Ramadhan Ke 29 : Berkah Tarhim di Pejawaran

07:51:00 Mad Solihin 0 Comments


Sabtu, 2 Juli 2016. Malas, tidak semangat dan entah perasaan apalagi yang muncul waktu itu, saat masih berada di rumah apalagi ketika sms Eman ternyata ia tidak bisa ikut tarhim padahal kemarin sudah deal bisa berangkat. Katanya sedang membagi surat undangan acara pondok, mungkin halal bihalal. Bingung, antara tetap berangkat atau mengabaikan dan lebih memilih di rumah. Walau pada akhirnya tetap saja berangkat dengan keputusan setengah hati.

Al-Qur’an dan jadwal sholat, itulah yang saya bingungkan. Bagaimana cara membawanya jika seorang diri. Itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa saya tidak semangat. Belum lagi jarak yang cukup jauh tergambar dalam pikiran. Takut sebelum mencoba, terlalu mendramatisir keadaan dan memanjakan diri sendiri. Mungkin itulah gambaran saya saat itu. Pikiran yang muncul karena pengaruh negatif thinking. Muncul pula pemikiran bahwa itu adalah tantangan sebagai hasil positif thinking untuk mencari solusi pemecahannya daripada hanya mengeluh saja.
Akhirnya Al-Qur’an dan jadwal sholat yang akan diberikan kepada MWC NU Pejawaran pun saya bawa juga. Karena jadwal sholatnya berupa pigora berkaca seukuran kalender maka saya siasati untuk membawanya dengan cara menggendong laiknya tas. Satu masalah selesai. Tahukah kalian bahwa ternyata ketika dijalani tidak serumit yang dipikirkan. #Tepuk jidat. Rumit atau tidaknya sesuatu terkadang bukan di prosesnya tetapi di pikiran, yang sebelum dijalani sudah berpikir macam-macam sehingga yang aslinya gampang jadi rumit deh.

Selepas sholat asar saya pun berangkat dengan membawa al-Qur’an dan jadwal sholat laiknya ninja, bedanya kalau ninja yang di bawa pedang kalau yang saya bawa benda seukuran kalender yang dibungkus kertas plano. Sialnya, cuaca tidak mendukung dan harus kehujanan di jalan. Tambah kesel deh hatinya, apalagi sewaktu berangkat belum bisa berdamai menghilangkan rasa enggan untuk berangkat yang dipaksakan. Haha

Alhamdulillah sampai juga di Karangkobar. AL-Qur’an juga hanya basah sampul pembungkusnya saja sehingga sesampainya di Ponpes Annur, rumahnya Gus Kholis, kertas yang buat membungkus al-Qur’an dan jadwal sholat langsung diganti. Setelah itu langsung meluncur ke Wanayasa tempatnya Pak Kyai Syukur dan buka bersama di sana. Di tempat beliaulah rasa kesel dan tidak semangat sewaktu berangkat mulai hilang berganti rasa senang dan beruntung. Beruntung karena bisa berkumpul dengan para kyai, tidak hanya sekedar kenal tetapi bisa kegiatan bareng. Setidaknya mereka menjadi tahu dan paham dengan saya. Hehe Bukankah salah satu kebahagian itu ketika orang lain tahu siapa kita? Apalagi seseorang itu orang yang menjadi panutan orang lain.

Kolak kolang-kaling dan pisang menjadi santapan awal buka bersama saat itu. Setelah itu lanjut sholat berjama’ah. Sesaat ketika sedang wudlu saya terpikir oleh menu berbuka, masa hanya kolak tidak ada nasi. Baru setelah sholat maghrib di tempat yang tadi untuk menyantap kolak sudah terhidang nasi dengan berbagai lauk yang super lezat. Alhamdulillah, ini yang saya tunggu. Haha
Saya belajar tentang akhlak, tentang adab orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua di sini. Yaitu ketika Gus Kholis menunggu Pak Kyai Syukur untuk mengambil nasi terlebih dahulu yang ternyata beliau sudah disiapkan ketupat. Begitupun dengan lauk, Gus Kholis menunggu Pak Kyai Syukur untuk mengambil lebih dulu baru beliau mengambilnya. Bahkan sampai air untuk cuci tangan walau Gus Kholis sudah selesai terlebih dahulu, beliau belum mencuci tangannya dan menunggu Pak Kyai Syukur selesai. Ya, inilah salah satu yang membuat saya merasa beruntung bisa berkumpul dengan orang-orang yang berilmu karena dalam segala tingkah ada pelajaran yang bisa diambil. Tinggal bagaimana kita melihat dan mengolahnya sebagai proses belajar. Bukankah belajar tidak hanya melulu dengan kertas dan pena? Bukankah belajar tentang keteladanan seseorang itu lebih mengena daripada ceramahnya? 

Selesai makan bersama, kami langsung berangkat dan menghampiri Pak Kyai Mustholih ayahanda dari Bapak Zainal. Nama yang sering saya dengar namun baru pertama kali paham dengannya. Alhamdulillah berkah ikut tarhim selalu bertambah. Setelah itu langsung meluncur ke Pejawaran tepatnya di Dusun Pagondelan Desa Penusupan. Dusun yang ternyata disana ada wajah yang saya kenal yaitu bapaknya Lutfi al-Akrom, adik kelas saya dulu ketika di MTs. 

Berkah tarhim ini lah saya tahu pengurus MWC NU Kecamatan Pejawaran dengan Tafidziyanya Bapak Budi dan Syuriahnya Pak Kyai Hudatun yang ternyata kakeknya Lutfi. Semoga saja silaturahim ini membawa keberkahan yang bisa membawa kemanfaatan kedepannya. Aamiin. 

Dalam urusan kebaikan memang kita selalu diuji diawal. Banyak alasan yang membat kita begitu enggan untuk melangkah. Sebagaimana halnya dalam kegiatan-kegiatan yang sudah saya jalani. Ada rasa malas, kesel dan berbagai hal yang membuat kita seolah terbebani, namun ketika sudah dijalani sebuah berubah menjadi sebuah keberkahan dan kenikmatan. Rasa malas, kesel dan rasa-rasa lain yang sepadan dengannya tetiba saja hilang berganti dengan kebahagiaan dan senyuman. 

Pringamba, 4 Juli 2016 07:30
Mad Solihin

You Might Also Like

0 comments: