Tentang Penulis

02:05:00 4 Comments

Lokasi : Puncak Sindoro

Mad Solihin itulah nama pemberian orang tua saya dulu, 7 hari pasca tanggal 28 Januari 1994 di Banjarnegara, tepatnya di Desa Pringamba Rt 006 Rw I, Kecamatan Sigaluh, sebagai harga paling berharga sekaligus doa buat penulis supaya menjadi anak yang sholih. Aamiin

Di usia 7 tahun langsung belajar di SDN 1 Pringamba tanpa PAUD dan TK (Karena dulu belum ada). Selepas SD langsung kabur dari desa, mencoba hidup mandiri di MTs Walisongo Brayut Sigaluh sambil belajar membaca Al-Qur’an di Pondok Pesantren Miftahussholihin di bawah asuhan Romo KH. Ahmad Ngisom Al-Hafidz sampai jenjang SLTA yang masih satu yayasan, MA Walisongo Brayut Sigaluh.

Karena masih merasa bodoh dan alhamdulillah mendapat doa restu serta dukungan dari orang tua, akhirnya berkesempatan mencicipi jadi mahasiswa Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, lebih tepatnya di Desa Kalibeber. Pernah juga tinggal dan ngangsu kaweruh di Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah selama satu semester (semester 4).

Sebagai mahasiswa yang tertarik dalam berbagai kegiatan di luar kelas akhirnya saya bergabung di BEM FITK sebagai sekretaris II dan HMP PAI sebagai sekjend. Juga aktif di organisasi luar kampus seperti PC IPNU Banjarnegara sebagai Ketua periode 2014-2016 dan PN Indonesian Youth Dream.

Menjadi sosok yang suka dengan dunia tulis menulis dan mengoleksi buku. Punya mimpi untuk menerbitkan buku dan bisa kuliah di luar negeri. Tertantang untuk traveling keliling Indonesia dan keliling dunia sambil mengembangkan bakat dalam bidang kepenulisan serta menyebarkan virus positif dan menginspirasi melalui tulisan.


Penulis bisa dihubungi melalui alamat surel : madsolihin95@gmail.com atau ID Akun Sosmed : Line – Twitter – Istagram : @mad_solihin dan Fb Mad solihin. 

Pendidikan Kasat Mata

23:45:00 Add Comment
Ilustrasi
Enam juta rupiah, bukan uang yang sedikit untuk posisi saya saat ini. Tanggungan sisa kegiatan konfercab yang mau gak mau saya harus menjadi buronan sungguh menghilangkan nafsu makan. Konfercab yang seharusnya bisa membuat saya bernafas lega ternyata tidak, atau mungkin ini bagian skenario Tuhan dalam mendidik saya supaya menjadi orang yang tangguh dan tidak kagetan. Khusnudzon saja begitu. Bukankah setiap masalah Allah selalu menyediakan paket solusinya?

Masalah adalah alat penggenjot paling ampuh agar manusia memaksimalkan kemampuan, begitulah pikir saya atas hasil pengalaman yang pernah saya alami. Masalah membuat kita berpikir untuk menembus batas, menerobos sekat-sekat yang terlihat tidak mungkin. Perihal hutang sebenarnya bukan hal yang baru karena saya pun pernah mengalami sebelumnya. Kasusnya hampir sama, kelebihan kaos dan peserta yang tidak maksimal. Aggggrrhhh ... Sungguh menyiksa pikiran, tetapi bukankah segala sesuatu itu tidak gratis?

Menjadi orang yang paham tentu tidak bisa diperoleh hanya dengan tidur dan bermain. Harus ada pengorbanan yang dilakukan. Dan enam juta mungkin saja harga yang harus saya bayar atas pengalaman berharga yang saya dapat. Lelah, kesal, suka, tawa dan berbagai parnak-pernik pembelajaran baru adalah sesuatu yang harus saya bayar. Maka kenapa harus sedih? Dimana saya dapat membeli pengalaman jika tidak pernah melakukan kegiatan? Masalah masih banyak kekurangan dan kesalahan itu adalah hal yang wajar namanya saja sedang proses belajar. Proses ini pula lah pendidikan sesungguhnya, pendidikan kasat mata yang materinya langsung mengena tanpa disadari.

Percayalah, bahwa segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya. Pengalaman bagi kader-kader baru sebagai generasi penerus estafet kepemimpinan pasti ada. Dari kegiatan yang menyisakan hutang tersebut juga memberi kesan tersendiri setidaknya generasi pasca saya sudah lebih berpengalaman dan tidak mengulangi apa yang saya lakukan. Maka sia-sia kah pengorbanan kemarin? Tidak. Saya meyakini bahwa ada manfaat meski harus menjadi tumbal.

Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?


Banjarnegara, 25 Oktober 2016

Teman Lama

15:00:00 Add Comment
Ilustrasi
Malam itu suasana berbeda. Di sebuah cafe yang biasa buat nongkrong untuk sekedar melepas penat dan mencari inspirasi untuk menulis, Riski tak duduk sendiri seperti biasa. Ada sosok perempuan yang menemaninya. Dari gaya percakapan keduanya terlihat mereka adalah orang yang sudah lama kenal, tepatnya teman lama. Pertemuan itu pun tak sengaja, Siti Ma’rifah perempuan yang kini sedang menyelesaikan studinya di Amsterdam, Belanda sedang pulang ke Indonesia. Setelah lama tak ada komunikasi tetiba saja muncul pesan lewat inbox yang mengabarkan kepulangannya. Rizki yang kebetulan sedang online langsung membalas dan mengajaknya untuk bertemu yang diiyakan oleh Rifa, panggilan akrab teman lamanya itu. Pucuk di cinta ulampun tiba. Begitulah pekik Rizki dalam hati. Keinginan untuk bisa kuliah S2 di luar negeri yang sempat redup setidaknya bisa di cas dan kembali membara.

“Sibuk apa sekarang?” tanya Rifa setelah bertukar kabar. “Katanya baru wisuda S1. Selamat ya. Semoga ilmunya berkah. Lanjut S2 atau langsung kerja?” tanyanya lagi.

“Aamiin. Terima kasih ya doanya. Ini bantu orang tua di rumah, pengin langsung lanjut S2 cuma kalau mengandalkan orang tua tak mungkin. Kasihan mereka, rencana berhenti satu tahun dulu buat mencari peluang beasiswa, syukur bisa di luar negeri. Aku iri sama kamu,” jawab Rizki.

“Hahaha, iyalah secara aku kan saingan terberatmu yang tak bisa dikalahkan,” balas Rifa sambil tertawa.

Percakapan malam itu pun banyak berisi tentang cita-cita dan rencana kedepan. Rifa, perempuan beruntung yang dulu pernah satu almamater di MTs Walisongo setelah lulus langsung melanjutkan ke salah satu SMA di Yogyakarta. Selain karena keluarganya yang kaya, ia pun dibekali dengan kemampuan otak yang encer. Pantas saja ia sering mengikuti event-event bergengsi mewakili sekolahnya. Itu pula yang membuatnya menjadi pribadi yang terbuka dan berpikiran maju. Sehingga menjelang kelulusan, ia pun mengabarkan akan kuliah di Belanda yang mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah maupun keluarga.

Kesukaannya dalam mapel bahasa Inggris ternyata berbuah manis. Beasiswa LPDB yang mensyaratkan skor Toefl dan IELTS tak menjadi halangan baginya. Selain karena sering diskusi dengan bahasa Inggris di extrakulikuler “English Study Club” juga rajin menghafal 10 kosataka per hari. Maka ia pun lulus tes dan berkesempatan kuliah di luar negeri gratis. Pasca itulah keduanya menjadi hilang kontak.

“Muhammad Abdau Rizki, reporter Majalah Bintang Cendekia,” eja Rifa membaca kartu nama Rizki yang tergelatak di meja. “Cie udah jadi wartawan ya sekarang.” Canda Rifa sambil memasang muka senyum.

“Hehe ... Iya baru satu bulan buat mengasah bakat menulis,” jawab Rizki sambil merebut kartunya.

Keasyikan ngobrol membuat keduanya lupa bahwa waktu sudah cukup malam. Untunglah dia sudah ijin dengan orang tuanya sehingga tidak terlalu khawatir bahkan ayahnya meminta Rizki bertandang ke rumahnya.

Pertemuan yang singkat itu pun Rizki manfaatkan untuk bertanya-tanya tentang kuliah di luar negeri. Cerita-cerita pengalaman kuliahnya di Belanda menjadi magnet tersendiri buat Rizki. Keinginan menembus batas negara semakin kuat terpatri dalam hatinya. Ia ingin membuktikan bahwa kekuatan mimpi memang benar-benar nyata. Dan dia ingin membuktikannya.

“Hey ... Aku ingin menikah,” celetuk Rifa memasang muka serius.

“Yang benar, kapan? Sama siapa?” tanya Rizki memberondong kaget.

Meminta persetujuan orang tua, demikianlah salah satu alasan kepulangannya ke Indonesia. Jika orang tuanya setuju maka dua hari lagi keluarga calonnya akan bertandang ke rumah, melamar. Rizki, teman akrab yang dianggap sudah hampir seperti kakaknya sendiri adalah orang yang pertama kali dihubunginya. Ia meminta bantuan untuk mengurus undangan kepada teman-temannya karena setelah lamaran ia berencana langsung balik ke Belanda untuk mengurus wisudanya di kampus. Baru setelah selesai langsung kembali ke Indonesia lagi untuk melangsungkan pernikahannya dengan Muhammad Naufal, kakak kelas yang dulu banyak membantu awal-awal perkuliahan di Belanda.

“Okee .. Beres pokoknya. Serahkan saja padaku,” jawab Rizki mengiyakan.

Banjarnegara, 23 Oktober 2016

Dua Tahun yang Penuh dengan Ilmu dan Pengalaman

18:58:00 2 Comments
Peserta Konfercab setelah selesai Pemilihan Ketua IPNU
Rentang waktu dari 20 April 2014 – 9 Oktober 2016, 2 Tahun 5 Bulan 20 Hari. Selama itulah saya menjadi ketua PC IPNU Banjarnegara menggantikan rekan Mizanto, memikul amanah Konferensi Cabang IPNU Banjarnegara yang ke IX di Pondok Pesantren Al-Fatah. Di Konferensi Cabang (Konfercab) yang ke-X  tepatnya  di MTs Ma’arif Mandiraja itulah saya menyelesaikan amanah dan menyerahkan kepada rekan saya Eman Setiaji sebagai ketua terpilih. Alhamdulillah, lega rasanya dan ada rasa bangga setidaknya perjuangan berdarah selama dua tahun setengah tidaklah sia-sia.

Suka, duka, kesal, marah, bahagia, senyum, kumpul bareng sampai pada tataran makan nasi lauk kerupuk dicampur kecap dan saos pun pernah saya alami. Serius, Beneran saya gak bohong. Gak ada gunanya kan saya berbohong. Hhe Hanya sekedar untuk irit karena selama menjadi ketua masih bergantung kepada orang tua. Haha Namun satu hal yang pasti, selalu ada rezeki untuk menopang perjalanan menjadi ketua. Buktinya sampai saat ini saya masih dalam keadaan sehat wal afiat, bahkan bisa wisuda gelombang pertama mengalahkan mahasiswa lain yang tekun kuliah. Haha #Sedikit sombong gak papa kan? Meskipun aktifis, akademik juga tetap jalan. Hehe

Selama dua tahun setengah juga nyatanya bisa berkeliling, 20 kecamatan di Banjarnegara setidaknya pernah terjelajah, membuat berbagai kegiatan dan yang paling menyenangkan bisa kenal dengan orang-orang hebat mulai dari Ulama yang fokus pada pesantren sampai pada pejabat yang punya pengaruh sekaligus inspiratif. Intinya banyak ilmu dan pengalaman yang bisa saya dapat. #Gak nyesel deh IPNU-an. Malah bisa kenal dengan banyak orang baik lintas generasi mulai dari yang kecil, muda seumuran sampai yang tua atau pun lintas daerah mulai dari kecamatan, kabupaten sampai provinsi. Kalau anak IPNU sering bilang, itu namanya berkah.

Namun perlu digaris bawahi, bahwa kesuksesan tentu tidak lepas dari peran orang lain. Maka melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan beribu terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu baik secara langsung maupun tidak sehingga saya pun bisa menyelesaikan amanah ini sampai ke titik terakhir. Mulai dari mensupport sehingga saya bisa bangkit ketika dalam kondisi terpuruk dan hampir putus asa. Para pembina, pengurus PCNU, pengurus Muslimat, Fatayat, Ansor dan Bansernya serta kepada semua rekan/ita seperjuangan. Jazakumullah ahsalan jaza.

Kekhilafan, salah kata dan menyinggung perasaan juga menghiasi proses perjalanan di organisasi sehingga melalui tulisan ini juga saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada semua pihak baik rekan seperjuangan maupun para sesepuh yang selama saya menjadi ketua merasa tersakiti. #Pliss forgive me .. tangan tertangkup.

Kepada rekan Eman Setiaji dan Rekanita Ruti Khasanah, masih banyak tugas yang perlu kalian teruskan. Selamat belajar dan belajar. Karena sejatinya ber-IPNU IPPNU-an adalah untuk belajar. Berlebih menjadi orang yang di depan, satu pesan yang saya kutip dari Rekan Mizanto, “Ngemong itu kudu sabar.” (Terjemahkan sendiri. Menjadi ketua harus bisa berpikir 5 langkah lebih maju dari yang dipimpin ... Haha) Karena setiap orang itu tidak sama dan tak bisa disamakan. Itu pula yang menjadi ladang belajar untuk menjadi orang yang sabar dan berlatih memahami karakter orang lain.


Banjarnegara, 21 Oktober 2016 18:37 WIB

Liputan Ketiga

14:36:00 Add Comment
Wawancara dengan Kepala Sekolah, Muhamad Arifin, SE (Foto: Miftakhul Khawaji)
SMK Al-Fatah adalah tempat penugasan saya yang ketiga sebagai reporter di Majalah Bintang Cendekia setelah sebelumnya meliput di SMP N 1 Wanayasa dan MI AL-Falah Joyokusumo. Ada rasa gerogi sebenarnya karena beberapa orang di situ adalah orang yang saya kenal. Namun ketika sudah mulai wawancara dan bertanya tentang SMK kepada kepala sekolah, Bapak Muhamad Arifin suasananya menjadi santai dan saya pun bisa menguasai diri.

Ada ilmu baru yang saya dapat. Setidaknya saya bisa belajar untuk berkomunikasi dengan orang lain, meng-upgrade diri untuk lebih baik lagi. Atau andaikan suatu saat nanti menjadi kepala sekolah, sudah sedikit tahu tentang posisi sebagai kepala. He

Nb : Serasa mod menulis lagi berkurang.

Banjarnegara, 20 Oktober 2016

Kisah di Balik Festival Musik Religi

02:03:00 Add Comment
Panitia dan Dewan Juri Festival Musik Reigi  (Dok. Panitia)
Malam sudah semakin larut, pukul 00:56 ketik saya memulai mengetik tulisan ini. Entah mengapa mata ini belum bisa terpejam meski kalau dipaksa bisa saja saya terlelap, tetapi bergelayut berbagai hal yang terpikirkan membuat saya masih terjaga. Tentang festival musik religi yang baru saja terlaksana, rasanya terlalu sayang jika saya lewatkan untuk tidak menulisnya. Tentang perjuangan berdarah yang semua itu terbayar dengan antusias dan suksesnya acara. Alhamdulillah, ada kelegaan dalam hati.

Dan percayalah bahwa dalam setiap kegiatan, ada proses perjuangan dan segelintir orang yang benar-benar mengorbankan waktunya. Ya, segelintir orang yang menjadi kunci utama terselenggaranya acara. Semua itu berlaku dalam setiap moment, apapun.

Ada kisah menarik tentang perjalanan sampai akhirnya terlaksananya Festival Musik Religi. Berawal dari rapat pembahasan konfercab yang menginginkan adanya kegiatan pra konfercab, maka muncullah ide untuk mengadakan festival musik religi yang disetujui oleh semua pengurus yang hadir. Ada semangat yang berkobar dan menggebu di awal. Namun muluskah perjalanan itu? Konsisten kah semangat itu? Ternyata tidak, karena setiap yang waktu itu hadir ternyata mulai sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri. Bahkan, proposal yang awalnya akan didistribusikan ke perusahaan-perusahaan semua kandas dan tergeletak di sekretariat.

Pernah saya menyindir kepada pengurus yang menjadi PJ (penanggung jawab) dengan bertanya mau di bakar atau di buang? Namun, tetap saja tak ada yang jalan. Begitupun dengan waktu yang ternyata sudah jauh dari rencana awal, sudah lebih dari tanggal 10 padahal biasanya proposal yang masuk ke perusahaan jika ingin goal harus menyerahkan di awal bulan, maksimal sampai tanggal 10. Wal hasil proposal mubadzir. Dua proposal yang saya ajukan pun tidak behasil.

Pun dengan tempat yang rencana awal mau di Balai Budaya ternyata mengalami kendala. Pertama karena Balai Budaya katanya mau di pasang kedap suara, akhirnya bisa memakai tetapi di panggung belakang. Ketika teknical meeting, Pak Suyanto selaku juri menyampaikan bahwa tempat belakang balai budaya itu menghadap matahari sehingga peserta akan kepanasan ketika tampil. Belum lagi sound systemnya harus yang bagus dan standar dengan anggaran 2,5 juta minimal. Karena pertimbangan itulah akhirnya pindah ke pendopo.

Proses pindah ke pendopo pun harus melalui proses yang tak mengenakan. Eman adalah orang yang kena batunya. Haha Waktu itu ada semacam angkat tangan, ketika Mba’ Uus mempasrahi ke Eman untuk nembusi ke Kabag Umum Sekda, parahnya sewaktu ada yang tanya terkait dengan tempat bagaimana, maka Eman menjadi kambing hitamnya. Saat kabag umum tidak ada masalah, katanya harus nembusi ke SMP N 1 Banjarnegara gegara waktu festival bukan hari libur dan takut menganggu. Padahal waktunya sudah semakin mempet.

Nembusi ke SMP N 1 Banjarnegara, muluskah? Ternyata harus memakan hati juga. Saat itu, Jum’at sewaktu Eman pergi ke sekolah SMP yang ternyata sedang ada rapat, maka ia pun harus bolak balik sampai 3 kali baru bisa ketemu. Dan ketika bertemu bukan langsung beres malah harus membuat surat.
Senin, 2  hari sebelum acara tempat masih mengambang antara balai budaya atau pendopo. Hari itu pun akhirnya Dayat yang lumayan mendesak memutuskan untuk di Pendopo, jika ada masalah siap adu debat pokoknya. Sudah bereskah? Ternyata belum, satu hari sebelumnya sound system dan drumb belum ada yang fix. Haha parah. Karena sudah semakin mendesak akhirnya Dedi yang harus muter-muter mencari sound system dan didapatilah sound system paranada.

Perekap clear, tempat, sound sytem, drumb dan juri. Tapi bereskah? Ternyata tidak. Ada satu masalah yang sangat penting, yaitu belum ada dana untuk membayar sound system, juri dan sewa tempat. Tetapi percayalah bahwa ketika kita memikirkan orang lain, Allah lah yang akan memikirkan kita. Allah selalu bisa membuat hamba-Nya tersenyum. Begitu mudah jalan yang Allah berikan untuk menyelesaikan berbagai masalah.

Dana yang dari KPU lumayan keluar 2 juta, tetapi karena dipotong pajak maka menjadi Rp. 1.745.000,- Pinjaman dari Lulu 2 juta dan pinjaman yang Dayat usahakan ke Kang Nurul senilai Rp. 2.350.000,- Uang 3 juta yang Uus pinjam ke temannya pun bisa teratasi.

Alhamdulillah, selalu ada jalan di setiap kesempitan. Ketika kita mau usaha Allah selalu memberikan jalan. Dan jalan itu laiknya wadah yang kita punya. Jika kita hanya punya gelas maka air yang kita dapat hanya segelas. Dan semakin besar wadah yang kita miliki maka semakin banyak air yang bisa kita dapat.

Maka Nikmat Tuhanmu yang Mana yang Engkau Dustakan?


Banjarnegara, 6 Oktober 2016 01:55 WIB
Berkah di Hari Senin

Berkah di Hari Senin

01:14:00 Add Comment
Hari ini banyak berkah yang saya dapatkan. Dan terlalu sayang jika dilewatkan begitu saja.

Pagi hari mengirim surat konfercab untuk PW IPNU IPPNU Jawa Tengah lewat kantor pos setelah sebelumnya tidak berhasil menemui Bu Uswatun di KPU Banjarnegara karena beliau sedang ada acara dengan media di Pikas. Satu teratasi _surat untuk pimpinan wilayah semoga sampai ke yang bersangkutan_ Aamiin.

Selepas itu saya langsung meluncur ke Wonosobo. Tujuannya adalah mengantar surat izin untuk Dayat selama satu minggu, menemui Pak Awaludin dan menyetak draf materi konfercab. Surat tersampaikan yang saya titipkan ke Musyarofah sebagaimana pesan yang Dayat berikan. Pak Awaludin, ternyata sedang ada acara ke luar kota, Surabaya. Mencetak draf materi konfercab sejumlah 400 ekslempar dengan harga Rp. 1.000.000,- di FC Narasi. Alhamdulillah dua kegiatan beres.

Selesai acara, saya langsung pulang dan mampir di bengkel Sapen untuk servis motor yang sudah 1 bulan lebih belum di servis lagi. Ada rasa trauma ketika sudah lebih satu bulan belum di servis, pasalnya sudah dua kali kehabisan oli yang membuat sepeda motor saya gancet, tidak bisa jalan. Servis beres, hanya saja ketika perjalanan pulang ternyata lampu depan mati yang pas sorenya saya perbaiki di bengkel ternyata saklarnya yang eror.

Sesampainya di Banjarnegara saya langsung menuju ke KPU untuk menemui Bu Uswatun sebagiamana pesan beliau yang acaranya baru selesai jam 2 siang. Beruntung karena sebelum saya kesana Pak Norma Ali telah menelfonkan sebelumnya, semacam wasilah. Berkah inilah yang patut saya syukuri. Setidaknya wasilah begitu penting jika kita ingin melakukan sesuatu. Pasalnya jika kita sendiri yang langsung tanpa ada campur tangan orang lain pasti akan akan sulit, karena unsur kedekatan di Indonesia masih sangat kental. Mungkin ini pula kenapa orang-orang berziarah ke makam para wali, salah satunya adalah mencari wasilah agar doa yang dipanjatkan lebih sampai kepada Allah.

Malamnya, sowan ke tempat Ketua PCNU dan alhamdulillah banyak wejangan sekaligus support untuk kegiatan konfercab saya dapatkan. Yang jelas, mengutip apa yang disampaikan oleh Gus Banan, ketika kita mengabdi maka alam akan memberikan attention, perhatian berupa kelapangan rezeki. Karena mengabdi adalah mental orang yang kaya. Mengabdi identik dengan memberi, dan memberi adalah salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah. Dan janji Allah, bagi siapapun yang bersyukur maka Allah akan menambahkan kenikmatan rezekinya. Alhamdulillah.


Banjarnegara, 4 oktober 2016 01:11 WIB

Memanfaatkan Moment

00:25:00 Add Comment
Ilustrasi (Mad solihin)
Malam ini saya bersama Dayat sowan ke rumah pembina. Beliaulah yang selama ini sering menjadi kiblat dalam setiap keputusan dan tindakan yang saya lakukan. Meskipun terkadang didikannya begitu keras namun disisi lain beliau juga mempunyai sisi lunak yang membuat saya merasa mantap ketika melakukan sesuatu. Setidaknya saran yang beliau berikan membuat saya berani melakukan sesuatu. Banyak inspirasi yang secara tak langsung begitu mengena dalam hati.

Seperti malam ini misal, saya mendapat wejangan perihal pelaksanaan konfercab yang akan berlangsung satu minggu lagi, tepatnya tanggal 8-9 Oktober 2016. Kegalauan perihal takut salah langkah pun teratasi oleh saran yang beliau berikan. Setidaknya apapun yang akan saya lakukan meskipun nantinya mungkin akan berbenturan dengan berbagai pendapat orang lain, saya sudah menyiapkan jawabannya.

Tentang tamu undangan pun saya kira sudah clear. Saya tak perlu merasa takut dengan berbagai benturan pendapat, toh benturan itulah yang nyatanya akan membuat saya belajar menjadi orang yang tangguh. Jika konfercab nanti berjalan biasa-biasa saja, tenang, adem ayem, dan tidak ada gejolak apapun maka sama halnya kegiatan lain yang sudah sering saya lakukan. Maka moment pilkada yang sedang naik daun inillah yang bisa dimanfaatkan untuk media belajar yang begitu mujarab.

Pun dengan anggapan negatif ketika saya mau sowan telah terbantahkan oleh sikap yang beliau tunjukan. Akan dimarahi dengan alasan bla bla sebagaimana yang disampaikan oleh teman saya kemarin, nyatanya tak terbukti. Di sinilah saya belajar agar selau berkhusnudzon, berpikir posotif atau orang sering menyebutnya, positif thinking.

Ada kelegaan yang menyeruak ke relung hati. Walaupun masih terpusingkan masalah dana yang belum terkumpul maksimal, tetapi cukuplah saran beliau menjadi obatnya. Melangkah ke depan pun serasa lebih tenang. Semoga saja acara nantinya bisa berjalan lancar dan sukses. Aamiin.


Banjarnegara, 4 Oktober 2016 00:10 WIB

Tentang Blog Catatan Lepas

00:24:00 Add Comment

Mad Solihin
“Sepudar-pudar tulisan masih lebih baik daripada pemikiran yang baik, namun tak terlestarikan” (Imam Al-Ghozali)

“Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis” (Imam Al-Ghozali)

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” (Pramoedya Ananta Toer)

Tiga mantra di atas mungkin menjadi salah satu alasan kenapa Blog Catatan Santri ini ada. Sebagai salah satu cara mengumpulkan kenangan dan mengabadikannya. Atau kalau bahasa mulianya, agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Terlalu sayang rasanya jika setiap moment itu terlewat begitu saja, pun dengan pemikiran terlalu sayang jika hilang tanpa terdokumentasikan. Siapa tahu coretan sederhana ini bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Semoga.

Tak cukup hanya itu, hobby dengan dunia tulis menulis dan punya harapan bisa menjadi seorang penulis beneran (Hehe, semoga Allah mengabulkannya .. Aamiin)  juga menjadi pemicu untuk menjadikan blog sebagai media belajar. Bukankah semua butuh waktu dan proses latihan, tidak instan laiknya mie goreng ..?

Selain kedua alasan diatas, harapan agar suatu saat jika Allah memanggil, setidaknya anak cucu dan cicit bisa melacak jejak penulis melalui rangkain kata di blog ini juga menjadi pemicu untuk menulis. Karena kebanyakan generasi hari ini sudah tidak tahu siapa nenek moyangnya. Paling pol di canggah (orang tua dari nenek atau kakek kita). Salah satu penyebabnya adalah karena orang tua kita tak pernah mendokumentasikan dan mementingkan hal itu. So, ketika kita melacaknya, orang tua kita kesulitan mengingatnya apalagi rekam jejak dari neneng moyang kita tak meninggalkan karya apapun. Ya, sudah nama mereka pun hilang termakan zaman. Dan tulisan adalah salah satu media paling ampuh untuk meninggalkan jejak.

Catatan Santri
Kenapa nama itu yang saya pilih, bisa lihat disini. Intinya julukan “Santri” adalah untuk mereka yang masih belajar, biasanya di pesantren. Masih Belajar, begitu pula dengan penulis. Lantaran penulis juga masih dalam tahap belajar maka blog ini saya beri nama dengan Catatan Santri. Karena masih belajar, maka wajar jika masih banyak kekurangan dan sering melakukan kesalahan. Tentu kesalahan disini penulis maksudkan yang tidak di sengaja.


Banjarnegara, 3 Oktober 2016 00::21 WIB

Keinginan Hasan

23:27:00 Add Comment
Sumber : makintau (dot) com
Sore itu selepas pulang dari warung bersama Lasin, Rijal dibuat penasaran oleh Muhammad lewat pesan bbm nya, katanya ada pesan dari Hasan. Waktu itu yang terpikir tentang titipan itu adalah uang untuk membantu kegiatan yang waktunya sudah semakin dekat. Sayang, angan-angan itu meleset justru berkebalikan, bahkan lebih parah dari angan-angannya. Seketika itu tulang rusuknya melemas, wajahnya berubah menjadi pucat pasi seraya membantin, “Kenapa ya selalu ada celah untuk melemahkan?” katanya dalam hati.

Beruntung Rijal mendengar pesan itu dari Muhammad bukan langsung dari Hasan sehingga tidak begitu membuanya ngedrop. Ada tantangan sekaligus ancaman, jika di daerah sendiri belum ada kepengurusannya maka Hasan tidak akan memperhatikan acara, lebih dari itu terkait pendanaan Hasan juga tidak akan membantunya. Mendengar hal itu, Rijal langsung tepuk jidat seraya berpikir untuk segera memenuhi keinginan dari Hasan.

Hanya masalah nama yang belum dicaantumkan, sampai segitunya. Kenapa harus sempurna? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak hatinya. Rijal pun membayangkan peristiwa dua setengah tahun lalu yang hampir serupa hanya beda objek. Di sela-sela keresahannya, ia teringat buku yang baru saja ia baca, The Power of Frustration. Ia teringat tentang frustasi yang dijadikan pendorong ke arah lebih baik. Kuncinya, melihat setiap masalah dengan sudut pandang yang berbeda dan menggunakan kaca mata positif thinking. “Mungkin itu hanya sebagai cambukan bukan ancaman, sebagai perhatian agar dirinya menjadi pribadi yang kuat,” pikirnya mengubah persepsi.

Besoknya Rijal langsung membuat kepengurusan sesuai keinginan Hasan dan meminta saran dari stakholder terkait masalah tersebut. Alhamdulillah, ada sambutan hangat dari Ato selaku orang yang dituakan di situ. Masalah perjalanan ke depan biar nanti sambil jalan, yang jelas keinginan Hasan telah terpenuhi. “Andaikan nanti masih kurang, biarlah yang jelas telah aku penuhi,” kata Rijal menguatkan hatinya.


Banjarnegara, 2 Oktober 2016