Simbah

12:07:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Hari itu langit terlihat cerah secerah perasaannya. Matahripun terlihat begitu bahagia menampakkan sinarnya seperti dirinya yang bahagia mengembangkan senyuman diwajahnya. Pakaianya pun terlihat begitu rapi tak seperti biasanya, berkemeja warna putih dan berdasi hitam seta dibalut dengan jas warna biru gelap. Penampilan yang jarang sekali ia lakukan dan sebenarnya memang tak ia inginkan. Hanya saja karena tuntutan sistem, maka iapun mengikuti saja.

Seminar proposal. Itulah alasan kenapa Rijal yang biasanya memakai baju berlengan pendek dan tak pernah memasukan bajunya di celana, kini penampilannya seolah seperti pekerja kantoran. Walaupun ia mengakui bahwa penampilannya terlihat rapi tetapi tetap saja itu hanya sementara.

Optimis dan tenang. Tak ada rasa cemas yang tergambar di raut mukanya, bahkan ia terlihat begitu semangat saat memasuki rungan berukuran 6x2 m, ruangan dosen penguji yang akan membantai dan menyuruhnya mengganti isi proposal yang telah ia buat. Tetapi, bukannya sedih malah ia merasa puas. Revisi bukanlah masalah menurutnya, yang penting dia menjadi paham apa yang akan ia tulis. Ya, sejak keluar dari ruangan penguji itulah ia baru menyadari bahwa proposal yang ia susun ternyata masih banyak kekuranganya. Begitupun ketika berhadapan dengan dosen penguji kedua, banyak koreksi dan lagi-lagi revisi.

“Jal, lagi dimana? Simbah di bawa ke Mendala sekarang,”sebuah pesan pendek dari ayahnya ia terima.

Seketika ia pun paham bahwa simbah di bawa ke RSI. Umur yang sudah tua membuat fisiknya semakin mudah terserang penyakit. Beberapa hari lalu ketika Rijal pulang, matanya terlihat seperti sipit. Menurut cerita dari ibunya, bahwa simbah sering asma dan sesak ketika bernafas. Bahkan sempat tidak bisa tidur karena tubuhnya terasa gerah.

“Lagi di kampus seminar proposal. Ya, nanti selesai ujian saya langsung ke RSI,” balas Rijal seketika.

Selesai seminar, Rijal pun langsung menuju RSI. Bangsal As-Salwa demikianlah nama tempat dimana simbah dirawat. Kamar nomor 7 dengan 8 ranjang pasien adalah tempat simbah dirawat. Sebuah pemandangan yang mengingatkan ia pada almarhum simbah kakung menghantui ketika melihat simbah putri tergelatak lemas di ranjang dengan selang infus terpasang di tangan. Tak hanya itu, selang oksigen juga terpasang di kedua hidungnya untuk membantu pernafasannya. Satu selang juga terpasang untuk menghindari buang air kecil di WC.


Bersambung .....

You Might Also Like

0 comments: