Peringatan Maulid Nabi dan Haul Ulama

00:51:00 Add Comment
Dokpri
Peringatan hari lahirnya Nabi Muhammad Saw atau sering disebut muludan merupakan salah satu tradisi yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia. Cara atau tradisi dalam merayakannya pun berbeda dalam setiap daerah, ada yang dengan grebeg maulid atau dengan pengajian biasa.

Selain muludan, ada pula tradisi haul yang digunakan sebagai sarana untuk memperingati wafatnya para ‘alim ‘ulama atau kyai.

Kenapa nabi diperingati hari lahirnya sedangkan ulama/kyai diperingati hari wafatnya?
Alasan kenapa seseorang itu diperingati adalah karena jasa dan kemuliaannya. Mengenai nabi, tak diragukan lagi. Sewaktu beliau lahir keajaiban dan keberkahannya sudah dirasakan, bahkan kemuliaannya pun sudah terjamin. Sedangkan ulama atau kyai, ketika lahir tak ada yang menjamin bagaimana kisah hidupnya kelak. Baik atau buruk, tak ada jaminan. Akan menjadi pelengkap jalan haq atau batil, tidak ada yang tahu. Maka wafatnya menjadi penutup dan penentu apa yang ditorehkan selama hidup.

Beberapa keberkahan ketika nabi lahir adalah matinya semua api yang menjadi sembahan di beberapa kerajaan Persi, memancarnya cahaya sehingga menerangi gedung-gedung di negeri Syam yang dibawah kekuasaan kerajaan Qaishar, laut kecil di daerah Sawah yang terletak di antara dua kota Hamadzan dan Qum menjadi kering dan sumber-sumber air di daerah Sawah juga kering karena tertahannya gelombang aliran air laut kecil. Artinya, lahirnya nabi sudah membawa rahmat sehingga patut untuk diperingati.

Adapun haul salah satu tujuannya adalah untuk mengingat atau meneladani kebesaran ulama/kyai semasa hidupnya.
Pringamba, 1 Desember 2017
Pesan Bapak, Ambil Saja!

Pesan Bapak, Ambil Saja!

11:15:00 Add Comment

Kembali ke rutinitas, berseragam dan kantor. Sesutau yang dulu persah saya hindari, bekerja tetapi bebas tanpa terikat harus memakai baju apapun. Tetapi nyatanya takdir berkata lain, balai desa dengan aturan baju kheki setiap senin dan selasa menjadi hal yang mau tidak mau harus saya patuhi. Meski awalnya males juga tetapi seiring berjalannya waktu saya pun sudah mulai berdamai. Bukankah memang seperti itu seharusnya? Berdamai adalah cara terbaik move on dari masa lalu.

Pagi ini langit sedang mendung ketika saya berangkat. Mood yang saya jaga agar tetap baik ternyata berubah gegera bata yang dipesan tak sesuai harapan. Bata 500 buah yang dipesen kepada Pak Bambang dibarengkan dengan pemesanan bata untuk Paud Lestari yang mangkrak laiknya Hambalang, kualitasnya jelek.

Hal yang membuat mood saya berubah adalah ketika bata itu saya bawa dan tunjukan kepada bapak namun reaksinya mengisyaratkan kekecewaan. Meski tak diperlihatkan dengan ucapan, akan tetapi rasa sensitif saya mengiyakan akan isyarat itu. Setelah saya konsultasikan ke Pak Bambang, ia tak mempermasalhkan ketika pemesanan itu saya batalkan karena ia memahami bahwa kualitas batanya tak sesuai harapan. Plong, lega rasanya.

Namun kelegaan itu lenyap ketika saya mengirim sms ke bapak mengabarkan bahwa bata yang sudah dipesan tidak diambil. Jawabannya, kon jikot bae. Suruh diambil saja.


Entahlah, perintah itu di ambil masih dalam rasa kecewa atau karena terpaksa sudah kadung pesan. Benar-benar mbingungi, menyisakan rasa bersalah. Dan sampai tulisan ini dibuat, saya belum mengkonsultasikan lagi ke Pak Bambang terkait bata yang kata bapak suruh diambil saja.

Pringamba, 27 November 2017

Membangun Desa Berbasis Data

08:12:00 Add Comment
Penyampaian Materi oleh Mas Edi (Dokpri)
“Terkumpulnya bahan pokok penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa adalah inti dari kegiatan Sekolah Pembaharuan Desa agar APBDes atau Dana Desa digunakan sesuai aturan dan tepat sasaran,” itulah poin yang saya tangkap dari pertemuan asistensi pendidikan pembaharuan desa oleh Mba Alimah dan Mas Edi pada hari Minggu (12/11).

Ada beberapa tahapan yang saya tahu, pertama sosialisasi. Ini menjadi hal yang sangat penting mengingat atmosfir orang pedesaan adalah orang yang acuh, tidak suka ribet apalagi kumpulan. Berlebih kebanyakan sudah berkeluarga, lebih baik ke kebun ngurus tanaman salak.

Kedua, pembagian kelompok. Dari orang-orang yang ikut dalam Sekolah Pembaharuan Desa, dibagi menjadi empat kelompok atau tim yaitu, Tim Aset dan Potensi Desa, Tim Marginal, Tim Kesejahteraan dan Tim Kewenangan.

Ketiga, penugasan lapangan. Kegiatan yang ketiga ini berupa survei langsung ke masyarakat, mencari data sebagaimana mekanisme yang sudah dijelaskan dalam pertemuan sebelumnya.

Keempat, pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data ini berpedoman pada survei yang telah dilakukan oleh masing-masing tim. Artinya setiap tim mempunyai data sendiri dengan kriteria yang berbeda antar tim. Namun semuanya mempunyai muara yang sama, yaitu sebagai pedoman pemerintah dalam melakukan pembangunan di desa. Data yang telah terkumpul tersebut kemudian diolah, dipilah-pilah dan dikelompokan pada 4 bidang pembangunan desa, yaitu bidang pemerintahan, bidang pembangunan, bidang pembinaan masyarakat dan bidang pemberdayaan masyarakat.

Jika penyusunan RPJMDes biasanya difokuskan pada kebutuhan dan usulan masyarakat saat Musrengbangdes, maka dalam kegiatan Sekolah Pembaharuan Desa diajari untuk menyusun atas dasar data apresiatif. Yaitu data yang dikumpulkan atas partisipatif masyarakat desa.

Data apresiatif ini akan menjadi rujukan saat pemerintah desa bermaksud melakukan pembangunan ataupun memberikan bantuan kepada masyarakat. Selain itu, data ini mampu meminimalisir kecemburuan dan penyelewengan, bahwa si A dekat dengan Kades maka di bantu, atau si B keluarga Kades maka mendapat prioritas bantuan. Dengan data yang telah terkumpul, masyarakat mampu mengontrol sekaligus mengusulkan siapa yang berhak menerima bantuan.

Selain beberapa hal di atas, data tersebut juga menjadi kunci dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKPDes) satu tahun yang akan datang. RKPDes tersebut pada akhirnya di bawa dalam forum Musrengbangdes untuk mendapat pengesahan sekaligus dibuatkan peraturan desa (Perdes).

Dalam kesempatan tersebut, selaku pamateri Mas Edi juga menyampaikan bahwa awal mula adanya APBDesa adalah untuk mempercepat pembangunan, mempercepat pengentasan kemiskinan dan kemandirian desa. Maka sudah seharusnya masyarakat dilibatkan dalam penyusunan APBDesa tersebut.


Pringamba, 22 November 2017

Mimpi Itu Bayar, Tidak Gratis

13:19:00 2 Comments

Ada ketenangan saat persyaratan tahap II program RKMentee2018 terselesaikan. Setidaknya saat besok bangun pagi saya sudah tidak lagi memikirkan tentang bagaimana vidionya. Ada kelegaan dan mungkin bisa membuat tidur malam ini nyenyak. Kira-kira begitu yang saya rasakan sekarang. Kepanikan yang sempat muncul kini telah lenyap.



Bagiamana tidak panik, saat mendapat pengmuman lolos pendaftaran RKMentee2018 tahap I, saya harus membuat dua vidio untuk persyaratan tahap II. Ini benar-benar menantang saya untuk keluar dari zona nyaman dan menembus dunia yang tak pernah saya jajaki. Ada memang teman yang biasa membuat vidio, sayangnya mereka di Jogja. Gak mungkin kan saya ke Jogja hanya untuk membuat vidio, selain tidak mungkin karena alasan pekerjaan, juga karena bisa saja ia sedang sibuk dengan kegiatannya.

Belum lagi ketika di vidio tersebut saya harus menceritakan tema pendidikan (tema yang saya pilih dari beberapa tema) dan How do you see yourself in 10 years? Jika membuat tulisan mungkin saya akan bisa lebih santai, tetapi ini vidio. Saya harus berhadapan dengan camera pula. Hal yang selama ini saya hindari selain berfoto.

Namun dari situ saya menjadi terpacu untuk bisa menjadi vidio maker. Mendokumentasikan kehidupan di sekitar, salah satunya kegiatan yang ada di desa.

Persyaratan yang wajib saya penuhi jika ingin lolos seleksi tersebut membuat saya belajar untuk membuat vidio. Awalnya bingung, apakah dengan animasi atau rekaman langsung. Browsing, mencari referensi di istagram dan youtobe. Bongkar pasang aplikasi, download vidio maker di playstore. Tidak cocok, hapus. Download lagi yang lain, tidak cocok, hapus lagi. Maklum, memori internel terbatas. Jadi ketika ingin memasang aplikasi baru, aplikasi lama yang sudah terpasang harus saya hapus.

Tak hanya itu, saya juga belajar menulis scrip dan menghafalkannya. Saat perekaman, beberapa kali mengalami kesalahan. Rekam, ada yang kelupaan, berhenti kemudian hapus. Rekam lagi, salah, ulang lagi. Hingga pada akhirnya menetapkan vidio yang saya upload ke istagram sebagai vidio terakhir yang saya anggap baik.

Apakah langsung berhasil? Ternyata tidak. Ukuran vidio terlalu besar sehingga tidak bisa diupload  ke istagram ataupun dikirm lewat email.

Browsing lagi, bagaimana cara mengecilkan ukuran vidio? Hingga ketemu aplikasi VidCompact untuk mengkompres agar ukuran vidionya menjadi kecil. Sayangnya, kualitasnya menjadi berubah agak buruk. Karena tinggal satu hari, maka saya mengusahakan selesai hari ini. Takut besok terbentur dengan kegiatan yang lain.

Benar kata Mas Budi Waluyo, mimpi itu bayar. Bukan dengan uang, melainkan dengan ketekunan, kerja keras dan pantang menyerah.

Akhirnya, apapun hasilnya saya sudah melakukan dan mengusahakannya dengan maksimal. Tinggal berdoa, semoga Allah mengabulkan dan meloloskan pada tahap selanjutnya. Aamiin


Pringamba, 17 November 2017

Investasi Leher Ke Atas

11:01:00 Add Comment

Setiap bulan harus ada investasi yang saya keluarkan.
Inilah prinsip yang sekarang saya pegang terutama untuk investasi leher ke atas. Kenapa? Karena jika saya tak menyisihkan uang untuk investasi maka seberapun uang yang saya miliki akan habis tak berbekas. Rugi kan?

Seperti halnya bulan ini, saya menyisihkan uang untuk membeli buku Dream Book. Satu motivasi saya, untuk mengisi otak agar tak kekeringan.

Perihal buku, sekarang saya juga lebih selektif. Jika dulu yang penting murah dan terlihat menarik, maka sekarang saya lebih memilih buku yang memang benar-benar saya butuhkan, buku yang mampu mendukung tercapainya apa yang saya impikan.

“Kenapa saya butuh buku ini? Apa manfaatnya? Apakah ini akan mendukung saya dalam mengupgrade diri saya menjadi lebih baik?”


Dokpri

Pringamba, 16 November 2017
Pentingnya Pendidikan Masyarakat Desa

Pentingnya Pendidikan Masyarakat Desa

08:35:00 Add Comment

Banyak hal yang harus diperbaiki, begitulah simpulan saya setelah tepat satu bulan bekerja di balai desa. Tentang pekerjaan yang belum sesuai tupoksi, dana yang terbatas hingga kesejahteraan yang saya amati menjadi alasan untuk bekerja musiman. Bagi saya orang awal tentu tidak terlalu mempermasalahkan karena baru memulai belajar dan belum punya tanggungan keluarga, berbeda dengan mereka yang sudah mempunyai keluarga bahkan cucu malah.

Tulisan ini tidak akan menyoroti hal itu, tetapi lebih kepada masayarakat desa. Kenapa mereka harus pintar dan sekolah tinggi? Kenapa mereka harus peduli dengan pendidikan jika akhirnya juga bekerja di kebun?

Pertanyaan itu terjawab dalam rentang waktu satu bulan. Inisiatif untuk membuat Komunitas Pringamba Cerdas pun menunai jawaban dan alasan yang logis. Alasan untuk memperjuangkan dan merealisasikan sebagai bentuk kepedulian dan sarana untuk bermanfaat bagi masyarakat.

Beberapa jawaban yang juga saya sebut alasan adalah :

Lahan Semakin Sempit
Ada status facebook yang cukup menggelitik, bahwa orang tua bolehlah kaya, lahannya banyak dan itu cukup untuk diwarisakan kepada anak-anaknya. Tetapi bagaimana kedepan saat sang anak berumah tangga dan mempunyai anak, dan anaknya nanti juga berkeluarga. Maka tanah-tanah warisan yang dulunya luas, pada keturunan ke-7 akan susut 360’. Masyarakat semakin bertambah, maka lahan kepemilikan semakin sedikit.

Itu untuk masyarakat yang kaya dan mempunyai tanah. Terus bagaimana nasib mereka yang miskin dan tak punya harta untuk diwarisakan? Jika patokannya harta warisan, tentu miris melihat kenyataannya nanti. Maka solusinya adalah pendidikan. Dari pendidikan inilah seorang akan banyak belajar sebagai bekal, minimal ketika di desa tak punya harta warisan yang luas maka dia sudah mempunyai ketrampilan yang mampu untuk menghidupinya. Atau andai merantau, bekal ijasah akan menjadi pertimbangan penempatan kerja tidak di bagian OB.

Tidak Mudah Tertipu
Saat ini banyak selles yang masuk ke desa menawarkan barang dengan gaya bicara saat pemaparan begitu memikat, sehingga masyarakat pun terlena dan akhirnya membeli. Endingnya, beberapa orang menyesal karena telah tertipu. Kualitas barang atau harganya ternyata jauh dari harga standar.

Pengalaman ini terjadi belum lama, saat ada selles gas LPG promosi gas 5 kg yang membuat kami di balai desa panik. Takutnya, terjadi penandatangan penarikan gas LPG 3 kg menjadi 5 kg misal. Padahal gas yang bersubsidi adalah yang 3 kg. Pemberitahuan ini tentu akan efektif menggunakan hp atau di group WA sehingga infromasi cepat sampainya. Namun karena banyak ibu-ibu yang tidak menggunakan WA, maka harus manual dengan mendatangi langsung ke tempat kumpulan.

Tak hanya itu, selles yang datang ternyata menawarkan pentilator dengan harga Rp. 40.000/buah. Saat dicek di internet, ternyata harganya cuma Rp. 10.000,- Kebayangkan berapa kali lipat naiknya. Nah di zaman yang serba mudah ini, andai masyarakatnya cerdas bisa cek harga lewat internet sebagai pembanding dan meminimalisir penipuan.

Motivasi Sekolah yang Rendah
Semenjak digulirkannya program wajib 9 tahun, pendidikan di Pringamba cukup mendapat perhatian. Anak-anak yang lanjut ke jenjang ke SMP dan SMA pun meningkat dibandingkan sebelumnya. Kuliah juga sudah banyak diminati karena kesadaran orang tua yang sudah mulai terbangun. Maka memotivasi mereka untuk peduli pendidikan adalah tugas yang harus di prioritaskan.

Lahan Semakin Tercemar
Petani salak adalah mata pencaharian mayoritas masyarakat desa Pringamba. Untuk menunjang penghasilan, petani banyak menggunakan pupuk yang mengandung pestisida. Hari ini tenu tidak terasa dampaknya, tetapi andai itu terus-terusan dilakukan maka lambat laun tanah yang dulunya subur akan menjadi tandus. Maka inilah pentingnya masyarakat cerdas dan berpendidikan.


Pringamba, 5 November 2017

Pesan untuk Diri Sendiri

23:06:00 3 Comments

Hey kamu, selamat ya atas jabatan barumu sebagai Kasi Pemerintahan di Desa Pringamba. Maaf jika baru sempat mengucapkannya. Mungkin selama ini saya terlalu sibuk membandingkan dirimu dengan orang lain yang pada akhirnya membuatmu merasa terpojok. Kamu merasa selalu ada yang kurang sehigga sering kali tak percaya diri. Dan saya sadar, itu konyol dan benar-benar konyol. Padahal kamu punya jalan takdir sendiri, kamu istimewa, kamu unik dan kamu hebat. Selain kekurangan, saya yakin kamu juga punya kelebihan. Atas sikap konyol saya itu, tolong maafkan saya ya?

Sekarang saya yakin bahwa jalan setiap orang itu berbeda, jika hari ini kamu merasa belum bisa berkarya seperti orang lain, percayalah bahwa kamu punya waktunya sendiri. Tugasmu, menemukan waktu itu.

O ya, dalam tulisan ini saya ingin mengingatkan bahwa menjadi perangkat itu mengabdi, maka tatalah niat dengan sebenar-benarnya niat untuk kebaikan, melayani masyarakat dan melakukan sesutau demi kemajuan desa. Karena sebagaimana kamu dengar dari orang-orang yang pernah kamu temui, akan banyak ucapan yang mungkin tak mengenakan, akan ada kondisi dimana kamu mungkin tak menyukainya, maka menata dan meluruskan niat adalah hal pertama yang harus kamu bangun sebagai pondasi sehingga gejolak apapun yang nantinya terjadi, kamu tak akan merisaukannya.

Bukankah mendaftar menjadi perangkat desa adalah atas kemuanmu sendiri? Bukan karena paksaan ataupun keinginan orang lain kan? Maka kamu harus ingat bahwa setiap keputusan selalu ada konsekuensinya, dan konsekuensi itulah yang menjadi tanggung jawabmu. Sebagai pengingat, saya tuliskan kembali sumpah yang pernah kamu ucapkan dihadapan Camat, Danramil, Kapolres, Kepala Desa dan masyarakat serta Allah Swt. pada tanggal 5 Oktober 2017.

Demi Allah saya bersumpah : Bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya, sebagai Kepala Seksi Pemerintahan Desa Pringamba, dengan sebaik-baiknya, sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya. Bahwa saya, akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Bahwa saya, akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa, Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kenapa saya tuliskan kembali? Karena saya ingin kamu selalu ingat sumpah yang kamu ucapkan, sehigga nantinya akan melakukan pekerjaan secara profesional dan semata-mata karena niat ibadah kepada Allah. Bukankah kamu sendiri yang selalu bilang bahwa kamu ingin menjadi orang yang kehadirannya membawa manfaat untuk orang lain? So, manfaatkanlah pekerjaanmu sebagai sarana dan ladang untuk beribadah dan membawa manfaat untuk orang lain.

Pesan saya, apapun yang terjadi niatkan untuk selalu belajar dan membawa kemajuan Desa Pringamba terkhusus melayani masyarakat yang membutuhkan bantuanmu. Sekali lagi selamat ya. Teruslah berkarya dan jadilah diri sendiri.

Penyerahan SK Kepala Desa (Dok. Desa)
Pringamba, 27 Oktober 2017

Selalu Ada Celah Untuk Mengupgrade Diri

13:03:00 2 Comments

Belum lama ini saya baru menyadari bahwa banyak hal yang sebenarnya mampu dimanfaatkan untuk mengembangkan diri supaya menjadi lebih baik. Bahwa setiap tempat ataupun kondisi yang kita alami hari ini, asalkan insting jeli melihat peluang maka selalu kesempatan.

Posisi menjadi ketua dalam suatu organisasi misal, mampu kita manfaatkan untuk berlatih bicara di depan public agar pembicaraan atau pidato yang kita sampaikan padat, jelas dan mudah dipahami. Kalaupun belum maksimal, kita bisa mengupgrade diri dengan cara membaca buku tentang public speaking ataupun menonton vidio orang-orang terkenal yang gaya bicaranya mampu kita pelajari dan bisa kita praktekan. Sayangnya, kesadaraan ini muncul ketika posisi saya sudah selesai dalam kepengurusan.

Contoh lain adalah ketika saya menjadi guru di SD dan SMK. Selain saya menyampaikan materi pelajaran, saya juga gunakan untuk meningkatkan kemapuan saya dalam hal public speaking. Saya juga belajar tentang management pengelolaan sekolah lewat meeting setiap senin pagi. Tak hanya itu, dengan adanya koneksi internet (wifi) saya gunakan kesempatan ini untuk untuk menonton dan mendownload vidio-vidio motivasi. Ada Arry Rahmawan, Jamil Azzaini, Putra Chandra Negara dan Merry Riana.

Satu alasan kenapa saya menyukai vidio-vidio mereka adalah positif thinking. Dari vidio-vidio yang saya tonton, saya menyimpulkan bahwa mereka adalah orang yang percaya dengan MIMPI. Mereka adalah orang yang memiliki target jelas. Mereka adalah orang yang selalu mengupgrade dirinya dan terus belajar.

Termasuk saat ini saya bekerja di Balai Desa, jaringan wifi yang tersedia rasanya begitu sayang jika hanya digunakan untuk bermain sosmed, fb misal. Pekerjaan perulangan pulang pergi dari rumah ke kantor rasanya sayang pula jika tidak mencari celah agar kualitas diri bertambah. Karena saya yakin bahwa kehidupan selalu berkembang dan mengalami perubahan, jika saat ini tidak pernah mengupgrade diri maka tunggulah saat dimana kita gagap menghadapi perubahan zaman.

Seperti pegawai atau guru zaman dulu yang lahir ketika teknologi masih terbatas, maka ketika saat ini segala sesuatu menggunakan komputer dan internet, mereka gagap. Parah kan?

Solusinya, selalu belajar dan terus belajar karena saya meyakini bahwa ke depan pekerjaan-pekerjaan yang bersifal manual akan banyak tergantikan dengan adanya teknologi. Maka pandai-pandailah mengintip dan mencari kesempatan untuk mengupgrade diri.

Foto Bersama Perangkat Desa Pringamba Setelah Pelantikan
Kamis, 12 Oktober 2017

Profesi Baru

09:24:00 Add Comment

Saat Pengambilan Sumpah (Dok. Desa)

Kamis, 5 Oktober 2017 setelah mengucap sumpah dan dibaiat dengan kata-kata pelantikan oleh Bapak Karno selaku Kepala Desa Pringamba, saya pun telah resmi dan mulai bekerja sebagai Perangkat Desa posisi Kepala Seksi Pemerintahan (Kasi Pemerintahan).

Ada rasa bangga setidaknya diumur yang belum genap 24 tahun saya sudah bisa ikut mengabdi di desa, ikut memberikan andil untuk kemajuan desa. Dan setelah saya amati, profesi yang saya lepas sebagai guru dan profesi perangkat desa sama-sama mengabdi. Hanya saja tantangan perangkat desa lebih berat, katanya harus bertelinga tebal. Pasalnya masyarakat lebih mudah cacatnya daripada kebaikannya.

Bisakah ini dirubah?

Rasanya ini menjadi PR pertama yang harus saya cari solusinya. Bagaimana? Maybe, memanfaatkan sosmed dan internet.

Terkait menjadi perangkat desa, saya termasuk orang yang beruntung. Kenapa? Karena biaya penyaringan dan penjaringan dari mulai pendaftaran sampai pelantikan sudah dianggarkan dari dana desa. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena tak ada anggaran dari desa maka biaya pun dibebankan kepada perangkat desa yang jadi. Bahkan ada yang dalam waktu 2 jam harus mengeluarkan uang 12 juta. Paginya test, setelah diumumkan lulus, setalah dhuhur pelantikan. Maka disela-sela selesai test sampai waktu pelantikan harus mencari uang sebanyak 12 juta. Gila bukan? Saya pun hanya geleng-gelang kepala ketika mendengarnya.

“Maka nikmat Tuhanmu yang mana yang engakau dustakan?”

Sebagai pengingat diri, karena menjadi perangkat sama halnya mengabdi, maka prinsip yang harus saya pegang adalah “Maju Terus, Lakukan yang Terbaik.” Andaikan dalam perjalanan ada suara yang tak enak didengar, berbaik sangkalah mungkin ia belum paham.


Pringamba, 10 Oktober 2017

Awal Mengenal IPNU

10:05:00 Add Comment

Tahun 2012 adalah tahun dimana saya mengenal tentang IPNU IPPNU secara langsung karena sebelumnya hanya tahu namanya saja melalui Mata Pelajaran Aswaja di sekolah yang diampu oleh Bapak Muhammad Munir. Pengetahuan saya hanya sebatas IPNU merupakan akronim dari Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama sedangkan IPPNU adalah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama. Hanya itu.

Berawal dari ajakan dari Rekan Mizanto untuk mengikuti acara Sekolah Kaderisasi Berkelanjutan (SKB) yang diadakan oleh Pimpinan Wilayah IPNU Jateng periodenya Rekan Muhaimin di Cilacap, aku menjadi mengenal IPNU langsung. Masih lekat dalam ingatanku bahwa acara SKB waktu itu Sabtu-Minggu sedangkan Seninnya saya akan melakukan Ujian Madrasah (UM). Karena persiapan ujian insya allah sudah siap maka saya pun mau ikut, setelah sebelumnya sudah dijinkan oleh pengasuh pondok karena saat itu ststusku masih menjadi santri di Pondok Pesantren Miftakhussholihin, Brayut Sigaluh. Asyiik, sebagai sarana refresing atas kepenatan belajar dan obat sakit hati gegara cinta. #eh

Perlu digarisbawahi bahwa di tahun 2012 saat SKB diselenggarakan, PC IPNU IPPNU Banjarnegara sedang mengalami kevakuman. Melalui SKB inilah IPNU IPPNU di Banjarnegara hidup lagi.

Ada 5 orang yang saya ingat ikut dalam SKB itu. Mereka adalah Nur Ngazizah yang nantinya menjadi Ketua IPPNU, tiga anak dari Wanadadi (2 cewek dan 1 cowok) dan penulis sendiri. Karena SKB ini ada 6 kali pertemuan dan bersifat wajib maka sekali tidak ikut satu pertemuan dianggap gugur serta tidak bisa ikut Latihan Kader Utama (Lakut) sebagai ending dari proses SKB tersebut. Dari 5 anak tersebut tinggal dua yang tetersisa saya dan rekanita Nur Ngazizah. Parahnya, karena saya pernah tidak ikut satu kali pertemuan ketika seleksi Lakut akhirnya saya dinyatakan tidak lolos.

Mengenai tempat pertemuan SKB, sistemnya dibuat bergilir. Pertama di Cilacap, kedua di Banyumas dan ketiga di Banjarnegara. Moment pertemuan SKB di Banjarnegara ini lah yang benar-benar dimanfaatkan untuk menghidupkan lagi IPNU IPNU Banjarnegara dari kevakuman. Sabtunya diskusi sampai malam, Ahadnya dibuat acara Konferesnsi Cabang yang ke VIII. Beberapa pengurus PW IPNU Jateng pun turun, salah satunya adalah Ketua Umum PW IPNU Rekan Muhaimin.

Dengan dipandu oleh Pengurus Wilayah, Konferesnsi berjalan dengan lancar dan mengahsilkan keputusan terpilihnya Rekan Mizanto sebagai ketua IPNU dan Rekanita Nur Ngazizah sebagai ketua IPPNU Kabupaten Banjarnegara Periode 2012-2014.

Pasca itu saya mulai aktif sebagai aktivis muda NU dan masuk jajaran kepengurusan sebagai Bendahara Umum di PC IPNU Banjarnegara 2012-2014. Beberapa kegiatan sering saya ikuti namun belum bisa sacara totalitas seperti halnya ketika menjadi ketua karena waktu itu saya menjadi orang yang dituakan di Pesantren.

Waktu terus bergulir, berbagai kegiatan IPNU IPPNU mulai mucul di Banjarnegara. Salah satunya adalah pembentukan Kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) di beberapa kecamatan, seperti Karangkobar, Wanayasa, Rakit, Banjarmangu dan Susukan. Satu tahun pertama berjalan dengan mulus namun satu tahun kedua perkembangannya menjadi lamban. Bahkan semangat di PAC yang sudah terbentuk menurun, untuk tidak mengatakan vakum.

Dua tahun masa kepengurusan tak terasa sudah habis masa periodenya. Di saat sepinya kegiatan IPNU IPPNU, dibentuklah kepanitiaan Konferensi Cabang yang ke IX dengan saya sendiri sebagai Ketua Panitia. Berbagai persiapan dilakukan, namun minimnya panitia membuat persiapan terasa kurang maksimal. Perbedaan pendapat begitu kentara saat itu sehingga menciptakan blok dan seolah terjadi pengkotakan. Bagi saya perbedaan pendapat sebenarnya tidaklah masalah asalkan bisa selesai di forum internal. Sayang, bukan seperti itu yang terjadi. Sehingga berdampak pada lambat dan behentinya kaderisasi yang seharusnya menjadi prioritas utama.

Dampaknya pun luar biasa, periode saya yang seharusnya meneruskan program justru harus kembali mengalami masa Babad IPNU lagi. Parahnya untuk menemukan team dan patner yang solid serta memahami pola gerakan saya untuk memajukan IPNU, saya butuh waktu satu tahun. Baru ditahun kedua saya berjalan sambil mencoba berlari agar periode pasca saya selesai nanti, saya tidak dholim dengan meninggalkan Generasi yang Lemah. Karena saya sadar tentang masa sulit, maka jangan pula masa sulit yang sama terjadi pada generasi selanjutnya.

“Tidak ada yang perlu disalahkan. Masa lalu adalah pembelajaran yang sangat berarti agar hari ini tidak melakukan kesalahan yang pernah terjadi, sembari memupuk dan menyiapkan harapan hari esok yang lebih baik.” (Mad Solihin)

Saat Menjadi Moderator acara Latin PW IPNU IPPNU Jateng 2017

Pringmaba-Banjarnegara, 20-21 Maret 2017 00:41 WIB

Mengenal Diri Sendiri dari Tulisan Tangan

23:18:00 Add Comment


Tulisan Tangan (Dokpri)

Dua minggu yang lalu saya sengaja menemui Bu Endang di ruang kerjanya.. Beliau adalah Guru BK di SMK Taruna Negera, tempat saya ngajar. Tujuan saya adalah berkonsultasi mengenai diri saya. Karena beliau adalah sarjana Psikologi maka saya pun bertanya apakah beliau bisa mengalisis tentang karakter seseorang. Ketika beliau mengatakan bisa menganalisis melalui tulisan tangan, saya segera mengambil buku yang biasa saya gunakan untuk mencatatat dan memberikan kepada beliau. Satu tujuan saya, ingin tahu bagaimana karakter yang saya miliki.

Menurut saya ini menjadi poin penting lantaran tahu karakter, kelemahan misalnya, maka saya pun menjadi tahu apa yang harus saya lakukan untuk menutupi atau bahkan memperbaiki dan membaliknya menjadi kelebihan.

Tak lama setelah beliau melihat dan menganalisa tulisan saya, beliau berkomentar dan menyimpulkan beberapa hal :

Kurang Tegas atau Bingungan
Poin pertama ini lebih kepada sikap saya yang cenderung terombang ambing oleh perkataaan orang. Ini pula yang sering saya alami ketika dapat masalah, meminta nasehat dari berbagai sumber yang nyatanya antara satau sama lain memberikan nasehat yang berbeda, bahkan bertentangan. Maka saran beliau adalah harus punya PRINSIP yang jelas. Jika mengambil keputusan lebih kepada kemantapan hati. Dan lebih penting lagi asal kedua orang tua merestui. Perihal orang lain tak setuju yang penting kedua orang tua merestui, maka keputusan apapun tak jadi masalah.

Saat Ada Uang Bersikap Boros, jika Tidak Ada Uang Bersikap Hemat/Irit
Mendengar poin kedua ini hatiku langsung jleb, karena saat itu keadaan saya persis seperti yang beliau katakan. Solusinya adalah harus pandai dalam Manajemen Keuangan.

Jaim atau Malu-malu pada Orang Baru
Tebakan ketiga juga benar. Saya termasuk orang yang tak mudah berkomunikasi dengan orang baru. Kalaupun berkomukasi juga ala kadarnya. Bercerita pun hanya pada orang-orang tertentu. Saran beliau, jika mempunyai masalah tuliskan dalam kertas setelah itu sobek atau bakar. Cara ini adalah solusi agar hati menjadi plong atau lega. Karena menyimpan emosi yang tak tersalurkan akan membuat psikologi seseorang terganggu.

Bekerja atas Dasar Mood
Kata beliau, saya adalah orang yang melakukan sesuatu berdasarkan mood. Jika moodnya baik maka akan mengerjakan, jika moodnya buruk saya cenderung abai. Dalam poin ini beliau memberikan saran untuk membuat target. Menuliskan mimpi pada kertas. Atau jika seperti itu karakter saya, maka saya harus mencari solusi agar mood saya terus terjaga.

Terakhir, mari mengenal diri sendiri. Karena dengan mengenal diri sendiri kita menjadi tahu apa yang perlu di perbaiki dan apa yang perlu ditingkatkan.

My Dream
Pringamba, 18 September 2017

Belajar Jurus Menulis

22:21:00 2 Comments

Sumber : Group WA Jambore Mojok

What must I write? Agak bingung sebenarnya harus darimana saya memulai tulisan ini, apalagi judulnya seperti mau perang. Tambah bingung ketika yang ingin saya tulis juga ternyata hanya seklumit ingatan atas cerita ngalor ngidul para pembicara yang bahasa dan referensinya tingkat dewa.

Dalam sesion yang dimoderatori oleh Kak Prima Sulistia atau Cik Prim ini terdapat tiga pembica. Mereka adalah Zen RS, Sabda Armandio dan Nuran Wibisono. Dan tahukah kamu bahwa nama mereka adalah kosakata baru dalam perjalanan hidup saya. Meskipun banyak peserta Jambore Mojok yang paham dengan mereka tapi tetap saja saya gak terlalu ngeh dan dalam hati bertanya, “Siapa si mereka?”

Namun saya bersyukur bisa mengenal nama mereka, setidaknya nama-nama baru itu membuat saya lebih banyak pilihan untuk bisa membuat lingkaran positif. Misal, dengan memfollow dan meng-kepo-in tentang mereka.

Oke, kita bahas satu per satu.

Zen RS
Dari curi-curi dengar, Zen RS inilah yang paling santer dan fansnya paling banyak. Founder dari panditfootbal.com ini adalah Esais di tirto.id Dalam cerita yang ia paparkan, ia sudah mulai menulis sejak kelas 2 SD. Orang tuanya yang berprofesi sebagai guru membuatnya tumbuh dalam lingkungan yang gemar membaca dan menulis. Hingga pada waktu SMP ia menjuari lomba puisi, dan yang membuat lebih bersemangat menulis karena yang memberikan hadiah adalah Umar Kayam.

Mengenai Jurus Menulis, ia memberikan beberapa tips :
a.      Membuat tulisan tidak boleh menggunakan kata “yang” lebih dari 5
b.      Fokep atau kosakata harus kaya
c.       Satu kalimat tidak boleh lebih dari 2 koma (,)
d.      Konsisten (Contoh : Setiap hari menulis)
e.      Memaksa ketrampilan dan harus terus berlatih
f.        Berkumpul dengan orang-orang yang suka menulis
g.      Menulis ulang cerita

Selain itu, ia juga menyampaikan gagasannya untuk jangan mengidolakan dirinya sebagai balasan atas pernyataan peserta yang mengidolakannya. “Idolakanlah orang yang tidak terjangkau,” katanya. Karena ketika mengidolakan orang yang tidak terjangkau itu akan menimbulkan respect atau rasa segan. Tak hanya itu, ia juga berpesan untuk belajar pada ahlinya atau belajar pada orang pertama. Sederhananya, buat apa belajar pada saya jika saya juga belajar pada si A, misal. Atau, “Buat apa belajar pada penulis Indonesia jika mereka juga belajar pada penulis barat?”

Untuk belatih meningkatkan mutu, ia menyarankan untuk mencoba berlatih menulis resensi buku. Karena spacenya terbatas, hal itu menantang agar bisa jeli dalam membuat kalimat dan langsung pada poin inti tulisan.

Sabda Armandio
Jika Zen RS dikenal sebagai esais, maka Sabda lebih dikenal sebagai fiksionis. Kamu: Cerita yang Tidak Perlu Dipercaya adalah salah satu karya fiksinya. Sabda tumbuh dalam lingkungan dongeng yang tidak lepas dari pengaruh kakeknya sebagai Dalang.

Selain fiksionis, ia juga sebagai penerjemah karya-karya barat. Referensi bacaannya juga lebih banyak karya-karya mancanegara.

Terkait teknik menulis yang ditanyakan Cik Prim, ia memberikan jawaban bahwa tema tulisan itu perlu di awal untuk menjaga agar sesuai koridor dan tidak keluar jalur. Kemudian pemilihan diksi sebagai kekuatan kalimat dan pentingnya menentukan gagasan utama yang dimasukan ke dalam tokoh. Tujuannya tidak lain adalah menjaga karakter penulis masuk pada sang tokoh.

Mengenai tips dalam belajar menulis, Sabda juga menggunakan teknik menulis ulang. Bahkan beberapa kata dalam bahasa inggris diketik ulang ketika belum menemukan terjemahan yang sesuai.

Nuran Wibisono
Pembicara ketiga ini lebih dikenal sebagai penulis liputan atau jurnalis. Sama dengan kedua pembicara sebelumnya, pengaruh keluargalah yang membentuknya suka dengan dunia membaca. Berawal dari Kakek menurun ke Bapak hingga tradisi suka membaca menurun kedalam dirinya. Menurut ceritanya, ia memulai menulis sejak SMA.

Tentang tips menulis, tak banyak yang saya catat darinya karena memang lebih banyak cerintanya. Hanya pendapatnya tentang pentingnya tema terlebih dahulu digunakan saat membuat tulisan yang serius, contoh ketika nulis di tirto.id

Namun terkadang ia juga menulis spontan tanpa edit yang posting di blog.

Dan pada akhirnya tips hanya sekedar tips jika tak di praktekan. So, mari praktekan J

Pringamba, 4 September 2017

Ikut Online Course Gratis

22:54:00 4 Comments

Pukul 2:00 dini hari saya masih terjaga. Baru saja berselancar di dunia maya hingga akhirnya memutuskan berhenti untuk menuliskan ide yang minta segera dimuntahkan. Ide yang menurut saya bagus untuk dituliskan sambil membayangkan bahwa ini akan sangat bermanfaat bagi mereka yang ingin mengembangkan dirinya agar selalu bertumbuh menjadi lebih baik.

Ide itu adalah tentang pengalaman yang baru saja saya alami, mendaftar pada dua online course yang keduanya memaksa saya untuk selalu berkembang dan bertumbuh.

Hasil Screnshoot dari Website ProductiveMe!

Pertama, ProductiveMe! Academy Online. Online course yang di buat oleh Mas Arry Rahmawan ini berisi tentang pentingnya memanfaatkan waktu. Menegaskan bahwa waktu itu sangat penting namun banyak orang yang tidak tahu cara memanfaatkannya sehingga ketika membandingkan terkait umur, tak ada pencapain prestasi yang membanggakan. Jujur di umur yang sudah berkepala dua ini saya merasa iri pada mereka yang umurnya dibawah atau sepadan dengan saya, namun prestasi dan kebermanfaatannya luar biasa.

Dan dari beberapa vidio online course yang saya donwload dan tonton, ternyata perbedaannya adalah dalam hal penggunaan waktu. Mereka yang cenderung sukses di usia muda memiliki target atau goal yang jelas sehingga setiap waktu yang digunakan pasti fokus pada hal-hal yang mendukung tercapainya target yang telah dibuat.

Jika tertarik coba saja buka ProductiveMe! Academy Online atau bisa juga mengunjungi blog foundernya di arryrahmawan.net

Sumber : Berada FB Mas Budi Waluyo, Ph.D

Kedua, SchoolingMe.com Yang kedua ini adalah kelas khursus Toefl atau Sekolah Toefl yang didirikan oleh Mas Budi Waluyo, Ph.D. Nama beliau sudah lama saya kenal kira-kira 1 tahun yang lalu melalui ebook tentang beasiswa ke luar negeri yang saya downoad di blog milik Mas Sukrisno. Dari  ebook itu saya menemukan alamat blog Mas Budi dan mendapat ebook satu lagi yang dibagikan secara free, juga tentang beasiswa.

Lama tak membuka blog miliknya, kini tampilan dan isinya sudah berubah semakin bervariasi. Salah satu fitur yang tersedia adalah tentang SchoolingMe. Awalnya agak minder takut berbayar, meski sebenarnya inilah kesempatan untuk bisa mengejar impian agar dapat nilai toefl bagus tanpa harus pergi ke Pare Kediri. Bukan karena suka mencari yang gratisan tetapi lebih kepada kondisi yang saat ini belum memungkinkan, karena saya pun sadar “Jerbasuki mawa bea.” Namun setelah membaca panduan cara mendaftar SchoolingMe ini, ternyata gratis. Maka saya pun memutuskan untuk ikut. Ini adalah cara mensiasati diri agar mampu bertumbuh dan berkembang ke arah yang lebih baik sekaligus semoga sebagai jalan menuju tercapainya mimpi, kuliah S2 dengan beasiswa.

Dari pengalaman malam ini saya menjadi sadar bahwa banyak jalan untuk berkembang. Kalau mengutip kata dari Pak Jamil Azzaini bahwa perbedaan antara orang yang bermental kaya dan miskin adalah “Orang yang bermental kaya akan menginvestasikan harta dan waktunya sementara orang yang bermental miskin akan menghabiskan harta dan waktunya.”

Termasuk belum tidurnya saya sampai menjelang pagi ini adalah salah satu cara saya menginvestasikan waktu untuk meraih target hidup yang telah saya tuliskan, Kuliah S2 Luar Negeri dengan Beasiswa. Semoga.

Maka bagi yang ingin belajar toefl, SchoolingMe ini bisa menjadi salah satu media belajarnya. Tenang, mentornya sudah membuktikan hasilnya kok J


Pringamba, 20 Agustus 2017

Meng-Upgrade Diri

01:30:00 Add Comment

Dreambook (Madsolihin.com)

Belum lama ini saya tersadar, kira-kira awal Agustus kemarin ketika saya menggunakan smartphone untuk mendownload vidio youtobe dan menyimpannya di mode offline. Karena memanfaatkan wifi sekolah tentu akan menghabiskan banyak waktu jika langsung menoton setiap vidio dari awal sampai selesai yang tentunya akan mengakibatnya orang di sekitar terbaikan serta pekerjaan yang tak terjamah. Untuk mensiasati hal tersebut maka saya pun menggunakan penyimpanan mode offline sebagaimana iklan di TV. Tujuannya agar bisa diputar kembali di rumah tanpa macet dan nyaman.

Salah satu vidio yang saya simpan adalah milik Arry Rahmawan, Founder Cerdas Mulia Institute. Dari vidio yang Mas Arry buat ini lah saya menyadari betapa pentingnya memanfaatkan waktu dan menentukan goal dalam hidup. Karena tanpa adanya goal yang jelas, seseorang akan berjalan serampangan. Dan yang pasti, tak ada prestasi yang diraih. Ini pula yang membedakan kualitas seseorang meski umurnya sama.

Meng-Upgrade Diri
Setelah menonton beberapa vidio milik Mas Arry, saya menyimpulkan bahwa kita harus selalu meng-upgarde diri. Selalu meningkatkan kemampuan dan kualitas diri. Dan setelah saya renungi, banyak cara yang dapat saya tempuh. Misal, mendownload vidio berkualitas dan bermuatan positif. Ini tips bagi yang ingin mengikuti seminar atau workshop tetapi terkendala masalah biaya dan waktu. Ketika mendownload, saya memanfaatkan wifi sekolah karena jika menggunakan pakat data tak sampai sehari kuota internet pasti ludes. Pada poin ini saya berlatih untuk jeli dalam melihat kesempatan.

Selain mendengarkan vidio, saya memanfaatkan aplikasi iJateng dan iJakarta untuk membaca buku. Setidaknya dengan aplikasi perpustakaan online ini saya bisa membaca buku tanpa harus membeli. Memanfaatkan smartphone untuk selalu meng-upgrade agar kualitas diri selalu berkembang. Bukankah membaca adalah salah satu investasi masa depan? Investasi yang akan mempengaruhi cara berpikir dan besikap. Sebagaimana ungkapan Buya Hamka, “Membaca buku-buku yang baik berarti memberi makanan rohani yang baik.”

Membuat Goal atau Target Hidup
Jujur saya merasa iri pada orang-orang yang umurnya lebih muda dari saya, tetapi pencapaian prestasinya luar biasa. Salah satu penyebabnya, kata Mas Arry dalam salah satu vidionya adalah karena mereka membuat goal atau target hidup yang jelas. Mereka menuliskan mimpi-mimpinya dan menempelkan pada dinding kamar sehingga setiap hari tiada terlewat tanpa membacanya dan otomatis terpogram di alam bawah sadar.

Karena pentingnya menuliskan mimpi, maka selain saya menuliskan 101 mimpi yang ingin saya raih, saya juga menyuruh murid-murid di SMK Taruna Negara untuk menuliskan mimpi-mimpinya. Harapan saya, mimpi-mimpi itu akan terwujud seiring berjalannya waktu. Tentu dengan cara setiap hari kita selalu menyadari bahwa apa yang kita lakukan akan mengantarkan pada tercapainya mimpi yang telah kita buat.

Atau yang lebih hebat lagi, Jamil Azzaini telah menuliskan proposal hidupnya seperti judul bukunya Tuhan Inilah Proposal Hidupku. Semoga saya bisa segera mendapatkan buku tersebut dan mempraktekann isinya, Membuat proposal Hidup.

“Kalau hidup sekedar hidup, babi di hutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja, kera juga bekerja.” (Buya Hamka)

* * *
Dirgahayu Indonesiaku yang ke 72. Semoga selalu Jaya dan Maju serta Selalu terjaga Persatuan dan Kesatuannya.

17 Agustus 2017