Ramadhan ke 2 : Puasa Pertama

23:23:00 Mad Solihin 0 Comments


#2 Ramadhan 1437 H/ 7 Juni 2016

Puasa pertama ramadhan tahun ini saya lalui di rumah dan mungkin puasa kedua ketiga maupun puasa-puasa selanjutnya juga akan saya lalui di rumah membersamai ibu bapak. Semoga saja lebih menyenangkan karena lamat-lamat terekam dalam ingatan, puasa sebelumnya saya banyak di sBanjar dan sedihnya sering saur maupun buka seorang diri. 

Ada rasa bahagia ketika bangun saur di hari pertama puasa, pasalnya jarang-jarang bisa makan dengan ibu dan bapak secara bersamaan. Kalaupun makan sewaktu saya di rumah paling bersama bapak sedang ibu sibuk dengan pekerjaan cucian maupun memasak. Maka moment saur ini menjadi kebahagiaan tersendiri karena selain bisa makan bersama saya pun bisa melihat pemandangan yang menyejukan mata yaitu ibu bapak duduk untuk makan bersama. Pemandangan yang jarang saya lihat selain di bulan ramadhan. 

Tak ada kesan romantis. Itulah yang saya lihat dalam keluarga walaupun saya yakin ukuran cinta mereka tak perlu di ragukan sehingga harus berwujud pada aktivitas keseharian. Pengaruh usia yang sudah semakin menua juga mungkin menjadi penyebab mereka untuk tidak peduli dengan hal romantis. Yang saya lihat mereka menjalankan rutinitas harian sesuai dengan jadwalnya meskipun jadwal itu tak tertulis. Atau karena pengaruh sebagai orang desa ya sehingga untuk urusan hubungan berjalan biasa-biasa saja. Entahlah, yang jelas usia pernikahan semakin tua maka perhatian yang diberikan laiknya anak muda yang sedang jatuh cinta ataupun pasangan pengantin baru semakin kabur pula. Jika sudah menikah nanti semoga saja saya bisa menjaga keromantisan dengan sang istri sampai tua. #eeh

Sebagai anak seorang petani maka aktivitas saya tidak lepas dari pergi ke kebun apalagi kondisi kesehatan bapak yang sampai saat ini masih saja belum terlihat membaik. Bahkan di hari pertama puasa beliau hanya terbaring di tempat tidur. Padahal sudah tiga kali berobat namun Allah belum juga memberikan kesembuhan. Oh Tuhan, segala sesuatu berada dalam kuasa-Mu termasuk kesehatan. Meskipun sudah iktiyar dengan cara berobat namun tetap saja semua berada dalam kuasa-Mu. Tidak ada yang bisa menolak maupun menghalangi sesuatu yang datang dari-Mu, termasuk penyakit. Maka, dengan kuasa-Mu pula Ya Allah, sembuhkan lah penyakit beliau. Aamiin.

Mau tidak mau karena usia saya yang sudah tidak tergolong anak kecil lagi maka tak mungkin jika saya hanya berdiam di rumah sementara ibu pergi seorang diri ke kebun. Walaupun itu sudah menjadi hal yang biasa dan merupakan rutinitas sehari-hari. Maka saya pun ikut pergi ke kebun untuk memetik buah kopi sedang ibu yang mencari rumput. Sialnya, buah kopi yang saya petik banyak semutnya sehingga dua kali mata saya terasa begitu pedas gara-gara aroma semut yang berada di sela-sela kopi yang saya peti. Walau semutnya gak mengenai mata tetapi tetap saja pedas mungkin kejadiannya seperti ketika memotong bawang merah. Tahu kan maksud saya?

Pernah minum kopi? Pernahkah membayangkan bagaimana wujud kopi awalnya? Tahukah proses pebuatannya sehingga bisa menjadi “wedang” kopi? 

Banyak proses yang harus dilalui mulai dari memetik, dijemur agar kering, digoreng dengan sangan (wajan yang terbuat dari tanah liat) hingga matang dan keras, kemudian ditumbuk di lesung hingga melebur menjadi serbuk hitam atau orang sering bilang dengan sebutan “bubuk”. Baru setelah itu diseduh dengan air panas dicampur gula sehingga jadilah “wedang kopi hitam”.  Ah, ternyata banyak proses sebelum akhirnya menjadi sesuatu yang banyak disukai banyak orang. Pun tidak lepas dengan peran pendukung lain seperti air panas dan gula yang menandakan bahwa kehidupan itu “ada proses dan butuh orang lain”.

Pringamba, 7 Juni 2016 05:58
`Mad solihin

You Might Also Like

0 comments: