Belajar Bertani

00:02:00 Mad Solihin 0 Comments


Sudah seminggu bapak hanya berdiam diri di rumah. Tiga hari sebelumnya bahkan beliau hanya bisa tiduran di kamar karena demam dan batuk. Saya memanggilkan seorang bidan untuk memeriksanya. Alhamdulillah setelah diperiksa demamnya hilang dan sudah terlihat sehat, namun selang satu hari setelah itu beliau sakit lagi, katanya kepalanya pusing. Kebiasaan beliau untuk sholat jamah di masjid pun tak ia lakukan, beliau lebih memilih untuk sholat di rumah. Pasalnya sakitnya begitu menjadi manakala rukuk.

Pekerjaan di kebun cukup terabaikan. Saya yang kebetulan sedang banyak di rumah tak tega jika harus pergi-pergi terus. Saya yang tak pernah ke kebun akhirnya ke kebun juga, belajar bertani seorang diri, nyerbuk, mlepah dan merumput. Pekerjaan ini adalah pekerjaan sehari-hari warga masyarakat di desaku yang hampir semua menjadi petani salak. 

Bertani seorang diri membuat saya tahu bahwa ternyata saya bisa. Kekhawatiran dan rasa minder dengan teman-teman seumuran bahkan lebih muda yang kini sudah berkecimpung dengan dunia pertanian kini sudah bisa saya enyahkan. Tanpa sekolah tinggi pun bisa, hanya tinggal kemauan untuk ke kebun dan lakukan sesuai yang keluarga lakukan. Itu saja. Namun untuk urusan lain-lain perihal komputer, internet, email, surat menyurat dan lain-lain tanpa sekolah mereka tidak akan tahu. Atau kalaupun tahu, untuk apa ? Mentok, email untuk membuat fb dan bbm. Itu perkiraan saya berdasarkan pengamatan selama ini ketika pulang dan berbaur dengan masyarakt di desa, aslinya entahlah. 

Rumah, 26 Mei 2016 07:20
Mad Solihin

You Might Also Like

0 comments: