Dahsyatnya Energi Kemauan

11:18:00 AM Mad Solihin 2 Comments

Sumber : news.okezone(dot)com
"Dimana ada kemauan disitu ada jalan."
Demikianlah sebuah ungkapan yang sering digunakan untuk menyemangati seseorang yang mengingini sesuatu. Ungkapan yang entah siapa pencetusnya namun dalam maknanya. Dan saya meyakininya. Selalu ada jalan atas setiap tujuan yang telah kita tentukan. Hanya saja terkadang jalan itu perlu dicari, tidak serta merta ada dengan sendirinya. Ada proses perjuangan extra yang intinya terdapat pada seberapa besar kemauan yang kita miliki.

Jim Rohn pernah berujar, “If you really want to to something, you’ill find a way. If you don’t, you’ll find an excuse.” Jika engkau sungguh menginginkan sesuatu, engkau akan menemukan jalannya. Tetapi jika engkau tidak sungguh menginginkannya,maka engkau hanya akan menemukan alasan. 

Kemauan mempunyai energi yang begitu dasyat, dapat membuka jalan yang tidak terlihat, membuat kemungkinan-kemungkinan yang pada awalnya terlihat mustahil menjadi mungkin. Jalan yang awalnya gelap menjadi terang. Dan semua itu tergantung pada seberapa sungguh-sungguh engkau dalam mengingini sesuatu itu. Jika engkau hanya sekedar ingin, maka percayalah bahwa hanya alasan yang akan engkau temukan. Hanya alasan yang akan engkau gunakan untuk membela kepayahanmu, menyalahkan ini dan itu, bahwa kemauan yang tidak engkau capai adalah karena bla bla bla. Engkau akan mengkambing hitamkan orang lain, keadaan tanpa mau mengakui bahwa itu semua karena ulah dirimu yang tidak mau berusaha sekuat tenaga. 

Saya pun mengalami betapa energi kemauan ini begitu dasyat. Yaitu saat bersama dengan Rofik teman sekelas di kampus yang mengingini jadwal ujian komputer dan toefle di percepat supaya bisa daftar wisuda. Maka kami pun menemui Mas Dika, admin yang mengurus tentang penjadwalan ujian komputer. Sampai disana ternyata kami harus mengumpulkan 25 anak sebagai persyaratan untuk memajukan jadwal ujian. Baiklah cara pertama belum berhasil, tetapi setidaknya kami menjadi tahu bahwa ada jalan yang bisa kami tempuh dan dapat informasi tentang dosen yang mengurus ujian toefle. 

Pak Puji, itulah nama dosen yang mengurus ujian toefle mulai dari menguji dan mengoreksi sekaligus menandatangani sertifikat. Akhirnya kami pun menemui beliau menanyakan perihal ujian toefle apakah bisa dimajukan. Hanya saja persyaratannya lebih sulit yaitu mengumpulkan 50 anak, dua kali lipat dari ujian komputer. Karena itu juga tidak mungkin, maka ada alternatif lain yaitu ikut pembinaan dengan mengumpulkan minimal 10 anak dengan biaya Rp. 100.000,- per satu anak. 

Cara terakhir adalah cara yang saya tempuh dengan 5 anak lainnya kemarin. Namun karena hanya 6 anak maka biaya pun dinaikan menjadi Rp. 125.000,- sebagai persyaratan Pak Puji mau mengurusi pembinaan. Hei, itu adalah harga yang harus dibayarkan untuk mengikuti ujian sampai 5 kali. Karena setiap ujian kami harus membayar Rp. 25.000 dan jika tidak lulus maka kami pun harus mendaftar lagi dengan membayar Rp. 25.000,- lagi. Karena hanya itu cara terkahir untuk bisa memajukan jadwal ujian, maka cara itu pula yang kami sepakati kemarin. Deal. Dengan ketentuan Hari Jum’at pembinaan pukul 13.30 WIB dan Senin ujian Toefle’nya. 

Tak hanya itu, berbekal kemauan untuk bisa mengajukan ujian komputer, kemarin saya juga menemukan jalan agar ujian yang awalnya tanggal 27 menjadi tanggal 6 Agustus dengan cara menemui Mas Dika. Alhamdulillah, semoga saja besok bisa dapat hasil yang memuaskan. 

Bukankah semua itu karena kekuatan kemauan. Kemauan yang membuat kita melakukan sesuatu sekuat tenaga, berusaha membuka jalan yang tertutup. Atau kalau tidak ada jalan, maka kitalah yang akan membuat jalannya. Sekarang tanyakan lah pada diri kalian sendiri jika apa yang kalian inginkan tidak tercapai. Apakah itu karena ada faktor yang membuat keinginan kalian tidak tercapai atau karena kemauanmu hanya sekedar ingin?? 

Baiklah, saya juga akan menjelaskan perihal tulisan ini. Tulisan yang masih butuh 400 kata lebih untuk mencapai target 1000 kata. Saya bisa saja memenuhi target 1000 kata namun dengan topik yang berbeda, tetapi karena saya sudah berkomitment untuk membuat tulisan 1000 kata dengan satu topik maka bagaiamana pun caranya saya harus bisa. Terkesan memaksa? Bisa jadi seperti itu, namun percayalah bahwa terkadang paksaan itu membaut kita benar-benar memaksimalkan kemampuan yang kita miliki. Menggunakannya di luar kebiasaan sehari-hari. Tanpa ada paksaan kita lebih sering berada dalam zona nyaman, selalu mentolelir indislipin yang kita lakukan. Dan kalian tahu apa akibatnya, kalian menjadi seorang yang manja yang tidak mau disalahkan. 

Saya bisa saja menghentikan tulisan ini berdalih tak apalah nanti saya genapi dengan tulisan yang berbeda. Tapi itu sama saja dengan saya mematikan diri sendiri. Bagaimana saya akan berlatih untuk membuat tulisan yang panjang jika baru melangkah langsung berhenti. Maka biarlah kesan memaksa itu menjadi modal awal untuk selanjutnya saya jadikan sebagai kebiasaan. 

Pernah baca buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor? Buku ini bercerita tentang mahasiswa UI yang mengambil mata kuliah Pemasaran Internasional yang diampu oleh Prof. Renald Kasali. Tahukah kalian tugas apa yang diperintahkan sang Prof. ketika pertama kali masuk kuliah? Pergi ke luar negeri sendiri dengan negara yang berbeda. Tidak ada yang boleh tujuan negaranya sama. “Maksimal dalam 1,5 bulan ke depan, kalian semua harus sudah berangkat,” tutur beliau. (Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor Hal xxvi)

Terkesan biasa? Baiklah, sekarang bayangkan jika kalian yang berada dalam posisi itu. Apa yang akan kalian lakukan? 

Suasan kelas pun menjadi gaduh dengan keluhan mahasiswa. Bagaimana caranya? Bagaiamana cara dapat uangnya? Belum lagi permasalahan bahasa Inggris yang minim, pengurusan paspor, visa dan berbagai masalah yang awalnya terksan tidak mungkin, mustahil dalam waktu setengah bulan bisa pergi ke luar negeri. Bagi mereka yang terlahir dari keluarga kaya mungkin tidak terlalu jadi soal, terus bagaimana dengan mereka yang berasal dari keluarga pas-pasan? Namun nyatanye mereka mampu melakukannya dan buku ini adalah saksi perjalan mereka. Kisah bagaimana kesasar di negeri antah berantah, seorang diri pula.

Kalian tahu kenapa akhirnya mereka bisa menaklukan tantangan dari sang Prof. Karena mereka di paksa yang bagaimanapun caranya mereka wajib keluar negeri. Di situ juga ada energi kemauan kemana mereka akan pergi, menentukan sendiri negara mana yang akan mereka kunjungi. Jika sudah ada yang menentukan negara mana yang akan dikunjungi, maka yang lain harus mencari negara lain yang belum di pilih oleh temannya. Siapa cepat dia dapat.  Hasilnya mereka mempunyai pengalaman luar biasa. Mereka menemukan jalan atas setiap apa yang mereka ingini. Meskipun sulit, tetapi tetap saja bisa dilalui. So, saya percaya bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan. Persoalannya, seberapa sungguh-sunguh kemauan itu dan bagaimana cara menemukan jalan itu.

Pringamba, 4 Agustus 2016
Mad Solihin

You Might Also Like

2 comments:

  1. Pernah dengar soal buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor, sebelumnya saya mengira kalau buku itu mengenai seluk beluk macam apa guna paspor, kapan kita menggunakannya dan lain-lain. Tapi, rasanya, buku itu akan saya masukkan ke list buku wajib baca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan mas, malah disitu gak ada tutorial cara membuat paspor ... Yang ada cerita mahasiswa kesasar tentang tempat-tempat yang dikunjungi ktika ke luar negeri ...
      Recomended .... He

      Delete