Laku Seorang Pemimpin

16:33:00 Mad Solihin 2 Comments

Laku Seorang Pemimpin, catatan.san3.blogspot.com
Ilustrasi (Mad solihin)
Siang itu Rijal begitu kesal. Bagaimana tidak, beberapa pekerjaan yang harusnya sudah selesai malah gagal. Proposal sponsor, surat untuk beberapa petinggi yang jadwalnya harus masuk lebih awal malah belum di buat. “Payah,” umpatnya dalam hati. 

Kesal, marah, kecewa dan rasa malas untuk mengurusi bercampur menjadi satu. Hanya saja kemarahan itu ia pendam, tak mungkin ia lontarkan kepada beberapa orang yang sudah ditunjuk karena itu tidak akan menyelesaikan masalah, hanya akan menimbulkan perang dingin yang pasti akan berdampak pada acara yang sudah direncanakan. 

Untuk mengobati kekesalan itu, Rijal mengirim sms kepada Umar, teman akrab yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Menanyakan keberadaanya sekarang yang ternyata sedang berada di rumah. Tak menunggu lama ia pun bergegas menemui Umar di rumahnya.

Sesampainya disana ia menyampaikan apa yang dirasakannya saat ini, bahwa dirinya sedang kesal. Dengan santainya Umar bilang, “Sabar, ngemong kui kudu sabar,” katanya. 

Jleb, kata tersebut langsung menusuk ke ulu hatinya. Ia pun langsung membayangkan tentang seorang ibu yang memomong anaknya, bagaimana pun momong itu butuh kesabaran yang tinggi. Berlebih dalam sebuah perkumpulan yang background antara satu sama lain berbeda, pun dengan kesibukan yang mereka miliki membuat seorang pemimpin harus bisa memahaminya, melihat segala persoalan dari berbagai sudut tidak hanya dari satu arah.

“Dek, menjadi pemimpin itu punya seni tersendiri dan kamu harus bisa memahaminya. Menjadi seorang pemimpin pada dasarnya adalah menjadi pelayan. Maka perbaikilah persepsimu, niatkan untuk melayani. Kalaupun pelayanan yang engkau berikan belum maksimal, belajarlah dan perbaiki itu,” kata Umar serius.

“Iya kak, terima kasih nasehatnya. Do’akan semoga saya bisa menjadi pelayan yang baik, menjadi bagian orang yang keberadaannya bisa memberikan kemanfaatn untuk orang lain,” kata Rijal meneguhkan niat.

“Satu lagi dek. Jangan suka mengeluh,” pesan Umar menambahi.

“Siap kak. Sumpek ya kalau mendengar orang yang suka mengeluh?” jawab Rijal sambil nyengir. 

Dalam hatinya Rijal bertekad untuk memperbaiki diri. Nasehat Umar yang disampaiakn kepadanya membuat hatinya lebih tenang, ada kelegaan menyelusup ke relung hatinya. Ada kerelaan untuk menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Ia pun mencoba untuk meresapi kata “ngemong” sebuah laku dari seorang pemimpin. 

Pringamba-Banjarnegara, 19 September 2016

You Might Also Like

2 comments: