Benih Kesombongan

Benih Kesombongan

02:33:00 Add Comment

Malam sudah begitu larut. Tak ada kehidupan disekitarnya, semua sudah tertidur pulas dengan mimpi-mimpinya. Hanya tinggal Rijal seorang yang masih terjaga ditemani musik MP3 yang diputar melaui netbook kesayangannya. Buku-buku pun masih tergeletak berserakan di sampingnya yang sengaja tak ia rapikan setelah melembur mengerjakan tugas akhir kuliahnya. Sepuluh hari, ya itulah waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugasnya sampai Bab II oleh salah satu ustadznya senin kamarin. 

Dalam beberapa hal, penetapan deadline memang menjadi kekuatan yang cukup ampuh untuk menaklukan rasa malas dan menunda-nunda sesuatu. Tanpanya terkadang seseorang menyepelekan sesuatu dengan meniatkan akan mengerjakannya besok. Ketika waktu telah tiba, maka ia pun kembali meniatkan untuk mengerjakan besok, besok, besok dan besok. Hingga akhirnya hari berganti minggu, minggu berganti bulan, sesuatu yang diniatkan pun tak pernah jadi nyata. Ah, betapa sering seseorang berlindung pada tembok yang namanya “tenang masih ada waktu”. 
Selain faktor deadline, alasan kenapa Rijal melembur adalah karena tiga hari sebelum deadline waktunya tiba, ada kagiatan. Rasanya tidak mungkin ia bisa mengerjakan bersamaan dengan kegiatan tersebut. Maka ia pun mencoba mengebut agar sebelum ia berangkat, tugas kuliahnya sudah kelar sehingga tak menjadi beban ketika ditinggal.

“Siapa lagi kalau bukan kamu. Tidak ada yang bisa.” Itulah kata yang dikatakan oleh ustadz Narko sewaktu Rijal mengonsultsikan tugas kuliahnya. Kata-kata tersebut secara tidak langsung menanamkan sikap sombong kepada pendengarnya. Karena orang yang mendengarnya bisa jadi merasa bagai sosok pahlawan yang kehadirannya begitu penting. Tanpanya sesuatu menjadi kacau. 

Ah, benarkah begitu? Pikir Rijal merenungi apa yang dikatakan oleh Ustadz Narko kemarin. “Memang ucapan tersebut bisa menjadi semacam penanaman benih kesombongan, tetapi benarkah itu. Ah, tergantung pemaknaanya saja,” katanya dalam hati.

Namun seberapa pun ia mencoba mengelak, hatinya tetap saja mengiyakan. Apalagi kata-katanya bukan untuk melemahkan tetapi lebih untuk menasehati. Toh ia tak punya kepentingan apapun selain menginginkan dirinya menjadi lebih baik. 

Banjarnegara, 24 Februari 2016 02:28 WIB
Terlalu Buru-Burukah Saya?

Terlalu Buru-Burukah Saya?

16:14:00 2 Comments
Saya masih setia duduk memandangi netbook dengan buku persis berada disampingnya. Suara hujan terdengar begitu nyaring menandakan air yang turun sangat deras. Revisi proposal, ah rasanya sudah cukup lama sejak seminar gelombang III yang saya ikuti. Namun, kesibukan yang tak menentu membuat saya jarang mengunjungi kampus guna mencari buku untuk menunjang dan menambah daftar referensi.

Sibuk? Benarkah? Mungkin hanya alibi saja. Malas bisa jadi salah satunya. Beberapa buku yang saya pinjam dari perpus Banjarnegara dan Wonosobo nyatanya jarang saya jamah. Padahal waktu pinjam juga sudah lama dan telat. Ah biarkan saja, kalau harus bayar denda ya anggap saja itu sebagai konsekuensi. 

Pagi tadi saya menyempatkan untuk berkunjung ke kampus, tujuan saya adalah ke perpus fakultas tarbiyah. Sayang, perpus tutup dan menurut salah satu mahasiswa yang saya temui katanya sedang ada rapat. Dari pada sia-sia sudah sampai kampus tidak ada hasil, maka sayapun pergi ke perpus kampus pusat. Di sana saya bertemu dengan Ustadz Asep Sunarko, salah satu guru fovorit saya. Maka saya pun berdiskusi dengan beliau perihal proposal yang sedang saya kerjakan. 

Terbuka dan mengasyikan. Itulah kesan saya ketika bersama dengan beliau. Wawasannya yang luas serta ketaatanya dengan dunia pesantren membuat saya selalu terpukau dengan nasehat-nesehatnya. Dalam pertemuan tersebut selaian beliau memberikan arahan-arahan mengenai proposal yang harus saya kerjakan, beliau juga memberi saya target waktu 10 hari. Artinya 10 hari lagi saya menemui beliau lagi. Beliau menganggap bahwa saya pun mampu untuk melakukan itu. Dan yang harus digaris bawahi adalah begaimana saya bisa memimpin orang lain ketika saya tidak bisa memimpin diri sendiri.

Diskusi, keluh kesah dan nasehat. Itulah yang kami lakukan ketika kami bertemu. Yua, beliau adalah salah satu orang yang saya jadikan rujukan ketika saya mempunyai persoalan. Termasuk ketika dulu saya mau menjadi ketua IPNU. Saya ingat dulu ketika beliau berpesan kepada saya untuk mengfokuskan ke Al-Qur’annya dulu dan jangan terlalu fokus ke organisasi. Beliau berpesan agar saya mematangkan keilmuan terlebih dahulu sebelum mencebur ke dunia organisasi. Namun, entah lah waktu itu mungkin karena dilema sehingga saya pun menerima tawaran untuk menjadi ketua IPNU. Posisi menjadi ketua membuat saya harus sering pergi dan tumbuhlah perasaan tidak enak kepada sesama santri di pondok pesantren Al-Asy’ariyah. Karena memang mereka jarang yang ikut organisasi, untuk tidak mengatakan tidak ada. Maka akhirnya sayapun pamitan kepada lurah pondok dan Pak Kyai As’ad untuk cuti mondok. Hahaha 

Cuti? Ya, bahasa cuti mungkin terbilang baru untuk dunia pesantren dan membuat yang mendengarnya pun tertawa. Semester empat, ya hanya satu semesterlah saya berada di pondok. Setelah itu saya banyak di banjar, meratapi kesendirian dan ketidak jelasan. Hahaha Dinamika hidup yang harus saya alami mungkin. Dan di akhir saya akan mengakhir masa jabatan, saya pun mendapat jawaban mengenai kebenaran yang dulu Pak Asep pernah nasehatkan kepada saya. 

Dalam diskusi pagi tadi, beliau memberikan beberapa contoh tentang konsep mematangkan keilmuan terlebih dahulu sebelum benar-benar terjun ke masyarakat. Lihat saja Gus Dur, sebelum menjadi ketua PBNU ia banyak menghabiskan usianya untuk belajar. KH. Hasyim Asy’ari pun mendami keilmuan terlebih dahulu sebelum mendirikan NU. KH. Ahmad Dahlan mendalami ilmu di Mekkah sebelum akhirnya mendirikan Muhammadiyah. KH. Abdul Karim pendiri pesantren Lirboyo harus belajar selama 50 tahun sebelum akhirnya mendirikan Pesantren Lirboyo. Kiriman fatehah pun mengalir kepada beliau. 

Tahukah kamu bahwa yang membuatmu dihormati dan disegani itu bukan jabatannnya tetapi karena keilmuannya.

Beberapa cotoh di atas yang beliau ceritakan sebenarnya adalah menunjukan kepada saya untuk tidak buru-buru, tetapi sabar sedikit untuk memperdalam ilmunya. Dia pun pernah mengalaminya, sebelum kuliah dia menetap terlebih dahulu selama dua tahun untuk mendami kitab sehingga ketika ia mengajar sudah tidak perlu menenteng kitab karena apa yang dia pelajari sudah berpindah kesini (sambil memegang kepalanya). Kisahnya menceritakan pengalamannya dulu. 

Kegalauan-kegalauan yang saya alami sekarang mungkinkah karena memang intelektual saya belum matang? Mungkin saja begitu. Dia pun berkisah tentang rutinan waqi’ahan yang pernah beliau rintis dengan murid-murid MA Al-Hidayah sebagai anggotanya. Menyenangkan, begitulah kesan dari murid-murid yang beliau ajari. 

Dalam tahap tertentu, jadikan orang yang menurut dengan apa yang kamu perintahkan bukan karena takut tetapi karena takdzim ingin melayani seperti laiknya di dunia pesantren antara seorang santri dan kyai. 

Kemudian dalam tahapan tertentu, orang yang melakukan apa yang kamu perintahkan dengan perasaan bahagia atau senang, laiknya seseorang yang mengatakan “asik” ketika mendapat jatah libur kerja.
Dan terlalu buru-buru kah saya waktu itu?
Entahlah yang jelas, tidak ada yang perlu disesali. Semua memang sudah Allah gariskan. Hanya saja jika bisa diperbaiki maka perbaikilah. Perdalam keilmuan terlebih dahulu. Pesantren, meneruskan apa yang pernah saya rintis. Mungkin itu pilihan yang akan saya ambil pasca selesai jabatan di IPNU. Beberapa mimpi yang pernah saya tulis, saya akan menyimpannya dan Tuhan selalu punya cara menakjuban untuk menunjukan jalan terbaik bagi setiap hamba-Nya, termasuk jalan menuju tercapainya mimpi-mimpi yang pernah saya gantungkan di langit.

Perpusda Wonosobo, 22 Februari 2016 16:06 WIB
Teruslah Belajar

Teruslah Belajar

22:04:00 Add Comment
Tulisan terbaru, itulah yang ditunggu beberapa hari ini. Entah sudah berapa kali ia melihat blog miliknya, namun lagi-lagi tak ia dapati tulisan terbarunya dan masih saja post lama. Sibuk, begitulah pikirnya. Ia pun menyadari hal itu apalagi memang sekarang waktunya semakin dekat dengan hari dimana ia akan berjuang melawan tulisan yang menuntut dirinya menjawab dengan jawaban yang benar.

“Semoga sukses dan dimudahkan dek”, katanya dalam hati.

Aksi nyata, berbuat untuk Indonesia. Itulah yang ada dalam angannya disela-sela membaca tulisan inspiratif milik Mas Gun, sapaan untuk pemuda yang mempunyai nama lengkap Kurniawan Gunadi. Dari profil yang ditulis di situs blognya, ia adalah alumni FIM 17. Itulah salah satu faktor yang membuatnya tertarik untuk bisa mengikuti kegiatan kepemudaan berskala nasional, FIM 18. Pun demikian dengan kegiatan yang belum lama ini ia ikuti di Jogja, Indonesian Youth Dream Camp 2015. Komunitas yang didirikan oleh Mas Puguh Dwi Kuncoro sebagai foundernya, juga alumni FIM 17.

Akh, kenapa baru sekarang ia ikut acara seperti ini. Kenapa baru sekarang ketika tinggal beberapa bulan lagi status mahasiswanya habis. Kenapa tidak dari dulu sewaktu masih duduk di Madrasah Aliyah. Sesal Rijal dalam hati. Namun, ia pun menyadari bahwa penyesalan tak pernah mengembalikan waktu yang telah berlalu. Hanya satu yang bisa ia lakukan, terus belajar, belajar dan belajar. Mengupgrade agar segala potensi yang dimilikinya bisa ia keluarkan dan menjadi pribadi yang berkualitas serta bisa menginspirasi orang lain.

Bukankah pribadi seperti itu yang Rasulullah harapkan dari umatnya. Pribadi yang bermanfaat untuk orang lain serta bisa menebarkan kebaikan. Tulisan adalah salah satu medianya, demikian keyakinan yang Rijal pegang sampai saat ini. Setidaknya ketika ia tidak bisa memberikan harta ataupun tenaga untuk membantu orang lain, dengan tulisan yang ia buat semoga bisa menginspirasi orang lain untuk berbuat kebaikan. Minimal bisa memberikan motivasi kepada orang yang membacanya ke arah yang lebih baik. Semoga.


Banjarnegara, 12 Februari 2016 21:58 WIB
Makesta IPNU IPPNU Kecamatan Batur & Pejawaran

Makesta IPNU IPPNU Kecamatan Batur & Pejawaran

06:44:00 Add Comment
Saya selalu percaya bahwa akan ada orang yang Allah kirimkan untuk membantu kita melakukan kebaikan.
Ahad-Senin, 7-8 Februari 2016 adalah saat dimana Makesta IPNU IPPNU Kecamatan Batur & Pejawaran di laksanakan, tepatnya bertempat di SMK Al-Mabrur Pejawaran. Makesta yang membuat saya kagum sekaligus tidak menyangka pesertanya mencapai 249 anak. Sesuatu yang sangat menggembirakan tentunya sebagai prestasi peserta terbanyak selama dua periode kepengurusan.

Keberhasilan ini tidak lepas dari peran Mas Musyafa’ selaku ketua beserta jajaran kepengurusan PAC Ansor Kecamatan Batur dalam melakukan kordinasi dan konsolidasi. Bisa dibilang, semua itu adalah kerja dari Ansor. Adapun dari pengurus cabang ipnu ippnu hanya mengkonsep acaranya. Namun, saya pun merasakan kebanggan tersendiri melihat antusiasme dari peserta mengikuti makesta. Setidaknya apa yang saya lakukan meskipun hanya dua kali bersilaturahim membuahkan hasil.

Pertama silaturahim bersama dengan Mas Faruq yang kebetulan sering mengantar Mbah Jueni mengisi pengajian di Batur sehingga dia pun paham dengan tokoh-tokoh di Batur. Pun dengan bapaknya, semuanya tahu tentangnya. Silaturahim pertama kami mendatangi rumah Bu Faizah selaku ketua muslimatnya, kemudian ke tempat Pak Awaludin yang sekarang menjadi Sekretaris PCNU Banjarnegara dan terakhir ke tempat Pak Kyai Zainal selaku Syuraihnya. Dari Pak Zainal inilah kami disarankan untuk mengikuti pertemuan rutin slapanan setiap Kamis Kliwon. Maka kami pun menyanggupi untuk ikut kegiatan rutinan tersebut.

Ah ya, Kamis tepat hari slapanan tersebut sebenarnya saya ada acara ke Jogja bersama dengan teman sekelas, rekreasi untuk mengakhiri semester VII (Tujuh). Tetapi karena tak ada orang yang dapat saya andalkan waktu itu dan posisiku sebagai ketua yang mempunyai tanggung jawab mendirikan pac ipnu ippnu, maka saya pun memilih untuk tidak ikut berlibur dengan teman-teman sekelas dan memilih untuk menghadiri acara rutinan MWC NU Kecamatan Batur. Walau sebenarnya saya pun ingin ikut berlibur karena selama ini memang tak pernah ada kesempatan libur bersama dan baru kali ini bisa terlaksana.
Tetapi bukankah hidup memang selalu menuntut kita untuk memilih. Dalam segala hal, kita selalu diberi pilihan. Pilihan itu akan menentukan apa yang akan terjadi selanjutnya. Termasuk makesta kali ini adalah buah dari pilihan saya memilih ikut rutinan acara MWC NU Kecamatan Batur.
Slapanan MWC NU ini adalah silaturahim kedua saya di Batur bersama dengan Mas Faruq dan Fikri. Tujuannya satu, meminta izin dan doa restu untuk mengadakan acara Makesta dan alhamdulillah mendapat tanggapan positif. Selesai slapanan kami kembali menemui Mas Musyafa’. Di pertemuan ini lah kami akhirnya menentukan tanggal pelaksanaan dan kesepakatan untuk acara makesta. Kami atas nama Cabang membuat konsep acara sedangkan Mas Musyafa’ memfasilitasi semua keperluan termasuk mengumpulkan anak yang akan ikut makesta. Ada proses gayung bersambut, saya ingin membentuk kepengurusan PAC, beliau juga telah mengharapkan ada ipnu ippnu di Batur.

Alhamdulillah acaranya berjalan lancar dan terbentuk dua kepengurusan, PAC IPNU IPPNU Kecamatan Batur dan Pejawaran. Ibarat berlayar, sekali berlayar dua pulau terlampoi.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mensukseskan acara, kepada jajaran Pengurus Ansor Kecamatan Batur, Pengurus PC PNU IPPNU Kabupaten Banjarnega, CBP KPP Banjarnegara dan semua yang tidak bisa disebut satu persatu. Terima kasih atas bantuannya. Jazakumullah ahsanal Jaza’.

Kepada rekan dan rekanita yang terpilih, Selamat semoga bisa amanah dan menjalankan roda organisasi membawa IPNU IPPNU Kecamatan Batur dan Pejawaran lebih baik lagi.
Jika engkau merasa berjalan sendiri. Tetaplah berjalan, karena ketika engkau berjalan maka Allah akan mengirimkan patner yang akan menemanimu berjalan. Ibarat lilin, tetaplah menyala karena energi panas serta sinarnya akan membuat lilin-lilin yang lain ikut menyala. Percayalah, bahwa Tuhan tidak akan membiarkan hamba-Nya berjalan sendiri.

Pringamba, 10 Februari 2016 01:16 WIB 
Taklukan Masalahmu Rijal

Taklukan Masalahmu Rijal

19:38:00 Add Comment
Tak ada yang datang. Tidakkah mereka menganggap bahwa acara ini penting? Atau karena mereka punya kesibukan sendiri-sendiri. Akh ... serasa malas jadinya. Apakah semua harus dia yang mengerjakan. Tak ada konfirmasi, tak pula ada kejelasan. Dan ini bukan kali pertamanya, bahkan sudah seperti menjadi langganan, berkali-kali.

Entahlah, ada kah yang salah dengan dirinya. Atau siapa yang harus ia salahkan??

Sore itu Rijal kembali merenungi apa yang telah terjadi. Selama ini dia seolah sendiri. Memahami, rasanya sudah sering ia lakukan. Jarak, uang, kepentingan lain, itukah yang menjadi alasan mereka? Arggghhh ... serasa ingin marah dan berteriak sekencang-kencangnya jika mengingatnya kembali.

Mengeluh. Harus kah ia lakukan? Pada siapa ia akan mengeluh? Sesama pengurus? Itu hanya akan menjadikan yang mendengar menjadi tak semangat. Pada anggota yang baru, sama saja ia juga akan melenyapkan semangat mereka. Ia pun menyadari bahwa keluhan hanya akan menunjukan bahwa dirinya orang yang lemah dan bagi seorang pemimpin itu bukan hal yang baik. Keluhan hanya akan membuat pendengarnya merasa terganggu. Biarlah ia menyimpannya sendiri. Biarlah orang lain tahu manisnya saja dan tak usah tahu pahitnya.

Tiba-tiba saja ia teringat sesuatu. Allah, ya. Allah. Bukankah semua berasal dari-Nya. Dia lah tempat yang tepat untuk berkeluh kesah. Dia tak akan pernah bosan mendengar keluhan hamba-Nya. Dia lah sumber kekuatan.

“Tulislah masalahmu, siapa tahu dengan menuliskannya bisa membuatmu tenang,” pesan seorang teman suatu ketika. Tetiba saja ia ingat perkataan temannya tersebut. Katanya ia akan menuliskan masalahnya ketika sudah benar-benar kronis. Maka tak mau berlama-lama, Rijal yang sedari tadi melamun segera mengambil pena serta buku dan segera menuliskan apa yang ia rasakan.
Rijal, percayakah engkau bahwa pelaut ulung itu adalah hasil didikan badai ombak laut yang mengerikan? Ya, seorang pelaut ulung tak mungkin menjadi hebat jika hanya berlayar di laut yang airnya tenang. Begitupun dengan masalah, bukankah masalah itu menguatkanmu. Bukan malah menjadikanmu menjadi lemah dan tak berdaya. Masalah itu mendidikmu agar engaku bisa berpikir keras untuk mencari solusinya. Bukankah masalah memang selalu punya solusinya? Jika engkau tak percaya, mungkin karena engkau malas untuk berusaha mencarinya. Percayalah bahwa masalah adalah salah satu cara Allah mendidikmu agar menjadi pribadi yang hebat dan tangguh. Hanya satu kuncinya, Taklukan.
Kini perasaannya lebih tenang. Benar lah dengan menuliskan apa yang ia rasakan bisa menjadi obat atas masalah yang ia hadapi. “Baik lah aku bukan lah pecundang, aku adalah pemenang. Aku kuat dan aku mampu,” hatinya membatin.


Banjarnegara, 4 Februari 2016 19:30 WIB
Tanda Tangan Kontrak

Tanda Tangan Kontrak

18:05:00 Add Comment
Selasa lalu bersama dengan Eman, untuk yang ketiga kalinya saya pergi ke kantor Bumida Muda di Purwokerto. Jika yang pertama dan kedua adalah untuk pelatihan maka yang ketiganya adalah untuk tanda tangan kontrak (MoU) serta menyerahkan ijazah sebagai jaminan keseriusan. Dan ini adalah pengalaman pertama saya benar-benar merasakan iklim kerja. Walau santai dan tidak menuntut ke kantor laiknya pegawai tetap, tetapi cukuplah ini menjadi tempat untuk mengukur seberapa kemampuan yang saya miliki.

Penghasilan sendiri. Akh ya, umur saya sudah terlalu tua dan malu juga jika harus meminta uang kepada orang tua terus-menerus. Dalam keadaan tertentu bolehlah meminta, tetapi untuk uang harian haruskah meminta terus menerus? Tentu saja tidak. Bahkan kalau bisa wajib untuk membantu mereka.
Kegiatan organisasi juga tak pernah bisa berjalan tanpa ada sarana pendukungnya salah satunya adalah uang. Tak mungkin kendaraan saya diisi air untuk pengganti bensin kan?

Wartawan. Saya masih menyimpan impian untuk kesana. Kapankah itu bisa tercapai? Biar waktu yang menunjukannya.

Pukul 10.00 WIB saya dan Eman sampai di Kantor Bumidaputera Muda. Setelah kami masuk dan disuruh untuk langsung ke lantai 2. Ternyata disana juga sedang ada diklat seperti yang kami lakukan sebelumya. Hanya saja jumlahnya Cuma 3 orang, 2 seorang perempuan dan satu laki-laki. Kami pun menyalami Pak Fathul Razi selaku Kasie Pemasaran yang saat itu sedang memberi materi.

Selang beberapa menit setelah kami duduk, Pak Rudi yang menjadi Superviewsor kami datang. Seusai salaman, beliau langsung menunjukan contoh sekolah yang sudah ikut asuransi pengamanan sekolah. Tanya jawab tentang asuransi pun kami lakukan sebelum kami disuruh untuk menemui Pak Sayuri, SE selaku Kepala Cabang Bumidaputera Muda Purwokerto. Jika melihat penampilan, ia masih terlihat muda kisaran umur 30 an lebih.

Dalam ceritanya, dia mengawali karier dari seorang marketing ketika kuliah semester 3. Kalau tidak salah tahun 94 an, waktu yang cukup lama sehingga ketika sekarang bisa menjadi kepala cabang itu hal yang wajar. Artinya untuk mencapai sesuatu memang membutuhkan proses panjang dan step by step, tidak langsung sekaligus.

Sebelum kami menandatangani MoU dengan Bumidaputera Muda, Pak Sayuri, SE. memberikan beberapa wejangan/nasehat seputar dunia marketing. Tentunya apa yang ia sampaikan berasal dari pengalaman beliau selama ini.
1.      Performance (Penampilan)
Sama halnya dengan perusahaan-perusahaan yang lain, di Bumida juga ada peraturan mengenai pakaian apa yang harus dikenakan. Senin-Selasa menggunakan kemeja lengan panjang, Rabu-Kamis menggunakan batik dan Jum’at menggunakan pakaian causal/bebas yang penting jangan kaos meskipun kaos tersebut berkerah. Dalam hati saya membatin, itu sesuatu yang saya tak inginkan sebenarnya. Saya ingin apapun pakaiannya bebas, namun itu adalah peraturan ya harus diikuti dan itu bukanlah masalah. Hanya saja tak ada kemeja dan dasi karena selama ini saya hanya membeli baju lengan pendek dan tidak pernah membeli kemeja lengan panjang. Bahkan untuk mengikuti pelatihan kamarin saya pun harus membeli kemeja putih lengan panjang.

Penampilan, pentingkah? Tentu penampilan sangat penting. Karena dari penampilanlah orang pertama kali akan melihat kita. Kita pun harus menyesuaikan siapa yang akan kita temui, jika ke bank hari senin-selasa maka wajib menggunakan kemeja dan berdasi, ke sekolah atau siapa pun audiennya kita harus menyesuaikan. Intinya jangan sampai penampilan kita lebih rendah daripada orang yang akan kita temui. Begitupun tentang tas, biasakan menggunakan tas cangklong bukan tas gendong. Deg, langsung deh kena karena selama ini kemanapun saya pergi pasti menggunakan tas gendong. Boleh si tas gendong, asal tas tersebut tas laptop.
2.      Planning (Rencana)
Bergeraklah sesuai rencana dan lebih baik tidak bergerak jika tak punya rencana. Demikianlah Pak Sayuri menjelaskan pentingnya rencana. Apa yang akan kita lakukan besok, besoknya dan besoknya. Karena tanpa rencana kita hanya akan berjalan tanpa memperoleh apapun. Sehingga lebh baik tidak bergerak ketika kita tidak mempunyai rencana. Dalam dunia marketing ini menjadi hal yang penting, pasalnya seorang marketing itu akan mendapatkan hasil jika apa yang ditawarkan laku. Dalam hal asuransi, seorang marketing akan mendapat income ketika ada orang yang ikut asuransi. Ketika tidak ya tidak ada income.
3.      Action
Setelah planning dibuat maka yang harus dilakukan adalah menjalankan planning tersebut. Di sini seorang marketing harus memasang muka tembok karena tidak mudah orang yang didatangi mau membeli apa yang ditawarkan. Ulang ulang ulang dan ulang. Begitulah beliau berpesan. Karena untuk bisa menarik sebuah benang merah ataupun kesimpulan, maka kita harus mengalami proses yang berulang. Orang yang seperti A, kita harus seperti ini. Orang yang seperti B, kita harus seperti itu. Yang jelas ada trial and eroruntuk bisa berhasil.
4.      Evaluasi
Sudah benarkah kita? Tentu saja kita merasa begitu, namun percayalah bahwa ternyata masih banyak kekurangan yang kita miliki hanya saja kita tak menyadarinya. Disinilah evaluasi diperlukan. Untuk mengingatkan dan memperbaiki hal-hal yang masih salah.
5.      Jaga Nama Baik Perusahaan
Menjaga nama baik perusahaan adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Jika suatu ketika kita berhenti bekerja kemudian menjelek-jelekkan perusahaan, maka ketika kita pindah di perusahaan baru kita juga berpotensi untuk menjelek-jelekkan perusahaan yang baru. Begitulah tabiat manusia.


Bismillah semoga ini menjadi tempat belajar untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik.