Ramadhan ke 5 : Mahalnya Harga Istiqomah

20:59:00 Mad Solihin 0 Comments


Saya mempunyai azam di Bulan Ramadhan 1437 H ini untuk membuat tulisan perhari. Pun demikian dengan membaca Al-Qur’an, azamku untuk membaca satu juz perhari. Azam itu pun saya post di medsos yang semua orang tahu ketika membacanya. Bahkan saya pun sampai membuat hastag #oneday_onejuz #oneday_onearticle. Sayang, azam itu terlalu berat untuk saya aktualisasikan. 

Sebenarnya niat saya untuk belajar Konsisten atau Istiqomah. Namun ternyata saya belum bisa mempelajari itu. Padahal andaikan benar-benar niat, sesibuk apapun kegiatan pasti komitment itu bisa dilaksanakan. Hanya tinggal memenag waktunya saja. 

Tentang membaca Al-Qur’an, saya menjadwalkan sehabis sholat maghrib. Akan tetapi ketika ada acara Pelatihan Jurnalistik Sesarehan Ramadhan bersama Suara Merdeka di Ponpes Miftahussholihin Brayut yang sekaligus bukber, maka saya pun tidak sempat untuk membaca Al-Qur’an. Di tambah setelah maghrib Mas Mizan mengajak takziah ke Wonosobo, tempatnya Mas Zaka yang ayahnya baru saja meninggal dunia. 

Masalah ini sebenarnya bisa saya siasati dengan mengganti membaca Al-Qur’an sebelum tidur, namun dasar penyakit malas yang sukar saya obati maka saya pun mengabaikan apa yang sudah menjadi azam saya di awal. Itulah awal dari ketidak konsisten saya untuk melanjutkan membaca Al-Qur’an per hari satu juz.

Tentang satu tulisan per hari pun sama. Karena satu hari tidak membuat tulisan maka menjadi penghambat di hari kemudian. Dari situlah proyek yang awalnya satu hari satu tulisan menjadi terbaikan. 

Ah, betapa mahalnya harga sebuah konsisten atau Istiqomah. Sampai ada sebuah maqolah yang menyebutkan bahwa Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah”.
 
Karena diawal saya sudah mempunyai zam untuk membuat satu tulisan per hari maka saya pun akan membayarnya dengan mengganti dimana hari yang lalu saya tidak membuat tulisan. Tak sempurna. Ya, saya menyadari hal itu. Walau dalam urusan tanggal posting saya bisa mensiasatinya, namun biarlah berjalan dengan sendirinya. Paling saya siasati di bagian judul, dengan menuliskan Ramadhan ke sekian. Itu artinya tulisan tersebut adalah bayaran sebagai ganti atas ketidak konsistenan saya untuk membuat satu tulisan perhari. Selain itu, biar membuka bagian label akan tetap urut laiknya huruf a-z atau laiknya angka 1-9.

Banjarnegara, 29 Juni 2016

You Might Also Like

0 comments: