Benih Kesombongan

02:33:00 Mad Solihin 0 Comments


Malam sudah begitu larut. Tak ada kehidupan disekitarnya, semua sudah tertidur pulas dengan mimpi-mimpinya. Hanya tinggal Rijal seorang yang masih terjaga ditemani musik MP3 yang diputar melaui netbook kesayangannya. Buku-buku pun masih tergeletak berserakan di sampingnya yang sengaja tak ia rapikan setelah melembur mengerjakan tugas akhir kuliahnya. Sepuluh hari, ya itulah waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugasnya sampai Bab II oleh salah satu ustadznya senin kamarin. 

Dalam beberapa hal, penetapan deadline memang menjadi kekuatan yang cukup ampuh untuk menaklukan rasa malas dan menunda-nunda sesuatu. Tanpanya terkadang seseorang menyepelekan sesuatu dengan meniatkan akan mengerjakannya besok. Ketika waktu telah tiba, maka ia pun kembali meniatkan untuk mengerjakan besok, besok, besok dan besok. Hingga akhirnya hari berganti minggu, minggu berganti bulan, sesuatu yang diniatkan pun tak pernah jadi nyata. Ah, betapa sering seseorang berlindung pada tembok yang namanya “tenang masih ada waktu”. 
Selain faktor deadline, alasan kenapa Rijal melembur adalah karena tiga hari sebelum deadline waktunya tiba, ada kagiatan. Rasanya tidak mungkin ia bisa mengerjakan bersamaan dengan kegiatan tersebut. Maka ia pun mencoba mengebut agar sebelum ia berangkat, tugas kuliahnya sudah kelar sehingga tak menjadi beban ketika ditinggal.

“Siapa lagi kalau bukan kamu. Tidak ada yang bisa.” Itulah kata yang dikatakan oleh ustadz Narko sewaktu Rijal mengonsultsikan tugas kuliahnya. Kata-kata tersebut secara tidak langsung menanamkan sikap sombong kepada pendengarnya. Karena orang yang mendengarnya bisa jadi merasa bagai sosok pahlawan yang kehadirannya begitu penting. Tanpanya sesuatu menjadi kacau. 

Ah, benarkah begitu? Pikir Rijal merenungi apa yang dikatakan oleh Ustadz Narko kemarin. “Memang ucapan tersebut bisa menjadi semacam penanaman benih kesombongan, tetapi benarkah itu. Ah, tergantung pemaknaanya saja,” katanya dalam hati.

Namun seberapa pun ia mencoba mengelak, hatinya tetap saja mengiyakan. Apalagi kata-katanya bukan untuk melemahkan tetapi lebih untuk menasehati. Toh ia tak punya kepentingan apapun selain menginginkan dirinya menjadi lebih baik. 

Banjarnegara, 24 Februari 2016 02:28 WIB

You Might Also Like

0 comments: