Belajar kepada Serigala

5:44:00 PM Mad Solihin 1 Comments


Sumber : bukabuku
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah terlepas dari berinteraksi dengan orang lain. Dari interaksi tersebut kita akan menemukan perbedaan sikap antara satu orang dengan yang lainnya. Baik dari cara berbicara, cara memperlakukan orang lain sampai pada cara menghadapi permasalahan yang dimilikinya. Ada yang begitu bijak dan tenang, namun ada pula yang panik bahkan terlihat stres. Salah satu penyebabnya adalah karena faktor cara pandang atau cara mensikapinya lebih mengfokuskan pada sisi positifnya apa negatifnya. 

Berbicara mengenai masalah cara pandang seseorang, ini juga tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungan yang membentuknya. Adapun lingkungan itu salah satunya adalah buku yang seseorang baca. Dari buku yang seseorang baca, ia akan mendapat ilmu dan wawasan baru yang akan berpengaruh pada cara berpikirnya.

Belajar kepada Serigala adalah buku yang menurut saya berisi kisah motivasi dan inspirasi tentang seni kehidupan yang mempunyai dampak kepada cara berpikir pembaca. Meskipun penulisnya, Rivaldo Fortier tidak sepopuler Mario Teguh atau Merry Riana namun isinya bagus. Beneran. Disini kita diajak untuk menyikapi kehidupan dengan lebih mengfokuskan pada sisi positifnya. Penyampaian pesannya pun tidak terkesan menggurui, tetapi lebih kepada kita sendiri yang mengambilnya karena disajikan dengan bentuk kisah/cerita. 

Penyusunan buku ini juga dibuat per pasal yang antara pasal satu dengan pasal lainnya berbeda cerita sehingga kita bisa memilih pasal mana yang akan kita baca tanpa harus membaca keseluruhan buku. Lebih kepada sesuai kebutuhan.

Setiap buku yang kita baca pasti ada hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Ada ilmu yang begitu menusuk sehingga lebih kita ingat. Nah, dalam buku ini ada beberapa pesan yang menurut saya sangat penting untuk konsumsi otak. Pesan yang akan mempengaruhi cara berpikir kita tentang kehidupan.

Hakekat Masalah

“Nak,” kata sang guru setelah muridnya selesai minum, “segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan sesuai kemampuanmu. Jumlahnya tetap, tidak berkurang tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun ia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” (Pasal : Pemuda Galau Hal 14)

Cerita ini diawali dengan sosok seorang murid yang terlihat galau. Kemudian sang guru sufi menghampirinya dan menanyakan sebab kenapa akhir-akhir ini sang murid terlihat lebih banyak murung. “Kenapa kau selalu murung, Nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?”

Sang murid pun menjawab bahwa ia sulit tersenyum karena sedang tertimpa banyak masalah. Seolah masalah itu tidak ada habisnya. Mendengar jawaban tersebut sang guru sufi terkekeh dan meminta sang murid untuk mengambil segelas air dan dua genggam garam. Sang guru sufi kemudian menyuruh sang murid untuk memasukan segenggam air ke dalam segelas air. Setelah itu sang murid diminta untuk meminumnya.

“Bagaimana rasanya, Nak?” tanya sang guru sufi.

“Asin, dan perut saya jadi mual,” jawab sang murid dengan memasang wajah meringis. 

Melihat muridnya meringis keasinan sang guru sufi terkekeh. Kemudian ia mengajak muridnya mengunjungi danau yang tidak jauh dari tempat mereka. Setelah berada di dekat danau sang guru sufi menyuruh sang murid mengambil garam yang tersisa dan menyuruh untuk menebarkan garam tersebut ke danau. 

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” perintah sang guru sufi kepada muridnya. 

Sang murid pun menuruti apa yang diperintahkan sang guru sufi. Ia menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau dan meminumnya. Setelah sang murid selesai menengguk air danau yang tadi ditaburi garam, sang guru sufi bertanya, “Bagaimana rasanya, Nak?”

“Segar, segar sekali, Guru,” jawab sang murid. 

“Terasakah asinnya garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya dan membiarkan muridnya meminum air danau sampai puas. 

“Nak,” kata sang guru setelah muridnya selesai minum, “segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan sesuai kemampuanmu. Jumlahnya tetap, tidak berkurang tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun ia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam mendengarkan. “Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung pada besarnya kalbu (hati) yang menampungnya. Jadi, Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan kalbu di dalam dadamu itu sebesar danau ini.”

Teori Kehidupan - Gema
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakan anda. Dengan kata lain, kehidupan anda adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan anda. Bila anda ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hati anda. Bila anda menginginkan tim kerja dengan kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah anda berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan, tetapi sebuah bayangan dari diri Anda. (Pasal : Gema Hal 74)
Pernah berkata atau berteriak kemudian terdengar suara yang sepandan dengan apa yang kamu katakan atau kamu teriakan? 

Tulisan ini diawali dengan sebuah cerita seorang bocah yang menghabiskan waktu luangnya dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. “Aduuhh!” jeritnya memecah heningnya suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut ketika mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduuhh!” 

Namanya juga anak-anak, ia berteriak lagi, “Hei Siapa Kau?” Jawaban yang terdengar, “Hei Siapa Kau?” Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, “Pengecut kamu!” Lagi-lagi, ia terkejut ketika suara dari suara membalasnya dengan umpatan yang serupa. 

Karena bingung ia pun bertanya kepada sang ayah, “Apa yang terjadi?” Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, “Anakku, coba perhatikan.” Lelaki itu berkata keras, “Saya kagum padamu!” Suara di kejauhan menjawab, “Saya kagum padamu!” Sekali lagi, sang ayah berteriak, “Kamu sang juara!” Suara itu menjawab, “Kamu sang juara!” Sang bocah sangat keheranan. Meski demikian, ia tetap belum mengerti. Lalu, sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah gema, tetapi sesungguhnya itulah kehidupan.”

Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakan anda. Dengan kata lain, kehidupan anda adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan anda. Bila anda ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hati anda. Bila anda menginginkan tim kerja dengan kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah anda berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan, tetapi sebuah bayangan dari diri Anda.
***

Sebenarnya masih banyak tulisan yang menginpirasi karena dari 29 pasal hanya 2 yang saya cuplikan. So, jika ingin tahu lebih dalam tentang isi buku, maka bacalah buku ini. Saya jamin tidak akan menyesal deh. Karena setiap buku yang kita baca pasti ada ilmu yang kita dapat. Hanya saja kelemahan buku ini terletak dalam kualitas buku yang kertasnya mudah terlepas. 

Judul Buku                   : Belajar Kepada Serigala
Penulis                         : Rivaldo Fortier
Jumlah Halaman         : 224
Penerbit                      : Buku Biru
Tahun Terbit               : 2012
Pringamba Banjarnegara, 5 September 2016

You Might Also Like

1 comment:

  1. Wah,,,,aku jadi malu pada diriku sendiri setelah membacanya,
    terima kasih banyak terinpirasi,hehe

    ReplyDelete