Terlalu Buru-Burukah Saya?

16:14:00 Mad Solihin 2 Comments

Saya masih setia duduk memandangi netbook dengan buku persis berada disampingnya. Suara hujan terdengar begitu nyaring menandakan air yang turun sangat deras. Revisi proposal, ah rasanya sudah cukup lama sejak seminar gelombang III yang saya ikuti. Namun, kesibukan yang tak menentu membuat saya jarang mengunjungi kampus guna mencari buku untuk menunjang dan menambah daftar referensi.

Sibuk? Benarkah? Mungkin hanya alibi saja. Malas bisa jadi salah satunya. Beberapa buku yang saya pinjam dari perpus Banjarnegara dan Wonosobo nyatanya jarang saya jamah. Padahal waktu pinjam juga sudah lama dan telat. Ah biarkan saja, kalau harus bayar denda ya anggap saja itu sebagai konsekuensi. 

Pagi tadi saya menyempatkan untuk berkunjung ke kampus, tujuan saya adalah ke perpus fakultas tarbiyah. Sayang, perpus tutup dan menurut salah satu mahasiswa yang saya temui katanya sedang ada rapat. Dari pada sia-sia sudah sampai kampus tidak ada hasil, maka sayapun pergi ke perpus kampus pusat. Di sana saya bertemu dengan Ustadz Asep Sunarko, salah satu guru fovorit saya. Maka saya pun berdiskusi dengan beliau perihal proposal yang sedang saya kerjakan. 

Terbuka dan mengasyikan. Itulah kesan saya ketika bersama dengan beliau. Wawasannya yang luas serta ketaatanya dengan dunia pesantren membuat saya selalu terpukau dengan nasehat-nesehatnya. Dalam pertemuan tersebut selaian beliau memberikan arahan-arahan mengenai proposal yang harus saya kerjakan, beliau juga memberi saya target waktu 10 hari. Artinya 10 hari lagi saya menemui beliau lagi. Beliau menganggap bahwa saya pun mampu untuk melakukan itu. Dan yang harus digaris bawahi adalah begaimana saya bisa memimpin orang lain ketika saya tidak bisa memimpin diri sendiri.

Diskusi, keluh kesah dan nasehat. Itulah yang kami lakukan ketika kami bertemu. Yua, beliau adalah salah satu orang yang saya jadikan rujukan ketika saya mempunyai persoalan. Termasuk ketika dulu saya mau menjadi ketua IPNU. Saya ingat dulu ketika beliau berpesan kepada saya untuk mengfokuskan ke Al-Qur’annya dulu dan jangan terlalu fokus ke organisasi. Beliau berpesan agar saya mematangkan keilmuan terlebih dahulu sebelum mencebur ke dunia organisasi. Namun, entah lah waktu itu mungkin karena dilema sehingga saya pun menerima tawaran untuk menjadi ketua IPNU. Posisi menjadi ketua membuat saya harus sering pergi dan tumbuhlah perasaan tidak enak kepada sesama santri di pondok pesantren Al-Asy’ariyah. Karena memang mereka jarang yang ikut organisasi, untuk tidak mengatakan tidak ada. Maka akhirnya sayapun pamitan kepada lurah pondok dan Pak Kyai As’ad untuk cuti mondok. Hahaha 

Cuti? Ya, bahasa cuti mungkin terbilang baru untuk dunia pesantren dan membuat yang mendengarnya pun tertawa. Semester empat, ya hanya satu semesterlah saya berada di pondok. Setelah itu saya banyak di banjar, meratapi kesendirian dan ketidak jelasan. Hahaha Dinamika hidup yang harus saya alami mungkin. Dan di akhir saya akan mengakhir masa jabatan, saya pun mendapat jawaban mengenai kebenaran yang dulu Pak Asep pernah nasehatkan kepada saya. 

Dalam diskusi pagi tadi, beliau memberikan beberapa contoh tentang konsep mematangkan keilmuan terlebih dahulu sebelum benar-benar terjun ke masyarakat. Lihat saja Gus Dur, sebelum menjadi ketua PBNU ia banyak menghabiskan usianya untuk belajar. KH. Hasyim Asy’ari pun mendami keilmuan terlebih dahulu sebelum mendirikan NU. KH. Ahmad Dahlan mendalami ilmu di Mekkah sebelum akhirnya mendirikan Muhammadiyah. KH. Abdul Karim pendiri pesantren Lirboyo harus belajar selama 50 tahun sebelum akhirnya mendirikan Pesantren Lirboyo. Kiriman fatehah pun mengalir kepada beliau. 

Tahukah kamu bahwa yang membuatmu dihormati dan disegani itu bukan jabatannnya tetapi karena keilmuannya.

Beberapa cotoh di atas yang beliau ceritakan sebenarnya adalah menunjukan kepada saya untuk tidak buru-buru, tetapi sabar sedikit untuk memperdalam ilmunya. Dia pun pernah mengalaminya, sebelum kuliah dia menetap terlebih dahulu selama dua tahun untuk mendami kitab sehingga ketika ia mengajar sudah tidak perlu menenteng kitab karena apa yang dia pelajari sudah berpindah kesini (sambil memegang kepalanya). Kisahnya menceritakan pengalamannya dulu. 

Kegalauan-kegalauan yang saya alami sekarang mungkinkah karena memang intelektual saya belum matang? Mungkin saja begitu. Dia pun berkisah tentang rutinan waqi’ahan yang pernah beliau rintis dengan murid-murid MA Al-Hidayah sebagai anggotanya. Menyenangkan, begitulah kesan dari murid-murid yang beliau ajari. 

Dalam tahap tertentu, jadikan orang yang menurut dengan apa yang kamu perintahkan bukan karena takut tetapi karena takdzim ingin melayani seperti laiknya di dunia pesantren antara seorang santri dan kyai. 

Kemudian dalam tahapan tertentu, orang yang melakukan apa yang kamu perintahkan dengan perasaan bahagia atau senang, laiknya seseorang yang mengatakan “asik” ketika mendapat jatah libur kerja.
Dan terlalu buru-buru kah saya waktu itu?
Entahlah yang jelas, tidak ada yang perlu disesali. Semua memang sudah Allah gariskan. Hanya saja jika bisa diperbaiki maka perbaikilah. Perdalam keilmuan terlebih dahulu. Pesantren, meneruskan apa yang pernah saya rintis. Mungkin itu pilihan yang akan saya ambil pasca selesai jabatan di IPNU. Beberapa mimpi yang pernah saya tulis, saya akan menyimpannya dan Tuhan selalu punya cara menakjuban untuk menunjukan jalan terbaik bagi setiap hamba-Nya, termasuk jalan menuju tercapainya mimpi-mimpi yang pernah saya gantungkan di langit.

Perpusda Wonosobo, 22 Februari 2016 16:06 WIB

You Might Also Like

2 comments: