Pantai Suwuk

7:40:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Mad solihin, Pantai Suwuk Kebumen, Indahnya Pantai Suwuk, Jalan-Jalan
Keindahan Pantai Suwuk

Hunting ke Pantai Suwuk Kebumen, akhirnya terealisasi juga. Setelah sebelumnya hampir gagal karena ulah salah satu teman kami yang berhalangan. Marah, jengkel dan kesal bercampur menjadi satu. Pasalnya sejak malam nomornya dihubungi tidak aktif, paginya juga tetap tidak aktif. Belakangan baru saya ketahui bahwa ternyata hp nya ngedrop dan tidak membawa charger. Sedangkan posisinya di Wanayasa karena ketika sampai di terminal Karangkobar sepulang dari Pekalongan sudah sore dan tidak ada angkutan ke kota. Pikir saya, kenapa tidak meminjam charger jika chargernya tidak dibawa dan mengabari kami bagaiamana dengan rencana besok. 

Setelah menghubungi berkali-kali tidak juga aktif, maka saya pun meminta tolong kepada Takie untuk mengecek di kamarnya. Tidak ada. Saya pun bertanya dengan siapa dia pergi dan meminta nomor hp nya. Ketika saya hubungi, katanya baru saja mengantar Eman ke terminal. Sedangkan posisinya Eman sekarang di mikro, perjalanan ke Banjar. 

Pukul 09.00 Eman menghubungi saya. Alhamdulillah, akhrinya ada konfirmasi juga. Sayang, kelegaan itu hilang manakala tahu bahwa motornya tidak ada dan sedang dipinjam temannya. Saya yang sudah sejak pagi berada di PC (gedung tempat saya menginap) pun gusar. Lebih gusar lagi dua teman saya yang sudah menunggu di Mandiraja. Waktu semakin siang, belum juga ada kepastian kapan motornya kembali. Dua teman saya samakin marah sampai-sampai ada sms yang ditujukan kepada Eman masuk ke nomorku. #parah

Pukul 13.00 belum juga ada keputusan. Saya pun mencari alternatif untuk diundur besoknya dengan pertimbangan cuaca hujan dan kalau dipaksakan pergi juga tidak mungkin karena jarak tempuh sampai ke lokasi tujuan terlalu jauh. Saya mengubungi Eman menawarkan alternatif untuk dundur besok, ia pun setuju walau mungkin ada sedikit terpaksa karena besoknya ada jadwal kuliah. Setelah ia setuju, saya menelfon Rizka untuk diundur. Saya gabungkan dua panggilan antara Eman dan Rizka- Lutfi. 

Deal, rencana di undur besok. Walau Lutfi hampir mutung dan mau pulang. Untung saja ada Rizka yang mungkin menjadi obat penenangnya. Dari ujung telfon terdengar suara Eman memelas dan minta maaf, diujung satunya Rizka dan Lutfi meluapkan kekesalannya. Bahkan mensyaratkan untuk kami sampai di Mandiraja pukul 07.00 Kalau jam 07.00 tidak sampai katanya mau pulang. Haha, lucu rasanya. #Besoknya penundaan ini ternyata ada hikmahnya, cuaca langit cerah dan tidak hujan.

Kejadian ini membuat saya belajar untuk memilih antara marah-marah dan menyalahkan atau mentoleransi dengan mengatakan “Ya sudah tidak apa-apa”. Meskipun saya pun punya dalih penguatan, Kenapa tidak konfirmasi? Kalau sudah tahu besok mau pergi, kenapa tidak disiapkan segala keperluannya? Tapi sudahlah, bukankah tugas kita hanya merencanakan masalah keputusan itu urusan Tuhan. Termasuk kenapa motornya Eman dipinjam, bukankah kita tidak tahu sebelumnya.

Pukul 07.30 saya dan Eman sampai juga di Mandiraja. Baru masuk, Eman langsung dikejutkan dengan kado karena hari itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya. Setelah duduk dan disuruh makan, tepat pukul 08.00 kami meluncur. Sampai di Gombong, kami memanfaatkan google map sebagai penunjuk arah untuk sampai ke Pantai. Karena tak ada yang tahu jalan. Meskipun Rizka dan Lutfi katanya sudah pernah ke sana, tapi tetap saja tidak tahu jalan. Angan saya, mungkin karena mereka hanya manjadi makmum jadi terserah yang didepan. He

Aku jadi teringat buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor, dalam kata pengantarnya profesor  Rhenald Kasali, seorang Dosen di UI pengampu makul Pemasaran Internasional yang mewajibkan mahasiswanya untuk memilki paspor dan pergi ke luar negeri seorang diri. Tanpa pengalaman sedikit pun. Bagaimana caranya? Bagaimana dengan biaya, bagaimana dengan kemampuan bahasa yang pas-pasan. Beliau tidak peduli, yang jelas pada waktu yang sudah ditentukan, dia sudah ke luar negeri. 

Beliau tidak ingin hanya menjadi dosen yang hanya mentransfer pengetahuan tetapi menjadi pendidik. Beliaupun menyadari bahwa untuk menjadi Rajawali, seorang mahasiswa tidak boleh hanya sebagai passenger tetapi menjadi drivers. Karena ketika menjadi passangerkita hanya akan manut dengan seorang supir. Jadilah mereka tidak tahu jalan. Sehingga kemana pun mereka berpegian, mereka hanya akan lewat jalan yang sama. Hanya akan berada pada zona nyaman. Akhirnya mereka tidak bisa men-drive diriatau self mereka masing-masing. Padahal sejatinya hidup itu not your father, not your University, not your IAIN, not your UI but yourself. 

Padahal sejatinya hidup itu not your father, not your University, not your IAIN, not your UI but yourself.

Setelah hampir dua jam perjalanan, akhirnya sampai juga di Pantai Suwuk. Kami segera menuju ke pasir dan mendekat ke air laut. Larangan dari Mamanya Rizka untuk tidak bermain air pun kami terjang. Haha Maaf bukan tidak manut, tetapi masa hanya jalan-jalan ya kurang asyik. He Dan yang tak ketinggalan dan wajib adalah berfoto. Katanya mengabadikan moment. 

Cukup puas bermain pasir dan ombak, kami menyempatkan untuk naik kereta sepeda. Sialnya, putaran kedua yang katanya bonus, eh ternyata harus membayar lagi. Raib deh uang Rp. 50.000,- Putaran pertama Rp. 30.000,- karena merasa mahal maka kami ngeyel untuk tambah lagi, sayangnya penerjemahan bonus itu bukan naik sepedanya tetapi foto sama kuda. Maka setelah selesai putaran kedua, pemuda yang menjaga sepeda memaksa kami untuk membayar lagi Rp. 20.000,- Awalnya kami abaikan, tetapi karena ia tetap memaksa ya sudahlah kami bayar saja. Males jika harus ribut, malu kan. Banyak orang lagi.

Setelah bermain sepeda, kami memutuskan untuk mandi dan sholaat dhuhur di Masjid komplek Pantai. Pas pulang, saya dan Rizka khawatir kenapa Eman dan Lutfi tidak kelihatan. Kami pun berhenti untuk menunggu mereka. Ternyata hp nya Eman tertinggal di Masjid, pantas lama. Ketika mau jalan karena Eman dan Lutfi sudah terlihat, untuk kedua kalinya roknya Rizka masuk ke rantai. Untung saja berhenti dan baru tersangkut. Alhamdulillah. 

Tak ada tujuan. Hanya pantai Suwuk lah yang ada di daftar tujuan. Maka kami memutuskan untuk kembali ke Gombong, jalan pulang sekaligus mencari makan. Karena waktu sudah semakin sore, setelah makan siang kami memutuskan untuk ke Waduk Sempor saja sekalian pulang. Dan untuk pertama kalinya saya ke sana walau sudah berkali-kali melewatinya. Ternyata indah juga lho pemandangannya, sejuk pula dengan tamparan angin yang semilir.

Pukul 16.00 setelah cukup puas menikmati keindahan alam dan air kami mumutuskan untuk pulang. Semoga saja bisa terulang kembali  di lain waktu.

Rumah, 23 Mei 2016 08:16
Mad solihin

You Might Also Like

0 comments: