Rasa yang Menguap

11:09:00 AM Mad Solihin 4 Comments


Ada yang kurang. Begitulah rasaku saat ini. Ada sesuatu, rasa ingin yang tidak kesampaian. Tahukah kamu rasa apa itu? Rindu ngaji pasaran di pesantren. Ngaji kitab kuning yang khusus di bulan ramadhan, ngaji yang dalam satu bulan bisa 4-5 kitab khatam, selesai. Serta rindu akan ramenya suasana celoteh santri rebutan takjilan. Rasa itu begitu terasa ketika setelah tadarus ba’da terawih tak ada kegiatan. Nonton tv rasanya begitu memuakkan. Berlebih banyak kitab yang dulu tidak sempat saya jamah.

Setengah bulan sebelum ramadhan tiba, sebenarnya ada rencana untuk ikut pasaran di Kaliwungu, Kendal. Miftahudin, dia lah yang mengajak untuk ke sana yang tentunya saya iya kan. Namun keadaan keluarga tak memungkinkan untuk melakukan itu. Biaya hidup selama satu bulan ditambah biaya kitab yang kira-kira sampai satu juta rasanya tak mungkin saya bebankan kepada orang tua. Selain tak tega, saya juga malu jika harus meminta terus menerus. Maka tidak ada pilihan lain selain merelakan rasa itu menguap laiknya embun yang hilang seiring meningginya mentari pagi.

Andaikan waktu bisa diputar mundur, mungkin saya akan membuat daftar hal yang harus saya lakukan untuk mencapai mimpi yang kian hari semakin jelas. Sayang, itu tak akan pernah terjadi. Pertanyaan kenapa dulu saya tidak seperti ini? Kenapa baru sekarang saya sadar? Kenapa saya dulu tidak seperti itu? Dan pertanyaan kenapa-kenapa lainnya terus bermunculan seiring berlalunya waktu. Namun, semua itu akan menjadi sia-sia jika KESADARAN akan MASA LALU tidak berbuah perbaikan di masa SEKARANG.

Maka, tidak ada gunanya kan jika saya terus berandai-andai, memimpikan kebaikan tanpa mau memulai? Persis seperti pertanyaan kenapa tidak sejak dulu saya tekun belajar Bahasa Inggris sehingga kesempatan untuk mencoba peruntungan beasiswa S2 harus saya tunda. Skor TOEFL yang harus 550 untuk kuliah di luar negeri dan 500 untuk kuliah di Indonesia tak mungkin saya capai. Pasalnya, saya tak menguasai bahasa Inggris dan tak pernah menyiapkan diri untuk hal itu. Maka KESADARAN saya akan lemahnya bahasa Inggris tak akan ada gunanya jika SEKARANG saya tak memulai mempelajari dan menekuni Bahasa Inggris.

“Kesempatan itu datang pada orang yang tepat. Pada orang yang pantas mendapatkannya. Laiknya kesempatan beasiswa S2, ia datang pada orang yang bisa menaklukan semua persyaratan yang salah satunya memperoleh skor TOEFL kisaran 500-550. Maka, jika skormu masih di bawah 500 maka kamu bukan orang yang pantas mendapatkannya.” (Mad Solihin)

Terakhir, mari MEMANTASKAN DIRI in anything.

Sumber disini

Ramadhan 2, 1438 H
Pringamba, 28 Mei 2017 II 06:43 WIB
Mad Solihin

You Might Also Like

4 comments:

  1. kemarin, kini dan nanti.. kita hidup di kini untuk menjadi nanti...muehehek

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mas .. Mkanya sekrang lgi menyiapkan yg terbaik untuk nanti ๐Ÿ˜

      Delete
  2. "pertanyakan" atau "pertanyaan"? Ada di paragraf 3. Muehehe

    The first Comment.... yey! Wahahha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertanyaan .. Hehe

      Terima kasih koreksinya :)

      Delete