Truka

09:38:00 Mad Solihin 4 Comments

Keluhan akan kondisi keluarga, rintihan akan keinginannya untuk merantau dan penunjukan sifat kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi, sekarang menjadi teman akrab saya di rumah. Sifat ibu yang demikian tentu membuat saya merasa kikuk sendiri. Ada perasaan tidak nyaman jika berkutat di rumah apalagi jika tak melakukan apa-apa.

Menanggapi hal tersebut, bapak lebih banyak diam. Meskipun tidak terdengar suaranya, lagi-lagi saya harus merasakan kikuk lantaran bahasa tubuh begitu jelas terbaca.

Saya memahami kondisi psikologisnya. Umur ibu yang kini sudah 56 tahun tentu bukan lagi usia muda ditambah “truka” yang sejak kecil dialami sebagai seorang petani dengan kerja kasar membuatnya lelah. Lelah pikiran dan juga fisiknya. Bahkan sampai hari ini masih “mencari rumput” dan menggendongnya dalam jarak puluhan meter untuk pakan kambing.

Sama halnya dengan bapak, umurnya 58 tahun sekarang. Beliau pun telah mengalami “truka” yang hampir sama. Berusaha yang terbaik meskipun terkadang masih saja terlihat kurang di hadapan ibu. Keduanya sama dalam kaca mata saya, tak ada salah. Mereka sudah melakukan sebaik yang bisa dilakukan. Dan disinilah saya belajar tentang keluarga.

“Penerimaan, saling memahami dan mensupport, dan tentu teladan yang secara tidak langsung mereka ajarkan kepada anaknya.”

Saya risih sebenarnya ketika melihat hal ini. Hanya saja sebagai seorang anak saya berharap bisa menjadi pemersatu mereka. Walaupun banyak mimpi saya yang juga masih butuh support mereka. Tetapi baiklah, anggap saja ini sebagai media saya belajar tentang “berkeluarga”.

“What I do ??”

Sebagai seorang anak terakhir, tentu keadaan diatas menjadi tanggung jawab saya. Namun, apalah daya jika kondisi saya juga baru memulai meniti karier sebagai guru, bahkan dua bulan juga belum genap. Dan karena menjadi guru maka saya tak bisa menuntut apapun selain berterima kasih atas kesempatan yang diberikan agar saya bisa “menjadi pribadi yang bermanfaat”, mengabdi dan menularkan apa yang telah saya pelajari kepada orang lain.

Pernah terpikir untuk merantau. Hanya saja takdir telah memberikan jawaban saya untuk masuk ke SD terlebih dahulu. Berbagai pertimbangan kegiatan pun tentu sulit aku lakukan jika benar-benar merantau. Belum lagi kondisi kebun yang jika hanya ibu dan bapak yang mengurus terlihat tidak maksimal, banyak bunga salak yang harus diserbuk membusuk karera tidak terserbuk. Sehingga saat panen pun tidak maksimal. Itu lah alasan kenapa sekarang saya lebih banyak ke kebun. Selain untuk membantu meringankan beban bapak dan ibu, saya juga berharap bahwa hasil panen bisa lebih baik lagi. Walhasil saya bisa menghilangkan truka yang selama ini dialami oleh kedua orang tua saya.

Kenangan Saat Pernikahan Mba' Nur (Dokpri : Mad Solihin)


Selasa, 28 Februari 2017 02:16 WIB

You Might Also Like

4 comments:

  1. Sesungguhnya, dengan merantau juga bisa menjadi penyambung hidup yang lebih mendamaikan. Makanya, kebanyakan orang di Jawa yang cukup umur biasanya lebih memilih untuk melihat dunia lebih luas. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe ...iya si mas, pernah ada keinginan di Jambi ikut mba' q yg ada di sana ... Cuma blum tahu ... Sekalian ingin jelajah Indonesia ..😁

      Delete
  2. sebagai anak terakhir memang dilematis ya mas, tapi mau gimana lagi, kadang ortu juga ingin di masa2 senjanya bisa minimal ada satu anaknya yang menemaninya menjalani hari2 penuh makna, salam kenal mas : ) pengin deh main ke kebun salaknya hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang udah jatahnya ngerwat orang tua .. Hee
      Boleh mas, kapan2 main aja 😁

      Delete