Satu

7:06:00 AM Mad Solihin 0 Comments

Buku

“Aku ingin punya perpustakaan. Aku ingin suatu saat nanti salah satu karyaku nagkring di rak buku berjejer dengan deretan buku yang ada disana, Pasti.” Itulah harapan yang Rijal simpan dan selalu ia katakan dalam hati ketika berkunjung ke toko buku atau mengunjungi pameran bazar buku.

Menjadi penulis, sebuah mimpi yang beberapa tahun terakhir ini begitu menguat dalam kehidupannya. Sebelumnya, ia seolah tak punya cita-cita yang pasti. Hidup mengalir laiknya air. Tapi ketika membaca salah satu tulisan tentang passion ia akhirnya berpikir, “apa passion ku?”. Salah satu tulisan yang membuat ia tersadar adalah sebuah kata, “Bekerjalah sesuai passionmu, niscaya engkau akan bahagia dan menikmatinya.”

Pasca itu ia pun mencoba untuk merenungi tentang dirinya, apa kekurangan dan kelebihannya. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mendalami dunia tulis menulis. Pilihannya itu tidak lain adalah hasil perenungan dan intropeksi diri yang ia lakukan salama ini. Selain itu pilihannya juga karena terinspirasi oleh para ulama yang kitab hasil tulisannya masih dikaji oleh para santri di pesantren seluruh nusantara. Akh .. betapa senangnya ilmunya bermanfaat dan walau sudah meninggal namun pahalanya masih saja mengalir bagaiakan air.

Ia pun selalu ingat dengan kata-katanya Pramodya Ananta Toer yang disampaikan oleh gurunya, bahwa orang boleh pandai setinggi langit, namun selama ia tidak berkarya maka iapun akan tenggelam dalam masyarkat dan dalam sejarah. Kata-kata itulah yang menjadi pelecut semangatnya.

“Hey, bengong saja. Mikirin apa? Jadi beli buku gak?” kata Rofik sambil menepuk punggung membuat Rijal kaget.

“Eh, jadi dong. Nafsuku gak kuat ku tahan lihat pameran buku gini kalau gak membelinya. Hahaha” balas Rijal sambil berkelekar.

“Fik, suatu saat nanti akan ada karyaku yang ikut berjejer dengan deretan buku baik di rak toko buku ataupun bazar seperti ini,”lanjut Rijal sambil menoleh ke arah Rofik.

“Aamiin. Semoga Allah mendengar dan mengabulkan harapanmu,” jawab Rafik sambil tertawa.

Kopi Sumatra di Amerika karya Yusran Darmawan dan Novel Kakak Batik karya Kak Seto, dua buku itulah yang dibeli oleh Rijal. Sementara Rofik hanya membeli satu buku, The Naked of Traveler karya Trinity. Dalam pemikiran keduanya buku menjadi investasi masa depan. Cara berpikirnya pun sederhana. Dari pada uangnya habis untuk membeli sesuatu yang cepet habis dan tak bersisa, mending disisihkan untuk membeli buku. Tahan lama dan pasti ada hal-hal baru yang bisa ditemukan dalam setiap buku yang dibelinya.

“Suatu saat nanti, aku akan membuat perpustakaan agar anak kecil di desaku menjadi gemar membaca dan tumbuh menjadi generasi yang mempunyai cakrawala yang luas,” kata Rijal dalam hati.


Banjarnegara, 16 Januari 2016 02:31 WIB

You Might Also Like

0 comments: