Awal Mengenal IPNU

10:05:00 Add Comment

Tahun 2012 adalah tahun dimana saya mengenal tentang IPNU IPPNU secara langsung karena sebelumnya hanya tahu namanya saja melalui Mata Pelajaran Aswaja di sekolah yang diampu oleh Bapak Muhammad Munir. Pengetahuan saya hanya sebatas IPNU merupakan akronim dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama sedangkan IPPNU adalah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Hanya itu.

Berawal dari ajakan dari Rekan Mizanto untuk mengikuti acara Sekolah Kaderisasi Berkelanjutan (SKB) yang diadakan oleh Pimpinan Wilayah IPNU Jateng periodenya Rekan Muhaimin di Cilacap, aku menjadi mengenal IPNU langsung. Masih lekat dalam ingatanku bahwa acara SKB waktu itu Sabtu-Minggu sedangkan Seninnya saya akan melakukan Ujian Madrasah (UM). Karena persiapan ujian insya allah sudah siap maka saya pun mau ikut, setelah sebelumnya sudah dijinkan oleh pengasuh pondok karena saat itu ststusku masih menjadi santri di Pondok Pesantren Miftakhussholihin, Brayut Sigaluh. Asyiik, sebagai sarana refresing atas kepenatan belajar dan obat sakit hati gegara cinta. #eh

Perlu digarisbawahi bahwa di tahun 2012 saat SKB diselenggarakan, PC IPNU IPPNU Banjarnegara sedang mengalami kevakuman. Melalui SKB inilah IPNU IPPNU di Banjarnegara hidup lagi.

Ada 5 orang yang saya ingat ikut dalam SKB itu. Mereka adalah Nur Ngazizah yang nantinya menjadi Ketua IPPNU, tiga anak dari Wanadadi (2 cewek dan 1 cowok) dan penulis sendiri. Karena SKB ini ada 6 kali pertemuan dan bersifat wajib maka sekali tidak ikut satu pertemuan dianggap gugur serta tidak bisa ikut Latihan Kader Utama (Lakut) sebagai ending dari proses SKB tersebut. Dari 5 anak tersebut tinggal dua yang tetersisa saya dan rekanita Nur Ngazizah. Parahnya, karena saya pernah tidak ikut satu kali pertemuan ketika seleksi Lakut akhirnya saya dinyatakan tidak lolos.

Mengenai tempat pertemuan SKB, sistemnya dibuat bergilir. Pertama di Cilacap, kedua di Banyumas dan ketiga di Banjarnegara. Moment pertemuan SKB di Banjarnegara ini lah yang benar-benar dimanfaatkan untuk menghidupkan lagi IPNU IPNU Banjarnegara dari kevakuman. Sabtunya diskusi sampai malam, Ahadnya dibuat acara Konferesnsi Cabang yang ke VIII. Beberapa pengurus PW IPNU Jateng pun turun, salah satunya adalah Ketua Umum PW IPNU Rekan Muhaimin.

Dengan dipandu oleh Pengurus Wilayah, Konferesnsi berjalan dengan lancar dan mengahsilkan keputusan terpilihnya Rekan Mizanto sebagai ketua IPNU dan Rekanita Nur Ngazizah sebagai ketua IPPNU Kabupaten Banjarnegara Periode 2012-2014.

Pasca itu saya mulai aktif sebagai aktivis muda NU dan masuk jajaran kepengurusan sebagai Bendahara Umum di PC IPNU Banjarnegara 2012-2014. Beberapa kegiatan sering saya ikuti namun belum bisa sacara totalitas seperti halnya ketika menjadi ketua karena waktu itu saya menjadi orang yang dituakan di Pesantren.

Waktu terus bergulir, berbagai kegiatan IPNU IPPNU mulai mucul di Banjarnegara. Salah satunya adalah pembentukan Kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) di beberapa kecamatan, seperti Karangkobar, Wanayasa, Rakit, Banjarmangu dan Susukan. Satu tahun pertama berjalan dengan mulus namun satu tahun kedua perkembangannya menjadi lamban. Bahkan semangat di PAC yang sudah terbentuk menurun, untuk tidak mengatakan vakum.

Dua tahun masa kepengurusan tak terasa sudah habis masa periodenya. Di saat sepinya kegiatan IPNU IPPNU, dibentuklah kepanitiaan Konferensi Cabang yang ke IX dengan saya sendiri sebagai Ketua Panitia. Berbagai persiapan dilakukan, namun minimnya panitia membuat persiapan terasa kurang maksimal. Perbedaan pendapat begitu kentara saat itu sehingga menciptakan blok dan seolah terjadi pengkotakan. Bagi saya perbedaan pendapat sebenarnya tidaklah masalah asalkan bisa selesai di forum internal. Sayang, bukan seperti itu yang terjadi. Sehingga berdampak pada lambat dan behentinya kaderisasi yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Dampaknya pun luar biasa, periode saya yang seharusnya meneruskan program justru harus kembali mengalami masa Babad IPNU lagi. Parahnya untuk menemukan team dan patner yang solid serta memahami pola gerakan saya untuk memajukan IPNU, saya butuh waktu satu tahun. Baru ditahun kedua saya berjalan sambil mencoba berlari agar periode pasca saya selesai nanti, saya tidak dholim dengan meninggalkan Generasi yang Lemah. Karena saya sadar tentang masa sulit, maka jangan pula masa sulit yang sama terjadi pada generasi selanjutnya.

“Tidak ada yang perlu disalahkan. Masa lalu adalah pembelajaran yang sangat berarti agar hari ini tidak melakukan kesalahan yang pernah terjadi, sembari memupuk dan menyiapkan harapan hari esok yang lebih baik.” (Mad Solihin)

Saat Menjadi Moderator acara Latin PW IPNU IPPNU Jateng 2017

Pringmaba-Banjarnegara, 20-21 Maret 2017 00:41 WIB

Mengenal Diri Sendiri dari Tulisan Tangan

23:18:00 Add Comment


Tulisan Tangan (Dokpri)

Dua minggu yang lalu saya sengaja menemui Bu Endang di ruang kerjanya.. Beliau adalah Guru BK di SMK Taruna Negera, tempat saya ngajar. Tujuan saya adalah berkonsultasi mengenai diri saya. Karena beliau adalah sarjana Psikologi maka saya pun bertanya apakah beliau bisa mengalisis tentang karakter seseorang. Ketika beliau mengatakan bisa menganalisis melalui tulisan tangan, saya segera mengambil buku yang biasa saya gunakan untuk mencatatat dan memberikan kepada beliau. Satu tujuan saya, ingin tahu bagaimana karakter yang saya miliki.

Menurut saya ini menjadi poin penting lantaran tahu karakter, kelemahan misalnya, maka saya pun menjadi tahu apa yang harus saya lakukan untuk menutupi atau bahkan memperbaiki dan membaliknya menjadi kelebihan.

Tak lama setelah beliau melihat dan menganalisa tulisan saya, beliau berkomentar dan menyimpulkan beberapa hal :

Kurang Tegas atau Bingungan
Poin pertama ini lebih kepada sikap saya yang cenderung terombang ambing oleh perkataaan orang. Ini pula yang sering saya alami ketika dapat masalah, meminta nasehat dari berbagai sumber yang nyatanya antara satau sama lain memberikan nasehat yang berbeda, bahkan bertentangan. Maka saran beliau adalah harus punya PRINSIP yang jelas. Jika mengambil keputusan lebih kepada kemantapan hati. Dan lebih penting lagi asal kedua orang tua merestui. Perihal orang lain tak setuju yang penting kedua orang tua merestui, maka keputusan apapun tak jadi masalah.

Saat Ada Uang Bersikap Boros, jika Tidak Ada Uang Bersikap Hemat/Irit
Mendengar poin kedua ini hatiku langsung jleb, karena saat itu keadaan saya persis seperti yang beliau katakan. Solusinya adalah harus pandai dalam Manajemen Keuangan.

Jaim atau Malu-malu pada Orang Baru
Tebakan ketiga juga benar. Saya termasuk orang yang tak mudah berkomunikasi dengan orang baru. Kalaupun berkomukasi juga ala kadarnya. Bercerita pun hanya pada orang-orang tertentu. Saran beliau, jika mempunyai masalah tuliskan dalam kertas setelah itu sobek atau bakar. Cara ini adalah solusi agar hati menjadi plong atau lega. Karena menyimpan emosi yang tak tersalurkan akan membuat psikologi seseorang terganggu.

Bekerja atas Dasar Mood
Kata beliau, saya adalah orang yang melakukan sesuatu berdasarkan mood. Jika moodnya baik maka akan mengerjakan, jika moodnya buruk saya cenderung abai. Dalam poin ini beliau memberikan saran untuk membuat target. Menuliskan mimpi pada kertas. Atau jika seperti itu karakter saya, maka saya harus mencari solusi agar mood saya terus terjaga.

Terakhir, mari mengenal diri sendiri. Karena dengan mengenal diri sendiri kita menjadi tahu apa yang perlu di perbaiki dan apa yang perlu ditingkatkan.

My Dream
Pringamba, 18 September 2017

Belajar Jurus Menulis

22:21:00 2 Comments

Sumber : Group WA Jambore Mojok

What must I write? Agak bingung sebenarnya harus darimana saya memulai tulisan ini, apalagi judulnya seperti mau perang. Tambah bingung ketika yang ingin saya tulis juga ternyata hanya seklumit ingatan atas cerita ngalor ngidul para pembicara yang bahasa dan referensinya tingkat dewa.

Dalam sesion yang dimoderatori oleh Kak Prima Sulistia atau Cik Prim ini terdapat tiga pembica. Mereka adalah Zen RS, Sabda Armandio dan Nuran Wibisono. Dan tahukah kamu bahwa nama mereka adalah kosakata baru dalam perjalanan hidup saya. Meskipun banyak peserta Jambore Mojok yang paham dengan mereka tapi tetap saja saya gak terlalu ngeh dan dalam hati bertanya, “Siapa si mereka?”

Namun saya bersyukur bisa mengenal nama mereka, setidaknya nama-nama baru itu membuat saya lebih banyak pilihan untuk bisa membuat lingkaran positif. Misal, dengan memfollow dan meng-kepo-in tentang mereka.

Oke, kita bahas satu per satu.

Zen RS
Dari curi-curi dengar, Zen RS inilah yang paling santer dan fansnya paling banyak. Founder dari panditfootbal.com ini adalah Esais di tirto.id Dalam cerita yang ia paparkan, ia sudah mulai menulis sejak kelas 2 SD. Orang tuanya yang berprofesi sebagai guru membuatnya tumbuh dalam lingkungan yang gemar membaca dan menulis. Hingga pada waktu SMP ia menjuari lomba puisi, dan yang membuat lebih bersemangat menulis karena yang memberikan hadiah adalah Umar Kayam.

Mengenai Jurus Menulis, ia memberikan beberapa tips :
a.      Membuat tulisan tidak boleh menggunakan kata “yang” lebih dari 5
b.      Fokep atau kosakata harus kaya
c.       Satu kalimat tidak boleh lebih dari 2 koma (,)
d.      Konsisten (Contoh : Setiap hari menulis)
e.      Memaksa ketrampilan dan harus terus berlatih
f.        Berkumpul dengan orang-orang yang suka menulis
g.      Menulis ulang cerita

Selain itu, ia juga menyampaikan gagasannya untuk jangan mengidolakan dirinya sebagai balasan atas pernyataan peserta yang mengidolakannya. “Idolakanlah orang yang tidak terjangkau,” katanya. Karena ketika mengidolakan orang yang tidak terjangkau itu akan menimbulkan respect atau rasa segan. Tak hanya itu, ia juga berpesan untuk belajar pada ahlinya atau belajar pada orang pertama. Sederhananya, buat apa belajar pada saya jika saya juga belajar pada si A, misal. Atau, “Buat apa belajar pada penulis Indonesia jika mereka juga belajar pada penulis barat?”

Untuk belatih meningkatkan mutu, ia menyarankan untuk mencoba berlatih menulis resensi buku. Karena spacenya terbatas, hal itu menantang agar bisa jeli dalam membuat kalimat dan langsung pada poin inti tulisan.

Sabda Armandio
Jika Zen RS dikenal sebagai esais, maka Sabda lebih dikenal sebagai fiksionis. Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya adalah salah satu karya fiksinya. Sabda tumbuh dalam lingkungan dongeng yang tidak lepas dari pengaruh kakeknya sebagai Dalang.

Selain fiksionis, ia juga sebagai penerjemah karya-karya barat. Referensi bacaannya juga lebih banyak karya-karya mancanegara.

Terkait teknik menulis yang ditanyakan Cik Prim, ia memberikan jawaban bahwa tema tulisan itu perlu di awal untuk menjaga agar sesuai koridor dan tidak keluar jalur. Kemudian pemilihan diksi sebagai kekuatan kalimat dan pentingnya menentukan gagasan utama yang dimasukan ke dalam tokoh. Tujuannya tidak lain adalah menjaga karakter penulis masuk pada sang tokoh.

Mengenai tips dalam belajar menulis, Sabda juga menggunakan teknik menulis ulang. Bahkan beberapa kata dalam bahasa inggris diketik ulang ketika belum menemukan terjemahan yang sesuai.

Nuran Wibisono
Pembicara ketiga ini lebih dikenal sebagai penulis liputan atau jurnalis. Sama dengan kedua pembicara sebelumnya, pengaruh keluargalah yang membentuknya suka dengan dunia membaca. Berawal dari Kakek menurun ke Bapak hingga tradisi suka membaca menurun kedalam dirinya. Menurut ceritanya, ia memulai menulis sejak SMA.

Tentang tips menulis, tak banyak yang saya catat darinya karena memang lebih banyak cerintanya. Hanya pendapatnya tentang pentingnya tema terlebih dahulu digunakan saat membuat tulisan yang serius, contoh ketika nulis di tirto.id

Namun terkadang ia juga menulis spontan tanpa edit yang posting di blog.

Dan pada akhirnya tips hanya sekedar tips jika tak di praktekan. So, mari praktekan J

Pringamba, 4 September 2017