Awal Mula Desa Pringamba

10:13:00 2 Comments

Dahulu, desa yang kini bernama Pringamba ini adalah daerah kosong tanpa penghuni. Hingga datanglah para petualang yang menyebarkan agama islam di daerah tersebut. Mereka adalah Mbah Candra Geni, Ciung Wanara, Nyai Garwati, Nyai Suwanti, Mbah Menara Suci, Mbah Klowong dan Mbah Jali Khotob.

Karena merasa cocok dan senang dengan tempat yang mereka datangi maka menetaplah mereka di daerah tersebut. Namun, dari ketujuh petualang tersebut hanya Kyai Klowonglah yang menetap sampai meninggal dan makamnya berada di Pekuburan Pringamba. Sedangkan yang lain melanjutkan petualangannya ke daerah lain. Adapun makam yang sekarang ada adalah petilasan dari para sesepuh awal desa Pringamba.

Penetapan Nama Pringamba
Penetapan nama desa menjadi Pringamba tidak lain adalah hasil musyawarah dari ke tujuh sesepuh awal setelah berjalannya waktu dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Kenapa Pringamba? Itu tidak lain karena daerah tersebut pada mulanya merupakan hutan pring (bambu, red) dan glagah.

Adapun pring (bambu) merupakan pohon yang banyak manfaatnya atau multiguna. Ketika masih pendek bisa dikonsumsi atau kita sering menyebutnya dengan nama bung, ketika panjang sedikit bisa buat kerik cangkul (mengeruk tanah yang menempel di cangkul), jika lebih panjang lagi bisa digunakan untuk mbatan (alat buat memikul laiknya tongkat), dan jika lebih panjang lagi bisa untuk membuat tali.

Imbuhan “amba” pada nama Pringamba berasal dari pohon pring yang rindang dengan dapuran (gerombolan) pohon pring yang luas. Atau sederhananya, pohon pring (bambu) tersebut tumbuh dalam jumlah yang banyak. Sehingga ditetapkanlah nama daerah tersebut dengan nama Pringamba.

Nama Pringamba tersebut juga mengandung filosofi dan pesan yang begitu dalam, sebagai kunci kemakmuran masyarakat Desa Pringamba. Yaitu, “Apabila masyarakat Desa Pringamba bisa bersatu seperti halnya pohon pring, maka daerah tersebut bisa menjadi daerah yang gemah ripah loh jinawi.”

Artinya, Desa Pringamba akan menjadi daerah yang makmur dan aman sentosa jika masyarakatnya bersatu dan saling merangkul satu sama lain.

Cungkup Makam Mbah Candra Geni (Dokpri)
Sumber : Bapak Wahidin

Pringamba, 3 April 2017

Pindahan Lagi

09:12:00 2 Comments
Ilustrasi (Mad Solihin)
“Horeee, akhirnya saya berhasil,” teriak saya dalam hati. Ada kepuasaan tersendiri serta rasa bangga jika saya mampu melewati setiap langkah yang berujung pada kata “berhasil,” dalam hal apapun. Membeli domain www.madsolihin.com kemudian mengaturnya di blog dan berhasil adalah salah satunya. Dan saya rasa ini juga berlaku untuk semua orang, bahwa rasa bangga dan puas akan menghinggapinya manakala “berhasil” dalam meraih yang diinginkannya. Apalagi itu hasil usaha sendiri.

Senin, 10 April 2017 saya resmi pindah. Bukan pindah rumah tentunya, tetapi pindah alamat dari blogspot ke domain sendiri, www.madsolihin.com. Ini adalah kali kedua saya pindah, dulu mad-solihin.blogspot (dot) com pindah ke catatan-san3.blogspot (dot) com, dan kini pindah lagi ke alamat yang lebih keren, madsolihin.com J

Awalnya tidak terlalu berniat sebenarnya. Berawal dari saya berselencar di internet pada minggu malam hingga terbesit untuk membeli domain yang akan saya pasang di blog satunya. Namun ketika mengecek nama madsolihin.com yang ternyata masih kosong, akhirnya saya lebih memilih domain ini terlebih dahulu, takut nantinya dipakai oleh orang lain. Hehe

Saya pun langsung memesan domain tersebut di Rumahweb.com setelah mengecek harganya. Rp. 137.500,- adalah jumlah total tagihan yang harus saya bayarkan setelah memesan domain tersebut.

Keesokan harinya, saya ke Banjarnegara untuk membayar dengan mentransfer lewat bank. Setelah saya transfer, saya langsung mengirimkan pesan konfirmasi bahwa saya telah membayar dan meminta untuk mengaktifkan link domain yang saya beli. Syukurlah, pelayanan Rumahweb.com cepat dan link tersebut langsung aktif.

Karena tak mau berlama-lama, saya langsung mengaturnya di blog dengan mengikuti langkah demi langkah yang ditulis oleh Mas Sugeng dalam blognya (Sugeng.id). Selesai mengikuti semua petunjuk yang diberikan, alhamdulillah langsung berhasil.

“Ternyata gampang ya,” ujar saya dalam hati.

Pasalnya, dulu saya pernah membeli domain dan mengaturnya di blog tetapi tidak berhasil. Salah satu sebabnya adalah karena petunjuk yang saya ikuti kurang jelas dan akhirnya saya putus asa sehingga sia-sia lah domain yang pernah saya beli. Sekarang insya allah sudah paham dan jika mempraktekan lagi, saya yakin pasti bisa. Dan benar saja, “Experience is the best teacher.” Bahwa pengalaman adalah guru yang terbaik, tentunya untuk mendapatkan pengalaman kita harus mengalami trial and error, mencoba dan gagal sebelum akhirnya berhasil.

Pringamba, 12 April 2017

Mad Solihin

Kado Pertama untuk Ibu dan Bapak

08:10:00 6 Comments
Ibu dan bapak, merekalah orang yang terlintas dalam benakku ketika berbicara tentang orang yang paling aku sayangi. Mereka adalah pahlawan dalam hidupku, pahlawan yang jasanya tak mungkin bisa aku balas. Karena merekalah kini saya bisa membaca dan menulis, bahkan bisa mengeyam pendidikan sampai bangku kuliah.
Foto bersama Ibu dan Bapak saat Wisuda
Truka (lelah berpayah-payah) adalah teman yang kini masih setia menemani ibu dan bapak lantaran berpegang teguh pada prinsip bahwa anaknya harus sekolah tinggi. Mereka tidak ingin anaknya mewarisi kebodohan sebagaimana yang mereka alami.

Ibuku yang kini sudah berumur 57 tahun masih saja merumput seperti rutinitas masa kecilnya. Lahir dari seorang petani di sebuah desa terpencil, Cepedak, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo membuatnya akrab dengan kata “prihatin”. Apalagi ibu juga anak kedua dari 6 bersaudara dan hanya anak terakhirlah yang laki-laki. Tak pelak, pekerjaan kasar seperti merumput, mencangkul di sawah tak bisa ia hindari untuk membantu meringankan beban keluarganya. Pun sampai hari ini, pekerjaan kasar masih ia lakoni. Bedanya, jika dulu membantu sang kakek, kini prihatin itu ditujukan untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya, termasuk diriku.

Bapak yang kini usianya 59 juga sama, terlahir dari seorang petani yang karena hal itu harus rela pula merasakan truka seperti halnya yang dialami ibu. Pekerjaan kasar seperti mencangkul, merumput juga ia rasakan sejak kecil hingga akhrinya ia pun menekuni dunia pertukangan. Berpindah-pindah tempat kerja adalah hal yang selalu ia lakukan selama menjadi tukang. Menurut penuturannya, proses bertemu dengan ibu juga karena sedang menukang di desa kelahiran ibuku.

Setelah menikah, pekerjaan sebagai tukang masih ia lakoni. Dan terkadang karena berpindah-pindah tempat dan jaraknya lumayan jauh, bapak sering menginap di tempat bekerja dan pulang seminggu sekali. Baru setelah saya masuk SMP perkejaan tukang sudah jarang bapak kerjakan dan fokus merawat kebun salak hingga sekarang.

Aku bersyukur meskipun terlahir bukan dari keluarga kaya, aku bisa mengenyam pendidikan sampai bangku kuliah. Itu tidak lain karena dukungan dari kedua orang tuaku, ibu dan bapak. Merekalah yang menjadi sumber kekuatan. Kendatipun resiko yang harus mereka tanggung adalah menelan pil pahitnya ketidaknyamanan, mereka rela melakukannya. Bahkan sering aku menyaksikan bapak mencari pinjaman atau menjual kambing ternaknya ketika tagihan semester tiba.

Perjuangan dan pengorbanan mereka begitu jelas terekam dalam ingatanku. Bahkan sampai hari ini perjuangan dan pengorbanan mereka begitu jelas terlihat di depan mataku. Bagaimana mungkin aku menutup mata dan tidak membalas kasih sayang mereka. Dan adakah hadiah yang pantas untuk mereka dapatkan selain pergi ke tanah suci?

Berbicara masalah hadiah, sebenarnya aku sudah memikirkan itu jauh-jauh hari baik untuk ibu maupun bapak. Dan ini adalah hadiah pertama yang aku berikan untuk mereka. Meskipun jika dilihat dari nilainya, pasti  tidak sebanding bahkan jauh dengan yang mereka berikan, tetapi setidaknya bisa membuat mereka tersenyum. Bukankah tidak ada sesuatu yang diharapkan oleh orang tua selain kebagiaan anak-anaknya? Sehingga hadiah yang mereka inginkan adalah kesuksesanku, adapun hadiah, itu hanyalah simbol atas kasih sayang kumiliki dan baktiku pada mereka. Karena apapun yang kuberikan, tak akan menyamai jasa mereka padaku.

Mesin Cuci dan Magicom adalah barang yang ingin aku hadiahkan kepada ibuku suatu saat nanti. Rutinitas mencuci pakaian adalah rutinitas wajib setiap pagi yang harus ibu lakukan, sehingga dengan hadirnya mesin cuci aku berharap bisa meringankan bebannya. Paling tidak mengurangi rasa pegal di pinggangnya lantaran membungkuk saat mengucek dan merimbanya dengan air bersih.

Pun dengan menanak nasi, ini juga rutinitas yang setiap hari tidak boleh absen ibu lakukan. Maka magicom bisa menjadi alternatif menanak nasi tanpa harus ditunggui seperti halnya jika dilakukan dengan kompor gas maupun pawon setiap hari.
Foto Ibu saat Menanak Nasi dengan Tungku Pawon
Jam tangan adalah barang yang aku impikan lama untuk bapak. Perihal jam tangan, aku punya cerita sendiri. Dulu bapak punya jam kesayangan yang selalu bapak pakai kemanapun beliau pergi. Hingga pada suatu ketika jam tersebut batrenya habis. Beliau bongkar jam tersebut, diambil isinya dan bapak taruh di lemari sembari nunggu ada kesempatan untuk membeli batre baru. Tanpa sengaja, disaat aku sedang mencari uang untuk membeli jajan aku meraih jam tersebut. Malangnya ketika aku ambil dan mengotak-atiknya, entah kejadian persisnya, layar jam tangan tersebut pecah membentuk garis melintang sehingga tulisan dan angka di jam tersebut hilang. Kejadian tersebut membuatku merasa bersalah, untunglah bapak tidak memarahi walaupun waktu itu aku melihat begitu jelas guratan kekecewaannya.

Dimana Aku Harus Membeli Hadiah untuk Orang Tuaku?

Elevenia adalah pilihanku. Apa si Elevania? Elevenia adalah situs toko online yang menyediakan berbagai bermacam produk yang kita butuhkan. Seperti halnya hadiah yang ingin aku berikan kepada ibu dan bapakku. Di elevania ini kita juga bisa memilih barang sesuka selera. Contoh ketika kita ingin membeli jam tangan, tinggal ketikan saja : http://www.elevenia.co.id/ctg-jam-tangan maka akan muncul berbagai jam tangan dengan berbagai merk.

Sumber : screnshoot di website elevenia

Ada 8 kategori yang ada di elevenia, yaitu fashion, beauty/health, babies/kids, home/garden, gadget/komputer, elektronik, sports/hobby dan service/food. Kelebihannya lagi, disini sudah ada penjelasan detail mengenai kualitas barang yang akan kita beli sehingga tidak ragu lagi.
Elevenia Online Shop