Cuti dari Dunia Maya

11:06:00 Mad Solihin 0 Comments


Ilustrasi (Mad Solihin)

Harapan untuk segera membeli HP Android baru pupus sudah. Rijal tak sampai hati untuk meminta kepada ayahnya. Bahkan rencana untuk berhutang juga tak berani ia sampaikan, apalagi sore tadi ia mendengar langsung ucapannya mengenai keinginan yang belum kesampaian, tentang memperbaiki reng atap yang sudah rusak sehingga beberapa genting terjatuh. Prihatin mendengarnya. Ia pun merasa malu sekaligus getir karena dirinya belum bisa membantunya. 

Buah salak yang menjadi penghasilan pokok masa panennya tidak menentu. Belum lagi ditambah kebutuhan lain yang tidak sedikit membuat ayah Rijal tak menanggapi ketika malam itu, kira-kira dua mingggu yang lalu untuk pertama kalinya Rijal mengutarakan keinginan berhutang di BMT. Untuk meyakinkannya, ia pun mengatakan bahwa kebun yang berada di Gedangan dan Curug Bolong akan dirawatnya. Hitug-hitung cicilan perbulan adalah upah atas usahanya merawat dua kebun tersebut biar tidak terkesan mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma. Sayang, tak ada respon. Dan kini walaupun keinginan itu masih menyala namun ia tak berani mengutarakannya kembali. Takut salah sekaligus tak tega.

Sekarang, pasca kehilangan kedua HP nya beberapa bulan lalu, Rijal memakai HP milik ayahnya. HP yang hanya untuk sms dan telfon, selebihnya Rijal harus super sabar tanpa ada koneksi internet dan sosmed. Tulisan yang siap posting di blog juga harus mengendap terlebih dahulu di notebook. Pasalnya modem yang ia miliki juga ikut raib bersama dengan tas dan kedua hp nya. Tathering yang biasa menjadi andalannya tak mungkin karena hp nya tak mendukung.  

“Seberapa pentingkah HP Android itu?” Tanya Rijal dalam hati kepada dirinya sendiri.

Mendapati pertanyaan yang menyentak kesadarannya membuat Rijal diam. Ia pun mulai berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan kenapa harus memiliki hp android. Maka setelah beberapa menit terdiam, Rijal teringat tentang teman-temannya yang lebih sering menggunakan sosmed daripada sms ataupun telfon. Bahkan pernah ia dapati temannya tidak membalas pesannya karena tidak mempunyai pulsa. Mereka lebih suka menggunakan BBM, Whatsap dan Line.  O ya, Line. Rijal pun teringat bahwa ia adalah pengurus salah satu organisasi yang komunikasinya menggunakan line, mulai dari rapat maupun share informasi. Maka dalam beberapa waktu ini ia pun absen. Wal hasil informasi sama sekali tak ada yang ia tahu. Miris bercampur sedih.

Beberapa hal yang harus terkoneksi dengan internet terpaksa ia pendam. Tak ada browsing, taka ada fb maupun berselancar di dunia maya, cuti.
Pringmba, 28 Desember 2016

You Might Also Like

0 comments: