Kembali ke Almamater Pertama

9:30:00 AM Mad Solihin 1 Comments



Mengajukan lamaran di SDN 1 Pringamba, kembali ke almamater pertama. Itulah keputusan yang akhirnya saya ambil. Setelah berdiskusi dan meminta saran dari kedua orang tua  bapak dan ibu, teman seangkatan yang sudah lebih dulu terjun mengajar di SD dan mempertimbangkan beberapa alasan, maka saya mencoba untuk memantapkan diri memasuki dunia pendidikan sesuai yang saya geluti di kampus, yaitu menjadi guru. Walaupun sangsi sebenarnya karena tidak sesuai dengan ekspetasi saya yang selalu mengatakan bahwa saya tidak ingin langsung terjun menjadi guru setelah lulus, tetapi ingin menjadi seorang jurnalis. Atau kalaupun menjadi guru, saya ingin memperdalam pengalaman terlebih dahulu sehingga ketika seorang murid bertemu dengan saya, mereka menjadi terinspirasi.

But, sametimes the samething what we will not happen. So, what? Haruskah saya tetap berdiam diri di rumah? Ah, pertanyaan dan permintaan dari ibu agar saya segera untuk melamar pekerjaan membuat telinga saya tidak nyaman. Sehingga mau tidak mau saya harus menghindari pertanyaan itu yang salah satu caranya adalah mengikuti kemauannya, mencoba mendaftar di SD. Gayung bersambut, Pak Marjono selaku Kepala Sekolah yang pada Kamis (8/12) lalu saya temui di sekolah memberikan saya kesempatan untuk wiyata di sana. Hanya saja karena statusnya wiyata maka saya pun tidak bisa menuntut apapun termasuk dalam hal gaji.

Galau, begitulah renspon saya mendengar penjelasan dari kepala sekolah yang aslinya Bawang itu. Bagaimana tidak, sebagai anak muda yang keinginannya sedang berapi-api lalu bekerja dengan hasil yang tidak bisa diprediksi tentu harus berpikir ulang. Hanya saja, kepasrahan dari orang tua yang menyerahkan sepenuhnya keputusan untuk diambil atau tidak itu terserah saya, maka ada kelegaan tersendiri. Setidaknya saya tidak terlalu mempunyai beban moral karena tuntutan gaji. Toh baru awal, bukankah untuk mencapai puncak harus dimulai dari tangga terbawah?

Mengajar di SD, sebuah pelarian atas tuntutan saya sebagai seorang Sarjana? Pelarian atas tuntutan masyarakat yang mengharuskan mereka yang berpendidikan tinggi wajib bekerja? Tentu saja tidak. Di relung hati terdalam saya pun sudah lama memendam untuk bisa berbaur di sekolah. Ada keprihatinan tersendiri melihat guru-guru yang mengajar semua dari orang luar, tidak ada satu guru pun yang aslinya Pringmba. Keprihatinan itulah yang membuat saya merasa terpanggil untuk berjuang di tanah kelahiran karena bagaimana pun orang luar hanya membersamai ketika di sekolah. Semoga saja nantinya saya bisa mewarnai kehidupan para tunas yang akan menjadi ujung tombak kemajuan Desa Pringamba 10-20 tahun kedepan. Semoga. 

Pringamba, 12 Desember 2016

NB : Untuk pertama kalinya saya benar-benar merasakan atmosfir melamar pekerjaan. Walaupun sebelumnya sudah beberapa kali membuat surat lamaran pekerjaan namun rasanya baru kali ini saya menganggapnya serius. 

Foto Waktu Kelas VI SD Tahun 2006

You Might Also Like

1 comment:

  1. tetap semangat, mas...mumpung masih fresh dan ilmunya tentu masih padet, yakinlah akan sebuah kesuksesan di depan sana tapi memang harus dimulai dari level demi level

    ReplyDelete