Galau Pasca Kampus

11:43:00 Mad Solihin 0 Comments



Saat Proses Skripsi
Sudah tiga bulan pasca saya wisuda, namun belum satu pun surat lamaran kerja yang saya buat dan saya kirim ke instasi sekolah atau perusahaan. Entah lah, ada rasa belum mantap jika harus kerja menetap lantaran masih ingin bisa leluasa pergi ke sana kemari untuk mencari pengalaman tanpa harus meninggalkan kewajiban, karena dalam angan saya sekarang jika sudah mengajar misal, maka betapa saya dhalim jika sering meninggalkan siswa dan mereka akan berujar “Jam pelajaran hari ini kosong, gurunya tidak berangkat”. Saya tidak ingin seperti itu. Bahkan jika ada rezeki pengin bisa kursus Bahasa Inggris di Pare Kediri untuk mengejar Toefl dan berburu beasiswa LPDB, syukur-syukur bisa kuliah S2 di luar negeri. 

Sebenarnya kalau kerja saya sudah menjadi reporter di Majalah Bintang Cendekia tidak lama setelah saya wisuda, hanya saja setelah saya kehilangan hp android Oppo sampai sekarang belum ada kontak lagi karena biasanya kami berkomunikasi lewat WA. Pernah saya menginfromasikan kepada Mba Novi selaku redaktur pelaksana lewat email perihal hp saya yang hilang dan jika ada kepentingan supaya menghubungi nomor sementara yang saya tinggalkan di email, namun entah masih jalan atau tidak, atau mungkin sudah mendapat reporter baru sehingga tak menghubungi saya. Entahlah, hanya saja saya berharap jika ada tulisan saya yang nantinya masuk cetak saya bisa mendapatkan majalahnya dan mendapat kejelasan status, masih memerlukan bantuan saya sebagai reporter atau tidak. 

Perihal kerja, saya juga akan menghitungnya setelah Konfercab pada tanggal 8-9 Oktober 2016 lalu. Pasalnya setelah wisuda saya harus mengurusi bahkan sampai hari ini masih belum selesai soal kekurangan dan masih punya tanggungan. Jadi jika dihitung baru sekitar satu bulan setengah saya benar-benar santai (mungkin, hanya perkiraan subjektif penulis saja). Dan yang membuat  saya santai juga bukan tanpa alasan, pasalnya ada tawaran untuk menjadi full timer di LP Ma’arif Banjarnegara. Karena saya sudah meng’iya’kan dan menyatakan kesediaannya, saya takut kalau melamar di tempat baru maka menghianati kepercayaan dari Pak Hendro. Selain karena saya kira, kalau menjadi full timer saya akan bisa berlatih mandiri sekaligus punya banyak waktu luang untuk merencanakan masa depan.

Galau kah saya? Tentu perasaan itu ada. Namun yang membuat saya galau bukan perihal kerja dimananya, tetapi lebih ke ucapan ibu saya supaya mendaftar mencari peruntungan sekaligus pertanyaan orang desa yang masih berpikiran bahwa setelah kuliah maka harus langsung kerja. Itu lah beban moral sebagai orang desa kuliah yang menjadi sarjana. Karena pemikiran mereka masih menganut paham “Kenapa sekolah duwur-suwur jika akhirnya menganggur?”

Untuk mengobati pertanyaan itu saya berprinsip “Yang penting saya tidak merugikan orang lain. Bagaimanapun keadaan saya sekarang toh saya meminta uang kepada orang tua saya. Tetannga yang berkomentar, mereka sama sekali tak pernah membiayai saya dan saya pun tak membuat mereka susah hidupnya.” Dan saya percaya bahwa suatu saat nanti saya bisa membawa kemanfaatan untuk orang lain, ikut memajukan masyarakat desa dan terutama membantu meringankan beban ibu dan bapak. Saya optimis untuk itu. So, hari esok masih panjang dan sebagai lelaki, umur saya sekarang masih tahap untuk terus menggembleng diri supaya benar-benar menjadi pribadi yang berkualitas. 

Pringamba, 28 November 2016 14:49 WIB
Mad Solihin

You Might Also Like

0 comments: