Ketika Belum Ada Dana yang Terkumpul

13:37:00 1 Comment
Konfercab IPNU IPPNU Banjarnegara Ke X
H-8 Festival Musik Religi dan H-11 Konferensi Cabang IPNU IPPNU Kabupaten Banjarnegara Ke-X. Sudah tidak ada dua minggu ternyata, namun belum ada dana terkumpul seperak pun. Beberapa orang yang sudah didatangi nyatanya belum memberikan kepastian, hanya janji besok yang entah kapan tepatnya. Mungkinkah karena tanggal tua sehingga gaji bulanan yang sudah didapat sudah dibagi untuk bermacam-macam keperluan? Bisa jadi seperti itu.

Persiapan teknis pun belum matang sepenuhnya. Menyisakan teka-teki bagaimana acaranya nanti, ditambah acara konfercab tersebut berbarengan dengan acara Ansor Bersholawat, hari dan tanggal sama 8-9 Oktober 2016.

Mungkin bukan kali ini saja acara terkesan mendadak, acara LAKMUD di Mandiraja pun sama bahkan satu minggu sebelum acara belum ada dana yang terkumpul. Baru ketika saya ikut bergerak ke sana kemari, keperluan dana pun alhamdulillah terpenuhi.

Bagaimana acaranya nanti? Biarlah Allah yang menggerakan malaikat untuk membantu. Karena bagaimana pun Allah lah yang menjadi kunci, Dia lah yang mengatur segalanya. Bahkan hari ini atau besok, andaikan Allah menggerakan hati hamba-Nya untuk membantu maka bereslah semua keresahan yang ada terkait konfercab.

Namun ikhtiyar tidak boleh diabaikan bahkan wajib hukumnya. Maka yang harus dilakukan sekarang adalah melakukan sesuatu dengan maksimal seraya merayu Allah supaya melapangkan hati hamba-Nya agar tergerak untuk ikut berkontribusi mensukseskan acara Konfercab IPNU IPPNU ke X ini, baik berupa tenaga, pikiran dan hartanya.


Banjarnegara, 26 Oktober 2016 13:25 WIB

Laku Seorang Pemimpin

16:33:00 2 Comments
Laku Seorang Pemimpin, catatan.san3.blogspot.com
Ilustrasi (Mad solihin)
Siang itu Rijal begitu kesal. Bagaimana tidak, beberapa pekerjaan yang harusnya sudah selesai malah gagal. Proposal sponsor, surat untuk beberapa petinggi yang jadwalnya harus masuk lebih awal malah belum di buat. “Payah,” umpatnya dalam hati. 

Kesal, marah, kecewa dan rasa malas untuk mengurusi bercampur menjadi satu. Hanya saja kemarahan itu ia pendam, tak mungkin ia lontarkan kepada beberapa orang yang sudah ditunjuk karena itu tidak akan menyelesaikan masalah, hanya akan menimbulkan perang dingin yang pasti akan berdampak pada acara yang sudah direncanakan. 

Untuk mengobati kekesalan itu, Rijal mengirim sms kepada Umar, teman akrab yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri. Menanyakan keberadaanya sekarang yang ternyata sedang berada di rumah. Tak menunggu lama ia pun bergegas menemui Umar di rumahnya.

Sesampainya disana ia menyampaikan apa yang dirasakannya saat ini, bahwa dirinya sedang kesal. Dengan santainya Umar bilang, “Sabar, ngemong kui kudu sabar,” katanya. 

Jleb, kata tersebut langsung menusuk ke ulu hatinya. Ia pun langsung membayangkan tentang seorang ibu yang memomong anaknya, bagaimana pun momong itu butuh kesabaran yang tinggi. Berlebih dalam sebuah perkumpulan yang background antara satu sama lain berbeda, pun dengan kesibukan yang mereka miliki membuat seorang pemimpin harus bisa memahaminya, melihat segala persoalan dari berbagai sudut tidak hanya dari satu arah.

“Dek, menjadi pemimpin itu punya seni tersendiri dan kamu harus bisa memahaminya. Menjadi seorang pemimpin pada dasarnya adalah menjadi pelayan. Maka perbaikilah persepsimu, niatkan untuk melayani. Kalaupun pelayanan yang engkau berikan belum maksimal, belajarlah dan perbaiki itu,” kata Umar serius.

“Iya kak, terima kasih nasehatnya. Do’akan semoga saya bisa menjadi pelayan yang baik, menjadi bagian orang yang keberadaannya bisa memberikan kemanfaatn untuk orang lain,” kata Rijal meneguhkan niat.

“Satu lagi dek. Jangan suka mengeluh,” pesan Umar menambahi.

“Siap kak. Sumpek ya kalau mendengar orang yang suka mengeluh?” jawab Rijal sambil nyengir. 

Dalam hatinya Rijal bertekad untuk memperbaiki diri. Nasehat Umar yang disampaiakn kepadanya membuat hatinya lebih tenang, ada kelegaan menyelusup ke relung hatinya. Ada kerelaan untuk menerima kenyataan dengan hati yang lapang. Ia pun mencoba untuk meresapi kata “ngemong” sebuah laku dari seorang pemimpin. 

Pringamba-Banjarnegara, 19 September 2016

Liputan Pertama Majalah BC di SMP Negeri 1 Wanayasa

11:12:00 2 Comments
SMP N 1 Wanayasa (Mad solihin)
Rabu, 14 September 2016 adalah hari pertama saya melakukan liputan sebagai reporter untuk Majalah Bintang Cendekia. Tugas saya adalah mewancarai kepala sekolah untuk mendapatkan profil sekolah, profil guru berprestasi dan profil murid yang berprestasi.

SMP Negeri 1 Wanayasa adalah sekolah yang harus saya datangi sesuai arahan dari Bu Novi. Sebenarnya saat itu masih ragu untuk berangkat atau tidak, pasalnya kakak perempuan dari almarhum kakek saya baru saja meninggal, sebutan yang sering saya dengar adalah Uwa Sami. Namun karena tidak enak dengan Bu Novi lantaran kemarin sudah tidak bisa liputan, maka hari itu saya paksakan untuk berangkat. 

SMP Negeri 1 Wanayasa (Mad Solihin)
Pertimbangan saya adalah liputan ini tidak bisa dilakukan oleh orang lain sedangkan mengurus jenazah masih banyak orang yang bisa. Artinya ada ataupun tidak saya disitu, tidak berpengaruh banyak. Toh, saya juga sudah ikut menshalati. Maka saya pun pamitan dengan bapak, walaupun sebenarnya tidak enak hati tetapi tak apa lah.

“Jika ada dua pilihan, pilihlah yang sekiranya engkau benar-benar dibutuhkan. Jika engkau tidak ada maka sesuatu itu menjadi kacau.”

Dalam perjalanan pulang dari rumah Uwa Sami (Dusun Kaligintung) motor saya terjatuh karena berpapasan dengan mobil yang membawa orang bertakziah, ditambah jalan yang rusak dan berkerikil. Beruntung saya langsung menghindar dan tidak ikut terjatuh, hanya motornya saja yang membuat handle rem depan patah. Karena waktu itu sedang gugup dan tidak ada motor yang bisa dipinjam, maka saya pun tetap mengendarai motor tersebut sampai Wanayasa. Alhamdulillah meskipun tanpa rem depan, perjalanan pulang-pergi lancar.

Hadle Rem Depan Putus (Mad Solihin)
Sesampainya di SMP Negeri 1 Wanayasa saya menemui guru yang sedang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ketika saya utarakan maksud saya ingin bertemu dengan Kepala Sekolah, ia pun bertanya sudah ada janji dengan beliau? Alhamdulillah karena Bu Novi sudah menghubungi, saya pun bisa langsung menemui beliau.

“Untuk menemui sebuah pimpinan kita terkadang dibuat berbelit-belit jika belum mempunyai janji,” pikir saya memutar berbagai pengalaman yang berlalu. So, kenapa ada ungkapan bahwa “Segenggam kekuasaan lebih berarti daripada sekeranjang kebenaran”.

Tentang Kepala Sekolah lanjut ke sini.

Banjarnegara, 17 September 2016 

Puji Kristyaningtyas, Kepala Sekolah Berprestasi Tahun 2016

11:01:00 3 Comments
Besama Kepala Sekolah SMP N 1 Wanayasa
Ramah, murah senyum dan baik hati, begitulah kira-kira sosok Ibu Puji Kristyaningtyas, S.Pd. MM. selaku kepala sekolah SMP Negeri 1 Wanayasa. Saya bersyukur bisa menemui beliau, karena banyak ilmu yang saya dapat. Setidaknya tidak sia-sia saya menempuh perjalanan 2 jam dengan sepeda motor tanpa rem depan

Ada satu yang saya tangkap dari beliau ketika mewancarainya, yaitu prinsip “Semangat Kebersamaan dan Selalu Positif Thinking” yang selalu belia pegang.

Positif Thinking, mungkin sering kita dengar hanya saja dalam prakteknya kita sering berperasangka buruk. Tentang orang lain yang tidak sesuai dengan diri kita, tentang acara yang belum terjadi dan berbagai pikiran negatif lain yang sering berkembang dalam otak kita. Beliau mengajarkan saya untuk merubah cara berpikir, selalu optimis dan yakin. 

Beliau pun bercerita tentang pengalaman menjadi kepala sekolah di SMP tersebut. Keberadaannya selama 4 tahun di situ telah membuat banyak perubahan. Berbagai ide brilian dan terobosan ia lakukan untuk menunjang kemajuan sekolah yang beliau pimpin. Diantaranya adalah program Butaberry (Bercocok Tanam Buah Stroberry) yang ia masukan sebagai mulok pertanian wajib untuk kelas IX. Tujuannya adalah untuk memberikan life skill kepada siswa-siswanya yang sebentar lagi akan lulus. Beliau berharap bahwa program Butaberry ini bisa membantu mereka yang ketika lulus tidak meneruskan ke jenjang selanjutnya.

Butaberry sebagai Pembelajaran Life Skill Siswa (Mad Solihin)
Selain itu, beliau juga mewajibkan semua guru dan murid, satu minggu dua kali untuk membaca sebelum jam pelajaran dimulai yang ia beri nama sebagai Gerakan Literasy. Tak hanya itu, ia juga melakukan kerja sama dengan PIKOM dalam hal komputer. Sehingga siswa langung mendapat test dari PIKOM untuk mengetahui seberapa jauh kemampuan anak dalam mengusai Ilmu Teknologi (IT).


Banjarnegara, 17 September 2016

Keluarga Baru dari Luar Jawa

00:09:00 Add Comment
Machsur - Jhon Mayer - Herlis - Penulis - Irwansyah
Relasi, teman dan pengalaman baru. Itulah hal yang akan kita dapatkan ketika mengikuti sebuah event kegiatan ataupun pelatihan. Maka semakin banyak kita berkelana semakin banyak pula orang yang akan kita kenal. Semakin banyak kegiatan yang kita ikuti semakin banyak pula hal yang dapat kita pelajari.

Forum Indonesian Youth Dream Camp 2015 yang berlangsung selama tiga hari mulai tanggal 20-22 November 2015 di Yogyakarta satu tahun lalu adalah salah satunya. Forum ini menjadi tempat dimana saya bertemu dengan pemuda yang berasal dari seluruh Indonesia. Meskipun tidak semuanya saya kenal dengan akrab tapi setidaknya ada teman yang karena kedekatan selama 3 hari menjadi seperti laiknya keluarga. Mereka adalah teman sekamar selama di Yogyakarta yang kesemuanya berasal dari luar Jawa.
Saat Berada di Kamar
Mereka adalah Machsur Tunggal, Jhon Mayer Hamonangan Siahaan, Herlis Setiawan Karim dan Irwansyah. Bersama merekalah saya banyak menghabiskan waktu salam disana, bergurau, berbincang tentang mimpi masa depan sampai pada masalah yang ada di Indonesia. Kebetulan yang saat itu cukup hangat adalah masalah kebakaran hutan yang asapnya membuat masyarakat panik bahkan sampai berhenti beraktifitas karena kandungan bahaya asap yang membuat pernafasan menjadi sesak serta ketebalannya menghalangi penglihatan mata sehingga jarak pandang hanya beberapa meter saja. Intinya kebakaran itu disengaja.

Saya pun menyadari bahwa kebersamaan selama tiga hari itu akan segera berakhir dengan selesainya acara Indonesian Youth Dream Camp 2015. Mereka akan kembali ke kotanya masing-masing dan entah kapan akan bertemu kembali. Menyadari hal itu saya pun meminta data diri mereka untuk menuliskan sendiri di buku block note, berharap bahwa suatu saat bisa bertemu kembali. Namun karena block note itu tidak mungkin dibawa terus-menerus dan kemungkinan bisa saja hilang, maka menuliskannya di blog adalah salah satu alternatifnya. Cukup punya kuota dan bisa mengakses internet, kapanpun bisa dibuka.

Machsur Tunggal
Pemuda yang satu ini berasal dari Universitas Hasanudin dan beralamat di Ramsis Unhas Makassar. Untuk menghubunginya bisa ke Nomor 085 396 959 433.

Jhon Mayer Hamonangan Siahaan
Pemuda yang akrab dengan panggilan Jhon Mayer dan kuliah di Universitas Riau ini berasal dari Pekanbaru, Riau. Ia bisa dihubungi lewat nomor 0822 7239 0337.

Herlis Setiawan Karim
Diantara kami, Herlis mungkin yang paling dewasa. Pasalnya ia yang sedang berkuliah di Universitas Negeri Gorontalo sudah menjadi Kepalas Sekolah. Teman yang ternyata lebih dulu ikut FIM 18 ini beralamat di Jl. Mangga II, Gorontalo dan bisa dihubungi lewat nomor 0853 9861 0618.

Irwansyah
Irwansyah ini satu kota dengan Machsur. Bedanya Irwan Ini kuliah di Universitas Negeri Makassar. Sedangkan alamat tempat tinggalnya berada di Jl. Perintis Kemerdekaan Makassar. Ia bisa dihubungi lewat nomor 089 671 101 479.

Sudah lama sebenarnya ingin menuliskannya hanya saja baru kesampaian hari ini. Semoga bisa dipertemukan kembali di lain waktu. Aamiin.







Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Pringamba-Banjarnegara, 13 September 2016 22:50

Akhirnya Selesai Jadi Mahasiswa

09:01:00 2 Comments
Foto Setelah Selesai Munaqosah
Kegiatan perkuliahan akhirnya selesai juga. Target wisuda tahun ini pun terkejar sehingga tidak masuk ke semester sembilan. Proses kerja keras dari bolak-balik Wonosobo-Banjarnegara, mencari buku di perpus dan lembur pun terbayarkan dengan wisuda tepat waktu, delapan semester. Keresahan akibat isu masuk semester sembilan jika tidak munaqosah gelombang tiga dan harus membayar tagihan SPP pun hilang. Alhamdulillah lega rasanya.

Sabtu, 6 Agustus 2016 adalah hari dimana saya menjalani ujian skripsi (Munaqosah) dengan dosen penguji Bapak Haryanto AlFandi dan Bapak KH. Mukromin Al-Hafidz. Hari dimana saya harus mempertanggungjawabkan atas skripsi yang telah saya buat. Hari dimana saya terakhir menjalani proses perkuliahan menjadi seorang mahasiswa. Karena munaqosah adalah proses akhir perkuliahan laiknya UN bagi sekolah tingkat SD/SMP/SMA. Maka setelah munaqosah selesai, status kemahasiswaan saya telah selesai dan berganti menjadi alumni Universitas Sains Al-Qur’an Jawa Tengah di Wonosobo. Cie Alumni, Hehe.

Lain tempat lain aturan lain pula kebijakannya. Jangan bayangkan munaqosah yang saya jalani laiknya menjalani sidang ya. Di bantai oleh dosen penguji, berdebat mempertahankan pendapat dan disaksikan oleh puluhan mahasiswa lain. Tidak. Munaqosah yang saya jalani tak semenyeramkan itu. Bahkan lebih santai. Saya cukup mendatangi dosen penguji yang telah menunggu di ruangan. Pun tempatnya berbeda antara dosen penguji satu dan kedua, sehingga proses ujiannya face to face. Hampir sama dengan sewaktu bimbingan, bedanya ketika bimbingan kita diarahkan ini dan itu tetapi sewaktu munaqosah kita di cekoki pertanyaan yang harus kita jawab sesuai isi skripsi. Tapi tetap saja ada perasaan takut, buktinya banyak yang gak mau maju pertama.

Itu pula yang menjadi sebab kenapa saya merasa santai dan heran dengan teman-teman di Universitas lain yang bercerita tentang horornya proses munaqosah. Tidak lain karena di kampus tempat saya kuliah sistemnya berbeda. Walaupun mungkin idealnya proses munaqosah itu laiknya persidangan. Tetapi percayalah bahwa dunia kerja itu tak akan pernah menanyakan bagaiamana proses ujian skripsimu. Tidak. Yang mereka butuhkan adalah skill dan kreatifitasmu, kemampuanmu menjalankan pekerjaan dengan baik dan cepat. Bahkan mohon maaf, masyarakat itu lebih melihat kontribusi, what do you can? Bukan pada tempat dimana engkau kuliah, karena yang menentukan kehidupanmu itu bukan your UNSIQ, your ITB, your UI, your IAIN but yourself.

Ada satu kelebihan kuliah di Universitas Sains Al-Qur’an ini yang kasat mata yaitu adanya berkah dari Mbah KH. Muntaha Al-Hafidz selaku pendirinya. Tentang kualitas lulusan, alumni Universitas Sains Al-Qur’an tidak kalah dengan Universitas yang lain. Salah satu buktinya adalah tulisan yang sedang kamu baca adalah tulisan alumni UNSIQ. Hahaha

“Nilai tidak mempengaruhi masa depan, tetapi skill yang dimilikinya lah yang membuat seseorang bertahan.” Itulah kalimat yang dilontarkan oleh Bapak Abdul Majid selaku Wakil Dekan FITK UNSIQ pada saat mengumumkan nilai hasil munaqosah sore harinya.

Saat Pengumuman Nilai Hasil Munaqosah oleh Dekan FITK (Mad Solihin)
Atau kalau mengutip apa yang disampaikan oleh Bapak Anies Baswedan dalam Tribun Timur, nilai IPK tertinggi itu tidak mengantarkan seseorang ke jenjang karir tertinggi karena IPK tinggi hanya mengantarkan pada meja wawancara. Sedangkan yang mengantarkan kesuksesan setelah wawancara adalah kemampuan berpikir kritis, analisa, kreativitas dan inovasi serta kepemimpinan yang didapatkan saat menjalani peran di sebuah organisasi.


Pringamba-Banjarnegara, 13 September 2016 07:47

Selalu Ada Jalan untuk Menggapai Mimpi

22:24:00 1 Comment
“Bagaimana tidak sedih. Kakak tidak merasakannya si,” kata Rizka menimpali kakaknya yang mencoba manasehatinya agar tidak bersedih.

Kesedihan itu berasal dari tidak lulusnya sewaktu mendaftar kuliah melalui jalur SPAN-PTKIN lantaran nilainya yang tidak memenuhi standar. Atau kalau pun memenuhi, ia juga harus bersaing dengan ratusan pendaftar lain dari berbagai sekolah yang tak kalah bagusnya. Keharusan jurusan terakreditasi A juga menjadi semacam pukulan telak yang tak mungkin bisa ditangkis. Pasalnya jurusan RPL nya dulu sewaktu di SMK baru terakreditasi B. Pupus sudah harapan untuk lulus seleksi.

Keceriaannya pun tetiba hilang berganti dengan kesedihan. Semangatnya langsung down. Sikapnya pun menjadi sensitif dan mudah tersinggung. Meskipun ia tahu bahwa masih ada kesempatan lain yang bisa dicoba tetapi tetap saja pengumuman yang bertuliskan “Mohon Maaf Anda TIDAK LULUS” belum bisa terobati.

Rasanya sakit apalagi mengingat waktu menunggu pengumuman begitu lama. Pengumuman yang benar-benar menampar dirinya. Membuat hari-harinya serasa mendung seolah matahari berhenti bersinar. Beruntung karena banyak orang terdekatnya yang begitu peduli dengannya. Mamanya yang ditakutkan akan marah mengetahui hasilnya bahkan memberikan semangat dan menyuruh untuk mengikuti pendaftaran lewat jalur yang lain. Nada bicaranya pun dibuat hati-hati karena takut putri keduanya tambah down. Mengetahui hal itu, ada kelegaan tersendiri setidaknya mamanya tidak menyalahkannya.

Bapak, sosok lelaki yang sangat dihormati dan disegani. Sosok yang menjadi tumpuan semangat bahkan selalu dirindukan yang saat itu berada disisinya tak henti-hentinya memberikan support. Ia menyadari bahwa yang dibutuhkan anaknya saat ini adalah dukungan moril. Ia yang begitu paham dengan karakter putrinya hanya berpesan untuk selalu semangat, bahwa masih ada jalur UM-PTKIN dan Mandiri yang bisa dicoba.

Jalur pendaftaran melalui UM-PTKIN akhirnya dibuka juga. Ini adalah pilihan kedua setelah jalur SPAN-PTKIN tidak lolos. Rizka yang sedari kemarin menunggu kini telah bersiap untuk mencoba peruntungan di kesempatan kedua ini. Hanya saja jurusan yang dipilih berbeda. Jika pada jalur SPAN-PTKIN ia mengambil Fakultas Tarbiyah, di jalur UM-PTKIN ia mengambil Fakultas Dakwah Prodi Bimbingan Konseling Islam. Ia tertarik karena di BKI ada pendidikan psikolog, sesuatu yang ia cita-citakan sejak lama.

Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia mengajak temannya untuk menemani mendaftar online ke warnet terdekat. Data diri, data pondok, data orang tua, jurusan yang dipilih dan upload foto buat profil, ia isi lewat internet. Dari pendaftaran online tersebut ia mendapatkan nomor sebagai password yang nantinya digunakan untuk registrasi lewat Bank BNI.

Pada hari yang lain ia mengajak temannya lagi untuk menemani pergi ke Bank BNI. Melakukan registrasi sebagai persyaratan untuk mendapatkan username dan password. Username dan password inilah yang nantinya digunakan untuk login ke web UM-PTKIN dan melihat info serta pengumuman yang berkaitan dengan proses pendaftaran. Dengan menyebutkan nomor yang ia dapatkan dari internet sewaktu mengisi pendaftaran online dan membayarkan uang sebesar Rp. 150.000,- petugas bank memberikan slip berupa bukti pembayaran yang didalamnya terdapat username dan password.

“Alhamdulillah, satu langkah telah terlampaui,” katanya dalam hati mensyukuri satu usahanya yang berhasil.

Dimana ada kemauan disitu ada jalan. Begitulah kira-kira apa yang Rizka alami saat mencoba mendaftar lagi lewat jalur UM-PTKIN. Seolah alam pun mengamini apa yang menjadi keinginannya. Terbukti ada teman yang menawarkan soal-soal untuk dipelajari buat persiapan tes UM-PTKIN. Namanya Istinganah, teman yang ia kenal lewat organisasi IPNU IPPNU. Kebetulan adiknya dulu pernah mendaftar hanya saja belum berhasil. Soal-soal itulah yang dipinjamkan kepada Rizka.

Tak cukup hanya itu, tempat menginap saat tes berlangsung juga telah Allah siapkan. Melalui perantara Istinganah, ia dikenalkan dengan Fajri yang berada di pondok Darul Abror. Kebetulan pondoknya  terletak tidak jauh dari kampus. Di situlah Rizka menginap, karena tidak mungkin ia laju dari rumah. Dalam hatinya, ia tak henti-hentinya mengucap rasa syukur kepada Allah Swt. Kasih sayang-Nya benar-benar ia rasakan. Ia pun semakin yakin bahwa Allah selalu memberikan jalan kepada hamba-Nya yang mau berusaha.

Proses ujian telah ia lalui dengan lancar. Soal-soal pinjaman yang ia pelajari pun banyak yang keluar membuatnya merasa lebih tenang karena jawabannya banyak yang mantep. Hanya beberapa soal matematika dan bahasa arab saja yang agak sulit. Tetapi itu tidak membuatnya resah karena prosentasinya tidak terlalu banyak. Kini ia hanya bisa berdoa dan bertawakal, menyerahkan hasilnya kepada Allah. Apapun yang terjadi nanti setidaknya ia telah berusaha maksimal. Ia pun meyakini bahwa keputusan Allah adalah keputusan terbaik.

Pasca tes UM-PTKIN ia menjalani rutinitas seperti biasa. Hari-harinya pun mulai ceria lagi dan tidak sesensitif dulu. Kesibukannya di organisasi cukup menghibur, setidaknya ia tidak merasa bosan karena harus di rumah terus. Tanpa terasa satu bulan pun berlalu. Hari yang ditunggu pun telah tiba, hari dimana pengumuman hasil seleksi UM-PTKIN akan diumumkan.

“Gimana dek pengumumannya?” Tanya kakaknya lewat sms.

“Belum bisa diakses kak. Mungkin karena banyak yang buka jadi servernya eror kaya pas dulu SPAN-PTKIN,” jawab Rizka memberitahu.

Rasa was-was dan takut kini menyelimuti hatinya. Hasil ujian SPAN-PTKIN dua bulan yang lalu masih menyisakan rasa trauma. Ada perasaan takut jika hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Kakaknya juga lebih memilih untuk tidak meminta username dan password untuk melihat hasil pengumuman seperti dulu. Karena jika ia tahu lebih dulu, ia bingung bagaimana cara menyampaikannya sehingga ia lebih memilih untuk menunggu kabar dari adiknya saja.

“Alhamdulillah lulus kak, terima kasih ya atas supportnya selama ini,” pesan yang Rizka kirimkan kepada kakaknya.

Seusai membaca pesan yang masuk, kakaknya langsung menelfon memastikan kebenaran sms yang ia terima. Dari seberang sana langsung terdengar suara riang, suara khas adiknya yang tanpa  bertanya ia sudah tahu bahwa sms yang dikirimkan kepadanya benar. Alhamdulillah, hatinya ikut lega mendengar apa yang dikatakan adiknya. Kekhawatirannya pun tetiba hilang. Untuk memastikan kabar gembira tersebut ia pun meminta password untuk melihat sendiri hasilnya yang ternyata hanya dengan memasukan no tes.

Tak menunggu lama, setelah mendapat no tes tersebut kakaknya langsung membuka website UM-PTKIN lewat hp androidnya. Usai menuliskan no tes dan kode keamanan berupa kode captcha dan mengklik tulisan “CEK KELULUSAN” maka langsung muncul pengumuman hasil seleksi UM-PTKIN 2016 yang benar-benar melegakan hati. Laiknya tanah gersang dimusim kemarau yang diguyur hujan.

“SELAMAT, PESERTA ATAS NAMA RIZKA WAHYU AKBAR DENGAN NOMOR TES 16427201018 DINYATAKAN DITERIMA PADA PRODI BIMBINGAN KONSELING ISLAM – IAIN PURWOKERTO”

Syukurlah, akhirnya perjuangan selama ini tidak sia-sia. “Selamat ya dek, semoga Allah selalu memudahkan jalanmu. Sekarang percaya kan kalau selalu ada jalan dalam setiap kemauan?” katanya meledek.

Hasil Seleksi UM-PTKIN (Scrensot dari Web menggunakan Netbuk)

Pringamba-Banjarnegara, 12 September 2016 

Kebaikan Selalu Berbalas Kebaikan

14:54:00 Add Comment
(Mba' Umi Zuhriyah) Buat bukti bahwa undangan telah sampai ... Haha
“Perbanyaklah silaturahim niscaya pintu rezeki banyak yang terbuka.”
Selain bisa membuat seseorang panjang umur, silaturahim juga mempunyai manfaat membuka pintu rezeki. Setidaknya itu lah yang pernah Rasulullah Muhammad Saw. sampaikan 14 abad lalu yang sampai hari ini masih relavan. Saya, meyakininya hal tersebut. Serius.

Seperti halnya kemarin (10 September 2016) saat saya pergi ke Wonosobo mengantar undangan pernikahannya Mba’ Fati dan Mas Uki untuk teman-teman yang dulu pernah tinggal sepondok di Ponpes Mifahussholihin, saya dapati informasi tentang seseorang yang mempunyai konsen pada dunia kepenulisan. Ceritanya, teman yang di undang ini mempunyai kakak perempuan yang sudah menikah yang suaminya adalah seorang penulis.

Umi Zuhriyah, itulah nama teman yang saya beri undangan sekaligus saya titipi undangan untuk teman-teman yang lain. Dia kakak kelas saya dua tingkat, teman sekelas dan teman akrabnya Mba’ Fati. Jika kuliah maka dia baru saja wisuda S2 sebagaimana Mba’ Fati yang kemarin baru saja wisuda S2 di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Dia juga termasuk teman akrab saya sehingga ketika ia bilang mau ke Kretek untuk menemui adiknya di Pondok Tempel yang diasuh oleh Kyai Ismail, saya menawarkan untuk mengantarnya. Katanya mau titip baju untuk di bawa pulang karena setelah khataman besok (2 Oktober 2016) mau sekalian boyong, pamitan dari pondok. Jadi biar nanti tidak kebanyakan barang bawaan, barang-barangnya pun mipil di bawa pulang mumpung adiknya bawa motor.

Pertimbangan saya jarak antara Kalibeber-Kretek lumayan jauh untuk ukuran berkendara umum (angkot). Pun dengan angkot yang akan ditumpangi harus dua kali, Kalibeber-Kota kemudian berganti dari Kota-Kretek. Selain itu sewaktu saya bertemu dengannya, Uli adiknya yang akan ditemui sudah selesai berlatih manasik haji sehingga jika Mba’ Umi harus ngangkot maka adiknya akan menunggu terlalu lama. Pun setelah ini saya juga tidak ada acara sehingga tak masalah jika mengantarnya. Dan ini lah yang nantinya ternyata menjadi penyebab saya mendapatkan informasi tentang kepenulisan.

Berawal dari cerita tentang aktivitas harian yang katanya mau ikut manggung lantaran Al-Qur’annya sudah selesai dan mau langsung boyong pas hari tersebut sampai cerita tentang Mba’nya, Zumrotin yang sudah menikah bahkan usia anaknya sudah 2 tahun. Saat bercerita tentang mba’nya itu lah kemudian nyerempet pada suaminya yang katanya bekerja sebagai penulis. Nyerempet pula ke penerbit Diva Press, entah dia bekerja di sana atau kah karyanya yang diterbitkan disana. Entahlah, cerita dari Mba’ Umi terlalu susah saya maksud, mungkin karena ia tidak terlalu paham detail dengan pekerjaan suami mba’nya dan berlebih ia tak paham dengan dunia kepenulisan lantaran ia tak ada minat dalam bidang jurnalistik.

Mengetahui informasi ini tentu menjadi insting keberuntungan bagi saya, setidaknya saya bisa meminta Mba’ Umi untuk memperkenalkan kepadanya supaya saya bisa belajar tentang kepenulisan bahkan sampai pada hal penerbitan. Maka inilah yang saya sukai, bahwa silaturahim itu membawa berkah. Bahwa kebaikan yang kita berikan selalu berbalas kebaikan. Bahwa Allah selalu punya cara untuk membuat hamba-Nya tersenyum. Bahwa selalu ada hikmah yang dapat kita petik dalam setiap kejadian.
Semoga saja besok-besok saya bisa belajar kepadanya secara langsung dan menjadi jalan bagi saya mencapai salah satu impian, menerbitkan buku. Semoga.


Pringamba-Banjarnegara, 11 September 2016 05:26

40 Hari Meninggalnya Simbah Putri

02:56:00 Add Comment
Simbah Putri (Mad Solihin)
Malam Kamis kemarin (14 September 2016) adalah hari ke 40 meninggalnya simbah putri. Pada hari tersebut pula diadakan slametan atau tahlilan untuk memperingati kematian simbah, dengan harapan pahala dari membaca tahlil dan sedekah kepada tetangga sampai pada simbah putri.


Banjarnegara, 10 September 2016 02:50

Reporter Majalah Bintang Cendekia

07:17:00 Add Comment
Majalah Cendekia (Foto: Mad Solihin)
Kamis, 8 September 2016 akhirnya kesampaian juga bertemu dengan Bu Novi Aria Santy yang dari Majalah Bintang Cendekia yang saya baca ternyata beliau sebagai Redaksi Pelaksananya. Sesuai janji, saya menemui beliau di SD N 1 Kalibenda pukul 10.00 WIB karena kebetulan beliau adalah pegawai perpus di SD tersebut. 
Rubrik yang harus saya garap
Tanpa panjang lebar karena sudah sama-sama tahu akhirnya beliau memberikan jadwal apa yang harus saya garap diaataranya adalah rubrik Bintang Guru, Bintang Siswa, Profil Sekolah, Olahraga, Info Banjarnegara dan info pendidikan. Well, bagi saya ini adalah tempat untuk belajar mengexplore dan mengupgrade kemampuan yang saya miliki. Semoga saja saya bisa maksimal.

Dengan kesepakatan bersama kemarin maka secara resmi saya pun telah menjadi reporter di Majalah Bintang Cendekia. Hahaha Mungkin ini salah satu Tuhan mengabulkan cita-cita saya menjadi seorang wartawan. Majlah Cendekia mungkin menjadi jembatan awal menuju ke jenjang yang lebih tinggi lagi nantinya. Aamiin. Dan mulai minggu depan saya harus membuat tulisan sesuai rubrik yang telah ditentukan. Bisa kah?? Tentu saja bisa dan saya yakin pasti bisa.

O ya Majalah Cendekia ini adalah majalah yang dikelola dengan bekejasama dengan Dikdikpora Kabupaten Banjarnegara. Cakupan pembacanya adalah untuk sekolah tingkat SMP dan SMA sederajat.

Tulisan ini adalah kelanjutan cerita dari tulisan sebelumnya Bakat dan Skillmu, Identitas Dirimu.

Banjarnegara, 9 September 2016


Bakat dan Skillmu, Identitas Dirimu

23:30:00 Add Comment
 ( Ilustrasi : Mad Solihin )
“Asah bakatmu dan latih skillmu sehingga menjadi identitas dirimu.”

Kemarin sewaktu saya sedang bersantai di Gedung PCNU, Mas Ibnu wartawan dari Suara Merdeka menelfon. Awalnya, tidak terjawab ketika miscall karena hp saya silent sehingga saya pun mengirim sms kepadanya menanyakan ada apa? Tak lama setelah itu Mas Ibnu langsung menelfon lagi.

Diawali dengan pertanyaan basa-basi tentang kabar dan kesibukan, baru setelah itu ia mengutarakan maksudnya. Katanya ada seseorang yang mau membuat majalah sekolah namun karena kekurangan penulis dan sudah lama tidak terbit sehingga ia meminta bantuan Mas Ibnu. Hanya saja kesibukan Mas Ibnu sebagai wartawan Suara Merdeka dan mengelola percetakan membuatnya tidak bisa membantu dan merekomendasikan saya kepadanya.

Ada satu alasan kenapa Mas Ibnu merekomendasikan saya, salah satunya adalah karena beberapa kali saya mengirimkan tulisan press release kegiatan kepadanya. Jika dipahami maka di sini ada hukum sebab akibat. Hukum menanam dan menunai. Dari proses mengirim tulisan itulah akhirnya Mas Ibnu paham dengan saya.

Mengenai skill kepenulisan yang saya miliki tentu ini tidak saya dapat melalui proses instan tetapi ada proses panjang yang saya lalui sehingga bisa menjelma sebagai identitas diri. Sederhananya, ketika seseorang membutuhkan orang yang pandai menulis maka nama saya ada dalam daftar tersebut. Hehe Laiknya seseorang yang membutuhkan supir untuk menyupir mobilnya ketika mau berpergian maka muncullah daftar nama-nama orang yang bisa menyupir sehingga dipilihlah salah satunya. 

Itulah perumpamaan yang saya maksud tentang skill yang menjadi identitas diri. Maka latih dan kembangkanlah secara terus menerus bakat dan skill yang kamu miliki sehingga menjelma menjadi identitas dirimu. 

So, apa bakat dan skill yang kamu miliki??

Pringamba-Banjarnegara, 27 Agustus 2016
Ditulis kembali dengan sedikit penambahan pada 8 September 2016

Belajar kepada Serigala

17:44:00 1 Comment

Sumber : bukabuku
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah terlepas dari berinteraksi dengan orang lain. Dari interaksi tersebut kita akan menemukan perbedaan sikap antara satu orang dengan yang lainnya. Baik dari cara berbicara, cara memperlakukan orang lain sampai pada cara menghadapi permasalahan yang dimilikinya. Ada yang begitu bijak dan tenang, namun ada pula yang panik bahkan terlihat stres. Salah satu penyebabnya adalah karena faktor cara pandang atau cara mensikapinya lebih mengfokuskan pada sisi positifnya apa negatifnya. 

Berbicara mengenai masalah cara pandang seseorang, ini juga tidak bisa lepas dari pengaruh lingkungan yang membentuknya. Adapun lingkungan itu salah satunya adalah buku yang seseorang baca. Dari buku yang seseorang baca, ia akan mendapat ilmu dan wawasan baru yang akan berpengaruh pada cara berpikirnya.

Belajar kepada Serigala adalah buku yang menurut saya berisi kisah motivasi dan inspirasi tentang seni kehidupan yang mempunyai dampak kepada cara berpikir pembaca. Meskipun penulisnya, Rivaldo Fortier tidak sepopuler Mario Teguh atau Merry Riana namun isinya bagus. Beneran. Disini kita diajak untuk menyikapi kehidupan dengan lebih mengfokuskan pada sisi positifnya. Penyampaian pesannya pun tidak terkesan menggurui, tetapi lebih kepada kita sendiri yang mengambilnya karena disajikan dengan bentuk kisah/cerita. 

Penyusunan buku ini juga dibuat per pasal yang antara pasal satu dengan pasal lainnya berbeda cerita sehingga kita bisa memilih pasal mana yang akan kita baca tanpa harus membaca keseluruhan buku. Lebih kepada sesuai kebutuhan.

Setiap buku yang kita baca pasti ada hal yang bisa kita ambil hikmahnya. Ada ilmu yang begitu menusuk sehingga lebih kita ingat. Nah, dalam buku ini ada beberapa pesan yang menurut saya sangat penting untuk konsumsi otak. Pesan yang akan mempengaruhi cara berpikir kita tentang kehidupan.

Hakekat Masalah

“Nak,” kata sang guru setelah muridnya selesai minum, “segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan sesuai kemampuanmu. Jumlahnya tetap, tidak berkurang tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun ia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.” (Pasal : Pemuda Galau Hal 14)

Cerita ini diawali dengan sosok seorang murid yang terlihat galau. Kemudian sang guru sufi menghampirinya dan menanyakan sebab kenapa akhir-akhir ini sang murid terlihat lebih banyak murung. “Kenapa kau selalu murung, Nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Kemana perginya wajah bersyukurmu?”

Sang murid pun menjawab bahwa ia sulit tersenyum karena sedang tertimpa banyak masalah. Seolah masalah itu tidak ada habisnya. Mendengar jawaban tersebut sang guru sufi terkekeh dan meminta sang murid untuk mengambil segelas air dan dua genggam garam. Sang guru sufi kemudian menyuruh sang murid untuk memasukan segenggam air ke dalam segelas air. Setelah itu sang murid diminta untuk meminumnya.

“Bagaimana rasanya, Nak?” tanya sang guru sufi.

“Asin, dan perut saya jadi mual,” jawab sang murid dengan memasang wajah meringis. 

Melihat muridnya meringis keasinan sang guru sufi terkekeh. Kemudian ia mengajak muridnya mengunjungi danau yang tidak jauh dari tempat mereka. Setelah berada di dekat danau sang guru sufi menyuruh sang murid mengambil garam yang tersisa dan menyuruh untuk menebarkan garam tersebut ke danau. 

“Sekarang, coba kau minum air danau itu,” perintah sang guru sufi kepada muridnya. 

Sang murid pun menuruti apa yang diperintahkan sang guru sufi. Ia menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau dan meminumnya. Setelah sang murid selesai menengguk air danau yang tadi ditaburi garam, sang guru sufi bertanya, “Bagaimana rasanya, Nak?”

“Segar, segar sekali, Guru,” jawab sang murid. 

“Terasakah asinnya garam yang kau tebarkan tadi?”

“Tidak sama sekali,” kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang guru hanya tersenyum memperhatikannya dan membiarkan muridnya meminum air danau sampai puas. 

“Nak,” kata sang guru setelah muridnya selesai minum, “segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Tuhan sesuai kemampuanmu. Jumlahnya tetap, tidak berkurang tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun ia seorang nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah.”

Si murid terdiam mendengarkan. “Tapi Nak, rasa asin dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung pada besarnya kalbu (hati) yang menampungnya. Jadi, Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan kalbu di dalam dadamu itu sebesar danau ini.”

Teori Kehidupan - Gema
Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakan anda. Dengan kata lain, kehidupan anda adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan anda. Bila anda ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hati anda. Bila anda menginginkan tim kerja dengan kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah anda berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan, tetapi sebuah bayangan dari diri Anda. (Pasal : Gema Hal 74)
Pernah berkata atau berteriak kemudian terdengar suara yang sepandan dengan apa yang kamu katakan atau kamu teriakan? 

Tulisan ini diawali dengan sebuah cerita seorang bocah yang menghabiskan waktu luangnya dengan kegiatan mendaki gunung bersama ayahnya. Entah mengapa, tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh. “Aduuhh!” jeritnya memecah heningnya suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut ketika mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya persis sama, “Aduuhh!” 

Namanya juga anak-anak, ia berteriak lagi, “Hei Siapa Kau?” Jawaban yang terdengar, “Hei Siapa Kau?” Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, “Pengecut kamu!” Lagi-lagi, ia terkejut ketika suara dari suara membalasnya dengan umpatan yang serupa. 

Karena bingung ia pun bertanya kepada sang ayah, “Apa yang terjadi?” Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum, “Anakku, coba perhatikan.” Lelaki itu berkata keras, “Saya kagum padamu!” Suara di kejauhan menjawab, “Saya kagum padamu!” Sekali lagi, sang ayah berteriak, “Kamu sang juara!” Suara itu menjawab, “Kamu sang juara!” Sang bocah sangat keheranan. Meski demikian, ia tetap belum mengerti. Lalu, sang ayah menjelaskan, “Suara itu adalah gema, tetapi sesungguhnya itulah kehidupan.”

Kehidupan memberi umpan balik atas semua ucapan dan tindakan anda. Dengan kata lain, kehidupan anda adalah sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan anda. Bila anda ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini, ya ciptakan cinta di dalam hati anda. Bila anda menginginkan tim kerja dengan kemampuan tinggi, ya tingkatkan kemampuan itu. Hidup akan memberikan kembali segala sesuatu yang telah anda berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan sebuah kebetulan, tetapi sebuah bayangan dari diri Anda.
***

Sebenarnya masih banyak tulisan yang menginpirasi karena dari 29 pasal hanya 2 yang saya cuplikan. So, jika ingin tahu lebih dalam tentang isi buku, maka bacalah buku ini. Saya jamin tidak akan menyesal deh. Karena setiap buku yang kita baca pasti ada ilmu yang kita dapat. Hanya saja kelemahan buku ini terletak dalam kualitas buku yang kertasnya mudah terlepas. 

Judul Buku                   : Belajar Kepada Serigala
Penulis                         : Rivaldo Fortier
Jumlah Halaman         : 224
Penerbit                      : Buku Biru
Tahun Terbit               : 2012
Pringamba Banjarnegara, 5 September 2016

Menikmati Keindahan Sunrise di Bukit Sikunir

17:24:00 Add Comment

Sunrise Sikunir (Foto: Latif)
Bukit Sikunir yang terletak di Desa Sembungan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah ini merupakan salah satu tempat wisata di kawasan dataran tinggi Dieng yang selalu ramai oleh pengunjung. Apalagi hari libur, kita harus extra sabar untuk bisa naik ke puncak karena antriannya sangat padat. So, jika ingin naik datanglah lebih pagi sekitar jam 04.00

Jum’at, 19 Agustus 2016 saya berkesempatan melihat keindahan ciptaan Tuhan yang sering dicari oleh para pendaki, sunrise. Selain itu saya juga berkesempatan untuk melihat keindahan negeri diatas awan yang sangat menawan. Pokoknya, mata kita serasa dimanjakan oleh pemandangan yang begitu menawan. Serius.

Ini adalah kunjungan ke tiga saya ke Sikunir. Jika yang pertama dengan teman-teman BEM FITK UNSIQ  sewaktu masih menjadi mahasiswa, yang kedua dengan teman-teman ipnu ippnu korda Banyumas dan Kedu sewaktu kegiatan SKB di Tieng, maka yang ketiga adalah kunjungan bersama dengan teman-teman ipnu Ranting Bakal, Batur Banjarnegara. 

Rencana berkunjung ke Bukit Sikunir ini sebenarnya tanpa rencana yang matang. Sewaktu mau tidur ada yang nyeplos untuk naik ke Puncak Sikunir besok pagi dan diamini oleh teman-teman yang lain. Jadilah rencana dadakan itu terealisasi.

Bersama dengan Latif, Fuad dan Hanif (kalau gak salah karena agak lupa namanya, he), kami berangkat ke Bukit Sikunir pukul 04.00 pagi. Sekitar dua puluh menit perjalanan dari Desa Bakal sampai Desa Sembungan, tangan saya terasa beku. Pasalnya saya tak memakai koas tangan karena memang tak ada persiapan sama sekali hanya berbekal kemauan. Untunglah saya memakai koas kaki meskipun tidak bersepatu sehingga rasa dingin bisa teratasi.

Sebelum naik ke Bukit Sikunir saya menyempatkan diri untuk shalat subuh terlebih dahulu karena kebetulan sampai tempat parkir sudah masuk waktu shalat subuh. Bagi yang datang lebih pagi, jangan khawatir karena di puncak pertama Sikunir ada tempat untuk shalat yang disediakan oleh pengelola Wisata Sikunir. So, biar bisa lebih santai dan tidak ketinggalan moment sunrise lebih baik nait terlebih dahulu.
.
Bukit Sikunir yang berada di ketinggian 2.263 MPDL diatas permukaan laut ini tergolong ringan. Hanya butuh waktu sekitar 20-30 menit untuk sampai puncak sehingga bagi yang ingin merasakan keindahan sunrise secara langsung, Puncak Sikunir sangat cocok deh. Bahkan saat mendaki terakhir saya mendengar ada tangisan bayi di antara kerumuan pendaki lho. 
.
Untuk karcis masuk kita hanya mengelurkan uang sebesar Rp. 10.000/orang ditambah Rp. 5000 untuk parkir motor. Murah bukan? 
.
Saya pun bersyukur karena langit sedang bersahabat sehingga saya bisa menyaksikan keindahan sunrise dan mengabadikannya. Pasalnya, di kunjungan pertama langit mendung dan tertutup kabut sehingga matahari tak terlihat dengan jelas. 
.
Maka nikamat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?











Sumber Foto : Dokumen Pribadi
Banjarnegara, 4 September 2016