Investasi Masa Depan

7:09:00 AM Mad Solihin 0 Comments


Sumber : dokpri
 Hei kawan, sudah punya buku berapa? Apa judul buku yang terakhir kamu baca? Apa isi buku yang telah kamu baca atau setidaknya isi buku terakhir yang kamu baca deh?
 
Buku yang saya beli di Expo
Kalau saya si sedang baca buku Self Driving karyanya Prof. Renald Kasali yang mengupas tentang Driverdan Passager atau bahasa sederhanya tentang seorang supir dan penumpang. Namun jangan diartikan sesuai makna teksnya lho, tetapi ini lebih kepada makna cara berpikir atau yang orang sebelah bilang mindisit. Yaitu tentang seseorang yang bermental supir dan penumpang. Tahukan perbedaanya antara supir dan penumpang? 

Jangan jawab perbedaan terletak pada tulisannya ya, karena itu jawaban anak SD kelas satu. Supir itu identik dengan orang yang selalu terjaga, fokus dan penanggung resiko sedangkan penumpang itu identik dengan orang yang menyerahkan apapun kepada sang supir. Cepat, lambat, lewat jalan manapun penumpang tak peduli, semua terserah pada sang supir.
Menjelajahi kehidupan berarti bertarung menghadapi tantangan dan perubahan seperti seorang pengendara yang tak bebas resiko. Kadang ia tergores, berbenturan dengan kendaraan lain. Dan kalau kecelakaan dialah yang diadili, bukan penumpangnya. Sebaliknya, untuk menjadi penumpang, Anda boleh mengantuk, tertidur, terdiam, tak perlu tahu arah jalan, bahkan tak perlu merawat kendaraan sama sekali. (Renald Kasali, Self Driving Hal 1)
Ada gambaran? Sudah pahamkah? Kalau belum silahkan baca bukunya sendiri ya. He Atau kalaupun tidak punya bukunya, doakan semoga di kesempatan yang lain saya bisa mereview kembali isi buku tersebut dan menuliskannya disini. Atau kalau mau lebih cepat lagi silahkan kunjungi websitenya di rumahperubahan(dot)com. Di situ ada sedikit gambaran mengenai diver dan passager yang saya kira lebih bisa memahamkan. Pun dengan artikel-artikel yang ditulis oleh Prof. Renald Kasali juga ada. 

Beberapa hari yang lalu tepatnya hari Kamis selepas acara di kampus saya mampir di pameran buku Gramedia di Gedung Koppri Wonosobo. Dan tahu apa yang saya rasakan? Ngiler deh lihat deretan buku yang terjejer, buku yang terbungkus rapat dengan plastik dengan label harga selangit untuk ukuran mahasiswa yang masih mengandalkan orang tua sebagai banknya. Walhasil cukup simpan dulu deh keinginan untuk menambah koleksi walaupun sudah banyak yang ingin dibeli. Lepas tu, selesai puas memutari semua buku yang hanya di lihat dan dipegang kemudian diletakan kembali akhirnya keluar dengan tanpa satu bukupun terbeli. #Sedih
 
Expo Hari Jadi Wonosobo
Expo dalam rangka Hari Jadi Wonosobo, itulah tujuan saya sesuai arahan dari mas Irawan yang katanya ini hari terakhir dan di sana ada pamaran buku juga. Dan ternyata benar, di sana bahkan pameran bukunya lebih kompleks dengan beberapa stand dan penerbit yang berbeda-beda. Hanya saja tak jauh berbeda dengan yang di pameran buku Gramedia sebelumnya, buku yang saya ingini harganya sama, melangit. Yang murah banyak, tetapi satu yang perlu diingat kualitasnya juga jangan berharap sesuai dengan yang kita inginkan. Bukankah harga membawa rupa??

Pengunjung Sedang Memilih Buku
 Tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa yang murah tidak berkualitas, sama sekali tidak. Karena nyatanya saya pun belum bisa seperti mereka, menulis kemudian bisa terbit menjadi buku. Sehingga bisa dibilang mereka lebih baik dari saya dan seharusnya saya belajar kepada mereka. Namun laiknya sebuah makanan, bukankah efeknya berbeda jika makanan yang satu bergizi dan yang satunya tidak? Maka otak juga seperti itu dan buku yang kita baca mempunyai andil besar dalam proses mengembangkan cara berpikir otak kita. Buku dengan kualitas baik yang kita konsumsi akan membuat kita juga berpikir baik namun jika bukunya biasa saja, maka buku tersebut pun tersebut tidak akan berefek banyak. 

Harga mahal? Itu adalah konsekuensi yang pantas untuk menghargai karya mereka. Karena untuk membuat karya yang bagus bahkan sampai ke predikat bestseller dengan isi pesan yang disampaikan mudah dipahami sama sekali bukan proses yang sebentar. Lama, bahkan sampai bertahun-tahun. JK Rowling dengan Harry Potternya, Quraish Shihab dengan Membumikan Al-Qur’annya, Kang Abik atau Habiburrahman dengan AAC dan KCB-nya, Andrea Hirarta dengan Laskar Pelanginya dan masih banyak penulis lainnya yang kualitasnya tidak diragukan. Mereka membutuhkan waktu yang lama bahkan mungkin harus berkali-kali di tolak penerbit pada awalnya. Proses itu lah yang menurut saya perlu mendapat apresiasi. 

Eh, judul-judul yang diatas adalah novel kecuali yang Quraish Shihab. Ada satu lagi penulis yaitu Tere Liye yang juga saya sukai karena isi novelnya bagus. Nah itu yang kategori penulis novel, tetapi tentu masih banyak penulis lagi dengan spesifikasi yang berbeda-beda.
Investasi Masa Depan
Adakah makanan yang bisa bertahan sampai sepuluh tahun? Saya kira tidak ada. Dan adakah manfaat 10 tahun kedepan yang didapat jika kita makan makanannya hari ini? Saya kira tidak. Dan kamu tahu investasi apa yang bahkan ketika kita meninggal masih ada? Buku adalah salah satunya. Buku yang kita beli hari ini tak mungkin habis dimakan bukan? Namun ia akan bertahan lama, tergantung bagaimana seseorang merawatnya. Jika makanan habis seketika itu, maka buku bisa kita makan kembali isinya di lain waktu. Bahkan bisa dibaca oleh keturunan kita yang ke 7. Bukankah itu termasuk investasi masa depan? 

Lebih manfaat lagi jika buku tersebut kita lah yang menulisnya, jika bisa memberikan kemanfaatan untuk orang lain maka buku tersebut menjadi investasi akherat yang pahalanya akan mengalir meskipun kita sudah meninggal. Nama kita pun tidak hilang ditelan waktu, sehingga serasa tetap hidup karena ada karya yang di hasilkan. Sebut saja Khulafaur Rosidin (Abu Bakar, Umar,Usman dan Ali) atau 4 Imam Madzhab (Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali), bukankah nama-nama mereka selalu ada meskipun sudah meninggal puluhan tahun lalu. Dan karya yang dihasilkan adalah kuncinya.
Hei, apa karya mu kawan???
Buku adalah salah satu harapan yang saya tulis di tahun 2016 ini. Minimal satu buku lah yang terbit. Dengan waktu yang masih 4 bulan sebelum 2016 berakhir dan modal tulisan yang ada di blog ini saya sebenarnya bisa menerbitkan buku. Memilah yang sekiranya tulisan tersebut lumayan bagus. Caranya adalah Self Publising, menerbitkan sendiri. Banyak penerbit yang sekarang bisa kita gunakan untuk dapat kita manfaatkan menerbitkan buku namun kita harus membayarnya sebagai biaya penerbitan. Bisa kah menerbitkan satu buku? Tentu sangat bisa. Hanya saja ketika membaca buku CEO Koplak! yang ditulis oleh @adi_akhiles seorang leader di penerbit buku Diva Press saya jadi berpikir dua kali.

Dalam bukunya yang membahas tentang self publising, ia menguraikan bahwa itu adalah pembodohan semata. Alat untuk menumbuhkan benih-benih kesombongan. Logikanya seperti ini,”Kita bisa menerbitkan buku. Muncul rasa bangga bahwa kita ternyata sudah punya buku serasa menjadi seorang penulis. Padahal buku tersebut kita sendiri yang mencetak dengan biaya kita sendiri. Tentang kualitas, bisa dijamin? Berbeda jika memang yang menerbitkan adalah penerbit yang sudah punya nama. Bukannya membayar malah dibayar sebagai royalti atas buku yang terbit. Tentang kualitas? Minimal penerbit tidak asal-asalan menerima naskah kemudian menerbitkannya begitu saja. Buku yang terbit tentu karena sudah memenuhi standard penerbitan sesuai prinsip yang dipegang oleh perusahaan.”

Masih mau tetap menggunakan self publising?

Buah Beringin di depan Masjid UNSIQ
Sumber Gambar adalah Dokumen Pribadi
Mad Solihin

You Might Also Like

0 comments: