Teruntuk Dosenku Mr. M

18:16:00 Mad Solihin 0 Comments

“Karena otak tidak dapat memperhatikan semua hal, maka pelajaran yang tidak menarik, membosankan, atau tidak menggugah emosi, pastilah tidak akan diingat.” (Launa Ellison)

Entah kenapa sampai hari ini saya masih kepikiran dengan kejadian Jum’at lalu saat saya mau mengumpulkan tugas dan ternyata tidak diterima -untuk tidak mengatakan ditolak-. Nilai ? Bukan itu. Terus apa ? Entahlah, yang jelas saya ingin menuliskannya disini. Rumah sederhana tempat dimana saya akan mencurahkan hal yang saya rasa rasakan.

Selamat Sore Mr. M (biarkan saya saja yang tahu) gimana kabarnya hari ini? Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan memudahkan segela urusan bapak. Aamin. Kejadian kemarin Jum’at, terima kasih pembelajarannya yang berharga walau ada hal yang membuat saya sampai hari ini masih belum bisa melupakan.

Baiklah, melalui tulisan ini saya hanya ingin agar hati saya plong, merasa kan kelegaan. Karena ada yang bilang salah satu terapi agar hati lega adalah menuliskannya. Dan itulah yang saya lakukan.

“Kamu kelamaan, baru saja saya setorkan”. Itulah yang bapak katakan waktu itu. Jika memang baru saja disetorkan, berarti saya hanya terpaut waktu sebentar donk pak. Kenapa bapak bersikukuh bahkan sampai berkata “Saya Tidak Mau” untuk mengambil daftar yang baru bapak setorkan. Akh .. padahal saya sudah menawarkan untuk mengambilkannya. Ketika saya menyetorkan tugas, kemudian bapak memberikan nilai. Apakah bapak harus mengambil kembali semua nilai ? Tidak bisakah misalkan bapak hanya menyetorkan nilai milik saya ? Serumit itu kah ?

Sama seperti mahasiswa lain, saya pun membayar sesuai dengan tagihan. Bukankah ketika saya telah memenuhi kewajiban, maka saya juga punya hak untuk mendapatkan hak saya?

Itu hanya unek-unek saya saja. Kenapa saya tuliskan? Karena saya tidak mau berdebat hanya masalah keterlambatan saya mengumpulkan tugas. Toh, saya sadar saya yang salah. Tapi tidak bisakah di lenturkan lagi keputusannya?

“Luk ada pesen dari pak M atas nama Heri, Rofiqoh, Alif, Madsolikhin suruh mengumpulkan tugas proposal hari ini di tunggu sampe jam 2 hari ini terakhir” (Tertanggal Rabu, 13 Jan 2016 Pukul 11.44 WIB)

Itulah pesan yang disampaikan oleh salah satu teman saya tertulis di group BBM. Jam 12, jika saya mengumpulkan jam 2 rasanya tidak mungkin karena waktu itu saya sedang mengantarkan Mba’ Nur ke pasar untuk membeli tas yang rencananya malam mau berangkat ke Jambi.

Untuk menyiasati hal itu saya pun mencari-cari teman yang mempunyai no bapak. Dan syukurlah saya memperoleh nomornya. Saya pun mengirim sms, memohon maaf tidak bisa mengumpulkan hari ini dan bertanya kira-kira kapan saya bisa mengumpulkan? Sayang, Tak Ada Jawaban. Ketika Jum’at bertemu, katanya tidak ada sms masuk. (Jawaban pertama). Ketika saya menanyakan benarkan nomor yang teman saya berikan? Bapak pun mengiyakan. Kemudian bilang, saya orang yang jarang buka sms (jawaban kedua).

Karena tak ada balasan, hari berikutnya saya mencoba untuk menambah koleksi daftar pustaka sebagiaman kata teman saya minimal harus 25. Hingga akhirnya, hari Jum’at lah saya berkesempatan untuk mengajukan ke Kaprodi sekaligus untuk mengumpulkan. Hanya saja nasib sedang tak berpihak, meskipun sudah di ACC tetapi tetap saja mengumpulkannya telat dan ya mau gimana lagi lha wong katanya udah disetorkan ke bosnya.

Terlambat. Iya harus saya akui dan bukankah sikap sejati seseorang ketika mau mengakui kesalahannya. Termasuk ketika tulisan ini saya buat, saya tak akan menggunakan sudat pandang saya saja. Saya salah, iya saya salah. Karena melebihi deadline yang diberikan. Ketika konsekuensi tugas di tolak, ya namanya saja juga resiko. Bukankah itu karena ulah saya sendiri. Rabu katanya terakhir, eh Jum’at baru mengumpulkan. Bukankah itu salah ?

Hmmm ... Harus ikhlas dan mau menanggung konsekuensi. Itulah kata terakhir sebelum saya keluar ruangan milik bapak. Kalau memang itu prinsip yang bapak pegang, saya pun harus menghargainya. Karena tak mungkin donk saya harus memohon sampai menangis agar bisa diterima tugasnya. Ketika saya mencoba melobi agar mendapat tugas tambahan atau tugas lain sebagai ganti atas keterlambatan yang saya lakukan. Tidak Bisa. Kalau mau ya silahkan ikut SP. What ..? Aduh, harus membayar lagi donk !!!

Saya kira cukup lah apa yang saya tuliskan di atas untuk mengobati greget di hati yang membuncah agar dituliskan. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga buat saya agar kedepan bisa lebih baik. Terima kasih pak atas pembelajarannya meskipun harus melalui hal yang menyesakkan hati J.
_______
Bukankah salah satu tugas pendidik adalah agar muridnya berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa dan dari salah menjadi benar. Bukankah itu proses? Tetapi kenapa ketika muridnya sedang berusaha untuk memperbaiki diri, malah ditebas semangatnya.


Pojok Kamar, 18 Januari 2016 17:50 WIB

You Might Also Like

0 comments: