

Banyak hal yang harus diperbaiki, begitulah simpulan saya setelah tepat satu bulan bekerja di balai desa. Tentang pekerjaan yang belum sesuai tupoksi, dana yang terbatas hingga kesejahteraan yang saya amati menjadi alasan untuk bekerja musiman. Bagi saya orang awal tentu tidak terlalu mempermasalahkan karena baru memulai belajar dan belum punya tanggungan keluarga, berbeda dengan mereka yang sudah mempunyai keluarga bahkan cucu malah.

Tulisan ini tidak akan menyoroti hal itu, tetapi lebih kepada masayarakat desa. Kenapa mereka harus pintar dan sekolah tinggi? Kenapa mereka harus peduli dengan pendidikan jika akhirnya juga bekerja di kebun?

Pertanyaan itu terjawab dalam rentang waktu satu bulan. Inisiatif untuk membuat Komunitas Pringamba Cerdas pun menunai jawaban dan alasan yang logis. Alasan untuk memperjuangkan dan merealisasikan sebagai bentuk kepedulian dan sarana untuk bermanfaat bagi masyarakat.

Beberapa jawaban yang juga saya sebut alasan adalah :

Lahan Semakin Sempit
Ada status facebook yang cukup menggelitik, bahwa orang tua bolehlah kaya, lahannya banyak dan itu cukup untuk diwarisakan kepada anak-anaknya. Tetapi bagaimana kedepan saat sang anak berumah tangga dan mempunyai anak, dan anaknya nanti juga berkeluarga. Maka tanah-tanah warisan yang dulunya luas, pada keturunan ke-7 akan susut 360’. Masyarakat semakin bertambah, maka lahan kepemilikan semakin sedikit.

Itu untuk masyarakat yang kaya dan mempunyai tanah. Terus bagaimana nasib mereka yang miskin dan tak punya harta untuk diwarisakan? Jika patokannya harta warisan, tentu miris melihat kenyataannya nanti. Maka solusinya adalah pendidikan. Dari pendidikan inilah seorang akan banyak belajar sebagai bekal, minimal ketika di desa tak punya harta warisan yang luas maka dia sudah mempunyai ketrampilan yang mampu untuk menghidupinya. Atau andai merantau, bekal ijasah akan menjadi pertimbangan penempatan kerja tidak di bagian OB.

Tidak Mudah Tertipu
Saat ini banyak selles yang masuk ke desa menawarkan barang dengan gaya bicara saat pemaparan begitu memikat, sehingga masyarakat pun terlena dan akhirnya membeli. Endingnya, beberapa orang menyesal karena telah tertipu. Kualitas barang atau harganya ternyata jauh dari harga standar.

Pengalaman ini terjadi belum lama, saat ada selles gas LPG promosi gas 5 kg yang membuat kami di balai desa panik. Takutnya, terjadi penandatangan penarikan gas LPG 3 kg menjadi 5 kg misal. Padahal gas yang bersubsidi adalah yang 3 kg. Pemberitahuan ini tentu akan efektif menggunakan hp atau di group WA sehingga infromasi cepat sampainya. Namun karena banyak ibu-ibu yang tidak menggunakan WA, maka harus manual dengan mendatangi langsung ke tempat kumpulan.

Tak hanya itu, selles yang datang ternyata menawarkan pentilator dengan harga Rp. 40.000/buah. Saat dicek di internet, ternyata harganya cuma Rp. 10.000,- Kebayangkan berapa kali lipat naiknya. Nah di zaman yang serba mudah ini, andai masyarakatnya cerdas bisa cek harga lewat internet sebagai pembanding dan meminimalisir penipuan.

Motivasi Sekolah yang Rendah
Semenjak digulirkannya program wajib 9 tahun, pendidikan di Pringamba cukup mendapat perhatian. Anak-anak yang lanjut ke jenjang ke SMP dan SMA pun meningkat dibandingkan sebelumnya. Kuliah juga sudah banyak diminati karena kesadaran orang tua yang sudah mulai terbangun. Maka memotivasi mereka untuk peduli pendidikan adalah tugas yang harus di prioritaskan.

Lahan Semakin Tercemar
Petani salak adalah mata pencaharian mayoritas masyarakat desa Pringamba. Untuk menunjang penghasilan, petani banyak menggunakan pupuk yang mengandung pestisida. Hari ini tenu tidak terasa dampaknya, tetapi andai itu terus-terusan dilakukan maka lambat laun tanah yang dulunya subur akan menjadi tandus. Maka inilah pentingnya masyarakat cerdas dan berpendidikan.


Pringamba, 5 November 2017