Zamannya Pesawat Bukan Gerobak

16:53:00 Mad Solihin 0 Comments


Orang cerdas adalah orang yang bisa memetakan rencana (planning) jauh kedepan. Drs. KH. Muchotob Hamzah, MM (Rektor UNSIQ Wonosobo)

Demikianlah pesan yang saya tangkap ketika mengikuti pembekalan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Aula Al-A’la kemarin (17/3). Sebagai salah satu tugas akhir kampus atau kalau di beberapa kampus lain namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dengan tema Posdaya Berbasis Masjid.

Dalam sambutannya, Drs. KH. Muchotob Hamzah, MM menyampaikan tentang pentingnya planning atau rencana kedepan, 5 tahun 10 tahun kedepan. Bahkan Al-Qays salah satu Ulama yang beliau contohkan, mempunyai planning pasca kematian. Tidak lain pesan tersebut agar nantinya ketika KPM jelas apa yang akan dilakukan. Seperti halnya dalam organisasi, maka planning tentang apa yang akan dilakukan selama periode kepengurusan sangatlah dibutuhkan sebagai bagian acuan agar fokus. 

Bukti nyata. Begitulah kira-kira kenapa KPM harus mempunyai rencana kerja apa yang harus dilakukan, supaya keberadaan kita di tempat KPM benar-benar berdampak positif dan melakukan aksi nyata.

Terus kapan planning kita menikah? #eh

Kenapa KPM, bukan KKN . .?

Kisah Kasih Nyata. Demikianlah Pak Dr. Nurul Mubin berseloroh ketika menjelaskan kenapa namanya bukan KKN. Sebagai ajang untuk mencari jodoh dan ini nyata, berdasarkan cerita dari kakak-kakak kelas bahwa ada sebagian mahasiswa menemukan jodohnya ketika KKN. Karena itulah namanya diganti menjadi KPM, tetapi ya sama saja masih ada bertemu jodohnya di KPM. Apakah KPM juga akan saya gunakan untuk hal tersebut? Tentu saja tidak. Cukup satu saja, ia yang saat ini mengisi hati saya. #Hahaha

Alasan diatas, entah benar atau tidak yang jelas namanya bukan KKN tetapi KPM. Nah, kenapa pengabdian? Menurut Rektor UNSIQ, Bapak Drs. Muchotob Hamzah, MM. alasan kenapa memilih nama pengabdian tidak lain adalah karena unsur yang terkandung didalamnya. Berbicara masalah mengabdi, maka tidak ada paksaan dan sumbernya adalah keikhlasan sehingga sesuatu yang impossible menjadi possible, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, sesuatu yang sulit menjadi mudah dan sesuatu yang berat menjadi ringan. Itu semua karena dasar dari sebuah pengabdian adalah cinta. Bukankah ketika seseorang benar-benar cinta akan melakukan apapun. Laiknya Layla-Majnun dan Romeo Juliet.
Posdaya Berbasis Masjid
Kenapa tema yang diambil berbasis masjid? Paparan dari Abah Chotob, sapaan akrab dari Bapak KH. Muchotob Hamzah, kerena masjid adalah pusat yang mempunyai fungsi membawa kemanfaatan untuk masyarakat. Di mulai dari masjid, sebuah pembelajaran tentang pentingnya disiplin diajarkan melalui sholat tepat waktu. Beliau pun mengingatkan bahwa zaman sekarang itu bukan zaman gerobak tetapi zaman pesawat jet. Terlambat 5 atau 10 menit, gerobak masih bisa dikejar tetapi terlambat satu menit pesawat, maka ratusan meter yang sudah tak lagi terkejar. 

Sebuah pengalaman dari seorang teman beberapa waktu lalu hanya karena terlambat lima menit harus merelakan tiket kereta api yang sudah ada ditangan hangus. Mau gak mau, ia pun harus membeli lagi tiket jika ingin tetap pergi ke Solo. Bayangkan, hanya telat 5 menit. Bukankah hal tersebut menunjukan betapa pentingnya sikap disiplin? 

Berkualitas tidaknya ucapan seseorang tergantung pada kematangan keilmuannya. Begitulah kesan yang saya dapat dari sambutan Abah Chotob. Walau hanya sebentar tetapi apa yang beliau sampaikan benar-benar berbobot. Itulah kenapa mematangkan keilmuan menjadi sesuatu yang sangat penting. 

Mengakhiri sambutannya, beliau mengulang apa yang disampaikan oleh Pak Mubin, “Datang dinanti, pulang ditangisi.” Bagaimana caranya, tentu hal tersebut ketika keberadaan kita benar-benar memberikan dampak yang positif untuk lingkungan yang kita tempati. 

Wonosobo, 18 Maret 2016 06:56 WIB

You Might Also Like

0 comments: