Meetup Perdana Blogger Banjarnegara

09:52:00 8 Comments
Foto bersama Blogger Banjarnegara
Tahukah kalian bahwa saya sudah lama merindu? Bukan pada sang kekasih, bukan. Karena rindu pada sang kekasih tak perlu ditanya lagi. (Yang jomblo sunah menjawab .. Haha) Tetapi merindu akan hadirnya Komuntas Blogger Banjarnegara. Saya pun bersykur karena akhirnya rasa rindu itu terobati juga.

Berawal dari coment di status IG milik mba @idahceris yang memosting kegiatan di Semarang supaya ketika ada event atau acara, saya dikabari. Selang beberapa hari, Mba Idah pun menandai saya di status IG nya yang berisi tentang info akan diadakan Meetup Perdana Blogger Banjarnegara. Karena moment ini sudah lama saya tunggu, maka saya pun langsung mengagendakan dan konfirmasi kepada Mba’ Idah selaku narahubung.
Makan Gratis .. Haha
Walhasil, pada Hari Minggu, 26 Maret 2017 yang bertempat di Rumah Makan Culinary “IWAK” Gemuruh - Banjarnegara, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan para bogger Banjarnegara. Eh, ternyata banyak juga ya, sekitar 15 an orang yang hadir. Kenapa baru sekarang ya diadakan meetup dan gak dari dulu? #Yang kemarin ikut, jawab ya J  Hayo kenapa?

Padahal banyak manfaatnya lho, salah satu contoh nyatanya adalah mempertemukan manusia yang berasal dari desa yang sama tetapi tidak saling kenal. #Parah Kenal pun baru akhir-akhir ini gegara Komunitas Blogger Banjarnegara. (Yang tersindir maaf ya, karena tujuannya emang begitu. Haha) Nah, kan terbukti manfaat?


Tentunya selain sebagai ajang silaturahim/ berkumpul /nongkrong bareng/ seneng bareng, moment kembali hidupnya Blogger Banjarnegara ini juga akan menjadi salah satu bentuk kontribusi nyata kita untuk memajukan Kota Banjarnegara agar semakin dikenal dunia luas dengan cara menuliskan kontent-kontent sepuntar Banjarnegara. Kalau bukan kita yang peduli dengan Banjarnegara, siapa lagi? #sokbijak

Selain menambah teman, manfaat lain dari adanya Meetup Blogger Banjarnegara kemarin adalah bisa Makan dan Minum Gratis. Dan ini yang paling saya suka. Haha


Salah Satu Menu di Culinary Iwak (Dokpri)
Nah, bicara masalah makan dan minum gratis tentunya tidak bisa lepas dari Rumah Makan Culinary “IWAK” Gemuruh – Banjarnegara dan Warung “Kopi Sabin”. Merekalah yang memfasilitasi tempat sekaligus jamuannya. Baik banget kan mereka? Doakan ya, semoga usaha mereka merintis makanan dan minuman culiner semakin maju dan rame. Aamiin
Pemandangan Sawah yang Memanjakan
Bagi warga Banjarnegara ataupun wisatawan yang datang ke Banjarnegara, recomended banget deh untuk datang ke Rumah Makan Culinary “IWAK” Gemuruh – Banjarnegara dan Warung “Kopi Sabin”. Selain makanannya yang super lezat, harga terjangkau, menu makanannya komplit, mata kita juga dimanjakan dengan pemandangan hamparan sawah yang cuantik nan indah lho. Pokoknya bikin setressnya hilang. Gak percaya? Cobain aja.




Rumah Makan Culinary “IWAK” Gemuruh  – Banjarnegara ini, seperti namanya, terletak di Desa Gemuruh, Kecamatan Bawang (atau Komplek Pasar Ikan Gemuruh Banjarnegara). Lebih tepatnya depan Perumahan Gemuruh. Jika dari arah Purbalingga (barat) RM Culinary “IWAK” terletak di sebelah kiri jalan, jika dari arah Wonosobo (timur) terletak di kanan jalan.
Tempat parkir yang luas
Kelebihan lain dari RM Culinary “IWAK” Gemuruh  – Banjarnegara adalah tempat parkirnya luas sehingga pengunjung akan merasa aman dan nyaman. Tempatnya yang strategis, tepat dipinggir jalan juga membuat rumah makan ini sangat cocok bagi para pengendara mobil maupun sepeda motor yang sedang berpergian dan ingin istirahat meluruskan otot-otot pinggang.

Bagi siapapun yang mau mengadakan acara, RM Culinary “IWAK” Gemuruh  – Banjarnegara juga siap melayani pemesanan Nasi Box dan Snack lho. Kalian bisa menghubungi Bu Elly di 0853 2727 0707 dan 0822 2635 5594 untuk pemesanannya.

Pringamba-Banjarnegara, 27 Maret 2017

Truka

09:38:00 4 Comments
Keluhan akan kondisi keluarga, rintihan akan keinginannya untuk merantau dan penunjukan sifat kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi, sekarang menjadi teman akrab saya di rumah. Sifat ibu yang demikian tentu membuat saya merasa kikuk sendiri. Ada perasaan tidak nyaman jika berkutat di rumah apalagi jika tak melakukan apa-apa.

Menanggapi hal tersebut, bapak lebih banyak diam. Meskipun tidak terdengar suaranya, lagi-lagi saya harus merasakan kikuk lantaran bahasa tubuh begitu jelas terbaca.

Saya memahami kondisi psikologisnya. Umur ibu yang kini sudah 56 tahun tentu bukan lagi usia muda ditambah “truka” yang sejak kecil dialami sebagai seorang petani dengan kerja kasar membuatnya lelah. Lelah pikiran dan juga fisiknya. Bahkan sampai hari ini masih “mencari rumput” dan menggendongnya dalam jarak puluhan meter untuk pakan kambing.

Sama halnya dengan bapak, umurnya 58 tahun sekarang. Beliau pun telah mengalami “truka” yang hampir sama. Berusaha yang terbaik meskipun terkadang masih saja terlihat kurang di hadapan ibu. Keduanya sama dalam kaca mata saya, tak ada salah. Mereka sudah melakukan sebaik yang bisa dilakukan. Dan disinilah saya belajar tentang keluarga.

“Penerimaan, saling memahami dan mensupport, dan tentu teladan yang secara tidak langsung mereka ajarkan kepada anaknya.”

Saya risih sebenarnya ketika melihat hal ini. Hanya saja sebagai seorang anak saya berharap bisa menjadi pemersatu mereka. Walaupun banyak mimpi saya yang juga masih butuh support mereka. Tetapi baiklah, anggap saja ini sebagai media saya belajar tentang “berkeluarga”.

“What I do ??”

Sebagai seorang anak terakhir, tentu keadaan diatas menjadi tanggung jawab saya. Namun, apalah daya jika kondisi saya juga baru memulai meniti karier sebagai guru, bahkan dua bulan juga belum genap. Dan karena menjadi guru maka saya tak bisa menuntut apapun selain berterima kasih atas kesempatan yang diberikan agar saya bisa “menjadi pribadi yang bermanfaat”, mengabdi dan menularkan apa yang telah saya pelajari kepada orang lain.

Pernah terpikir untuk merantau. Hanya saja takdir telah memberikan jawaban saya untuk masuk ke SD terlebih dahulu. Berbagai pertimbangan kegiatan pun tentu sulit aku lakukan jika benar-benar merantau. Belum lagi kondisi kebun yang jika hanya ibu dan bapak yang mengurus terlihat tidak maksimal, banyak bunga salak yang harus diserbuk membusuk karera tidak terserbuk. Sehingga saat panen pun tidak maksimal. Itu lah alasan kenapa sekarang saya lebih banyak ke kebun. Selain untuk membantu meringankan beban bapak dan ibu, saya juga berharap bahwa hasil panen bisa lebih baik lagi. Walhasil saya bisa menghilangkan truka yang selama ini dialami oleh kedua orang tua saya.

Kenangan Saat Pernikahan Mba' Nur (Dokpri : Mad Solihin)


Selasa, 28 Februari 2017 02:16 WIB

LG K8 LTE

09:55:00 Add Comment
Dokumen Pribadi (Mad Solihin)
Akhirnya setelah sekian lama menunggu untuk membeli hp andoid baru, mimpi tersebut kini sudah tercapai. Tepatnya hari Kamis, 23 Februari 2017 saya membeli hp merk LG K8 LTE.

Dulu sewaktu baru kehilangan HP Oppo Joy 3 saya merasa akan baik-baik saja. Dan nyatanya memang baik-baik saja. Namun seiring waktu berjalan saya merasa ada yang kurang terutama dalam hal komunikasi. Apalagi di zaman sekarang yang sudah mengandalkan internet, banyak yang lebih baik tidak punya pulsa dari pada tidak punya paketan. Belum lagi tentang organisasi yang mengandalkan group WA ataupun line dalam mengabarkan informasi terbaru. Tentu ini menjadi kendala tersendiri bagi saya. #Tidak tahu berita terbaru alias kudet.

Proses menulis di blog juga dalam beberapa waktu terhenti karena dulu saya mengandalkan hp yang hilang sebagai modem tathering untuk notebook agar terkoneksi dengan internet. Dan karena hp hilang beserta modemnya, maka saya pun memilih cuti dari dunia maya. Artinya, kehilangan hp ternyata tidak sesederhana yang saya pikir.

Tentang HP baru ini saya harus benar-benar extra sabar untuk mendapatkannya. Kondisi ekonomi keluarga yang bukan tergolong kaya membuat saya tak berani meminta. Status saya yang sudah lulus kuliah juga membuat saya malu jika harus meminta secara cuma-cuma. Maka saya pun baru berani meminta setelah saya membantu di SD. Meminta izin kepada bapak untuk meminjam di BMT pun sampai 3 kali. Maklum, bapak saya tidak suka berurusan dengan angsuran mengingat pengahsilan petani tidak menentu dan terkadang ada kebutuhan mendadak yang tidak bisa ditolak. Kenapa meminjam di BMT adalah karena jika menunggu mengumpulkan uang sampai budget tercapai itu terlalu lama. Sialnya ketika sudah mengajukan ke BMT ternyata STNK motor yang untuk jaminan, pajaknya mati 2 tahun sehingga tidak bisa cair.

Karena pinjaman tidak cair, maka bapak pun menjual satu kambing peliharaannya ke Rehanto. Uang hasil penjualan kambing ditambah hasil panen salak itulah yang saya gunakan untuk membeli hp yang sekarang saya miliki. #Andaikan saja saya terlahir dari keluarga kaya. Mungkin segala kebutuhan bisa saya dapatkan tanpa harus menunggu lama.

Terakhir walaupun agak kecewa sebenarnya karena kualitas kamera kurang bagus, tetapi tidak ada hal lain kecuali bersyukurlah yang harus saya lakukan. Semoga saja saya benar-benar bisa memanfaatkannya dengan baik sehingga kebaikan yang berasal dari hp tersebut menjadi amal jariah yang pahalanya mengalir kepada kedua orang tua saya. Terima kasih ibu bapak. Doakan semoga saya bisa membantu meringankan beban kalian.


Pringamba #Banjarnegara, 1 Maret 2017