Teman Lama

15:00:00 Mad Solihin 0 Comments

Ilustrasi
Malam itu suasana berbeda. Di sebuah cafe yang biasa buat nongkrong untuk sekedar melepas penat dan mencari inspirasi untuk menulis, Riski tak duduk sendiri seperti biasa. Ada sosok perempuan yang menemaninya. Dari gaya percakapan keduanya terlihat mereka adalah orang yang sudah lama kenal, tepatnya teman lama. Pertemuan itu pun tak sengaja, Siti Ma’rifah perempuan yang kini sedang menyelesaikan studinya di Amsterdam, Belanda sedang pulang ke Indonesia. Setelah lama tak ada komunikasi tetiba saja muncul pesan lewat inbox yang mengabarkan kepulangannya. Rizki yang kebetulan sedang online langsung membalas dan mengajaknya untuk bertemu yang diiyakan oleh Rifa, panggilan akrab teman lamanya itu. Pucuk di cinta ulampun tiba. Begitulah pekik Rizki dalam hati. Keinginan untuk bisa kuliah S2 di luar negeri yang sempat redup setidaknya bisa di cas dan kembali membara.

“Sibuk apa sekarang?” tanya Rifa setelah bertukar kabar. “Katanya baru wisuda S1. Selamat ya. Semoga ilmunya berkah. Lanjut S2 atau langsung kerja?” tanyanya lagi.

“Aamiin. Terima kasih ya doanya. Ini bantu orang tua di rumah, pengin langsung lanjut S2 cuma kalau mengandalkan orang tua tak mungkin. Kasihan mereka, rencana berhenti satu tahun dulu buat mencari peluang beasiswa, syukur bisa di luar negeri. Aku iri sama kamu,” jawab Rizki.

“Hahaha, iyalah secara aku kan saingan terberatmu yang tak bisa dikalahkan,” balas Rifa sambil tertawa.

Percakapan malam itu pun banyak berisi tentang cita-cita dan rencana kedepan. Rifa, perempuan beruntung yang dulu pernah satu almamater di MTs Walisongo setelah lulus langsung melanjutkan ke salah satu SMA di Yogyakarta. Selain karena keluarganya yang kaya, ia pun dibekali dengan kemampuan otak yang encer. Pantas saja ia sering mengikuti event-event bergengsi mewakili sekolahnya. Itu pula yang membuatnya menjadi pribadi yang terbuka dan berpikiran maju. Sehingga menjelang kelulusan, ia pun mengabarkan akan kuliah di Belanda yang mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah maupun keluarga.

Kesukaannya dalam mapel bahasa Inggris ternyata berbuah manis. Beasiswa LPDB yang mensyaratkan skor Toefl dan IELTS tak menjadi halangan baginya. Selain karena sering diskusi dengan bahasa Inggris di extrakulikuler “English Study Club” juga rajin menghafal 10 kosataka per hari. Maka ia pun lulus tes dan berkesempatan kuliah di luar negeri gratis. Pasca itulah keduanya menjadi hilang kontak.

“Muhammad Abdau Rizki, reporter Majalah Bintang Cendekia,” eja Rifa membaca kartu nama Rizki yang tergelatak di meja. “Cie udah jadi wartawan ya sekarang.” Canda Rifa sambil memasang muka senyum.

“Hehe ... Iya baru satu bulan buat mengasah bakat menulis,” jawab Rizki sambil merebut kartunya.

Keasyikan ngobrol membuat keduanya lupa bahwa waktu sudah cukup malam. Untunglah dia sudah ijin dengan orang tuanya sehingga tidak terlalu khawatir bahkan ayahnya meminta Rizki bertandang ke rumahnya.

Pertemuan yang singkat itu pun Rizki manfaatkan untuk bertanya-tanya tentang kuliah di luar negeri. Cerita-cerita pengalaman kuliahnya di Belanda menjadi magnet tersendiri buat Rizki. Keinginan menembus batas negara semakin kuat terpatri dalam hatinya. Ia ingin membuktikan bahwa kekuatan mimpi memang benar-benar nyata. Dan dia ingin membuktikannya.

“Hey ... Aku ingin menikah,” celetuk Rifa memasang muka serius.

“Yang benar, kapan? Sama siapa?” tanya Rizki memberondong kaget.

Meminta persetujuan orang tua, demikianlah salah satu alasan kepulangannya ke Indonesia. Jika orang tuanya setuju maka dua hari lagi keluarga calonnya akan bertandang ke rumah, melamar. Rizki, teman akrab yang dianggap sudah hampir seperti kakaknya sendiri adalah orang yang pertama kali dihubunginya. Ia meminta bantuan untuk mengurus undangan kepada teman-temannya karena setelah lamaran ia berencana langsung balik ke Belanda untuk mengurus wisudanya di kampus. Baru setelah selesai langsung kembali ke Indonesia lagi untuk melangsungkan pernikahannya dengan Muhammad Naufal, kakak kelas yang dulu banyak membantu awal-awal perkuliahan di Belanda.

“Okee .. Beres pokoknya. Serahkan saja padaku,” jawab Rizki mengiyakan.

Banjarnegara, 23 Oktober 2016

You Might Also Like

0 comments: