Masuk SD Lagi

11:10:00 2 Comments


Sumber : ikelas (dot) com
Awal tahun 2017 dan awal masuk semester II tepatnya Hari Selasa, 3 Januari saya masuk ke SDN 1 Pringamba lagi. Berbeda dengan yang dulu, jika pada tahun 2000 saya masuk sebagai seorang siswa dengan wajah polos, diantar oleh sang ibu dan menangis ketika akan ditinggal sehingga mau tidak mau ibu harus menanti sampai saya selesai sekolah, maka kali ini saya masuk dengan status sebagai Guru Pendidikan Agama Islam. Rasanya tak pernah terbayang sewaktu menjadi siswa akan kembali dengan menjadi guru. Jika dulu saya datang untuk menimba ilmu, maka sekarang saya datang untuk berbagi ilmu. Berganti peran laiknya perputaran siklus kehidupan. 

Dan hari ini menjadi sejarah awal saya untuk meniti karir. Masa transisi sudah terlewati, setidaknya masa dimana saya berdiri di persimpangan jalan telah berlalu karena sudah menemukan arah kemana saya harus menuju. Seberapa lama saya bertahan dan benarkah menjadi guru adalah final sebagai persinggahan atas pencarian tempat saya berlabuh? Entahlah, yang jelas dimana pun saya berada semoga bisa menjadi pribadi yang membawa kemanfaatan untuk orang lain. Dan semoga saja ini juga menjadi awal yang baik untuk menata masa depan yang lebih baik. 

Yang pasti masuknya saya di SD bisa menjadi senjata untuk menjawab pertanyaan horor “Sudah bekerja dimana?” #Hahaha. Keresahan atas status “ketidakpastian” -untuk tidak menyebut pengangguran- juga sudah terobati. Setidaknya para tetangga tidak akan mencibir, “Itu lho sarjana nganggur” #Hahaha. Dan semoga saja bisa menginspirasi sekaligus merubah mindset masyarakat bahwa “pendidikan itu penting”.

Ada rasa kepuasan tersendiri bisa masuk dunia kerja atas usaha sendiri. Jika dulu pernah masuk sebagai penyuluh dan agen asuransi atas rekomendasi dari orang lain, maka masuk ke SD menjadi pengalaman pertama yang membuat hati merasa lega. Apalagi ketika di dalam Rapat Kerja (Raker) Bapak Marjono selaku Kepala Sekolah menyambut dengan baik kedatangan saya, pun dengan guru-guru yang lain. Ada Pak Darto, Pak Margo, Pak Kuat, Pak Nijan, Bu Susi, Bu Heni dan Bu Karyati. 

Saya pun berharap bahwa kehadiran saya bisa mewarnai suasana di SD. Bisa menjadi inspirasi dan motivasi agar para siswa selalu ingin lanjut sekolah pasca SD selesai. 

Pringamba, 4 Januari 2017 01:40 WIB
Mad Solihin

Cuti dari Dunia Maya

11:06:00 Add Comment

Ilustrasi (Mad Solihin)

Harapan untuk segera membeli HP Android baru pupus sudah. Rijal tak sampai hati untuk meminta kepada ayahnya. Bahkan rencana untuk berhutang juga tak berani ia sampaikan, apalagi sore tadi ia mendengar langsung ucapannya mengenai keinginan yang belum kesampaian, tentang memperbaiki reng atap yang sudah rusak sehingga beberapa genting terjatuh. Prihatin mendengarnya. Ia pun merasa malu sekaligus getir karena dirinya belum bisa membantunya. 

Buah salak yang menjadi penghasilan pokok masa panennya tidak menentu. Belum lagi ditambah kebutuhan lain yang tidak sedikit membuat ayah Rijal tak menanggapi ketika malam itu, kira-kira dua mingggu yang lalu untuk pertama kalinya Rijal mengutarakan keinginan berhutang di BMT. Untuk meyakinkannya, ia pun mengatakan bahwa kebun yang berada di Gedangan dan Curug Bolong akan dirawatnya. Hitug-hitung cicilan perbulan adalah upah atas usahanya merawat dua kebun tersebut biar tidak terkesan mendapatkan sesuatu secara cuma-cuma. Sayang, tak ada respon. Dan kini walaupun keinginan itu masih menyala namun ia tak berani mengutarakannya kembali. Takut salah sekaligus tak tega.

Sekarang, pasca kehilangan kedua HP nya beberapa bulan lalu, Rijal memakai HP milik ayahnya. HP yang hanya untuk sms dan telfon, selebihnya Rijal harus super sabar tanpa ada koneksi internet dan sosmed. Tulisan yang siap posting di blog juga harus mengendap terlebih dahulu di notebook. Pasalnya modem yang ia miliki juga ikut raib bersama dengan tas dan kedua hp nya. Tathering yang biasa menjadi andalannya tak mungkin karena hp nya tak mendukung.  

“Seberapa pentingkah HP Android itu?” Tanya Rijal dalam hati kepada dirinya sendiri.

Mendapati pertanyaan yang menyentak kesadarannya membuat Rijal diam. Ia pun mulai berpikir tentang kemungkinan-kemungkinan kenapa harus memiliki hp android. Maka setelah beberapa menit terdiam, Rijal teringat tentang teman-temannya yang lebih sering menggunakan sosmed daripada sms ataupun telfon. Bahkan pernah ia dapati temannya tidak membalas pesannya karena tidak mempunyai pulsa. Mereka lebih suka menggunakan BBM, Whatsap dan Line.  O ya, Line. Rijal pun teringat bahwa ia adalah pengurus salah satu organisasi yang komunikasinya menggunakan line, mulai dari rapat maupun share informasi. Maka dalam beberapa waktu ini ia pun absen. Wal hasil informasi sama sekali tak ada yang ia tahu. Miris bercampur sedih.

Beberapa hal yang harus terkoneksi dengan internet terpaksa ia pendam. Tak ada browsing, taka ada fb maupun berselancar di dunia maya, cuti.
Pringmba, 28 Desember 2016

Kembali ke Almamater Pertama

09:30:00 1 Comment


Mengajukan lamaran di SDN 1 Pringamba, kembali ke almamater pertama. Itulah keputusan yang akhirnya saya ambil. Setelah berdiskusi dan meminta saran dari kedua orang tua  bapak dan ibu, teman seangkatan yang sudah lebih dulu terjun mengajar di SD dan mempertimbangkan beberapa alasan, maka saya mencoba untuk memantapkan diri memasuki dunia pendidikan sesuai yang saya geluti di kampus, yaitu menjadi guru. Walaupun sangsi sebenarnya karena tidak sesuai dengan ekspetasi saya yang selalu mengatakan bahwa saya tidak ingin langsung terjun menjadi guru setelah lulus, tetapi ingin menjadi seorang jurnalis. Atau kalaupun menjadi guru, saya ingin memperdalam pengalaman terlebih dahulu sehingga ketika seorang murid bertemu dengan saya, mereka menjadi terinspirasi.

But, sametimes the samething what we will not happen. So, what? Haruskah saya tetap berdiam diri di rumah? Ah, pertanyaan dan permintaan dari ibu agar saya segera untuk melamar pekerjaan membuat telinga saya tidak nyaman. Sehingga mau tidak mau saya harus menghindari pertanyaan itu yang salah satu caranya adalah mengikuti kemauannya, mencoba mendaftar di SD. Gayung bersambut, Pak Marjono selaku Kepala Sekolah yang pada Kamis (8/12) lalu saya temui di sekolah memberikan saya kesempatan untuk wiyata di sana. Hanya saja karena statusnya wiyata maka saya pun tidak bisa menuntut apapun termasuk dalam hal gaji.

Galau, begitulah renspon saya mendengar penjelasan dari kepala sekolah yang aslinya Bawang itu. Bagaimana tidak, sebagai anak muda yang keinginannya sedang berapi-api lalu bekerja dengan hasil yang tidak bisa diprediksi tentu harus berpikir ulang. Hanya saja, kepasrahan dari orang tua yang menyerahkan sepenuhnya keputusan untuk diambil atau tidak itu terserah saya, maka ada kelegaan tersendiri. Setidaknya saya tidak terlalu mempunyai beban moral karena tuntutan gaji. Toh baru awal, bukankah untuk mencapai puncak harus dimulai dari tangga terbawah?

Mengajar di SD, sebuah pelarian atas tuntutan saya sebagai seorang Sarjana? Pelarian atas tuntutan masyarakat yang mengharuskan mereka yang berpendidikan tinggi wajib bekerja? Tentu saja tidak. Di relung hati terdalam saya pun sudah lama memendam untuk bisa berbaur di sekolah. Ada keprihatinan tersendiri melihat guru-guru yang mengajar semua dari orang luar, tidak ada satu guru pun yang aslinya Pringmba. Keprihatinan itulah yang membuat saya merasa terpanggil untuk berjuang di tanah kelahiran karena bagaimana pun orang luar hanya membersamai ketika di sekolah. Semoga saja nantinya saya bisa mewarnai kehidupan para tunas yang akan menjadi ujung tombak kemajuan Desa Pringamba 10-20 tahun kedepan. Semoga. 

Pringamba, 12 Desember 2016

NB : Untuk pertama kalinya saya benar-benar merasakan atmosfir melamar pekerjaan. Walaupun sebelumnya sudah beberapa kali membuat surat lamaran pekerjaan namun rasanya baru kali ini saya menganggapnya serius. 

Foto Waktu Kelas VI SD Tahun 2006