Pendidikan Kasat Mata

11:45:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Ilustrasi
Enam juta rupiah, bukan uang yang sedikit untuk posisi saya saat ini. Tanggungan sisa kegiatan konfercab yang mau gak mau saya harus menjadi buronan sungguh menghilangkan nafsu makan. Konfercab yang seharusnya bisa membuat saya bernafas lega ternyata tidak, atau mungkin ini bagian skenario Tuhan dalam mendidik saya supaya menjadi orang yang tangguh dan tidak kagetan. Khusnudzon saja begitu. Bukankah setiap masalah Allah selalu menyediakan paket solusinya?

Masalah adalah alat penggenjot paling ampuh agar manusia memaksimalkan kemampuan, begitulah pikir saya atas hasil pengalaman yang pernah saya alami. Masalah membuat kita berpikir untuk menembus batas, menerobos sekat-sekat yang terlihat tidak mungkin. Perihal hutang sebenarnya bukan hal yang baru karena saya pun pernah mengalami sebelumnya. Kasusnya hampir sama, kelebihan kaos dan peserta yang tidak maksimal. Aggggrrhhh ... Sungguh menyiksa pikiran, tetapi bukankah segala sesuatu itu tidak gratis?

Menjadi orang yang paham tentu tidak bisa diperoleh hanya dengan tidur dan bermain. Harus ada pengorbanan yang dilakukan. Dan enam juta mungkin saja harga yang harus saya bayar atas pengalaman berharga yang saya dapat. Lelah, kesal, suka, tawa dan berbagai parnak-pernik pembelajaran baru adalah sesuatu yang harus saya bayar. Maka kenapa harus sedih? Dimana saya dapat membeli pengalaman jika tidak pernah melakukan kegiatan? Masalah masih banyak kekurangan dan kesalahan itu adalah hal yang wajar namanya saja sedang proses belajar. Proses ini pula lah pendidikan sesungguhnya, pendidikan kasat mata yang materinya langsung mengena tanpa disadari.

Percayalah, bahwa segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya. Pengalaman bagi kader-kader baru sebagai generasi penerus estafet kepemimpinan pasti ada. Dari kegiatan yang menyisakan hutang tersebut juga memberi kesan tersendiri setidaknya generasi pasca saya sudah lebih berpengalaman dan tidak mengulangi apa yang saya lakukan. Maka sia-sia kah pengorbanan kemarin? Tidak. Saya meyakini bahwa ada manfaat meski harus menjadi tumbal.

Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?


Banjarnegara, 25 Oktober 2016

You Might Also Like

0 comments: