Keputuasan

5:35:00 PM Mad Solihin 0 Comments

Semut disebrang lautan nampak jelas, tetapi gajah dipelupuk mata tak terlihat.
Kira-kira seperti itulah salah satu peribahasa yang sudah sangat familier di masyarakat. Yang penafsirannya mengenai seseorang yang melakukan kesalahan kecil langsung terlihat tetapi kesalahan sendiri tidak terliahat sama sekali. Sttt .. Jangan salah tafsir terlebih dahulu. Di sini saya hanya menyoroti arti yang pertama bukan yang kedua.

Hari ini saya merasa dalam kondisi demikian. Tepatnya ketika saya menolak untuk menjadi pe***l*h. Tentu saya punya alasan tersendiri kenapa saya menolaknya. Pertama karena hati nurani saya menolak untuk membuat laporan abstrak yang tidak saya kerjakan. Walaupun mudah untuk membuatnya, tetapi ada beban moral tersendiri ketika saya membuatnya. Menulis apa yang tidak saya kerjakan. Itulah alasan yang membuat saya tidak menerima tawaran untuk mengajukan lamaran menjadi pe***l*h kembali.

Saya menyadari bahwa beliau bermaksud baik dan sangat baik malah. Tetapi bukankah kita yang menjalani konsekuensi atas apa yang kita pilih ..? Dan saya tidak mau tertekan dan merasa bersalah jika saya tak melakukan sesuai dengan kewajiban per bulan menyetorkan laporan. Selain itu, menjadi pe***l*h bukanlah keinginanku dan saat ini saya merasa tidak cocok. Saya lebih tertarik pada profesi lapangan yang bisa berkeliling dan berjelajah satu tempat ke tempat yang lain.
Keputuasan
Sabtu, 26 Desember 2015 tepatnya ketika saya mengirimkan sms untuk tidak ikut lagi. Sebenarnya ingin sowan, tetapi karena waktu yang tidak memungkinkan dan ada sms dari salah satu teman saya yang mengabarkan untuk memberikan kepastian, maka saya pun memberanikan diri untuk mengirimkan sms perihal ketidak ikutan saya di tahun berikutnya. Masalah nanti beliau marah atau sifatnya berubah kepada saya, biarlah. Setidaknya saya sudah berani mengambil keputusan sesuai dengan hati nurani saya sendiri. Daripada nanti saya yang mengutuk diri senndiri perihal ketakutan mengambil keputusan yang tidak berani untuk mengatakan “TIIDAK”. Lebih baik saya menegaskan di awal.

Karena tidak ada usaha maka tidak ada pula hasil. Nah, itu pun sudah saya pikir matang-matang. Namun saya pun yakin bahwa Allah Maha Kaya. Dia begitu mudah memberikan jalan rezeki kepada hamba-Nya. Saya pun yakin, pasti ada jalan lain yang Allah siapkan ketika saya mengambil keputusan di atas.

Masalah perasaan “tidak enak” ini lah yang terkadang membuat orang tidak berubah. Sebagaimana kamarin saya membaca buku yang bercerita tentang sekolah dimana sang Kepala Sekolah menerapkan sistem, siapapun yang terlambat baik itu siswa ataupun guru dan sataf tata usaha harus berlari mengitari halaman sebagaimana hasil musyawaroh untuk menerapkan pentingnya disiplin.

Sebelum kesepakatan tersebut dibuat, sang Kepala Sekolah tidak pernah terlambat. Suatu ketika sang Kepala Sekolah sengaja untuk datang terlambat, namun tidak ada satupun guru atau sataf tata usaha yang menghukum. Dengan kesadaran sendiri sang Kepala Sekolah pun berlari mengitari halaman yang ditonton oleh siswa dan guru.

Pada saat jam istirahat, sang Kepala Sekolah bertanya kepada guru dan sataf tata usaha yang ada di kantor, “Saya terlambat. Kenapa tidak ada yang menghukum ..?” Guru dan staf tata usaha pun menjawab, “Kami tidak enak kalau harus menghukum pimpinan kami.”

“Terima kasih jika bapak dan ibu merasa tidak enak untuk menghukum saya. Tetapi mohon diketahui bahwa sikap seperti itulah yang selalu menghambat perubahan. Karena menjadi tidak komit dan konsisten dengan kesepakatan kita. Karena bapak ibu tidak menghukum saya, maka saya pun menghukum diri saya sendiri,” demikianlah sang kepala Sekolah bertutur kepada guru dan staf tata usaha ketika itu.

Akh ... kok jadi ngelantur ya. Yang jelas saya sudah berani mengambil keputusan. Masalah itu membuat orang lain tidak berkenan, itu masalah lain. Dan apa pun konsekuensinya saya pun siap.
Bukankah setiap keputusan punya konsekuensi sendiri-sendiri ..?


Banjarnegara, 11 Januari 2016 17:29 WIB

You Might Also Like

0 comments: