Jangan Bersedih

Jangan Bersedih

00:38:00 Add Comment

Malam semakin larut. Mataku juga sudah merajuk meminta dipejamkan. Namun tetap saja aku paksa agar tetap terjaga. Ada kegelisahan yang menyeruak ke dalam relung hati, menyisakan rasa bersalah atas apa yang telah aku lakukan. Oh Tuhan, andaikan saja waktu bisa diputar mundur dan mengembalikan apa yang sudah terjadi. Sayang, itu mustahil bahkan sangat mustahil. Maka, tinggallah penyesalan yang akhirnya harus aku rasakan. Jika yang ku lakukan hanya diriku sendiri yang merasakan akibatnya mungkin aku tak akan merasa begitu bersalah. Namun, kali ini berbeda. Ada yang menangis gara-gara diriku dan itu sungguh membuatku merasa bersalah.

“Tuhan, bukankah ampunan-Mu seluas samudra? Maka ampunilah hamba-Mu ini. Kembalikan senyum cerianya. Aku tak tega jika mendengarnya bersedih. Tuhan, bukankah Rahmat-Mu lebih luas daripada murka-Mu? Maka, ijinkanlah hamba-Mu ini memperbaiki diri.” Rintihku dalam hati.

“Hey, sudah tidurkah engkau?” Tanyaku pada kesunyian malam. Berharap bahwa pertanyaan itu akan sampai dengan perantara angin malam.

“Rijal, sudahlah. Jangan engkau terlalu larut dalam kesedihan. Toh tak ada gunanya engkau merasa bersedih, karena itu tak akan mengembalikan apa yang sudah terjadi. Yang harus kamu lakukan adalah memperbaiki diri. Percayalah, mungkin itu salah satu cara Tuhan mengingatkanmu.” Kataku kepada diri sendiri.

Bagaimana dengannya? Apakah dia baik-baik saja? 

“Tuhan, jaga dirinya. Kembalikan senyum cerianya. Berilah kekuatan dan kesehatan padanya.”
Ramadhan Ke 7 : Bersalah

Ramadhan Ke 7 : Bersalah

22:35:00 Add Comment

“Seperti kaca retak yang tak lagi sempurna”

Sehebat apapun seseorang, ia tak akan mampu mengembalikan kaca yang sudah pecah untuk kembali utuh. Semahal apapun lem yang digunakan dan mungkin bisa meng-utuh-kan kembali kaca yang pecah, bahkan sampai tak tampak retakannya seolah belum pernah pecah tetap saja sejatinya ia sudah pernah pecah. Aku, tak mungkin bisa mengembalikannya kecuali waktu bisa diputar mundur. 

Tak sempurna. Bukankah memang tak ada yang sempurna? Andaikan engkau mengingini aku tak luput dari salah, sungguh aku bukan malaikat atau pun nabi yang Allah sendiri penjaganya sehingga ma’sum, terjaga dari perbuatan dosa. Aku tak sempurna. Jika engkau mengingini kesempurnaan dalam diriku, aku sendiri yang menjamin bahwa engkau tak akan menemukan hal itu.

Harapan

Masih ada hari esok. Maka aku percaya bahwa masih ada harapan. Percaya kah engkau dengan hal itu? Aku, percaya. Percaya bahwa masih ada waktu untuk berubah menjadi lebih baik. Andaikan kemarin atau masa lalu ku penuh dengan dosa, aku percaya bahwa ampunan Allah lebih besar dari dosaku. 

Masih mau kah engkau berjalan denganku? Berjalan untuk menjemput harapan, karena saya yakin masih ada hari esok. 

*Tulisan ini adalah tembusan atas ketidak konsitenan sebagaimana niat awal di Ramadhan tahun ini. #Oneday_OneArticle
Banjarnegara, 29 Juni 2016
Ramadhan Ke 6 : Janji

Ramadhan Ke 6 : Janji

21:57:00 Add Comment

Jika sekiranya engkau tidak bisa menepati maka janganlah engkau berjanji karena hal itu bukan hal yang mudah. 

Bukan hanya pada orang lain saja tetapi juga pada diri sendiri. Berlebih kepada orang lain karena sekali engkau tidak menepati maka orang lain akan sulit untuk mempercayaimu lagi. Ibarat piring yang sudah dilempar ke lantai kemudian pecah, maka engkau tak mungkin bisa mengembalikan ke keadaan semula. Meskipun engkau telah mengelemnya sampai tak berbekas, tetap saja piring tersebut pernah pecah. 

Maka berpikirlah terlebih dahulu, pertimbangkan dengan matang sekiranya engkau telah mengukur kemampuan dan engkau merasa tidak sanggup untuk menepati, hanya satu saranku “Jangan berjanji.”

*Tulisan Tebusan atas Ketidak Konsitenan dalam Menulis
Banjarnegara, 29 Juni 2016
Ramadhan ke 5 : Mahalnya Harga Istiqomah

Ramadhan ke 5 : Mahalnya Harga Istiqomah

20:59:00 Add Comment

Saya mempunyai azam di Bulan Ramadhan 1437 H ini untuk membuat tulisan perhari. Pun demikian dengan membaca Al-Qur’an, azamku untuk membaca satu juz perhari. Azam itu pun saya post di medsos yang semua orang tahu ketika membacanya. Bahkan saya pun sampai membuat hastag #oneday_onejuz #oneday_onearticle. Sayang, azam itu terlalu berat untuk saya aktualisasikan. 

Sebenarnya niat saya untuk belajar Konsisten atau Istiqomah. Namun ternyata saya belum bisa mempelajari itu. Padahal andaikan benar-benar niat, sesibuk apapun kegiatan pasti komitment itu bisa dilaksanakan. Hanya tinggal memenag waktunya saja. 

Tentang membaca Al-Qur’an, saya menjadwalkan sehabis sholat maghrib. Akan tetapi ketika ada acara Pelatihan Jurnalistik Sesarehan Ramadhan bersama Suara Merdeka di Ponpes Miftahussholihin Brayut yang sekaligus bukber, maka saya pun tidak sempat untuk membaca Al-Qur’an. Di tambah setelah maghrib Mas Mizan mengajak takziah ke Wonosobo, tempatnya Mas Zaka yang ayahnya baru saja meninggal dunia. 

Masalah ini sebenarnya bisa saya siasati dengan mengganti membaca Al-Qur’an sebelum tidur, namun dasar penyakit malas yang sukar saya obati maka saya pun mengabaikan apa yang sudah menjadi azam saya di awal. Itulah awal dari ketidak konsisten saya untuk melanjutkan membaca Al-Qur’an per hari satu juz.

Tentang satu tulisan per hari pun sama. Karena satu hari tidak membuat tulisan maka menjadi penghambat di hari kemudian. Dari situlah proyek yang awalnya satu hari satu tulisan menjadi terbaikan. 

Ah, betapa mahalnya harga sebuah konsisten atau Istiqomah. Sampai ada sebuah maqolah yang menyebutkan bahwa Istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah”.
 
Karena diawal saya sudah mempunyai zam untuk membuat satu tulisan per hari maka saya pun akan membayarnya dengan mengganti dimana hari yang lalu saya tidak membuat tulisan. Tak sempurna. Ya, saya menyadari hal itu. Walau dalam urusan tanggal posting saya bisa mensiasatinya, namun biarlah berjalan dengan sendirinya. Paling saya siasati di bagian judul, dengan menuliskan Ramadhan ke sekian. Itu artinya tulisan tersebut adalah bayaran sebagai ganti atas ketidak konsistenan saya untuk membuat satu tulisan perhari. Selain itu, biar membuka bagian label akan tetap urut laiknya huruf a-z atau laiknya angka 1-9.

Banjarnegara, 29 Juni 2016
Ramadhan ke 24 : Belum Utuh

Ramadhan ke 24 : Belum Utuh

17:00:00 Add Comment

Entah bagaimana aku harus menyikapi dan kalaupun boleh jujur aku tak mau kehilangan dirinya. Andaikan kemarin adalah bentuk kehilafan, semoga itu menjadi peringatan untuk tidak mengulanginya lagi. Karena sebenarnya antara kami belum memiliki utuh sepenuhnya. Atau kalau menurutnya, kita mempunyai barang namun barang tersebut masih dalam kategori “ingin” yang masih berbatas belum sampai pada level “milik” yang sepenuhnya terserah kita.

Hey, mau kah engkau memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri? Menjadi orang yang bisa menjagamu bukan sebaliknya dalam hal apapun. Andaikan kamarin terlalu keterlaluan, maaf kan aku. Bukankah tidak ada yang sempurna tanpa luput dari kesalahan?

Banjarnegara, 29 Juni 2016

Ramadahan ke 12 : Ranah 3 Warna

00:02:00 Add Comment
Ranah 3 Warna
Ranah 3 Warna adalah novel kedua dari trilogi Negeri 5 Menara yang dikarang oleh Ahmad Fuadi. Jika novel pertama Negeri 5 Menara berisi kisah Alif selama di Pondok Madani dan novel ketiga Rantau 1 Muara berisi kisah perjalanan Alif menjadi seorang wartawan dan tentang pernikahannya yang karena mendapat beasiswa kuliah di luar negeri maka bersama istrinyapun di bawa ke luar negeri lengkap dengan seluk beluk kehidupan rumah tangga, maka di novel kedua ini berisi lanjutan kisah Alif yang telah selesai dari Pondok Madani, kisah perjuangan agar bisa kuliah dengan mengikuti ujian kesetaraan SLTA dan lika liku perjalanan selama menjadi mahasiswa di Bandung, tepatnya di Universitas Padjadjaran jurusan Hubungan Internasional.

Saya sengaja menempatkan novel Ranah 3 Warna ini di urutan ketiga karena memang novel ini saya baca setelah membaca buku yang pertama dan ketiganya. Novel pertama saya baca karena saya memilikinya, novel yang ketiga saya baca hasil pinjam di Perpusda Wonosobo sedangkan novel yang ketiga ini saya baca hasil pinjaman dari Rizka Wahyu Akbar. Novel inspiratif dan penuh dengan motivasi yang membuat saya berandai-andai semoga suatu saat nanti bisa mengikuti jejaknya, menjadi pendekar tinta yang setiap kata bisa menggores pembaca dan menghancurkan zona nyamannya sehingga mereka menjadi pribadi yang hebat. #ngelantur ya ... tetapi semoga bisa menjadi doa. Karena bukankah itu inti dari novel kedua ini, Meraih Mimpi. 

Novel dengan ketebalan 477 halaman ini selain berisi mengenai perjalan kisah Alif kuliah di Bandung juga berisi tentang kisah masa-masa Alif menjalani program pertukaran Pemuda Indonesia dan Kanada. Syaratnya cukup mengisi formulir dan ikut tes tertulis dan wawancara. Hanya saja ada satu kendala yang membuat Alif harus extra keras berdebat dengan penguji sewaktu wawancara, yaitu soal kesenian apa yang bisa ditampilkan padahal untuk urusan yang satu ini Alif bukan ahlinya. Cerita ini lah yang membuat saya merasa tertantang untuk bisa ke luar negeri, syukur bisa kuliah disana. Andaikan ada kesempatan, mungkin saya pun akan mengalami nasib yang sama dengan Alif karena untuk kesenian saya tak punya keahlian di bidang ini. Ah, baru sadar ternyata kesenian penting juga ya. 

Selesai membaca novel ini ada beberapa motivasi yang saya angkap bahwa, ”Antara sungguh-sungguh dan sukses itu tidak bersebelahan, tapi ada jarak”. Jarak ini bisa hanya satumeter, tetapi bisa juga ribuan kilometer. Jarak ini bisa ditempuh dalam hitungan detik, tapi juga bisa puluhan tahun. (Novel 3 Menara : 468)

Selain mantra “Going the Extra Mile”(lebihkan usaha) yang menjadi andalan dalam novel ini, juga ada mantra “Man Jadda Wajadda” (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil), “Man Shabara Zhafira” (Siapa yang bersabar akan beruntung) dan “Man Yazro Yahsud” (Siapa yang menanam akan menunai).

Buku                : Ranah 3 Warna
Penulis             : Ahmad Fuadi
Penerbit          : PT Gramedia Pustka Utama
Tebal               : 477 Halaman

Sumber gambar disini

Pringamba, 17 Juni 2016 23:49 WIB
Ramadhan ke 11 : Berlatih Menulis dengan Suara Merdeka

Ramadhan ke 11 : Berlatih Menulis dengan Suara Merdeka

17:16:00 Add Comment

Selasa (14/6), saya berkesempatan untuk mengikuti acara Gerakan Santri Menulis Sarasehan Jurnalistik Ramadhan 2016 yang bertempat di Pondok Pesantren Mifathussholihin Brayut Sigaluh Banjarnegara. Acara yang diadakan oleh Suara Merdeka dan telah berjalan selama 22 tahun ini pernah saya ikuti pada tahun 2013 yang waktu itu bertempat di Pondok Pesantren Al-Mubarok Manggisan Wonosobo.

Secara materi tidak jauh berbeda dengan yang saya ikuti dulu, justru lebih mendalam waktu di Wonosobo karena mulainya sejak pagi sehingga setelah dhuhur sampai maghrib benar-benar di isi dengan materi yang berkaitan dengan jurnalistik. Sedangkan kemarin waktunya habis di pembukaan. Padahal angan saya sewaktu membayangkan acaranya, pelatihan dimuali dari pagi sampai maghrib sehingga banyak ilmu yang diserap. Eh, malah paginya di isi dengan promosi dari FKPT (Forum Komunikasi Pencegahan Terorisme), UNWAHAS dan UNISULLA. Sedangakn pembukaan dimuali pukul 13.00 sampai jam 15.00 yang setelah itu langsung shalat asar. Tak cukup itu, ketika mau mulai ternyata listriknya mati yang menjadikan pelatihan hanya sekitar satu jam. Kesan pun berganti, teman saya bilang ini namanya “seminar jurnalistik”.

Ada pahit tentu ada juga manisnya. Seperti halnya kegiatan ini, saya juga mendapat ilmu baru yang berasal dari ceramah ketika sambutan pembukaan yang semua itu berkaitan dengan dunia tulis menulis sehingga menguatkan saya untuk menekuni dan medalami tentang hal yang berkaitan dengan tulisan. Soal pengulangan materi saya yakin tidak ada yang sia-sia, karena bagiamana pun pelatihan itu bukan untuk saya sendiri tetapi banyak peserta yang mungkin baru pertama kali mengikuti. Walhasil, bagi mereka yang belum tahu menjadi tahu, bagi mereka yang sudah tahu meningkat menjadi paham. 

Tak hanya itu, saya pun berkesempatan untuk mengenal orang-orang yang berkecimpung dalam dunia wartawan, khususnya di Suara Merdeka. Harapannya kedepan silaturahim ini bisa menjadi jalan untuk saya mencicipi bagaimana rasanya menjadi seorang wartawan. Semoga.

Diakhir acara, saya juga mengulangi apa yang dulu pernah saya alami ketika Gerakan Santri Menulis Sarasehan Jurnalistik Ramadhan 2013 di Wonosobo yaitu mendapat kaos sebagai hadiah atas tulisan liputan berita ketika pembukaan. Bersama dengan delapan orang lainnya, tulisan saya sudah cukup bagus dan hampir standard dengan kriteria berita yang ditulis di media cetak. Tentu ini membuat saya merasa yakin bahwa saya pantas untuk menjadi seorang wartawan walau pun masih banyak hal yang harus dielajari. Semoga.

Pringamba, 16 Juni 2016
Ramadhan ke 8 : Rasa Takut

Ramadhan ke 8 : Rasa Takut

00:58:00 Add Comment
Tadi sore ada sebuah pesan dari seorang teman di BBM yang mengabarkan bahwa saya disuruh menemui guru saya, sebut saja Mas Hasan (nama samaran). Seketika itu ada perasaan takut lantaran komunikasi kami saat ini sedang agak renggang. Takut di marahi, takut disuruh ini itu, yang jelas perasaan takut itu tetiba saja muncul. Perasaan yang sebenarnya sangat tidak perlu, toh itu belum terjadi dan karena memang kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang ada kita hanya menebak-nebak saja dengan persepsi positif atau pun negatif. Sayangnya yang saya gunakan adalah persepsi negetif (negative thinking).

Sesuai dengan intruksi yang saya dapat dari teman saya, maka pukul 16.30 saya sudah berada di rumah beliau. Saya ketuk pintu depan. Tak ada jawaban. Saya mengetuk lagi dan kali ini istrinya yang membuka pintu dan mempersilahkan saya masuk. Tak lama setelah itu, Mas Hasan pun keluar menemui saya di ruang tamu. Segera saya meraih tangannya untuk salaman.

“Besok rabu ada survei dari pusat untuk mengisi kuisioner jadi jam sembilan sudah harus sampai kantor dan wajib hadir, tidak boleh ada alasan apapun,” katanya langsung menyampaikan poin kenapa saya disuruh menemui beliau. 

Hanya itu dengan durasi kurang lebih 5 menit. Setelah itu selesai dan saya pun pamit. Prasangka ini dan itu, perasaan takut yang muncul sewaktu masih di rumah ternyata hanya prasangka saja dan itu tidak terjadi sama sekali. Ah, betapa kita sering sekali berprasangka buruk terhadap apa yang akan kita lakukan. Kita terlalu mencemasakan dengan kemungkinan ini dan itu, padahal itu belum terjadi dan hanya baru dalam pikiran. Bisa dipastikan ketika kita mau melakukan sesuatu dan kemungkinan terburuk yang memenangkan pertempuran “pikiran kita”, bisa dipastikan kita tidak jadi melakukan sesuatu.

Percayalah bahwa sesuatu yang belum terjadi itu akan baik-baik saja. Tak perlu dicemaskan atau kita takuti. Yang perlu kita lakukan adalah jalani dan gunakan insting positif sehingga yang tercipta bukan rasa takut tetapi rasa percaya diri.

Pringamba, 13 Juni 2016
Ramadhan ke 4 : Anak Polah Bapak Kebradah

Ramadhan ke 4 : Anak Polah Bapak Kebradah

00:33:00 Add Comment

“Anak polah bapak kebradah.” Pernah mendengar peribahasa tersebut ? Ya, peribahasa tentang tingkah seorang anak yang orang tua pun menanggung akibatnya. Namun, pertanyaannya apakah orang tua juga menjadi salah satu penyebab anak polah? Jika iya, haruskah menyalahkan salah satu?? Ah, tidak ada yang perlu disalahkan. Yang perlu dilakukan adalah mencari solusi agar sang anak bisa berubah menjadi lebih baik. Bukankah sebelum ajal menjemput manusia punya potensi untuk berubah? Kesalahan masa lalu tidak bisa menjadi pedoman dan melabeli bahwa seseorang itu adalah orang jahat. Selagi belum meninggal, Tuhan masih membuka pintu maghfiroh kepada hamba-Nya yang mau bertobat.
Danang, itu lah nama anak yang membuat orang tuanya pusing. Puncaknya adalah ketika ia tidak naik kelas untuk yang kesekian kalinya. Dulu ketika di SD dua kali ia tidak naik kelas dan kini ia pun dinyatakan tidak naik kelas VIII gara-gara tidak mengikuti UAS. Padahal usianya sudah 15 tahun, usia dimana ia seharusnya sudah lulus kelas IX. Karena itulah ayahnya yang bekerja di Kalimantan menyempatkan pulang dan berencana memasukannya di pesantren sekaligus sekolah di SMP. Ibunya sudah tidak kuat lagi dengan kelakuan anak laki-lakinya itu. Perkataannya sudah tidak dihiraukan dan sama sekali tidak ditakuti. Bahkan ketika meminta uang sering diancam dan harus ada.
Berbeda dengan kakak perempuannya yang tumbuh menjadi pribadi yang berprestasi, bahkan pada wisuda S1 nilainya hanya 3 yang B dengan IPK 3,97. Hanya butuh tiga angka lagi untuk meraih nilai sempurna. Begitulah penuturan Lik Edi (Ayah Danang) siang tadi ketika saya mengantar brosur SMP Takhassus Kalibeber. Ketika tanya-tanya dengan Lik Edi, saya dapati informasi bahwa Yekti (Kakaknya Danang) sudah kuliah di Jogja ketika beliau pergi merantau ke Kalimantan. Sedangkan Danang waktu itu baru kelas 2 (dua) SD dan hanya tinggal dengan ibunya. 
Kurang perhatian. Mungkin itulah salah satu penyebabnya. Diakui atau tidak kondisi keluarga menjadi salah satu pembentuk karakter yang dimiliki oleh seorang anak. Itu pula yang saya yakini. Karena keluarga adalah pendidikan pertama seorang anak, mereka akan mencontoh apa yang orang tua lakukan. Disini lah proses pendidikan keteladanan sejati terjadi. Selain itu orang tua juga punya peran untuk mengawasi pertumbuhan seorang anak, dengan siapa berteman dan apa yang dilakukan. Namun ketika orang tua sudah tidak bisa mengatasi hal tersebut, maka yang terjadi adalah kebebasan tanpa batas. Itu pula yang saya tangkap dari cerita tentang Danang.
Penuturan ibunya, Danang punya salah satu teman yang nakal. Teman yang dulu pernah bareng sewaktu di SD ternyata bareng di MTs hanya beda satu tingkat diatasnya. Katanya dia lah yang sering mengajaknya untuk membolos sekolah, bahkan pernah walau sudah malam dan mau tidur, ketika ada sms ia akan segera pergi menemuinya. Larangan ibunya sudah tidak digubris lagi. Ia hanya takut dengan ayahnya, namun itu tidak berguna karena ayahnya bekerja di Kalimantan. 
Kesimpulan yang saya tangkap dari kehidupan Lik Edi adalah kasih sayang dalam keluarga sangatlah penting. Orang tua mempunyai peran penting dalam memproteksi pergaulan seorang anak. Dan tidak bisa ditawar lagi bahwa baik buruk seorang anak, orang tua akan merasakan akibatnya pula. 
Pringamba, 9 Juni 2016
Mad solihin
Ramadhan ke 3 : Makanan

Ramadhan ke 3 : Makanan

00:11:00 Add Comment

#3 Ramadhan 1437 H / 8 Juli 2016

Sudah cukup lama keluarga saya mengkonsumsi mie instan dan telur sebagai lauk andalan, termasuk waktu buka dan saur kemarin. Selain praktis, harganya juga terjangkau. Hanya saja lama-kelamaan lidah jengah juga jika dijejali dengan lauk yang sama setiap hari. Saya pun sebenarnya ingin protes, namun melihat rutinitas ibu yang saya yakin lelah jadi cukup lah saya simpan dihati. Tak enak untuk saya sampaikan. Saya pun mencoba untuk tetap bersyukur karena mungkin diluar sana banyak orang yang lebih kelaparan dan tidak seberuntung saya. Rasanya jauh lebih baik daripada mengeluh dan menuntut apa yang kita inginkan. 

Ada sebuah hadits yang menerangkan bahwa dalam urusan dunia kita memang harus melihat orang yang dibawah, tujuannya tidak lain adalah agar selalu bersyukur. Namun dalam hal akhirat dan ilmu tentu harus melihat orang yang diatas agar terpacu untuk bisa setara dengan mereka. Setidaknya kita akan merasa malu jika bersikap sombong karena ada orang yang lebih baik dan pintar dari kita.

Hey para calon ibu, bolehkah saya berpesan? Jika suatu saat nanti tiba waktu berumah tangga, menyediakan makanan ternyata sangat penting lho. Selain menjadi sumber kekuatan, juga berpengaruh pada psikolgi seseorang sehingga timbullah perasaan senang. Ketika hati senang saya yakin energi yang keluar banyak positifnya.

Terus bagaimana dengan calon bapak, punya kah kewajiban? Tentu saja. Bagaimana seorang istri menyiapkan makanan jika kebutuhan belanjanya tidak terpenuhi. Ketika pekerjaannya menumpuk dan berdouble-double. Ah keluarga, percampuran dua orang berbeda untuk saling melengkapi. 

Pringamba, 8 Juni 2016
Ramadhan ke 2 : Puasa Pertama

Ramadhan ke 2 : Puasa Pertama

23:23:00 Add Comment

#2 Ramadhan 1437 H/ 7 Juni 2016

Puasa pertama ramadhan tahun ini saya lalui di rumah dan mungkin puasa kedua ketiga maupun puasa-puasa selanjutnya juga akan saya lalui di rumah membersamai ibu bapak. Semoga saja lebih menyenangkan karena lamat-lamat terekam dalam ingatan, puasa sebelumnya saya banyak di sBanjar dan sedihnya sering saur maupun buka seorang diri. 

Ada rasa bahagia ketika bangun saur di hari pertama puasa, pasalnya jarang-jarang bisa makan dengan ibu dan bapak secara bersamaan. Kalaupun makan sewaktu saya di rumah paling bersama bapak sedang ibu sibuk dengan pekerjaan cucian maupun memasak. Maka moment saur ini menjadi kebahagiaan tersendiri karena selain bisa makan bersama saya pun bisa melihat pemandangan yang menyejukan mata yaitu ibu bapak duduk untuk makan bersama. Pemandangan yang jarang saya lihat selain di bulan ramadhan. 

Tak ada kesan romantis. Itulah yang saya lihat dalam keluarga walaupun saya yakin ukuran cinta mereka tak perlu di ragukan sehingga harus berwujud pada aktivitas keseharian. Pengaruh usia yang sudah semakin menua juga mungkin menjadi penyebab mereka untuk tidak peduli dengan hal romantis. Yang saya lihat mereka menjalankan rutinitas harian sesuai dengan jadwalnya meskipun jadwal itu tak tertulis. Atau karena pengaruh sebagai orang desa ya sehingga untuk urusan hubungan berjalan biasa-biasa saja. Entahlah, yang jelas usia pernikahan semakin tua maka perhatian yang diberikan laiknya anak muda yang sedang jatuh cinta ataupun pasangan pengantin baru semakin kabur pula. Jika sudah menikah nanti semoga saja saya bisa menjaga keromantisan dengan sang istri sampai tua. #eeh

Sebagai anak seorang petani maka aktivitas saya tidak lepas dari pergi ke kebun apalagi kondisi kesehatan bapak yang sampai saat ini masih saja belum terlihat membaik. Bahkan di hari pertama puasa beliau hanya terbaring di tempat tidur. Padahal sudah tiga kali berobat namun Allah belum juga memberikan kesembuhan. Oh Tuhan, segala sesuatu berada dalam kuasa-Mu termasuk kesehatan. Meskipun sudah iktiyar dengan cara berobat namun tetap saja semua berada dalam kuasa-Mu. Tidak ada yang bisa menolak maupun menghalangi sesuatu yang datang dari-Mu, termasuk penyakit. Maka, dengan kuasa-Mu pula Ya Allah, sembuhkan lah penyakit beliau. Aamiin.

Mau tidak mau karena usia saya yang sudah tidak tergolong anak kecil lagi maka tak mungkin jika saya hanya berdiam di rumah sementara ibu pergi seorang diri ke kebun. Walaupun itu sudah menjadi hal yang biasa dan merupakan rutinitas sehari-hari. Maka saya pun ikut pergi ke kebun untuk memetik buah kopi sedang ibu yang mencari rumput. Sialnya, buah kopi yang saya petik banyak semutnya sehingga dua kali mata saya terasa begitu pedas gara-gara aroma semut yang berada di sela-sela kopi yang saya peti. Walau semutnya gak mengenai mata tetapi tetap saja pedas mungkin kejadiannya seperti ketika memotong bawang merah. Tahu kan maksud saya?

Pernah minum kopi? Pernahkah membayangkan bagaimana wujud kopi awalnya? Tahukah proses pebuatannya sehingga bisa menjadi “wedang” kopi? 

Banyak proses yang harus dilalui mulai dari memetik, dijemur agar kering, digoreng dengan sangan (wajan yang terbuat dari tanah liat) hingga matang dan keras, kemudian ditumbuk di lesung hingga melebur menjadi serbuk hitam atau orang sering bilang dengan sebutan “bubuk”. Baru setelah itu diseduh dengan air panas dicampur gula sehingga jadilah “wedang kopi hitam”.  Ah, ternyata banyak proses sebelum akhirnya menjadi sesuatu yang banyak disukai banyak orang. Pun tidak lepas dengan peran pendukung lain seperti air panas dan gula yang menandakan bahwa kehidupan itu “ada proses dan butuh orang lain”.

Pringamba, 7 Juni 2016 05:58
`Mad solihin
Ramadhan ke 1 Awal Ramadhan

Ramadhan ke 1 Awal Ramadhan

23:22:00 Add Comment

#1 Ramadhan 1437 H / 6 Juni 2016

Sudah beberapa tahun ini keputusan sidang isbat menjadi moment yang sangat ditunggu oleh masyarakat sebelum sholat isya didirikan. Stasiun TV yang sedang menyiarkan berita perihal penetapan tanggal 1 Ramadhan pun menjadi prioritas untuk ditonton. Sebagaimana tadi malam, keputusan sidang isbat yang disampaikan oleh KH. Lukman Hakim Saefudin selaku Menteri Agama RI membuat kelegaan yang menandakan bahwa malam ini sudah mulai sholat tarawih dan besok sudah mulai puasa. Alhamdulillah, senang rasanya bisa dipertemukan lagi dengan bulan yang penuh berkah ini. Semoga benar-benar membawa keberkahan. Aamiin

Pikiran saya melayang pada zaman dahulu ketika masih kecil, ketika televisi tepatnya di desa saya belum terlalu banyak seperti sekarang, rasanya keputusan 1 Ramadhan sudah jelas tidak seperti saat ini yang harus menunggu sampai isya terlebih dahulu. Ketika bapak saya tanya, kata beliau dulu sistemnya menunggu surat keputusan dari KAU Kecamatan yang disampaikan ke desa-desa. Dan menurut saya meskipun harus menunggu keputusan sampai isya, itu lebih baik karena keputusan itulah yang paling akurat.

Satu hal yang umum terjadi setelah penyampaian hasil sidang isbat selesai adalah masjid dan mushola diserbu oleh kawanan manusia yang itu terjadi hanya di bulan Ramadhan. Orang yang biasanya sholat di rumah pun mendadak ke masjid atau mushola. Dan biasanya itu terjadi selama sepuluh hari pertama. Pasca itu mungkin akan menyusut kembali hingga selesai ramadhan, selesai pula keramaian masjid. Biasanya seperti itu yang terjadi, walau harapannya si tetap tidak menyusut dan selalu rame. Keramaian itu pula yang terjadi di masjid desa, dimana malam itu adalah malam pertama menjalankan shalat tarawih.

Berkah ramadhan pula, masjid dan mushola menjadi rame oleh suara tadarus Al-Qur’an baik sore maupun malam setelah shalat tarawih. Walau telinga kadang gatal oleh bacaan yang kurang sesuai tajwid, tetapi rasanya itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

What do you hope in this Ramadhan ??

Berbicara masalah harapan tentunya ibadah dan puasa selama ramadhan itu bisa diterima oleh Allah. Karena jika tidak diterima, sia-sia dong kita menahan haus dan lapar selama sebulan. Itu ibadah yang biasanya sudah menjadi rutinitas tanpa ada paksaan. Dan berkaca pada ramadhan tahun lalu yang ternyata tadarus al-qur’an nya tidak khatam, maka di bulan Ramadhan 1437 H ini minimal khatam deh satu kali.

Pun demikian dengan tulisan, berkaca pada bulan ramadhan kemarin ada sebuah program kalau tidak salah #Random Ramadhan, yang mengharuskan untuk menulis setiap hari di bulan ramadhan. Tentang apa yang ditulis terserah, yang penting menulis satu tulisan per hari. Itu saya tahu dari tulisannya Mas Imam Rahmanto yang ketika saya telusuri lebih jauh, ternyata banyak blogger yang menerapkan #RandomRamadhan ini. Maka selain harapan di atas dan terkabulnya doa-doa yang saya panjatkan, bisa menulis per hari minimal satu tulisan juga menjadi harapan saya di bulan ramadhan tahun ini.

Pringamba, 6 Juni 2016 05:52
Mad solihin
Percayalah, Keputusan-Nya Selalu yang Terbaik

Percayalah, Keputusan-Nya Selalu yang Terbaik

23:17:00 Add Comment
Sudah pukul 01.27 saat Riski melihat jam yang ada di layar hp nya. Matanya belum bisa dipejamkan walau sebenarnya ketika di paksa bisa juga terpejam. Namun pikirannya begitu terganggu karena sudah beberapa hari ini ia tak menulis. Ide yang beberapa waktu lalu sempat muncul pun lenyap bersamaan dengan lenyapnya mood untuk menulis. Dan kali ini tak akan dibiarkan waktu berlalu tanpa ada satupun tulisan yang ia buat.

Tentang apa yang ditulis, biarlah mengalir dengan sendirinya. Ah ya, tetiba ide untuk menulis muncul dengan sendirinya. Memang benar ya, ketika jari di paksa untuk tetap menulis maka ide akan muncul dengan sendirinya. Ide itu adalah tentang apa yang dialaminya malam ini. Tepatnya ketika orang yang dicintainya bercerita tentang kegelisahannya. Gelisah karena dalam waktu yang bersamaan beberapa orang yang pernah dekat tetiba saja menghubunginya.

“Haruskah ia cemburu?” tanyanya dalam hati. Bukan cemburu yang jadi soal, karena ia yakin bahwa orang yang dicintainya bisa menjaga dirinya. Hanya saja cerita tentang gurunya yang menyuruh untuk berkomunikasi dengan seseorang yang pernah dekat dengannya itu yang menjadi kekhawatiran. Belum lagi soal izin yang masih menggantung kejelasannya manakala ia mondok lagi sambil kuliah. 

“Aku, siapalah diriku. Orang yang belum lama kenal. Di banding gurunya yang selama ini begitu perhatian dan telah mengajarinya banyak hal tentang kehidupan. Aku bukanlah siapa-siapa meskipun aku dekat dengannya. Tak mungkin aku menyuruhnya untuk menyangkal apa yang dikatakan oleh gurunya,” katanya pada diri sendiri. Ia pun paham karena ia pernah menjadi santri dan takdzim kepada guru adalah salah satu hal yang sangat dijunjung tinggi dalam dunia pesantren. 

Dia menyadari bahwa tak mungkin ia menampik apa yang disampaikan oleh gurunya kepadanya. Karena selain beliau yang telah mendidiknya, beliau juga sudah lebih paham akan pahit, manis dan asinnya kehidupan. Tak ada yang dapat Rizki lakukan kepada orang yang dicintainya itu kecuali memotivasi dan berdoa agar apa pun jalan yang ditempuh selalu pada ridho-Nya. 

Pertanyaan kapan di sini lagi? Pertanyaan gurunya yang ia ceritakan. Biarlah, waktu yang menjawab. Jika gurunya menghendaki waktu yang lama, mungkin arahan untuk berkomunikasi dengan seseorang yang pernah dekat dengannya menjadi kekhawatiran. Tetapi bukankah kata “disini lagi” tidak ada penegasan waktu dari dan sampai kapan? Bukankah jika satu bulan, satu minggu bahkan satu hari juga bisa mewakili kata “disini lagi”? Bukankah beliau juga manusia yang juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh manusia lainnya. Bukankah pertanyaan itu tidak final yang wajib dan harus dijawab dengan jawaban yang sama laiknya hukum matematika? Bahwa 1+1=2, maka ketika jawabannya 3, 4, 5, atau 9 sudah pasti salah? 

Kenapa harus khawatir, masih panjang waktu untuk akhirnya pertanyaan “disini lagi” terjawab. Andaikan memang ditakdirkan, percayalah bahwa tak ada yang bisa menyangkal ataupun menghalangi keputusan-Nya. Ketika tidak sesuai dengan harapan, tetap percayalah bahwa itu pula keputusan-Nya yang terbaik. Bukankah tugas kita hanya merencanakan dan berihtiyar? Hasil, itu hak Allah yang sudah tidak lagi bisa diganggu gugat.

Pringamba, 5 Mei 2016 02:38
Mad Solihin