Kisah di Balik Festival Musik Religi

2:03:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Panitia dan Dewan Juri Festival Musik Reigi  (Dok. Panitia)
Malam sudah semakin larut, pukul 00:56 ketik saya memulai mengetik tulisan ini. Entah mengapa mata ini belum bisa terpejam meski kalau dipaksa bisa saja saya terlelap, tetapi bergelayut berbagai hal yang terpikirkan membuat saya masih terjaga. Tentang festival musik religi yang baru saja terlaksana, rasanya terlalu sayang jika saya lewatkan untuk tidak menulisnya. Tentang perjuangan berdarah yang semua itu terbayar dengan antusias dan suksesnya acara. Alhamdulillah, ada kelegaan dalam hati.

Dan percayalah bahwa dalam setiap kegiatan, ada proses perjuangan dan segelintir orang yang benar-benar mengorbankan waktunya. Ya, segelintir orang yang menjadi kunci utama terselenggaranya acara. Semua itu berlaku dalam setiap moment, apapun.

Ada kisah menarik tentang perjalanan sampai akhirnya terlaksananya Festival Musik Religi. Berawal dari rapat pembahasan konfercab yang menginginkan adanya kegiatan pra konfercab, maka muncullah ide untuk mengadakan festival musik religi yang disetujui oleh semua pengurus yang hadir. Ada semangat yang berkobar dan menggebu di awal. Namun muluskah perjalanan itu? Konsisten kah semangat itu? Ternyata tidak, karena setiap yang waktu itu hadir ternyata mulai sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri. Bahkan, proposal yang awalnya akan didistribusikan ke perusahaan-perusahaan semua kandas dan tergeletak di sekretariat.

Pernah saya menyindir kepada pengurus yang menjadi PJ (penanggung jawab) dengan bertanya mau di bakar atau di buang? Namun, tetap saja tak ada yang jalan. Begitupun dengan waktu yang ternyata sudah jauh dari rencana awal, sudah lebih dari tanggal 10 padahal biasanya proposal yang masuk ke perusahaan jika ingin goal harus menyerahkan di awal bulan, maksimal sampai tanggal 10. Wal hasil proposal mubadzir. Dua proposal yang saya ajukan pun tidak behasil.

Pun dengan tempat yang rencana awal mau di Balai Budaya ternyata mengalami kendala. Pertama karena Balai Budaya katanya mau di pasang kedap suara, akhirnya bisa memakai tetapi di panggung belakang. Ketika teknical meeting, Pak Suyanto selaku juri menyampaikan bahwa tempat belakang balai budaya itu menghadap matahari sehingga peserta akan kepanasan ketika tampil. Belum lagi sound systemnya harus yang bagus dan standar dengan anggaran 2,5 juta minimal. Karena pertimbangan itulah akhirnya pindah ke pendopo.

Proses pindah ke pendopo pun harus melalui proses yang tak mengenakan. Eman adalah orang yang kena batunya. Haha Waktu itu ada semacam angkat tangan, ketika Mba’ Uus mempasrahi ke Eman untuk nembusi ke Kabag Umum Sekda, parahnya sewaktu ada yang tanya terkait dengan tempat bagaimana, maka Eman menjadi kambing hitamnya. Saat kabag umum tidak ada masalah, katanya harus nembusi ke SMP N 1 Banjarnegara gegara waktu festival bukan hari libur dan takut menganggu. Padahal waktunya sudah semakin mempet.

Nembusi ke SMP N 1 Banjarnegara, muluskah? Ternyata harus memakan hati juga. Saat itu, Jum’at sewaktu Eman pergi ke sekolah SMP yang ternyata sedang ada rapat, maka ia pun harus bolak balik sampai 3 kali baru bisa ketemu. Dan ketika bertemu bukan langsung beres malah harus membuat surat.
Senin, 2  hari sebelum acara tempat masih mengambang antara balai budaya atau pendopo. Hari itu pun akhirnya Dayat yang lumayan mendesak memutuskan untuk di Pendopo, jika ada masalah siap adu debat pokoknya. Sudah bereskah? Ternyata belum, satu hari sebelumnya sound system dan drumb belum ada yang fix. Haha parah. Karena sudah semakin mendesak akhirnya Dedi yang harus muter-muter mencari sound system dan didapatilah sound system paranada.

Perekap clear, tempat, sound sytem, drumb dan juri. Tapi bereskah? Ternyata tidak. Ada satu masalah yang sangat penting, yaitu belum ada dana untuk membayar sound system, juri dan sewa tempat. Tetapi percayalah bahwa ketika kita memikirkan orang lain, Allah lah yang akan memikirkan kita. Allah selalu bisa membuat hamba-Nya tersenyum. Begitu mudah jalan yang Allah berikan untuk menyelesaikan berbagai masalah.

Dana yang dari KPU lumayan keluar 2 juta, tetapi karena dipotong pajak maka menjadi Rp. 1.745.000,- Pinjaman dari Lulu 2 juta dan pinjaman yang Dayat usahakan ke Kang Nurul senilai Rp. 2.350.000,- Uang 3 juta yang Uus pinjam ke temannya pun bisa teratasi.

Alhamdulillah, selalu ada jalan di setiap kesempitan. Ketika kita mau usaha Allah selalu memberikan jalan. Dan jalan itu laiknya wadah yang kita punya. Jika kita hanya punya gelas maka air yang kita dapat hanya segelas. Dan semakin besar wadah yang kita miliki maka semakin banyak air yang bisa kita dapat.

Maka Nikmat Tuhanmu yang Mana yang Engkau Dustakan?


Banjarnegara, 6 Oktober 2016 01:55 WIB

You Might Also Like

0 comments: