Wisuda S1, 30 Agustus 2016

19:27:00 4 Comments

Bersama dengan Ibu dan Bapak
Alhamdulillah setelah 4 tahun berjuang di bangku kuliah akhirnya selesai juga. Wisuda yang bertempat di Gedung Sasana Adipura (Sebelah Timur Alun-Alun Wonosobo) tepatnya pada Hari Selasa, 30 Agustus 2016 adalah akhir dari serangkaian proses perkuliahan. Tapi bukan akhir dari proses pencarain ilmu tentunya. Bersama dengan 300 wisudawan dan wisudawati, saya secara resmi dilantik menjadi seorang sarjana dengan gelar S.Pd oleh Bapak KH. Drs. Mukhotob Hamzah, MM selaku Rektor Universitas Sains Al-Qur’an Jawa Tengah di Wonosobo. Rasanya baru kemarin jadi mahasiswa eh tahunya udah selesai.

Gelar yang dulunya S.Pd.I untuk mahasiswa yang kuliah di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Program Studi Pendidikan Agama Islam (Prodi PAI) mulai tahun ini hanya S.Pd saja. Aturan tersebut berdasarkan Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia (PAM RI) Nomor 33 Tahun 2016 tentang Gelar Akademik Perguruan Tinggi Keagamaan yang ditetapkan pada tanggal 9 Agustus 2016. #Detailnya cari sendiri ya. He

Terima kasih Ya Allah atas nikmat dan karunia-Mu sehingga saya bisa menyelesaikan S1 sebagai hadiah terindah untuk kedua orang tuaku. 

Kepada kedua orang tua Bapak Ahmad Suprapto dan Ibu Tusimah, terima kasih atas setiap bimbingan, kasih sayang, doa, support dan jerih payahnya sehingga saya bisa meraih gelar sarjana ini. Doakan semoga putramu ini bisa membalas kebaikan kalian dan semoga Allah selalu menyertai setiap langkah kalian, membalas semua kebaikan yang kalian berikan dengan kebaikan yang berlipat. Aamiin.

Kepada mba’ Nur Khasanah dan Kang Sutras, terima kasih atas suppot dan doanya serta hadiah motor yang kalian berikan sehingga menjadi wasilah atas setiap proses perkuliahan maupun proses pencarian jati diri dalam pengembangan kualitas diri. Jazakumullah, semoga Allah selalu memudahkan dan mengabulkan apa yang kalian cita-citakan. Aamiin

Kepada guru-guru yang tidak bisa saya sebut satu persatu, terima kasih atas setiap bimbingan dan kesabarannya dalam mendidik sehingga karena jasa kalian saya bisa menjadi insan yang lebih baik, insya allah. Wabilkhusus kepada Abah Ngisom yang telah mendidik saya dalam banyak hal, terima kasih bah semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan umur panjang kepada Abah. Aamiin.

Kepada teman-teman seperjuangan di PAI C, terima kasih atas kebersamaan selama ini. Semoga ilmu yang telah kita dapat selama ini menjadi ilmu yang manfaat dan barakah yang mengantarkan kita pada kesuksesan dunia akhirat serta mendapat ridho-Nya. Bagi yang belum wisuda gelombang pertama semoga cepat menyusul ya J Barakallahu lana wa ‘alaikum. Aaamiin

Kepada teman-teman PPL di SMK Takhassus Al-Qur'an Wonosobo,  teman-teman KPM di Plososari Kendal. Terima kasih atas kebersamaannya yang sudah seperti keluarga sendiri.

Kepada teman-teman di berbagai komunitas dan organisasi; IPNU IPPNU wa bilkhusus IPNU IPPNU Banjarnegara, PMII Wonosobo, BEM FITK UNSIQ, HMJ PAI FITK UNSIQ dan Indonesian Youth Dream. Terima kasih telah memberikan warna selama proses di luar bangku perkuliahan, memberikan ilmu tentang kehidupan yang tak saya dapatkan dalam bangku perkuliahan. 

Kepada Universitas Sains Al-Qur’an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo dan civitas akademika, terima kasih telah mengantarkan saya mengenal banyak ilmu dan pengalaman. Semoga saya bisa mengamalkan ilmu yang telah saya dapatkan dan bisa memberikan kemanfaatan untuk orang lain sebagaimana harapan dari Mbah Muntaha Al-Hafidz selalu pendiri UNSIQ. “Khoirunnasi ‘Anfa’uhum Linnas” – Sebaik-baik manusia adalah orang yang bermanfaat untuk orang lain. 

Bersama dengan Ibu Bapak dan Niman
Pringamba Sigaluh Banjarnegara, 31 Agustus 2016 00:16
Wanita Hebat dalam Hidupku

Wanita Hebat dalam Hidupku

06:11:00 1 Comment
Beliau yang selalu mencemaskanku, memarahiku untuk tidak pulang malam, selalu bertanya mau berangkat jam berapa jika tahu aku akan pergi yang kemudian membuatnya sibuk menyiapkan makanan agar aku sarapan. 

Beliau yang rambutnya sudah memutih lantaran usianya yang empat tahun lagi berkepala 6. Yang katanya malu jika berpergian karena giginya sudah tak lengkap lagi. Yang sampai hari ini tak pernah bisa menggunakan ponsel genggam bahkan untuk memindah chanel tv pun terkadang masih bingung sehingga selalu menyuruhku memindahkan chanel tv Indosiar untuk melihat acara Mama Dedeh di pagi hari (kebiasaan yang selalu bisa di tebak ketika aku masih berada dikamar).

Beliau yang sampai hari ini masih saja mencari rumput, kebiasaan berbeda dengan orang-orang yang ada di desaku. Bersusah-payah demi anak-anaknya. Selalu berharap bahwa anaknya ini, kelak akan beroleh hidup yang lebih baik dan tidak mengalami apa yang beliau alami. 

Tahukah kalian siapa beliau? Ibuku. Ya, beliaulah sosok itu. Sosok yang beberapa waktu lalu membuatku berpikir dua kali untuk pergi merantau lagi, berjelajah untuk bersahabt dengan alam dan ilmu. Kecemasannya, umurnya yang sudah tak lagi muda membuatku takut kehilangannya. Takut jika suatu saat nanti tak bisa menemani saat beliau menginginkan kehadiranku.

Beliaulah alasan kenapa seseorang yang akan bersamaku, aku memintanya untuk bersedia hidup di tanah kelahiranku. Tak lain adalah karena aku ingin bisa menemani beliau.

Ah, apa yang aku tuliskan tak mungkin bisa menggambarkan kebaikannya secara utuh. Itu hanya seklumit cerita yang rasanya aku belum bisa melanjutkannya. Karena semakin aku tulis semakin aku takut kehilangannya.

“Ya Allah, limpahkan rezeki yang halal dan barokah kepanya. Sehatkan jasmani dan rohaninya. Lapagkanlah hatinya, berilah ia kekuatan lahir batin dan kabulkan apa yang menjadi hajatnya. Aamiin.”

Banjarnegara, 20 Agustus 2016

Yuk, Jadi Orang Tua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih

11:57:00 Add Comment
Yuk, Jadi Orang Tua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih, Buku Parenting, Cara Mendidik Anak
Sumber : Dokpri

Orangtua biasa, memberi tahu ...
Orangtua baik, menjelaskan ...
Orangtua bijak, meneladani ...
Orangtua cerdas, menginspirasi ...

Yuk, Jadi Orang Tua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih adalah buku tentang cara menddidik seorang anak (Parenting). Sebuah buku panduan yang berisi kiat memperlakukan seorang anak dan bagaimana cara menjadi orang tua yang baik. Seperti terlihat dalam judul, bahwa orang tau harus menjadi shalih terlebih dahulu sebelum menginginkan anaknya shalih. Laiknya falsafah cermin. Menjadi orang tua bagaikan cermin untuk anak kita. Apa pun yang kita lakukan atau ucapkan akan memantul kepada anak kita.
Membaca buku karangan Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari ini, saya menjadi menerawang jauh ke belakang, ke masa kecil saya dulu. Masa dimana orang tua saya tak pernah mendapat pengetahuan bagaimana cara mendidik seorang anak. Mungkin mereka juga tidak tahu bahwa ternyata banyak kecerdasaan selain kognitif yang saya miliki. Namun, bagaimana saya bisa mengembangkan jika tak ada yang membimbing. Seperti kebanyakan masyarakat desa lainnya yang hanya lulusan SD atau paling tinggi SMP, saya mengiyakan pendapat Abah Ihsan (sebutan akrab untuk pengarang buku ini)) bahwa mereka membesarkan saya dengan cara trial and error. Menerapkan cara lama tentang apa yang sudah dipelajari dulu dari orang tuanya ataupun berkat pengalaman mendidik kakak saya.
Tetapi bagaimana pun cara mereka mendidik saya yang mungkin jauh dari ideal, saya selalu bangga mempunyai ibu dan ayah yang hebat seperti mereka. Terima kasih untuk semua kebaikan yang kalian berikan. Doakan semoga saya bisa selalu berbakti kepada kalian. Karena untuk membalas, saya tak mungkin bisa.
Buku ini mengajak kita untuk menjadi orang tua yang baik dan orang tua yang shalih. Menurut Munif Chatib, ada segitiga emas yang terangkum dalam buku ini. Pertama, masalah “paradigma” tentang siapa sebenarnya anak kita. Buku ini menjelaskan perkembangan anak kita sesuai dengan usia tumbuh kembangnya. Kedua, membuat “cara” praktis bagaimana menyelsaikan masalah dengan anak. Ketiga, menjaga  komitmen untu selalu sabar dalam menjadi orang tua yang baik. (Pengantar oleh Munif Chatib, Hal 17)
Ada 6 bab dalam buku ini. Pertama, Yuk Jadi Orang Tua Shalih! Di bab ini penulis menjelaskan tentang 7 langkah menuju perubahan. Kedua, Karunia Belajar: Ayah-Bunda, Belajarlah Bagiaman Anak Belajar. Di sini kita akan dibawa kedalam pengenalan dunia seorang anak, tentang perkembangan fisik, mental, sosial dan emosi. Serta pengenalan bagaimana kita memperlakukan anak usia 0-1 tahun, usia batita (bawah tiga tahun), usia balita (bawah lima tahun), usia Sekolah Dasar dan usia remaja. Ketiga, Karnia Konsistensi: “Tidak” Berarti “Tidak”. Di bab ini kita akan diajarkan bagaimana orang tua menyikapi sebuah aturan, bahwa tidak berarti tidak. Konsisten terhadap sebuah aturan.
Keempat, Karnia Kiblat: Kita Menuju Arah yang Kita Fokuskan. Di bab ini kita diajak untuk fokus pada hal-hal yang bersifat positif bukan yang negatif. Fokus pada perilaku baik bukan perilaku buruk. Fokus pada kelebihan bukan kekurangan. Fokus pada solusi bukan masalah. Fokus pada hasil yang ingin dicapai bukan pada penyebab kegagalan.
Kelima, Karunia Mendengarkan: Telinga yang Terbiasa Mendengar hingga Tak Lagi Mendengar. Di bab ini kita diajak untuk bisa mendengarkan anak kita. Menjadi orang tua yang bersama anak bukan dekat dengan anak. Keenam, Karunia Al-Shaffat: Inspirasi dan Komunikasi Efektif. Di bab ini kita diajak untuk menjadi kan komunikasi menjadi sarana untuk mendidik mereka. Menjadi sarana agar anak benar-benar merasakan kehadiran kita.
Selain isinya yang bagus, buku ini mempunyai kelebihan dalam hal penulisan dan penjelasan. Membaca kita buku ini, mata kita akan dimanjakan dengan variasasi tulisan yang tidak monoton. Perpaduan warna hijau pada setiap Judul Bab atau pun Sub Bab dan jarak spasi antar baris tulisan membuat buku ini enak dibaca. Penulisan ilustrasi sebagai contoh dalam setiap penjelasan membuat pembaca mudah memahami gagasan yang ingin disampaikan oleh penulis.
Bagi orang tua maupun seseorang yang akan segera membangun rumah tangga, buku ini cocok menjadi rujukan agar nantinya setelah mempunyai anak, sudah tahu bagaimana cara mendidik mereka sehingga tidak terjebak pada trial and error dan pengulangan zaman pendikan jadul sebagiamana orang tua mendidik kita dulu.
Judul Buku          : Yuk, Jadi Orang Tua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih
Penulis                                 : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Penerbit              : Mizania
Tahun Terbit      : 2013
Tebal Buku          : 174 Halaman
Rumah, 17 Agustus 2016
Tulis Saja

Tulis Saja

23:54:00 Add Comment

Sial. Sudah puluhan kertas aku buang dan berserakan di lantai namun belum satupun cerpen yang jadi. Selesai satu kalimat tetiba saja tanganku terhenti, bingung bagaimana harus melanjutkannya. Benar-benar sial. Kenapa sulit sekali membuat cerpen. Perlu bakat khususkah? Entahlah. Puluhan teori yang ku baca nyatanya hanya membuat bingung.

“Tulis saja dulu. Abaikan semua aturan. Biarkan semesta yang membantu  menggerakan tanganmu sehingga mengalir dengan sendirinya,”pesan Raihan ketika aku mengadukan perihal sulitnya membuat cerpen.

“Kamu tahu, salah satu cara belajar terbaik adalah mencoba. Belajar apapun. Bukankah kamu tidak akan bisa mengendari sepeda motor hanya sekedar tahu teorinya tanpa pernah mencoba mengendarainya langsung? Persis dengan membuat cerpen.” Lanjutnya menasehati.

Rumah, 15 Agustus 2016

Investasi Masa Depan

07:09:00 Add Comment

Sumber : dokpri
 Hei kawan, sudah punya buku berapa? Apa judul buku yang terakhir kamu baca? Apa isi buku yang telah kamu baca atau setidaknya isi buku terakhir yang kamu baca deh?
 
Buku yang saya beli di Expo
Kalau saya si sedang baca buku Self Driving karyanya Prof. Renald Kasali yang mengupas tentang Driverdan Passager atau bahasa sederhanya tentang seorang supir dan penumpang. Namun jangan diartikan sesuai makna teksnya lho, tetapi ini lebih kepada makna cara berpikir atau yang orang sebelah bilang mindisit. Yaitu tentang seseorang yang bermental supir dan penumpang. Tahukan perbedaanya antara supir dan penumpang? 

Jangan jawab perbedaan terletak pada tulisannya ya, karena itu jawaban anak SD kelas satu. Supir itu identik dengan orang yang selalu terjaga, fokus dan penanggung resiko sedangkan penumpang itu identik dengan orang yang menyerahkan apapun kepada sang supir. Cepat, lambat, lewat jalan manapun penumpang tak peduli, semua terserah pada sang supir.
Menjelajahi kehidupan berarti bertarung menghadapi tantangan dan perubahan seperti seorang pengendara yang tak bebas resiko. Kadang ia tergores, berbenturan dengan kendaraan lain. Dan kalau kecelakaan dialah yang diadili, bukan penumpangnya. Sebaliknya, untuk menjadi penumpang, Anda boleh mengantuk, tertidur, terdiam, tak perlu tahu arah jalan, bahkan tak perlu merawat kendaraan sama sekali. (Renald Kasali, Self Driving Hal 1)
Ada gambaran? Sudah pahamkah? Kalau belum silahkan baca bukunya sendiri ya. He Atau kalaupun tidak punya bukunya, doakan semoga di kesempatan yang lain saya bisa mereview kembali isi buku tersebut dan menuliskannya disini. Atau kalau mau lebih cepat lagi silahkan kunjungi websitenya di rumahperubahan(dot)com. Di situ ada sedikit gambaran mengenai diver dan passager yang saya kira lebih bisa memahamkan. Pun dengan artikel-artikel yang ditulis oleh Prof. Renald Kasali juga ada. 

Beberapa hari yang lalu tepatnya hari Kamis selepas acara di kampus saya mampir di pameran buku Gramedia di Gedung Koppri Wonosobo. Dan tahu apa yang saya rasakan? Ngiler deh lihat deretan buku yang terjejer, buku yang terbungkus rapat dengan plastik dengan label harga selangit untuk ukuran mahasiswa yang masih mengandalkan orang tua sebagai banknya. Walhasil cukup simpan dulu deh keinginan untuk menambah koleksi walaupun sudah banyak yang ingin dibeli. Lepas tu, selesai puas memutari semua buku yang hanya di lihat dan dipegang kemudian diletakan kembali akhirnya keluar dengan tanpa satu bukupun terbeli. #Sedih
 
Expo Hari Jadi Wonosobo
Expo dalam rangka Hari Jadi Wonosobo, itulah tujuan saya sesuai arahan dari mas Irawan yang katanya ini hari terakhir dan di sana ada pamaran buku juga. Dan ternyata benar, di sana bahkan pameran bukunya lebih kompleks dengan beberapa stand dan penerbit yang berbeda-beda. Hanya saja tak jauh berbeda dengan yang di pameran buku Gramedia sebelumnya, buku yang saya ingini harganya sama, melangit. Yang murah banyak, tetapi satu yang perlu diingat kualitasnya juga jangan berharap sesuai dengan yang kita inginkan. Bukankah harga membawa rupa??

Pengunjung Sedang Memilih Buku
 Tanpa bermaksud untuk mengatakan bahwa yang murah tidak berkualitas, sama sekali tidak. Karena nyatanya saya pun belum bisa seperti mereka, menulis kemudian bisa terbit menjadi buku. Sehingga bisa dibilang mereka lebih baik dari saya dan seharusnya saya belajar kepada mereka. Namun laiknya sebuah makanan, bukankah efeknya berbeda jika makanan yang satu bergizi dan yang satunya tidak? Maka otak juga seperti itu dan buku yang kita baca mempunyai andil besar dalam proses mengembangkan cara berpikir otak kita. Buku dengan kualitas baik yang kita konsumsi akan membuat kita juga berpikir baik namun jika bukunya biasa saja, maka buku tersebut pun tersebut tidak akan berefek banyak. 

Harga mahal? Itu adalah konsekuensi yang pantas untuk menghargai karya mereka. Karena untuk membuat karya yang bagus bahkan sampai ke predikat bestseller dengan isi pesan yang disampaikan mudah dipahami sama sekali bukan proses yang sebentar. Lama, bahkan sampai bertahun-tahun. JK Rowling dengan Harry Potternya, Quraish Shihab dengan Membumikan Al-Qur’annya, Kang Abik atau Habiburrahman dengan AAC dan KCB-nya, Andrea Hirarta dengan Laskar Pelanginya dan masih banyak penulis lainnya yang kualitasnya tidak diragukan. Mereka membutuhkan waktu yang lama bahkan mungkin harus berkali-kali di tolak penerbit pada awalnya. Proses itu lah yang menurut saya perlu mendapat apresiasi. 

Eh, judul-judul yang diatas adalah novel kecuali yang Quraish Shihab. Ada satu lagi penulis yaitu Tere Liye yang juga saya sukai karena isi novelnya bagus. Nah itu yang kategori penulis novel, tetapi tentu masih banyak penulis lagi dengan spesifikasi yang berbeda-beda.
Investasi Masa Depan
Adakah makanan yang bisa bertahan sampai sepuluh tahun? Saya kira tidak ada. Dan adakah manfaat 10 tahun kedepan yang didapat jika kita makan makanannya hari ini? Saya kira tidak. Dan kamu tahu investasi apa yang bahkan ketika kita meninggal masih ada? Buku adalah salah satunya. Buku yang kita beli hari ini tak mungkin habis dimakan bukan? Namun ia akan bertahan lama, tergantung bagaimana seseorang merawatnya. Jika makanan habis seketika itu, maka buku bisa kita makan kembali isinya di lain waktu. Bahkan bisa dibaca oleh keturunan kita yang ke 7. Bukankah itu termasuk investasi masa depan? 

Lebih manfaat lagi jika buku tersebut kita lah yang menulisnya, jika bisa memberikan kemanfaatan untuk orang lain maka buku tersebut menjadi investasi akherat yang pahalanya akan mengalir meskipun kita sudah meninggal. Nama kita pun tidak hilang ditelan waktu, sehingga serasa tetap hidup karena ada karya yang di hasilkan. Sebut saja Khulafaur Rosidin (Abu Bakar, Umar,Usman dan Ali) atau 4 Imam Madzhab (Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali), bukankah nama-nama mereka selalu ada meskipun sudah meninggal puluhan tahun lalu. Dan karya yang dihasilkan adalah kuncinya.
Hei, apa karya mu kawan???
Buku adalah salah satu harapan yang saya tulis di tahun 2016 ini. Minimal satu buku lah yang terbit. Dengan waktu yang masih 4 bulan sebelum 2016 berakhir dan modal tulisan yang ada di blog ini saya sebenarnya bisa menerbitkan buku. Memilah yang sekiranya tulisan tersebut lumayan bagus. Caranya adalah Self Publising, menerbitkan sendiri. Banyak penerbit yang sekarang bisa kita gunakan untuk dapat kita manfaatkan menerbitkan buku namun kita harus membayarnya sebagai biaya penerbitan. Bisa kah menerbitkan satu buku? Tentu sangat bisa. Hanya saja ketika membaca buku CEO Koplak! yang ditulis oleh @adi_akhiles seorang leader di penerbit buku Diva Press saya jadi berpikir dua kali.

Dalam bukunya yang membahas tentang self publising, ia menguraikan bahwa itu adalah pembodohan semata. Alat untuk menumbuhkan benih-benih kesombongan. Logikanya seperti ini,”Kita bisa menerbitkan buku. Muncul rasa bangga bahwa kita ternyata sudah punya buku serasa menjadi seorang penulis. Padahal buku tersebut kita sendiri yang mencetak dengan biaya kita sendiri. Tentang kualitas, bisa dijamin? Berbeda jika memang yang menerbitkan adalah penerbit yang sudah punya nama. Bukannya membayar malah dibayar sebagai royalti atas buku yang terbit. Tentang kualitas? Minimal penerbit tidak asal-asalan menerima naskah kemudian menerbitkannya begitu saja. Buku yang terbit tentu karena sudah memenuhi standard penerbitan sesuai prinsip yang dipegang oleh perusahaan.”

Masih mau tetap menggunakan self publising?

Buah Beringin di depan Masjid UNSIQ
Sumber Gambar adalah Dokumen Pribadi
Mad Solihin

Dahsyatnya Energi Kemauan

11:18:00 2 Comments
Sumber : news.okezone(dot)com
"Dimana ada kemauan disitu ada jalan."
Demikianlah sebuah ungkapan yang sering digunakan untuk menyemangati seseorang yang mengingini sesuatu. Ungkapan yang entah siapa pencetusnya namun dalam maknanya. Dan saya meyakininya. Selalu ada jalan atas setiap tujuan yang telah kita tentukan. Hanya saja terkadang jalan itu perlu dicari, tidak serta merta ada dengan sendirinya. Ada proses perjuangan extra yang intinya terdapat pada seberapa besar kemauan yang kita miliki.

Jim Rohn pernah berujar, “If you really want to to something, you’ill find a way. If you don’t, you’ll find an excuse.” Jika engkau sungguh menginginkan sesuatu, engkau akan menemukan jalannya. Tetapi jika engkau tidak sungguh menginginkannya,maka engkau hanya akan menemukan alasan. 

Kemauan mempunyai energi yang begitu dasyat, dapat membuka jalan yang tidak terlihat, membuat kemungkinan-kemungkinan yang pada awalnya terlihat mustahil menjadi mungkin. Jalan yang awalnya gelap menjadi terang. Dan semua itu tergantung pada seberapa sungguh-sungguh engkau dalam mengingini sesuatu itu. Jika engkau hanya sekedar ingin, maka percayalah bahwa hanya alasan yang akan engkau temukan. Hanya alasan yang akan engkau gunakan untuk membela kepayahanmu, menyalahkan ini dan itu, bahwa kemauan yang tidak engkau capai adalah karena bla bla bla. Engkau akan mengkambing hitamkan orang lain, keadaan tanpa mau mengakui bahwa itu semua karena ulah dirimu yang tidak mau berusaha sekuat tenaga. 

Saya pun mengalami betapa energi kemauan ini begitu dasyat. Yaitu saat bersama dengan Rofik teman sekelas di kampus yang mengingini jadwal ujian komputer dan toefle di percepat supaya bisa daftar wisuda. Maka kami pun menemui Mas Dika, admin yang mengurus tentang penjadwalan ujian komputer. Sampai disana ternyata kami harus mengumpulkan 25 anak sebagai persyaratan untuk memajukan jadwal ujian. Baiklah cara pertama belum berhasil, tetapi setidaknya kami menjadi tahu bahwa ada jalan yang bisa kami tempuh dan dapat informasi tentang dosen yang mengurus ujian toefle. 

Pak Puji, itulah nama dosen yang mengurus ujian toefle mulai dari menguji dan mengoreksi sekaligus menandatangani sertifikat. Akhirnya kami pun menemui beliau menanyakan perihal ujian toefle apakah bisa dimajukan. Hanya saja persyaratannya lebih sulit yaitu mengumpulkan 50 anak, dua kali lipat dari ujian komputer. Karena itu juga tidak mungkin, maka ada alternatif lain yaitu ikut pembinaan dengan mengumpulkan minimal 10 anak dengan biaya Rp. 100.000,- per satu anak. 

Cara terakhir adalah cara yang saya tempuh dengan 5 anak lainnya kemarin. Namun karena hanya 6 anak maka biaya pun dinaikan menjadi Rp. 125.000,- sebagai persyaratan Pak Puji mau mengurusi pembinaan. Hei, itu adalah harga yang harus dibayarkan untuk mengikuti ujian sampai 5 kali. Karena setiap ujian kami harus membayar Rp. 25.000 dan jika tidak lulus maka kami pun harus mendaftar lagi dengan membayar Rp. 25.000,- lagi. Karena hanya itu cara terkahir untuk bisa memajukan jadwal ujian, maka cara itu pula yang kami sepakati kemarin. Deal. Dengan ketentuan Hari Jum’at pembinaan pukul 13.30 WIB dan Senin ujian Toefle’nya. 

Tak hanya itu, berbekal kemauan untuk bisa mengajukan ujian komputer, kemarin saya juga menemukan jalan agar ujian yang awalnya tanggal 27 menjadi tanggal 6 Agustus dengan cara menemui Mas Dika. Alhamdulillah, semoga saja besok bisa dapat hasil yang memuaskan. 

Bukankah semua itu karena kekuatan kemauan. Kemauan yang membuat kita melakukan sesuatu sekuat tenaga, berusaha membuka jalan yang tertutup. Atau kalau tidak ada jalan, maka kitalah yang akan membuat jalannya. Sekarang tanyakan lah pada diri kalian sendiri jika apa yang kalian inginkan tidak tercapai. Apakah itu karena ada faktor yang membuat keinginan kalian tidak tercapai atau karena kemauanmu hanya sekedar ingin?? 

Baiklah, saya juga akan menjelaskan perihal tulisan ini. Tulisan yang masih butuh 400 kata lebih untuk mencapai target 1000 kata. Saya bisa saja memenuhi target 1000 kata namun dengan topik yang berbeda, tetapi karena saya sudah berkomitment untuk membuat tulisan 1000 kata dengan satu topik maka bagaiamana pun caranya saya harus bisa. Terkesan memaksa? Bisa jadi seperti itu, namun percayalah bahwa terkadang paksaan itu membaut kita benar-benar memaksimalkan kemampuan yang kita miliki. Menggunakannya di luar kebiasaan sehari-hari. Tanpa ada paksaan kita lebih sering berada dalam zona nyaman, selalu mentolelir indislipin yang kita lakukan. Dan kalian tahu apa akibatnya, kalian menjadi seorang yang manja yang tidak mau disalahkan. 

Saya bisa saja menghentikan tulisan ini berdalih tak apalah nanti saya genapi dengan tulisan yang berbeda. Tapi itu sama saja dengan saya mematikan diri sendiri. Bagaimana saya akan berlatih untuk membuat tulisan yang panjang jika baru melangkah langsung berhenti. Maka biarlah kesan memaksa itu menjadi modal awal untuk selanjutnya saya jadikan sebagai kebiasaan. 

Pernah baca buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor? Buku ini bercerita tentang mahasiswa UI yang mengambil mata kuliah Pemasaran Internasional yang diampu oleh Prof. Renald Kasali. Tahukah kalian tugas apa yang diperintahkan sang Prof. ketika pertama kali masuk kuliah? Pergi ke luar negeri sendiri dengan negara yang berbeda. Tidak ada yang boleh tujuan negaranya sama. “Maksimal dalam 1,5 bulan ke depan, kalian semua harus sudah berangkat,” tutur beliau. (Buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor Hal xxvi)

Terkesan biasa? Baiklah, sekarang bayangkan jika kalian yang berada dalam posisi itu. Apa yang akan kalian lakukan? 

Suasan kelas pun menjadi gaduh dengan keluhan mahasiswa. Bagaimana caranya? Bagaiamana cara dapat uangnya? Belum lagi permasalahan bahasa Inggris yang minim, pengurusan paspor, visa dan berbagai masalah yang awalnya terksan tidak mungkin, mustahil dalam waktu setengah bulan bisa pergi ke luar negeri. Bagi mereka yang terlahir dari keluarga kaya mungkin tidak terlalu jadi soal, terus bagaimana dengan mereka yang berasal dari keluarga pas-pasan? Namun nyatanye mereka mampu melakukannya dan buku ini adalah saksi perjalan mereka. Kisah bagaimana kesasar di negeri antah berantah, seorang diri pula.

Kalian tahu kenapa akhirnya mereka bisa menaklukan tantangan dari sang Prof. Karena mereka di paksa yang bagaimanapun caranya mereka wajib keluar negeri. Di situ juga ada energi kemauan kemana mereka akan pergi, menentukan sendiri negara mana yang akan mereka kunjungi. Jika sudah ada yang menentukan negara mana yang akan dikunjungi, maka yang lain harus mencari negara lain yang belum di pilih oleh temannya. Siapa cepat dia dapat.  Hasilnya mereka mempunyai pengalaman luar biasa. Mereka menemukan jalan atas setiap apa yang mereka ingini. Meskipun sulit, tetapi tetap saja bisa dilalui. So, saya percaya bahwa dimana ada kemauan disitu ada jalan. Persoalannya, seberapa sungguh-sunguh kemauan itu dan bagaimana cara menemukan jalan itu.

Pringamba, 4 Agustus 2016
Mad Solihin

Teguh Pada Prinsip

01:16:00 Add Comment
Sumber : Merdeka (dot) com
Singkat, padat dan jelas. Itulah harapan setiap orang ketika membaca sebuah tulisan. Sehingga tulisan yang panjang dan mengoler seperti ular akan diabaikan, ditinggalkan sebelum tulisan selesai terbaca semua. Itu pula yang saya rasakan ketika berkunjung ke web atau blog seseorang. Saya lebih suka membaca tulisan yang selesai sekali duduk, kecuali tulisan tersebut benar-benar saya butuhkan. 

Terus bagaimana dengan tulisan 1000 kata? Terlalu panjangkah? Bagi yang menulis mungkin terkesan biasa tetapi tidak dengan pembaca. Pertanyaannya sekarang adalah apakah saya akan berhenti menulis dengan jumlah 1000 kata dan menguranginya sehingga terkesan lebih singkat? Padahal target menulis dengan jumlah menimal 1000 kata adalah proses latihan yang baru saja saya mulai awal Agustus ini. Tujuannya tidak lain adalah untuk meningkatkan kemampuan saya dalam menulis. Jika saya berhenti berarti saya terlalu lemah dalam memegang prinsip donk. 

Pembaca. Demikianlah inti dari permasalahan diatas. Seperti halnya tips dari seseorang yang bernama Kgenzaru Khuluq di dalam kolom komentar tulisan yang berjudul “Proyek Tulisan 1000 Kata Per Hari” di blog. Ia memberikan saran bahwa pembaca itu lebih suka dengan tulisan yang singkat, padat dan jelas serta ada gambarnya. (Terima kasih atas sarannya ya J ) Seketika itu saya pun langsung setuju dengan saran tersebut karena memang seperti itulah nyatanya. Namun, saya pun berpikir masa iya saya tidak penuhi target 1000 kata, padahal saya sudah memberikan kategori atau label tersendiri “Tulisan 1000 Kata Per Hari” di blog. #Ah jadi dilema.

Baiklah, untuk urusan pembaca saya tidak akan memaksa mereka untuk menyelesaikan membaca tulisan saya sampai selesai. Itu pun kalau ada yang mau membaca. Hahaha Yang menjadi prioritas dalam proyek Tulisan 1000 Kata Per Hari ini adalah untuk melatih skill kepenulisan. Karena tanpa ada target yang jelas maka kita pun tidak bisa mengukur sejauh mana pencapain yang telah kita raih. Itu saja. Urusan pembaca biarlah berjalan secara alami, sebagaimana salah seorang teman pernah berseloroh “Setiap tulisan akan menemukan pembacanya sendiri-sendiri”. Jadi biarlah tulisan saya menemukan jodoh pembacanya sendiri. Hihi

Belajar Tuguh Pada Prinsip

Menulis 1000 kata apalagi perhari bukanlah sesuatu yang mudah. Selain butuh waktu juga butuh ide gagasan tentang apa yang akan ditulis. Pun ketika sudah mulai menulis kemudian buntu, ide yang kita punya sudah habis sehingga bingung mau menulis apa lagi tentu kita akan berhenti dan lebih memilih menyudahi sebuah tulisan jika tidak ingat bahwa ternyata tulisan kita belum mencapai 1000 kata. So, pelajaran yang bisa saya ambil adalah belajar untuk teguh pada prinsip meskipun itu sulit.

Tentang komentar dari Kgenzaru Khuluq yang memberikan tips bahwa pembaca itu lebih suka dengan tulisan yang singkat, padat dan jelas juga sama. Saya belajar untuk teguh pada prinsip, mempertahankan proyek Menulis 1000 Kata. Belajar untuk tidak terpengaruh dengan prinsip orang lain. Bukankah setiap orang memang punya prinsip sendiri-sendiri? Dan saya sedang ingin menikmati tulisan yang agak panjang.

Kualitas Tulisan

Saya mempunyai keyakinan bahwa kualitas tulisan menjadi faktor penting bagi seorang pembaca. Lihat saja, novel-novel milik Tere Liye dan Habiburrahman el-Sirazy yang menjadi best seller serta banyak yang mengagumi. Bukankah itu karena faktor kualitas tulisannya?

Saya pun berpikir bagaiamana cara agar tulisan yang saya hasilkan bisa berkualitas sehingga panjang atau pendek tidak menjadi soal bagi pembacanya. Dan Menulis 1000 Kata adalah salah satu cara yang saya pilih untuk meningkatkan kualitas tulisan. Sederhananya gini, seseorang yang tidak biasa menulis panjang tentu kesulitan jika harus menulis panjang dengan rangkaian kalimat per kalimat dan paragraf per paragraf nyambung menjadi cerita yang utuh. 

Adapun tanda tulisan yang menurut penulis kualitasnya bagus adalah tulisan yang ketika seseorang membacanya mudah dalam memahami isinya, betah menelusuri setiap kata per kata dan tidak jlimet. Atau laiknya membaca sebuah novel, tidak ingin beranjak jika belum selesai membacanya. Ada rasa penasaran jika berhenti sehingga timbul rasa untuk segera menyelesaikannya. Bagi yang sering membaca novel tentu paham maksud saya :)

Alternatif Lain

Tak hanya membuat pembaca bosan ketika membaca tulisan yang panjang, penulis pemula seperti saya juga sebenarnya kehabisan ide jika harus menulis dalam satu topik. Bayangkan saja, 1000 kata dengan kisaran kertas 3 lembar. Seperti halnya saat ini, tertera dalam aplikasi penghitung kata di MS. Word baru 666 kata yang berarti masih kurang 344 kata. Kalau ada ide itu bukanlah masalah, tetapi kalau sedang buntu seperti saat ini maka benar-benar harus memeras otak agar tercapai 1000 kata. Namun itulah seni dan asyiknya proyek tulisan 1000 kata ini. Pemaksaan yang berujung pada pembuktian bahwa ketika kita mau mengerahkan segala kemampuan kita pasti bisa.

Sebenarnya ada alternatif lain untuk mensiasati tulisan 1000 kata ini. Yaitu membuat tulisan yang tidak hanya satu topik atau satu judul tetapi mensyaratkan ketika tulisan-tulisan tersebut dijumlahkan maka terkumpul 1000 kata. Tetapi juga harus satu hari. Jadi 1000 kata tersebut bisa jadi 3 tulisan namun harus ditulis dalam hari yang sama. Hanya saja ketika alternatif itu yang dipilih kemudian meninggalkan tulisan 1000 kata, maka saya pun tidak belajar untuk bisa menulis panjang. Itu kelamahannya. Sederhananya, saya tak mungkin bisa menulis dengan jumlah kertas 3 lembar dalam satu judul jika saya tidak pernah berlatih menulis 3 lembar tersebut.

Keputusan Akhir

Setelah melalui berbagai pertimbangan dengan menunjukan dan memberikan penjelasan masing-masing sebagaimana tertulis diatas, maka saya pun akan menyimpulkan sendiri tentang proses latihan menulis 1000 kata. 

Pertama, Tulisan 1000 Kata Per Hari akan tetap saya jalankan mengingat itu niat awal saya di bulan Agustus ini. Jika saya membatalkan maka sama halnya saya tidak konsisten. Tulisan 1000 kata ini juga sebagai sarana untuk berlatih menulis panjang yang sistematis dan urut. Semoga saja benar-benar bisa menjalankannya sampai Desember nanti. Aaamiin

Kedua, Tentang pembaca untuk saat ini jangan terlalu di pikirkan. Biarlah berjalan sebagaiamana air mengalir. Percayalah tulisan yang saat ini ada pasti akan menemukan pembacanya. Fokuskan pada proses peningkatan skill kepenulisan. Itu saja. 

Ketiga, Selama proyek kepenulisan 1000 kata tetap berjalan, saya juga bisa membuat tulisan yang lebih pendek dan bisa kapan pun saya posting di blog. 

Terakhir Laahaula wala quwwata illa billah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali semua itu datang dari Allah. Maka limpahkan kekuatan dan kemampuan kepada hamba-Mu yang lemah ini ya Allah. Dan jadikan setiap rangkaian kata yang tertulis membuat yang membaca terinspirasi serta memberikan kemanfaatan untuk orang lain. Aamiin.

Pringamba, 3 Agustus 2016
Mad Solihin

Kematian Mbah Putri

22:10:00 Add Comment
Sumber : pamijahan (dot) com
Sabtu, 30 Juli 2016 adalah hari pembuktian bahwa kematian datang tepat pada waktunya, tidak bisa dipercepat maupun diperlambat. Datang tiba-tiba tanpa memberi isyarat yang jelas dan tanpa diduga. Hari itu adalah hari meninggalnya mbah putri, ibu dari bapak saya. Semoga khusnul khotimah, diampuni segala dosa-dosanya dan diterima segala amal kebaikannya. Aamiin 

Kejadian itu terjadi sore hari sekitar setangah 6 sore yang ketika itu saya sedang berada di Banyumas, perjalanan pulang ke Banjarnegara setelah selesai acara pernikahan teman sekaligus senior saya di IPNU, Mas Mizanto dan Mba’ Anis. Yang menurut cerita yang saya dengar dari Lik Nur Ihsan, ia meninggal ketika sedang berada di dekat tungku perapian (pawon) dan tanpa ada tanda-tanda apapun tetiba saja beliau terjatuh laiknya orang yang pingsan. 

Penulisan tanggal sekarang menjadi hal penting bagi saya dan menuliskannya adalah salah satu cara agar saya mudah mengingatnya kembali jika lupa. Cukup melihat catatan dan saya akan mengingatnya. 

Saya beruntung masih bisa mensholatinya dan mengantarkan sampai ke pemakaman. Itu adalah penghormatan terakhir yang bisa saya lakukan sebagai cucu laki-laki tertua kedua. Tentang wajahnya, saya sudah tidak bisa melihatnya karena sesampainya di rumah beliau sudah dikafani dan siap untuk dimakamkan tinggal menunggu kedatangan saya. Dan benar saja, setelah saya selesai menshalatinya, jenazah beliau langsung di bawa ke luar dan segera dilakukan upacara pelepasan jenazah. 

Sebagai anggota keluarga saya merasa berkewajiban untuk ikut andil dalam pengantaran jezanah beliau. Maka saya pun ikut memikul jenazah beliau pada saat acara pelepasan, hanya saja di tengah perjalanan saya disuruh untuk membawa payung, memayungi jenazah pada bagian kepala.

Hilangnya Sosok Penyatu.

Mbah putri (demikian lah julukan yang sering kami pakai untuk memanggilnya) adalah sosok yang menyatukan keluarga. Ini terlihat pada saat idul fitri dimana semua berkumpul untuk sungkem meminta maaf kepada beliau, dan ternyata idul fitri kemarin adalah idul fiitri terakhir beliau. Semoga saja ini memang yang terbaik untuk beliau karena umurnya juga sudah 80 tahun lebih. Saya pun berharap bahwa meninggalnya beliau tidak akan pernah mengurangi jalinan sialturahim antar keluarga. Aamiin

Kini waktu ziarahpun tidak hanya dikhusukan untuk Mbah Kakung tetapi juga mbah putri yang makam keduanya bersebelahan. Dan ziarah ke makam keduanya setiap jum’at pagi adalah sarana pemersatu berkumpulnya sanak saudara keturunan dari Mbah Kakung dan Mbah Putri. Menyempatkan satu hari dalam satu minggu untuk mengrimkan doa bersama di dekat makam keduanya.

Ya Allah, jadikanlah alam kubur keduanya menjadi petamanan suarga dan jangan jadikan alam kubur keduanya sebagai petamanan nereka. Luaskan alam kuburnya dan tempatkan keduanya di tempat yang baik, berada di sisi-Mu. Aamiin

Penuh dengan Para Pelayat

Setiba saya dirumah sekitar pukul setengah 10, para pelayat sudah memenuhi halaman rumah. Mereka datang untuk ikut berbela sungkawa atas meninggalnya mbah putri. Tentu ini menjadi suatu kebahagiaan karena banyak yang peduli. Bahkan Mbah Muslih, Ayah dari Lik Tuwariyah (Istri Lik Nur Ihsan) dan keluarganya yang aslinya Wadasputih, Garung Wonosobo sudah berada di sana lebih dulu dari saya.

Prosesi Pemakaman

Setelah selesai upacara pelepasan jenazah oleh pak Lebe (sebutan muden di desa saya), jenazah langsung di bawa ke pemakaman dengan durasi waktu sekitar 20 menit perjalanan. Karena memang sudah tak ada yang ditunggu dan ada yang bersuka rela untuk membuat lubang untuk mengubur jenazah, maka malam itu juga jenazah mbah putri dimakamkan. 

Pada prosesi pemakaman itu untuk terakhir kalinya saya menyentuh mbah putri yang sudah terbalut kain kafan ketika mengangkat jenazahnya dari kerenda untuk dipindahkan ke liat lahat. Itu juga pengalaman pertama mengangkat jenazah yang sudah dipocong. 

Saya pun menyaksikan saat jenazah simbah ditaruh di tanah kemudian di hadapkan ke barat dengan kaki di pancatkan ke tanah sedang mukanya harus menempel di tanah. Tak ada yang dibawa selain penutup tubuh berupa kain kafan. Setelah selesai menempatkan jenazah yang kaki dan mukanya sudah menempel dengan tanah serta kain ikatnya dilepas, Lik Nur mengumandangkan adzan dan iqomah tepat berada di samping kepala simbah. Itu pula yang dilakukan ketika seorang bayi baru lahir.

Setelah itu jenazah di tutup dengan blabak untuk menghindari tertimbun dengan tanah secara langusng baru setelah itu ditutup dengan tanah. Para pengantar biasanya juga ikut menaburkan tanah ke liat lahat sempai tiga kali. Filosofinya apa? Entahlah, mungkin biar terhitung ikut menguburkan jenazah. 

Seusai liang lahat tertutup dengan tanah dan dilebihkan, maka kuburan tersebut di beri bunga dan paesan dari kayu diatasnya.

Sehari Sebelum Beliau Meninggal

Sehari sebelum simbah meninggal, beliau bercerita bahwa telah ditemui oleh mbah kakung dalam mimpi. Tentang mimpinya itu ia ceritakan kepada Lik Nur Ihsan. Lik Nur yang mendengar cerita tersebut hanya mengelus dada dan langsung mengalihkan dengan gurauan.

Pesan yang Bisa di Tebak

Baru sepuluh menit setelah saya dan mas Zulfa melakukan perjalanan pulang dari rumah Mba’ Anis. Hp yang saya taruh di tas bergetar tepat berada di punggung mas Zulfa. Ia pun memberitahukan perihal bergetarnya hp yang ketika saya lihat ada panggilan dari –Fadli (nama kontak untuk Lik Nur Ihsan). Karena sudah mati lebih dulu maka saya pun mengirim sms menanyakan ada apa? 

Tak lama setelah itu panggilan masuk dari Eka yang menanyakan sedang berada dimana. Ketika saya jawab sedang ada di Banyumas, ia langsung menyuruh saya untuk segera pulang. Insting saya langsung tertuju pada simbah yang seketika itu saya tanyakan kepad Eka. Hanya saja ia tak menjawab dengan gamblang dan hanya menyuruh untuk segera pulang. Pun demikian dengan Lik Nur, ia hanya membalas sms supaya pulang. 

Beruntung karena mas Zulfa mengendarai motor dengan cepat. Perkiraan saya baru akan sampa di rumah pukul 11 malam akhirnya lebih cepat satu jam setengah, pukul 21.30. Dan ternyata benar, isnting ada sesuatu yang terjadi dengan simbah benar-benar nyata. Ia telah berpulang ke rahmatullah. 

Hanya saja saya merasa ada yang aneh dengan diri saya. Saya tak bisa mengeluarkan air mata. Mungkin karena hati saya sudah teralu keras mungkin sehingga sulit untuk menangis. Yang terpikir oleh saya waktu itu adalah bisa ikut mengantar jenazah beliau sampai pemakaman. Sebagai penebus atas keterlambatan hadir saat beliau pulang. O ya saya sudah terlalu sering tidak ada di rumah, sering pergi semaunya sendiri. Kedekatan dengan beliau pun sangat minim. Mungkin itu pula yang membuat saya sudah tidak kaget lagi ketika beliau pulang. Maafkan cucumu ini mbah, tidak bisa membersamaimu dalam banyak waktu. 

Selamat jalan mbah, semoga engkau tenang di alam sana. Aamiin

Pringamba, 2 Agustus 2016
Mad Solihin