Berita

21:22:00 Mad Solihin 0 Comments

Rabu, 20 Januari 2016 menjadi saat dimana saya mendapati dua kabar, bahagia dan sedih. Bahagia karena dihari tersebut saya mengikuti seminar proposal. Walaupun harus revisi tapi setidaknya saya sudah melewati satu langkap untuk bisa ikut wisuda cepat. Skripsi tak mugkin bisa dikerjakan manakala belum selesai proposal. Dan seminar proposal adalah salah satu kunci yang nantinya saya akan mendapat pembimbing untuk penyusunan skripsi. Saya berharap bahwa Dr. Ngarifin Shiddiq, M.Pd.I akan menjadi pembimbing yang akan mengarahkan bagaiaman skripsi saya nantinya. Karena beliau adalah penguji pertama dalam seminar. Rumornya, pembimbing pertama itulah yang akan menjadi penguji. Semoga saja begitu.

Alhamdulillah satu persoalan selesai. Meskipun ini jadwalnya molor begitu panjang dari kesepakatan. Tapi tak apalah yang penting saya bisa selesaikan. Alasan? Mungkin saya punya alasan yang logis kenapa melenceng dari kesepakatan, selain alasan malas tentunya. Haha

Revisi judul dan daftar rancangan skripsi. Dua poin itulah hasil seminar dengan Pak Ngarifin. Sialnya, karena mengganti judul maka isinya pun harus diganti. Akh ... parah. Siap-siap saja harus mencari buku baru lagi buat referensi. Untungnya, dari seminar tersebut saya paham apa yang harus saya tulis kedepan. Jadi punya gambaran kedepannya J

Penguji kedua adalah Bapak Haryanto. Satu poin dari beliau adalah samakan format penulisan sesuai dengan yang dibuku panduan.

Berita Sedih
Di sela-sela waktu saya sedang menunggu antrian giliran seminar proposal, tiba-tiba bapak saya sms yang mengabarkan bahwa simbah putri masuk rumah sakit. Maka saya pun menjawab bahwa saya akan segera menyusul ke RSI Wonosobo setelah ujian seminar selesai.
Berita Bahagia
Setelah kabar berita gembira dan sedih diatas, di hari yang sama saya pun mendapat kabar gembira lagi. Arisan yang ibu saya ikuti menang. Namanya keluar ketika kotak yang berisi nama-nama orang yang mengikuti arisan di kocok. Saya pun tersenyum karena kebuntuan untuk mendaftar KPM dan membayar registrasi semester VIII terbuka jalannya. Hampir 2 juta uang yang harus saya siapkan. Penghasilan orang tua sebagai petani salak tak bisa diandalkan karena baru saja dipanen kemarin. Katanya satu bulan lebih, baru bisa dipenen kembali. Padahal kuota KPM hanya 600 orang dan itu seperti lomaba, siapa cepat itu yang dapat.

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Ilahi rabbi. Karena Dia selalu memberi jalan yang kadang tak terduga. Hati saya membatin, “Saya selalu takjub dengan cara kerja Tuhan”. Ya, Allah memang selalu punya jalan agar hamba-Nya bisa tersenyum. Semoga bisa ikut wisuda gelombang pertama. Aamiin.

*Semoga cepat sembuh mbah. Barakallahu ‘alaik wa thowwil umurik wa yasyfii mardhotik.


RSI Wonosobo, 21 Januari 2016 21:15 WIB

You Might Also Like

0 comments: