Kematian Mbah Putri

22:10:00 Mad Solihin 0 Comments

Sumber : pamijahan (dot) com
Sabtu, 30 Juli 2016 adalah hari pembuktian bahwa kematian datang tepat pada waktunya, tidak bisa dipercepat maupun diperlambat. Datang tiba-tiba tanpa memberi isyarat yang jelas dan tanpa diduga. Hari itu adalah hari meninggalnya mbah putri, ibu dari bapak saya. Semoga khusnul khotimah, diampuni segala dosa-dosanya dan diterima segala amal kebaikannya. Aamiin 

Kejadian itu terjadi sore hari sekitar setangah 6 sore yang ketika itu saya sedang berada di Banyumas, perjalanan pulang ke Banjarnegara setelah selesai acara pernikahan teman sekaligus senior saya di IPNU, Mas Mizanto dan Mba’ Anis. Yang menurut cerita yang saya dengar dari Lik Nur Ihsan, ia meninggal ketika sedang berada di dekat tungku perapian (pawon) dan tanpa ada tanda-tanda apapun tetiba saja beliau terjatuh laiknya orang yang pingsan. 

Penulisan tanggal sekarang menjadi hal penting bagi saya dan menuliskannya adalah salah satu cara agar saya mudah mengingatnya kembali jika lupa. Cukup melihat catatan dan saya akan mengingatnya. 

Saya beruntung masih bisa mensholatinya dan mengantarkan sampai ke pemakaman. Itu adalah penghormatan terakhir yang bisa saya lakukan sebagai cucu laki-laki tertua kedua. Tentang wajahnya, saya sudah tidak bisa melihatnya karena sesampainya di rumah beliau sudah dikafani dan siap untuk dimakamkan tinggal menunggu kedatangan saya. Dan benar saja, setelah saya selesai menshalatinya, jenazah beliau langsung di bawa ke luar dan segera dilakukan upacara pelepasan jenazah. 

Sebagai anggota keluarga saya merasa berkewajiban untuk ikut andil dalam pengantaran jezanah beliau. Maka saya pun ikut memikul jenazah beliau pada saat acara pelepasan, hanya saja di tengah perjalanan saya disuruh untuk membawa payung, memayungi jenazah pada bagian kepala.

Hilangnya Sosok Penyatu.

Mbah putri (demikian lah julukan yang sering kami pakai untuk memanggilnya) adalah sosok yang menyatukan keluarga. Ini terlihat pada saat idul fitri dimana semua berkumpul untuk sungkem meminta maaf kepada beliau, dan ternyata idul fitri kemarin adalah idul fiitri terakhir beliau. Semoga saja ini memang yang terbaik untuk beliau karena umurnya juga sudah 80 tahun lebih. Saya pun berharap bahwa meninggalnya beliau tidak akan pernah mengurangi jalinan sialturahim antar keluarga. Aamiin

Kini waktu ziarahpun tidak hanya dikhusukan untuk Mbah Kakung tetapi juga mbah putri yang makam keduanya bersebelahan. Dan ziarah ke makam keduanya setiap jum’at pagi adalah sarana pemersatu berkumpulnya sanak saudara keturunan dari Mbah Kakung dan Mbah Putri. Menyempatkan satu hari dalam satu minggu untuk mengrimkan doa bersama di dekat makam keduanya.

Ya Allah, jadikanlah alam kubur keduanya menjadi petamanan suarga dan jangan jadikan alam kubur keduanya sebagai petamanan nereka. Luaskan alam kuburnya dan tempatkan keduanya di tempat yang baik, berada di sisi-Mu. Aamiin

Penuh dengan Para Pelayat

Setiba saya dirumah sekitar pukul setengah 10, para pelayat sudah memenuhi halaman rumah. Mereka datang untuk ikut berbela sungkawa atas meninggalnya mbah putri. Tentu ini menjadi suatu kebahagiaan karena banyak yang peduli. Bahkan Mbah Muslih, Ayah dari Lik Tuwariyah (Istri Lik Nur Ihsan) dan keluarganya yang aslinya Wadasputih, Garung Wonosobo sudah berada di sana lebih dulu dari saya.

Prosesi Pemakaman

Setelah selesai upacara pelepasan jenazah oleh pak Lebe (sebutan muden di desa saya), jenazah langsung di bawa ke pemakaman dengan durasi waktu sekitar 20 menit perjalanan. Karena memang sudah tak ada yang ditunggu dan ada yang bersuka rela untuk membuat lubang untuk mengubur jenazah, maka malam itu juga jenazah mbah putri dimakamkan. 

Pada prosesi pemakaman itu untuk terakhir kalinya saya menyentuh mbah putri yang sudah terbalut kain kafan ketika mengangkat jenazahnya dari kerenda untuk dipindahkan ke liat lahat. Itu juga pengalaman pertama mengangkat jenazah yang sudah dipocong. 

Saya pun menyaksikan saat jenazah simbah ditaruh di tanah kemudian di hadapkan ke barat dengan kaki di pancatkan ke tanah sedang mukanya harus menempel di tanah. Tak ada yang dibawa selain penutup tubuh berupa kain kafan. Setelah selesai menempatkan jenazah yang kaki dan mukanya sudah menempel dengan tanah serta kain ikatnya dilepas, Lik Nur mengumandangkan adzan dan iqomah tepat berada di samping kepala simbah. Itu pula yang dilakukan ketika seorang bayi baru lahir.

Setelah itu jenazah di tutup dengan blabak untuk menghindari tertimbun dengan tanah secara langusng baru setelah itu ditutup dengan tanah. Para pengantar biasanya juga ikut menaburkan tanah ke liat lahat sempai tiga kali. Filosofinya apa? Entahlah, mungkin biar terhitung ikut menguburkan jenazah. 

Seusai liang lahat tertutup dengan tanah dan dilebihkan, maka kuburan tersebut di beri bunga dan paesan dari kayu diatasnya.

Sehari Sebelum Beliau Meninggal

Sehari sebelum simbah meninggal, beliau bercerita bahwa telah ditemui oleh mbah kakung dalam mimpi. Tentang mimpinya itu ia ceritakan kepada Lik Nur Ihsan. Lik Nur yang mendengar cerita tersebut hanya mengelus dada dan langsung mengalihkan dengan gurauan.

Pesan yang Bisa di Tebak

Baru sepuluh menit setelah saya dan mas Zulfa melakukan perjalanan pulang dari rumah Mba’ Anis. Hp yang saya taruh di tas bergetar tepat berada di punggung mas Zulfa. Ia pun memberitahukan perihal bergetarnya hp yang ketika saya lihat ada panggilan dari –Fadli (nama kontak untuk Lik Nur Ihsan). Karena sudah mati lebih dulu maka saya pun mengirim sms menanyakan ada apa? 

Tak lama setelah itu panggilan masuk dari Eka yang menanyakan sedang berada dimana. Ketika saya jawab sedang ada di Banyumas, ia langsung menyuruh saya untuk segera pulang. Insting saya langsung tertuju pada simbah yang seketika itu saya tanyakan kepad Eka. Hanya saja ia tak menjawab dengan gamblang dan hanya menyuruh untuk segera pulang. Pun demikian dengan Lik Nur, ia hanya membalas sms supaya pulang. 

Beruntung karena mas Zulfa mengendarai motor dengan cepat. Perkiraan saya baru akan sampa di rumah pukul 11 malam akhirnya lebih cepat satu jam setengah, pukul 21.30. Dan ternyata benar, isnting ada sesuatu yang terjadi dengan simbah benar-benar nyata. Ia telah berpulang ke rahmatullah. 

Hanya saja saya merasa ada yang aneh dengan diri saya. Saya tak bisa mengeluarkan air mata. Mungkin karena hati saya sudah teralu keras mungkin sehingga sulit untuk menangis. Yang terpikir oleh saya waktu itu adalah bisa ikut mengantar jenazah beliau sampai pemakaman. Sebagai penebus atas keterlambatan hadir saat beliau pulang. O ya saya sudah terlalu sering tidak ada di rumah, sering pergi semaunya sendiri. Kedekatan dengan beliau pun sangat minim. Mungkin itu pula yang membuat saya sudah tidak kaget lagi ketika beliau pulang. Maafkan cucumu ini mbah, tidak bisa membersamaimu dalam banyak waktu. 

Selamat jalan mbah, semoga engkau tenang di alam sana. Aamiin

Pringamba, 2 Agustus 2016
Mad Solihin

You Might Also Like

0 comments: