Tirakat

2:20:00 AM Mad Solihin 0 Comments


Tirakat. Demikianlah pesan yang selalu saya dengar dari kyai lulusan pesantren. Puasa, sholat hajat, sholat tahajud dan berbagai macam amalan lain yang intinya untuk melatih diri. Laiknya sebuah ulat yang melakukan tirakat dengan mengurung dirinya dalam bentuk kepompong, sebelum akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang begitu indah.

Saya tahu hal itu, namun entahlah melakukan tirakat semacam itu sangat sulit untuk saat ini. Termasuk untuk merutinkan membaca dan menulis, yang mungkin itu menjadi salah satu wujud tirakat jika memang ingin jadi penulis.

Pernah dalam salah satu pengajian yang saya ikuti, bahwa mujahadah itu bervariasi. Mujahadah untuk seorang pelajar adalah belajar. Mujahadahnya orang yang menghafal al-Qur’an ya menghafal al-Qur’an tidak lantas menyibukan diri dengan wirid maupun dzikir. Itu penafsiran yang saya tangkap dari apa yang pernah saya dengar. 

Ah, ya malam ini saya dapat ilmu ketika silaturahim ke tempat Pak Kyai Muthari. Beliau menyebutkan bahwa ada dua waktu yang ijabah untuk berdoa, yaitu di sepertiga malam dan setelah sholat maktubah/wajib. Sehingga begitu ruginya jika setelah sholat langsung pergi begitu saja tanpa menyempatkan untuk berdoa. 

Selain itu, beliau pun menyampaikan bahwa untuk menjadiorang yang Mulia harus berani rekasa (susah). Pesan yang sudah sering saya dengar sebenarnya, hanya saja ketika mendengarnya lagi ada semacam rasa percaya bahwa itu bukan hanya slogan belaka, namun benar-benar nyata.

Plososari Kendal, 30 Maret 2016 01:57 WIB

You Might Also Like

0 comments: