Saya yang Pernah di Sepelekan

11:28:00 AM Mad Solihin 0 Comments

HP yang Hilang (Dokpri)

“Anggotane kapiran, ketua panitiane enak-enak. Ngono ka pan dadi ketua IPNU.”
 
Itulah pesan yang saya terima dua setengah tahun silam, tertanggal 20 April 2014 persis beberapa jam sebelum sidang pemilihan ketua berlangsung pada acara Konfercab IPNU yang ke IX di Pondok Pesantren Al-Fatah Parakancanggah Banjarnegara. Pesan yang saya terjemahkan sebagai sebuah cibirin dan penyepelean atas kemampuan yang saya miliki. Pesan itu pun saya simpan di kotak masuk (inbox) dengan rincian pengirim, tanggal dan waktu masih lengkap. Hanya saja rincian itu hilang bersamaan dengan raibnya HP Samsung Duos beberapa bulan yang lalu. Namun tidak dengan isinya, ingatan saya masih begitu lekat sampai saat ini. 

Ya, saya masih mengingatnya. Sangat ingat malah. Mungkin inilah makna peribahasa bahwa lisan itu lebih tajam daripada pedang. Tusukannya benar-benar menghujam dalam sampai ulu hati sehingga luka yang tergores karena lisan terkadang sembuhnya butuh waktu yang lama. 

Sekarang, pesan ini membuat saya bertanya pada diri sendiri, haruskah saya berterima kasih sebagai wujud positif thinking karena pesannya itu nyatanya tak terbukti. Berterima kasih karena pesan itu membuat saya terlecut untuk membungkamnya. Toh, masa kepengurusan saya sudah selesai sehingga cibiran bahwa masa kepengurusan saya akan mengalami kevacuman juga sudah tidak berlaku lagi. Maka, satu hal yang saya pelajari adalah bahwa semua orang bisa menjadi pemimpin. Walaupun pada awalnya masih banyak kekurangan, tetapi percayalah bahwa skill, kemampuan dan kecakapan itu bisa dipelajari sambil berjalan. Sebagaimana pengalaman yang saya alami. Yang seseorang butuhkan bukan cibiran dan nada merendahkan tetapi bimbingan dan arahan karena sejatinya hidup adalah belajar. Yang seseorang butuhkan adalah kesempatan untuk membuktikan, bukan meng-justice bahwa ia tak pantas dan layak menjadi pemimpin dengan alasan ini dan itu. 

Entah pengirimnya masih ingat atau tidak, yang jelas pesan itu membuat saya benar-benar merasa disepelekan dan sakit hati. Bagaimana tidak, waktu itu posisi sebagai ketua panitia yang harus mengurus segala keperluan bahkan untuk sowan pun hanya berpatner dengan ketua IPNU sebelum saya, nembusi konsumsi ke muslimat, sowan minta support ke para sesepuh dan pembina untuk kelancaran acara. Eh, dibilang “ketua panitiane enak-enak” gegara sewaktu ditanya saya sedang gabung dengan teman-teman PW IPNU di rumah makan gubug eksotic (dulu persis di sebelah timur Ahas Honda Parakancanggah). Padahal jangankan makan, minum saja belum. Pun dengan peserta, andaikan ungkapan “anggotane kapiran” itu maksudnya adalah masalah konsumsi, toh waktu itu bukan karena tidak ada tetapi karena sedang diambil. Maklum jaraknya lumayan jauh di Mandiraja.

So, fokuslah pada aksi nyatamu. Jangan hiraukan cibiran, kritik dan ungkapan yang menyakitkan itu. Karena semua orang punya pemikiran berbeda dan tidak sama dengan cara berpikirmu. Yang jelas, buktikan bahwa kamu mampu. Jangan hiraukan pernyataan orang lain yang merendahkan dan menyepelekanmu. Karena mereka punya sudut pandang kebenaran berbeda ketika melihatmu, laiknya cerita anak dan bapak dengan keledainya. Atau cerita 4 orang buta yang disuruh mendiskripsikan tentang gajah. Dan percayalah Tuhan selalu mengirim malaikat yang selalu menemanimu, selama niatnya baik dan engkau mau bergerak, engkau akan selalu menemukan patner yang mendukungmu. 

Pringamba, 7 Desember 2016 05:49 WIB
Mad Solihin

You Might Also Like

0 comments: