Percayalah, Keputusan-Nya Selalu yang Terbaik

11:17:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Sudah pukul 01.27 saat Riski melihat jam yang ada di layar hp nya. Matanya belum bisa dipejamkan walau sebenarnya ketika di paksa bisa juga terpejam. Namun pikirannya begitu terganggu karena sudah beberapa hari ini ia tak menulis. Ide yang beberapa waktu lalu sempat muncul pun lenyap bersamaan dengan lenyapnya mood untuk menulis. Dan kali ini tak akan dibiarkan waktu berlalu tanpa ada satupun tulisan yang ia buat.

Tentang apa yang ditulis, biarlah mengalir dengan sendirinya. Ah ya, tetiba ide untuk menulis muncul dengan sendirinya. Memang benar ya, ketika jari di paksa untuk tetap menulis maka ide akan muncul dengan sendirinya. Ide itu adalah tentang apa yang dialaminya malam ini. Tepatnya ketika orang yang dicintainya bercerita tentang kegelisahannya. Gelisah karena dalam waktu yang bersamaan beberapa orang yang pernah dekat tetiba saja menghubunginya.

“Haruskah ia cemburu?” tanyanya dalam hati. Bukan cemburu yang jadi soal, karena ia yakin bahwa orang yang dicintainya bisa menjaga dirinya. Hanya saja cerita tentang gurunya yang menyuruh untuk berkomunikasi dengan seseorang yang pernah dekat dengannya itu yang menjadi kekhawatiran. Belum lagi soal izin yang masih menggantung kejelasannya manakala ia mondok lagi sambil kuliah. 

“Aku, siapalah diriku. Orang yang belum lama kenal. Di banding gurunya yang selama ini begitu perhatian dan telah mengajarinya banyak hal tentang kehidupan. Aku bukanlah siapa-siapa meskipun aku dekat dengannya. Tak mungkin aku menyuruhnya untuk menyangkal apa yang dikatakan oleh gurunya,” katanya pada diri sendiri. Ia pun paham karena ia pernah menjadi santri dan takdzim kepada guru adalah salah satu hal yang sangat dijunjung tinggi dalam dunia pesantren. 

Dia menyadari bahwa tak mungkin ia menampik apa yang disampaikan oleh gurunya kepadanya. Karena selain beliau yang telah mendidiknya, beliau juga sudah lebih paham akan pahit, manis dan asinnya kehidupan. Tak ada yang dapat Rizki lakukan kepada orang yang dicintainya itu kecuali memotivasi dan berdoa agar apa pun jalan yang ditempuh selalu pada ridho-Nya. 

Pertanyaan kapan di sini lagi? Pertanyaan gurunya yang ia ceritakan. Biarlah, waktu yang menjawab. Jika gurunya menghendaki waktu yang lama, mungkin arahan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang pernah dekat dengannya menjadi kekhawatiran. Tetapi bukankah kata “disini lagi” tidak ada penegasan waktu dari dan sampai kapan? Bukankah jika satu bulan, satu minggu bahkan satu hari juga bisa mewakili kata “disini lagi”? Bukankah beliau juga manusia yang juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh manusia lainnya. Bukankah pertanyaan itu tidak final yang wajib dan harus dijawab dengan jawaban yang sama laiknya hukum matematika? Bahwa 1+1=2, maka ketika jawabannya 3, 4, 5, atau 9 sudah pasti salah? 

Kenapa harus khawatir, masih panjang waktu untuk akhirnya pertanyaan “disini lagi” terjawab. Andaikan memang ditakdirkan, percayalah bahwa tak ada yang bisa menyangkal ataupun menghalangi keputusan-Nya. Ketika tidak sesuai dengan harapan, tetap percayalah bahwa itu pula keputusan-Nya yang terbaik. Bukankah tugas kita hanya merencanakan dan berihtiyar? Hasil, itu hak Allah yang sudah tidak lagi bisa diganggu gugat.

Pringamba, 5 Mei 2016 02:38
Mad Solihin

You Might Also Like

0 comments: