Sebuah Harapan

10:51:00 Mad Solihin 0 Comments

Malam ini di tempat yang begitu dingin entah ada hawa apa keinginan untuk menulis tak kuasa ku bendung. Kegiatan yang beberapa waktu sempat ku abaikan. Akh ... bukan ku abaikan tetapi tak aku sempatkan walau sebenarnya banyak hal yang ingin aku tulis.

Cinta. Ya, engkaulah yang membuatku memaksa untuk menulis. Menulis tentang kerinduan yang aku pun tak bisa untuk menuliskan apa yang aku rasa. Rindu akan bisa bergurau denganmu.

Cinta, mau kah engkau mendengar ceritaku ? Cerita tentang kegalauan yang aku rasa saat ini. Mungkin bukan galau tetapi lebih tepatnya gelisah.

Jurnalis, penulis, wartawan. Itulah yang selama ini menjadi jawaban ketika ada seseorang bertanya mengenai jurusan yang aku pilih. Tarbiyah, guru. Maka dengan jawaban idealis aku selalu mengatakan bahwa aku tak ingin menjadi guru, tetapi wartawan. Kenapa ..? Tentu ada alasan tersendiri mengapa aku menjawab demikian. Salah satunya karena aku ingin meng-update kemampuan yang aku miliki dan belum tergali sehingga jika nantinya menjadi guru, aku bisa menginspirasi bukan hanya sekedar menyampaikan materi saja.

Cinta, itu alasanku. Tentu bukan bermaksud untuk mengendorkan semangat yang engkau miliki, bukan cinta. Ketika engkau punya motivasi tersendiri aku pun menyerahkan sepenuhnya kepadamu. Teruskan cinta, pilihlah apa yang hati kecilmu katakan. Karena aku pun yakin bahwa engaku punya alasan tersendiri.

Sekitar setengah tahun lagi insya allah S1 ku selesai. Saat itu pula pergulatan pun akan aku mulai, bisakah aku menjadi seperti yang aku impikan ..? Semoga saja Allah memudahkan jalannya. Karena aku yakin tak ada yang sulit jika Allah menghendaki. Tentu ikhtiyar sebagai penjemput kehendak-Nya tak bisa diabaikan.

*Di tulis ketika bermalam di rumah Mas Imam Faruq seusai dari Batur, kordinasi dengan MWC NU dan Ansor guna pembentukan kepengurusan PAC IPNU IPPNU Kec. Batur.


Wonosobo, 8 Januari 2016 00:08 WIB

You Might Also Like

0 comments: