Ramadhan ke 4 : Anak Polah Bapak Kebradah

00:33:00 Mad Solihin 0 Comments


“Anak polah bapak kebradah.” Pernah mendengar peribahasa tersebut ? Ya, peribahasa tentang tingkah seorang anak yang orang tua pun menanggung akibatnya. Namun, pertanyaannya apakah orang tua juga menjadi salah satu penyebab anak polah? Jika iya, haruskah menyalahkan salah satu?? Ah, tidak ada yang perlu disalahkan. Yang perlu dilakukan adalah mencari solusi agar sang anak bisa berubah menjadi lebih baik. Bukankah sebelum ajal menjemput manusia punya potensi untuk berubah? Kesalahan masa lalu tidak bisa menjadi pedoman dan melabeli bahwa seseorang itu adalah orang jahat. Selagi belum meninggal, Tuhan masih membuka pintu maghfiroh kepada hamba-Nya yang mau bertobat.
Danang, itu lah nama anak yang membuat orang tuanya pusing. Puncaknya adalah ketika ia tidak naik kelas untuk yang kesekian kalinya. Dulu ketika di SD dua kali ia tidak naik kelas dan kini ia pun dinyatakan tidak naik kelas VIII gara-gara tidak mengikuti UAS. Padahal usianya sudah 15 tahun, usia dimana ia seharusnya sudah lulus kelas IX. Karena itulah ayahnya yang bekerja di Kalimantan menyempatkan pulang dan berencana memasukannya di pesantren sekaligus sekolah di SMP. Ibunya sudah tidak kuat lagi dengan kelakuan anak laki-lakinya itu. Perkataannya sudah tidak dihiraukan dan sama sekali tidak ditakuti. Bahkan ketika meminta uang sering diancam dan harus ada.
Berbeda dengan kakak perempuannya yang tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi, bahkan pada wisuda S1 nilainya hanya 3 yang B dengan IPK 3,97. Hanya butuh tiga angka lagi untuk meraih nilai sempurna. Begitulah penuturan Lik Edi (Ayah Danang) siang tadi ketika saya mengantar brosur SMP Takhassus Kalibeber. Ketika tanya-tanya dengan Lik Edi, saya dapati informasi bahwa Yekti (Kakaknya Danang) sudah kuliah di Jogja ketika beliau pergi merantau ke Kalimantan. Sedangkan Danang waktu itu baru kelas 2 (dua) SD dan hanya tinggal dengan ibunya. 
Kurang perhatian. Mungkin itulah salah satu penyebabnya. Diakui atau tidak kondisi keluarga menjadi salah satu pembentuk karakter yang dimiliki oleh seorang anak. Itu pula yang saya yakini. Karena keluarga adalah pendidikan pertama seorang anak, mereka akan mencontoh apa yang orang tua lakukan. Disini lah proses pendidikan keteladanan sejati terjadi. Selain itu orang tua juga punya peran untuk mengawasi pertumbuhan seorang anak, dengan siapa berteman dan apa yang dilakukan. Namun ketika orang tua sudah tidak bisa mengatasi hal tersebut, maka yang terjadi adalah kebebasan tanpa batas. Itu pula yang saya tangkap dari cerita tentang Danang.
Penuturan ibunya, Danang punya salah satu teman yang nakal. Teman yang dulu pernah bareng sewaktu di SD ternyata bareng di MTs hanya beda satu tingkat diatasnya. Katanya dia lah yang sering mengajaknya untuk membolos sekolah, bahkan pernah walau sudah malam dan mau tidur, ketika ada sms ia akan segera pergi menemuinya. Larangan ibunya sudah tidak digubris lagi. Ia hanya takut dengan ayahnya, namun itu tidak berguna karena ayahnya bekerja di Kalimantan. 
Kesimpulan yang saya tangkap dari kehidupan Lik Edi adalah kasih sayang dalam keluarga sangatlah penting. Orang tua mempunyai peran penting dalam memproteksi pergaulan seorang anak. Dan tidak bisa ditawar lagi bahwa baik buruk seorang anak, orang tua akan merasakan akibatnya pula. 
Pringamba, 9 Juni 2016
Mad solihin

You Might Also Like

0 comments: