Curug Sewu

18:02:00 Add Comment
Curg Sewu

Hari ini adalah hari ke 8 Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) UNSIQ. Tak terasa satu minggu telah terlampaui dengan begitu singkat.

Curugsewu. Itulah salah satu tempat wisata terdekat dari posko yang saya tempati. Tepatnya berada di desa Curugsewu Kecamatan Patean Kabupaten Kendal. Lama perjalanan dari posko yang saya tempati sekitar kurang lebih 15 menit. Namun baru kali ini saya bisa mengunjunginya.

Berawal dari undangan dari Kordinator Kecamatan (Korcam) yang mengintruksikan kepada Kordinator Desa (Kordes) untuk berkumpul di kantor kecamatan guna rapat penyampaian Program Kerja (Proker) yang telah dibuat untuk setiap masing-masing desa. Maka moment ini pun saya gunakan untuk berkunjung ke Curug Sewu. Ya memanfaatkan aji mumpung. He

Pertama kali mendengar nama Curug Sewu saya begitu penasaran. Bayangan saya waktu itu ada curug yang jumlahnya sampai seribu. Laiknya Curug Pitu di Sigaluh yang mempunyai 7 level curug. Tetapi ketika saya sampai di Curug ternyata hanya satu curug saja. Karena rasa ingin tahu yang begitu menggebu, maka saya pun menanyakan kepada pedagang yang berjualan di tangga jalan menuju curug. Namanya Pak Yadi.
Pak Yadi

Mengapa namanya curug sewu?

Menurut cerita yang saya tangkap dari apa yang Pak Yadi sampaikan, nama Curug Sewu itu berdasarkan nama desa di mana curug tersebut berada, yaitu Desa Curug Sewu. Penamaan desa curug sewu menurut salah seorang penduduk adalah karena curug tersebut menghasilkan banyak bunyi gempricik sehingga dinamakanlah Curug Sewu. 

Tiket Masuk
Untuk masuk ke sini kita harus membayar dua tiket. Tiket pertama adalah tiket masuk ke wisata curug sebesar Rp. 5.000,-/orang untuk hari biasa dan sekitar Rp. 7.000,- untuk hari libur. Tiket kedua adalah tiket agar bisa melihat curug dari jarak yang dekat denga harga Rp. 3.000,- untuk hari biasa dan Rp. 4.000,- untuk hari libur. Dan satu lagi untuk parkir Rp. 2.000,-

Kenapa dua tiket?

Seperti yang disampaikan oleh Pak Yadi, bahwa Curug Sewu ini terbagi menjadi dua. Yang bagian atas adalah milik Pemda sedangkan bagian bawah yang dekat dengan curug adalah milik perhutani. Katanya dulu pernah dijadikan cuma satu tiket, hanya saja entah karena masalah apa sehingga akhirnya dipisah dan berdiri sendiri-sendiri. Wal hasil, pengunjung harus membayar dua kali untuk bisa merasakan sejuknya air curug. 

Bersama Misbah
Ah lega rasanya. Akhirnya kesampaian juga dan rasa panasaran tentang Curug Sewu pun terbayarkan. 

Plososari Patean Kendal, 31 Maret 2016 01:15 WIB
Ganti Nama

Ganti Nama

06:37:00 Add Comment

Pagi ini saya memutuskan untuk mengganti alamat blog yang saya miliki dengan nama saya sendiri (mad-solihin.blogspot.com). Tentu ada alasan tersendiri kenapa saya menggantinya dan bukankah untuk melakukan sesuatu terkadang kita memang membutuhkan sebuah alasan? 

Catatanunik96.blogspot.com adalah alamat blog saya sebelumnya. Dalam beberapa kesempatan saya merasa canggung untuk menyebutkan alamat blog saya tersebut dan rasanya terkesan jlimet karena ada angka 96 nya. Sehingga saya pun memutuskan untuk menggantinya dengan nama yang saya miliki. 

Tentang pengunjung, saat ini saya tidak begitu memikirkannya dan memang tak mau memikirkannya. Yang jelas, blog ini adalah alat yang saya gunakan sebagai sarana untuk berlatih menulis. Ya, sarana berlatih menulis. Sebagai sarana untuk membekukan setiap moment istimewa yang saya alami. Sebagai prasasti yang akan menjadi bukti bahwa saya pernah ada di dunia ini. Hingga suatu saat nanti anak dan cucu-cucu ku akan mengenal nenek moyangnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa seseorang akan disegani jika dikenal. Tanpanya kebanyakan orang hanya menjadi angin lalu saja. Seperti blog ini misal, tidak banyak pengunjung karena memang penulisnya belum cukup dikenal. Dan lupakan saja masalah pengunjung. Yang jelas, perbanyak tulisan. Itu saja. 

Plososari Patean Kendal, 30 Maret 2016 06:35 WIB

Senyum di Makesta Pandanarum

05:10:00 Add Comment
The Team from PC IPNU Banjarnegara & Pandanarum
Melihat senyum peserta Makesta adalah salah satu kebahagiaan tersendiri. Ada perasaan bangga yang bersemi dalam hati. Ah ya, walaupun terkadang ketika akan berangkat ada perasaan enggan seperti kemarin misal, bayangan jauhnya perjalanan dari Kendal sampai Pandanarum membuat diri ini ingin tetap berkutat dengan kasur. Namun, ada tanggung jawab yang tak mungkin saya tinggalkan. Mungkin kehadiran saya sangat dinanti dan begitu kecewanya orang-orang manakala saya mengikuti ego sendiri.

Pagi ini, peserta Makesta sedang bergembira ria dengan senam paginya setelah tadi sempat menangis tersedu saat acara perenungan dan mau pembaiatan. Ingin gabung sebenarnya, tetapi rasa kurang PD membuat saya cukup lah hanya untuk melihat saja dan itu sudah membuat saya merasa bahagia. 

Ada hal lain juga yang membuat saya merasa bahwa nikmat Allah itu begitu tak terhingga. Sehingga nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Saya beruntung bahwa setiap kegiatan Allah selalu memberikan patner untuk menemaniku. Saat acara di Purwareja Klampok, Batur dan hari ini di Pandanarum. Di saat orang yang saya harapkan tak bisa saya diandalkan, ada orang yang membuat kekecewaan itu terobati. Terlalu sering saya mengalami hal ini. 

Semoga saja apa yang saya lakukan ini menjadi amal jariah yang pahalanya akan mengalir ketika kader yang hari ini ikut Makesta menjadi lebih baik dan memperjuangkan aqidah Ahlussunnah wal jama’ah. Semoga.

O ya di Makesta kali ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada rekan dan rekanita. Miftahudin, Aufa, Abdul dan Cholil, terima kasih atas semangat dan perjuangannya sampai Pandanarum meskipun harus trayek, naik mikro dua kali. Sunguh kehadiran kalian membuat makesta ini begitu istimewa. Hana, Hani, Lutfhi, dan Ruty, terima kasih atas patner dan materi inspiratifnya. Imam, Eka, Rozak, Evin, Ahadun, Siddiq, Tarso dan teman2 lain yang tak bisa saya sebut satu persatu. Kalian luar biasa. Jazakumullah. 

Tak lupa kepada PCNU Banjarnegara (Mas H. Zahid Khasani dan Khozin Amanullah), MWC NU Pandanarum beserta jajaran kepegurusannya (Kyai Abdur Rahim dan Mas Zainal Abidin) dan rekan/rekanita dari Kecamatan Pandanarum. Tanpa kalian acara tak bisa berjalan dengan sukses. Terima kasih, semoga saja kader yang hari ini ikut Makseta bisa membawa kemajuan NU di Pandanarum. 

Pandanarum, 27 Maret 2016 07:20 WIB
Tirakat

Tirakat

02:20:00 Add Comment

Tirakat. Demikianlah pesan yang selalu saya dengar dari kyai lulusan pesantren. Puasa, sholat hajat, sholat tahajud dan berbagai macam amalan lain yang intinya untuk melatih diri. Laiknya sebuah ulat yang melakukan tirakat dengan mengurung dirinya dalam bentuk kepompong, sebelum akhirnya berubah menjadi kupu-kupu yang begitu indah.

Saya tahu hal itu, namun entahlah melakukan tirakat semacam itu sangat sulit untuk saat ini. Termasuk untuk merutinkan membaca dan menulis, yang mungkin itu menjadi salah satu wujud tirakat jika memang ingin jadi penulis.

Pernah dalam salah satu pengajian yang saya ikuti, bahwa mujahadah itu bervariasi. Mujahadah untuk seorang pelajar adalah belajar. Mujahadahnya orang yang menghafal al-Qur’an ya menghafal al-Qur’an tidak lantas menyibukan diri dengan wirid maupun dzikir. Itu penafsiran yang saya tangkap dari apa yang pernah saya dengar. 

Ah, ya malam ini saya dapat ilmu ketika silaturahim ke tempat Pak Kyai Muthari. Beliau menyebutkan bahwa ada dua waktu yang ijabah untuk berdoa, yaitu di sepertiga malam dan setelah sholat maktubah/wajib. Sehingga begitu ruginya jika setelah sholat langsung pergi begitu saja tanpa menyempatkan untuk berdoa. 

Selain itu, beliau pun menyampaikan bahwa untuk menjadiorang yang Mulia harus berani rekasa (susah). Pesan yang sudah sering saya dengar sebenarnya, hanya saja ketika mendengarnya lagi ada semacam rasa percaya bahwa itu bukan hanya slogan belaka, namun benar-benar nyata.

Plososari Kendal, 30 Maret 2016 01:57 WIB
Zamannya Pesawat Bukan Gerobak

Zamannya Pesawat Bukan Gerobak

16:53:00 Add Comment

Orang cerdas adalah orang yang bisa memetakan rencana (planning) jauh kedepan. Drs. KH. Muchotob Hamzah, MM (Rektor UNSIQ Wonosobo)

Demikianlah pesan yang saya tangkap ketika mengikuti pembekalan Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) di Aula Al-A’la kemarin (17/3). Sebagai salah satu tugas akhir kampus atau kalau di beberapa kampus lain namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dengan tema Posdaya Berbasis Masjid.

Dalam sambutannya, Drs. KH. Muchotob Hamzah, MM menyampaikan tentang pentingnya planning atau rencana kedepan, 5 tahun 10 tahun kedepan. Bahkan Al-Qays salah satu Ulama yang beliau contohkan, mempunyai planning pasca kematian. Tidak lain pesan tersebut agar nantinya ketika KPM jelas apa yang akan dilakukan. Seperti halnya dalam organisasi, maka planning tentang apa yang akan dilakukan selama periode kepengurusan sangatlah dibutuhkan sebagai bagian acuan agar fokus. 

Bukti nyata. Begitulah kira-kira kenapa KPM harus mempunyai rencana kerja apa yang harus dilakukan, supaya keberadaan kita di tempat KPM benar-benar berdampak positif dan melakukan aksi nyata.

Terus kapan planning kita menikah? #eh

Kenapa KPM, bukan KKN . .?

Kisah Kasih Nyata. Demikianlah Pak Dr. Nurul Mubin berseloroh ketika menjelaskan kenapa namanya bukan KKN. Sebagai ajang untuk mencari jodoh dan ini nyata, berdasarkan cerita dari kakak-kakak kelas bahwa ada sebagian mahasiswa menemukan jodohnya ketika KKN. Karena itulah namanya diganti menjadi KPM, tetapi ya sama saja masih ada bertemu jodohnya di KPM. Apakah KPM juga akan saya gunakan untuk hal tersebut? Tentu saja tidak. Cukup satu saja, ia yang saat ini mengisi hati saya. #Hahaha

Alasan diatas, entah benar atau tidak yang jelas namanya bukan KKN tetapi KPM. Nah, kenapa pengabdian? Menurut Rektor UNSIQ, Bapak Drs. Muchotob Hamzah, MM. alasan kenapa memilih nama pengabdian tidak lain adalah karena unsur yang terkandung didalamnya. Berbicara masalah mengabdi, maka tidak ada paksaan dan sumbernya adalah keikhlasan sehingga sesuatu yang impossible menjadi possible, sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, sesuatu yang sulit menjadi mudah dan sesuatu yang berat menjadi ringan. Itu semua karena dasar dari sebuah pengabdian adalah cinta. Bukankah ketika seseorang benar-benar cinta akan melakukan apapun. Laiknya Layla-Majnun dan Romeo Juliet.
Posdaya Berbasis Masjid
Kenapa tema yang diambil berbasis masjid? Paparan dari Abah Chotob, sapaan akrab dari Bapak KH. Muchotob Hamzah, kerena masjid adalah pusat yang mempunyai fungsi membawa kemanfaatan untuk masyarakat. Di mulai dari masjid, sebuah pembelajaran tentang pentingnya disiplin diajarkan melalui sholat tepat waktu. Beliau pun mengingatkan bahwa zaman sekarang itu bukan zaman gerobak tetapi zaman pesawat jet. Terlambat 5 atau 10 menit, gerobak masih bisa dikejar tetapi terlambat satu menit pesawat, maka ratusan meter yang sudah tak lagi terkejar. 

Sebuah pengalaman dari seorang teman beberapa waktu lalu hanya karena terlambat lima menit harus merelakan tiket kereta api yang sudah ada ditangan hangus. Mau gak mau, ia pun harus membeli lagi tiket jika ingin tetap pergi ke Solo. Bayangkan, hanya telat 5 menit. Bukankah hal tersebut menunjukan betapa pentingnya sikap disiplin? 

Berkualitas tidaknya ucapan seseorang tergantung pada kematangan keilmuannya. Begitulah kesan yang saya dapat dari sambutan Abah Chotob. Walau hanya sebentar tetapi apa yang beliau sampaikan benar-benar berbobot. Itulah kenapa mematangkan keilmuan menjadi sesuatu yang sangat penting. 

Mengakhiri sambutannya, beliau mengulang apa yang disampaikan oleh Pak Mubin, “Datang dinanti, pulang ditangisi.” Bagaimana caranya, tentu hal tersebut ketika keberadaan kita benar-benar memberikan dampak yang positif untuk lingkungan yang kita tempati. 

Wonosobo, 18 Maret 2016 06:56 WIB
Cerita

Cerita

23:16:00 Add Comment
Bagaimana denganmu? Sudah pernah kah dekat dengan seseorang sedekat ini?

Akhirnya pertanyaan itu keluar juga. Pertanyaan yang sudah saya tunggu sejak kemarin setelah sebelumnya ia bercerita menanggapi kekepoan yang saya lontarkan. Ya, meskipun awalnya mungkin ia merasa malu. Dan kenapa saya menunggunya, tidak lain karena saya yakin ia pun penasaran dan punya rasa ingin tahu tentang bagaimana kehidupan saya di masa lalu.

Saya pun menjawabnya. Menyelipkan canda dengan menceritakan hanya sepotong saja. Biar ia gregetan. Hee Dan benar saja, ia yang tak suka memaksa hanya pasrah dengan nada suara merajuk berharap agar saya menyelesaikannya. Walapun ia berujar terserah, tetapi saya yakin dalam hatinya tersimpan keinginan agar saya melanjutkan ceritanya. Bukankah begitu putri?? He

Malam itu benar-benar menjadi saat yang menguatkan saya untuk menggenggam tangannya lebih erat. Bahkan tak akan saya lepaskan. Banyak hal yang waktu itu cukup mengurai rasa ragu, meneguhkan komitmen untuk saling bertahan bukan dipertahankan. Namun, ada satu cerita yang ia tunda. Katanya ingin menceritakan langsung ketika bertemu.

Allah tempat menggantungkan harapan dan bersandar.

Pembicaraan tentang rencana kedepan itu terasa semakin dalam. Namun ketika mempertimbangkan waktu yang masih cukup lama, maka hanya Allah lah tempat bersandar dan menggantungkan harapan. Karena Dia lah yang mengaturnya dan ketika apa yang kita harapkan meleset, maka tidak akan ada rasa sakit sehingga mudah untuk bangkit kembali.

Terima kasih atas waktunya. Saya tunggu ya ceritanya. Berdoa lah semoga Allah menyatukan kita dalam ridho-Nya. Aamiin.

Wonosobo, 17 Maret 2016 22:55 WIB
Rindu

Rindu

01:20:00 Add Comment
Baru-baru ini aku begitu merindukan kehadirannya. Ada luapan rasa rindu yang akupun tak bisa membahasakannya. Ah, andaikan saja aku bisa bebas menggandeng tangannya, mengajak jalan semaunya seperti muda-mudi zaman sekarang, tetapi itu bukan lah hal baik untuk saat ini. Ada sekat yang cukuplah itu, meskipun tak terlihat menjadi tameng dari hal tersebut. Setidaknya apa yang kami pelajari selama ini bisa menjadi penjaga untuk bisa saling mengerti antara yang pantas dan tidak sebagai usaha untuk menjaga diri.

Seperti hati yang saat ini dipihakkan padamu, semoga besok, lusa dan seterusnya pun begitu.

Terima kasih atas rasa yang saat ini kamu pihakkan padaku. Aku pun berharap bahwa itu lah yang akan Allah gariskan kepada kita meskipun masih cukup lama datangnya waktu untuk aku menggenggam dan tak kan melepaskan tanganmu. 

Kalaupun ada ungkapan jodoh pasti gak kemana karena sudah ditentukan oleh Allah, semoga saja apa yang kita lakukan saat ini adalah salah satu bentuk ikhtiyar untuk menjemput ketentuan Allah tersebut. Sebagai proses pendewasaan untuk bisa saling mengingatkan dan menguatkan. Semoga.

Selamat malam putri, jika engakau bangun malam jangan lupa selipkan namaku dalam doamu. 
 
Banjarnegera, 16 Maret 2016 01:07 WIB
Selamat Harlah IPNU Ke-62

Selamat Harlah IPNU Ke-62

02:39:00 Add Comment

Terima kasih. Itulah kata yang patut ku ucapkan kepada organisasi yang kini aku pimpin. Walaupun aku menyadari bahwa apa yang ku lakukan masih jauh dari kata maksimal, tetapi setidaknya aku pun sudah berusaha (gaya bahasa pembelaan .. Haa). 

Empat tahun aku mengenalnya dan baru kali ini aku merasakan sensasi luar biasa laiknya merasakan hari ulang tahun sendiri. Sebelumnya serasa biasa saja. Faktor menjadi ketua, bisa jadi penyebabnya. Karena banyak hal yang hanya bisa dirasakan oleh ketua. Kemana pun perginya, akan selalu terpikir bagaiamana bagaimana dan bagaimana nasib sesuatu yang kita pimpin. Kegiatan apa yang akan dilakukan, bagaimana cara agar kegiatannya terlaksana hingga teknis detalilnya seperti apa.

Bukankah begitu? Aku yakin siapapun yang pernah menjadi ketua merasakan hal itu. 
Namun dibalik semua itu, banyak hal yang membuat kita terpaksa yang mau tidak mau harus melakukannya (berpikir dan eksekusi). Hal itulah yang membuat kita banyak belajar dan pada akhirnya menjelma menjadi pengalaman. Dan pengalaman itulah yang membuat kita menjadi pribadi yang tangguh.

Banyak teman, banyak pula kita berinteraksi dengan berbagai macam orang yang mempunyai sifat dan karakter berbeda. Dari situlah kita belajar bermasyarakat. Satu lagi banyak teman banyak pula rezeki. Setidaknya ketika kita berpergian kita punya tempat untuk singgah. Hee

Terima kasih IPNU, terima kasih Mbah Tolhah Mansur. Terima kasih karena telah menjadi tempat ku belajar serta menempa diri laiknya sebuah pedang yang yang di harus di bakar serta dipukul berkali-kali sebelum akhirnya menjadi tajam. 

Selamat Harlah IPNU yang ke 62 (24 Februari 2016). Semoga semakin maju dan bisa memberikan yang terbaik untuk NU dan Indonesia. 

Salam Belajar Berjuang Bertaqwa.
Pringamba, 1 Maret 2016 02:18 WIB