17 Tahun 60 Bulan

17 Tahun 60 Bulan

03:03:00 Add Comment
Berapa usiamu kawan? Prestasi apa yang sudah kamu torehkan? Apa yang sudah kalian lakukan?
Waktu selalu berputar, maju dan tak pernah bisa diulang kembali. Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun selalu saja berganti, semuanya selalu bergerak maju, semua itu Tak Mungkin Bisa Terulang Kembali.

Akh ... ternyata usiaku kini sudah 17 Tahun 60 Bulan, usia yang bukan lagi remaja tetapi sudah masuk kategori pemuda. Namun, apa yang sudah aku lakukan? Seberapa manfaatkah? Atau apa yang sudah aku kuasai di usia tersebut?

Entahlah, yang jelas masih banyak hal yang harus aku pelajari. Masih banyak hal yang belum aku kuasai dan masih begitu minim “nilai manfaat” terhadap lingkungan disekitar dengan keberadanku. Akan tetapi bagaimana pun keadaan yang aku alami sekarang, tidak lain kecuali aku harus mensyukurinya. Tak boleh ketinggalan, usaha untuk menjadi lebih baik dan selalu belajar harus terus melekat dalam diri kita.
__

Allahu rabbii, Terima kasih atas setiap nikmat yang telah Engkau berikan. Nikmat yang kadang aku pun lupa untuk mensyukurinya.

Ibu Bapak, terima kasih atas belaian kasih sayangnya selama ini. Walau pun di hari genapnya usiaku yang ke 17 Tahun 150 Bulan kalian tak mengucapkan ucapan selamat maupun lantunan doa yang aku dengar, namun aku selau percaya bahwa di setiap selesai sholat namaku selalu ada dalam doa kalian. Terima kasih atas kesabaran dan kelembutannya mendidik serta membimbing putramu yang sampai hari ini belum bisa membuat kalian bangga. Karena kalian aku bisa tumbuh dan berkembang sehingga bisa merangkai tulisan ini. Allahu yarham wa yassir ‘alakuma.

Semua keluargaku, terima kasih atas setiap kasih sayang yang kalian berikan. Saudari kandungku Mba’ Nur, terima kasih atas kebaikannya kepadaku salama ini yang tak terkira ukurannya.

Semua guru-guruku, terima kasih atas ilmu yang kalian berikan. Semoga ilmu yang pernah kalian ajarkan menjadi ilmu yang manfaat dan menjadi wasilah serta pahala yang Allah berikan kepada kalian. Jika hari ini aku belum bisa menjadi murid yang seperti kalian harapkan, doa kan semoga Allah selalu menuntunku dan menunjukan jalan terbaik atas setiap langkah-langkahku.

Semua teman-temanku, terima kasih atas pelajaran dan pertolongan yang kalian berikan. Karena kalianlah saya bisa belajar banyak hal. Teman di pondok dulu, teman di desa, teman di kampus terutama PAI C angkatan 2012, teman di IPNU IPPNU, teman di IYD dan semua teman yang tak bisa aku sebutkan satu persatu, jazakallah khoirul jaza’.

Terima kasih ya Allah atas setiap karunia yang Engkau anugerhkan. Kepada semua orang yang pernah mengajariku dan membantuku, sekali lagi aku mengucapkan terima kasih dan semoga kebaikan kalian Allah balas dengan kebaikan yang berlipat. Aamiin.

Semoga saja di usiaku yang semakin bertambah dewasa aku bisa lebih banyak berkarya, memberikan kenyamanan dan kemanfaatan kepada orang-orang yang berada disekitarku. Aamiin


Banjarnegara, 29 Januari 2016 02:58 WIB
Simbah

Simbah

00:07:00 Add Comment
Hari itu langit terlihat cerah secerah perasaannya. Matahripun terlihat begitu bahagia menampakkan sinarnya seperti dirinya yang bahagia mengembangkan senyuman diwajahnya. Pakaianya pun terlihat begitu rapi tak seperti biasanya, berkemeja warna putih dan berdasi hitam seta dibalut dengan jas warna biru gelap. Penampilan yang jarang sekali ia lakukan dan sebenarnya memang tak ia inginkan. Hanya saja karena tuntutan sistem, maka iapun mengikuti saja.

Seminar proposal. Itulah alasan kenapa Rijal yang biasanya memakai baju berlengan pendek dan tak pernah memasukan bajunya di celana, kini penampilannya seolah seperti pekerja kantoran. Walaupun ia mengakui bahwa penampilannya terlihat rapi tetapi tetap saja itu hanya sementara.

Optimis dan tenang. Tak ada rasa cemas yang tergambar di raut mukanya, bahkan ia terlihat begitu semangat saat memasuki rungan berukuran 6x2 m, ruangan dosen penguji yang akan membantai dan menyuruhnya mengganti isi proposal yang telah ia buat. Tetapi, bukannya sedih malah ia merasa puas. Revisi bukanlah masalah menurutnya, yang penting dia menjadi paham apa yang akan ia tulis. Ya, sejak keluar dari ruangan penguji itulah ia baru menyadari bahwa proposal yang ia susun ternyata masih banyak kekuranganya. Begitupun ketika berhadapan dengan dosen penguji kedua, banyak koreksi dan lagi-lagi revisi.

“Jal, lagi dimana? Simbah di bawa ke Mendala sekarang,”sebuah pesan pendek dari ayahnya ia terima.

Seketika ia pun paham bahwa simbah di bawa ke RSI. Umur yang sudah tua membuat fisiknya semakin mudah terserang penyakit. Beberapa hari lalu ketika Rijal pulang, matanya terlihat seperti sipit. Menurut cerita dari ibunya, bahwa simbah sering asma dan sesak ketika bernafas. Bahkan sempat tidak bisa tidur karena tubuhnya terasa gerah.

“Lagi di kampus seminar proposal. Ya, nanti selesai ujian saya langsung ke RSI,” balas Rijal seketika.

Selesai seminar, Rijal pun langsung menuju RSI. Bangsal As-Salwa demikianlah nama tempat dimana simbah dirawat. Kamar nomor 7 dengan 8 ranjang pasien adalah tempat simbah dirawat. Sebuah pemandangan yang mengingatkan ia pada almarhum simbah kakung menghantui ketika melihat simbah putri tergelatak lemas di ranjang dengan selang infus terpasang di tangan. Tak hanya itu, selang oksigen juga terpasang di kedua hidungnya untuk membantu pernafasannya. Satu selang juga terpasang untuk menghindari buang air kecil di WC.


Bersambung .....
Bumida

Bumida

22:58:00 Add Comment
Percaya dengan kekuatan motivasi? Seberapa pentingkah motivasi itu?
Saya percaya dengan kekuatan motivasi, karena dengan motivasi itulah kita akan berbuat lebih baik. Sebagaimana hari ini misal, saya bangun pagi lebih awal. Kenapa? Karena saya harus ke Purwokerto untuk mengikuti training makerting di perusahaan Bumida. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi. Jadwal training seperti disebutkan ketika saya ke kantornya senin lalu adalah pukul 08.00 WIB. Karena jarak yang cukup lumayan jauh maka saya pun harus berangkat lebih awal, pukul 06.30 WIB. Motivasi saya harus berangkat pagi itulah yang membuat saya bangun lebih awal.

Tak kurang akal, karena tak ada orang yang saya mintai untuk membangunkan maka saya pun menggunakan alarm hp. Pukul 02.30 WIB 03.00 WIB 03.30 WIB 04.00 WIB dan 05.00 WIB itulah jadwal waktu yang saya gunakan untuk alarm di hp. Harapan saya ketika saya bisa bangun lebih awal maka saya pun bisa menggunakan untuk menulis dan sisanya untuk persiapan berangkat ke Purwokerto. Sayang, dari deretan jadwal yang saya pasang pukul 05.00 WIB adalah waktu yang saya pilih. Hahaha #Parah Tetapi maklum saja, saya pun baru tidur pukul 00.30 WIB.

Dari situ saja merenung bahwa terkadang sesuatu itu awalnya harus dipaksa. Dari paksaan itulah pada akhirnya akan menjadi kebiasaan dan dari kebiasaan itu menjadi sesuatu yang membudaya. Berat, memang itulah hal yang harus dilakukan untuk mengawali sesuatu. Bayngkan saja jika kita tak pernah memaksa diri untuk bangun pagi, maka yang ada kita pun bangun siang terus. Bukankah dari paksaan itu kita akan terbiasa untuk bangun pagi? Bukankah begitu?

Kembali ke topik awal, Bumida. Saya ikut ini berawal dari informasi yang mas Sakhirin berikan. Ya, dari dialah saya akhirnya ikut program asuransi ini. Motivasi saya adalah untuk belajar tentang dunia kerja, melatih kecakapan dalam berkomunikasi. Masalah profit, awalnya tak terlalau saya pikirkan. Yang membuat saya menerima tawaran ini adalah untuk belajar. Bisa bertemu dengan banyak orang dan dari pertemuan dengan banyak orang inilah saya akan menyerap ilmu mereka.
“Jalinlah silaturahim dengan orang lain sebanyak-banyaknya, karena dari merekalah terkadang Tuhan memberikan jalan agar apa yang kita impikan bisa tercapai. “
Pukul 08.00 WIB saya sudah sampai di depan kantor Bumida. Ternyata yang lain belum sampai, padahal angan-angan saya dan Eman sudah telat. Nyatanya malah molor sampai satu jam. Tetapi tak apalah saya menjadi tahu sistem kantor dalam mengawali aktifitas. Ketika semua sudah berangkat sekitar pukul delapan lebih 10 menit, doa yang dipimpin oleh salah satu karyawan dilantunkan. Setelah itu dibacakan visi misi perusahaan Bumida yang ditirukan oleh semua hadirin. Tak lupa, nasehat-nasehat segar yang disampaikan oleh Bapak Fathul Rozi selau direktur membuat saya mengingat nasehat-nasehat bijak yang sudah pernah saya dengar.

Tentang kenapa harus menyalahkan atau mentertawakan orang lain ketika melihat mereka salah, bukankah lebih baik kita merasa kasihan dan kalau bisa membenarkan mereka?

Tentang seorang pemimpin. Bagiamana pun keadaan seorang pemimpin, mereka mempunyai peran untuk memajukan atau membawa kesuksesan apa yang dipimpin.

Hampir pukul 9 pelatihan/training dimulai. Sesion pertama adalah pengenalan profil Bumi Putera. Kemudian motivasi tentang pentingnya sebuah impian atau tujuan atau cita-cita ataupun target.
1.      Apa yang ingin anda capai Tahun ini?
2.      Ingin menjadi apa anda dimasa mendatang?
Dua pertanyaan itulah yang disuruh untuk kami jawab. Alasannya sederhana, kita kalian jelas targetnya maka jelas pula jalan yang akan kalian tempuh. Dan ketika jelas apa targetnya maka kemungkinan tercapaipun akan lebih cepat.

“Orang yang tidak mempunyai tujuan tidak akan mencapai apa-apa. Orang yang mempunyai tujuan tetapi tidak FOKUS juga tidak akan mencapai apa-apa.”

Asuransi Kebakaran dan Asuransi Kecelakaan Diri, itulah materi yang disampaikan seusai istirahat dan sholat dhuhur. Dari sinilah saya memulai mengerti apa itu asuransi dan apa manfaatnya. Sebauah pengalaman pertama dalam dunia kerja. Akankah saya akan bertahan menjadi marketing asuransi? Padahal saya mempunyai keinginan untuk menjadi wartawan atau jurnalis? Biarlah, waktu yang menjawab. Karena saya percaya bahwa Allah selalu mempunyai cara agar hamba-Nya bisa tersenyum J.

Banjarnegara, 27 Januari 2016 22:54 WIB
Kesepakatan

Kesepakatan

21:55:00 Add Comment
Hei cinta, bagaimana kabarnya? Aku berharap engkau selalu dalam keadaan sehat dan tentunya selalu semangat. J

Satu minggu telah berlalu, ternyata lama juga ya. Tetapi tak apalah aku hanya ingin belajar meniru salah satu seniorku. Katanya mereka membuat kesepakatan salama satu bulan tak ada komunikasi walau mungkin masih bisa melihat profil sosmednya. Belajar apa? Belajar untuk bisa saling memahami tentunya. Atau mungkin belajar bagaimana kita bisa konsisten dengan keputusan yang kita buat. Haha

Bagaimana kabarku? Alhamdulillah selalu dalam keadaan sehat. Santai saja aku akan menjaga kesehatan dan pola makanku kok. Hahaha Cuma bagaimana denganmu, semoga saja apa yang selalu engkau ingatkan kepadaku juga menjadi prioritas dirimu. O ya bagaiamana tulisanmu, kok belum muncul lagi? Masa cuma satu tulisan? J #Maaf bukan memaksa tetapi berharap bisa menjadi semacam obat rindu. Hahaha

*Kepada pengunjung. Maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini. Abaikan saja jika menurut kalian tak bermanfaat. Tulisan ini hanya sebagai sarana untuk menyampaikan apa yang aku rasa kepada seseorang yang aku tuju J. Atau sebagai sarana berlatihku untuk mengembangkan tulisan. Bukankah berlatih menulis bisa dengan apa saja, termasuk dengan tulisan tentang apa yang aku rasa.

Banjarnegara, 27 Januari 2016 21:20 WIB
Berita

Berita

21:22:00 Add Comment
Rabu, 20 Januari 2016 menjadi saat dimana saya mendapati dua kabar, bahagia dan sedih. Bahagia karena dihari tersebut saya mengikuti seminar proposal. Walaupun harus revisi tapi setidaknya saya sudah melewati satu langkap untuk bisa ikut wisuda cepat. Skripsi tak mugkin bisa dikerjakan manakala belum selesai proposal. Dan seminar proposal adalah salah satu kunci yang nantinya saya akan mendapat pembimbing untuk penyusunan skripsi. Saya berharap bahwa Dr. Ngarifin Shiddiq, M.Pd.I akan menjadi pembimbing yang akan mengarahkan bagaiaman skripsi saya nantinya. Karena beliau adalah penguji pertama dalam seminar. Rumornya, pembimbing pertama itulah yang akan menjadi penguji. Semoga saja begitu.

Alhamdulillah satu persoalan selesai. Meskipun ini jadwalnya molor begitu panjang dari kesepakatan. Tapi tak apalah yang penting saya bisa selesaikan. Alasan? Mungkin saya punya alasan yang logis kenapa melenceng dari kesepakatan, selain alasan malas tentunya. Haha

Revisi judul dan daftar rancangan skripsi. Dua poin itulah hasil seminar dengan Pak Ngarifin. Sialnya, karena mengganti judul maka isinya pun harus diganti. Akh ... parah. Siap-siap saja harus mencari buku baru lagi buat referensi. Untungnya, dari seminar tersebut saya paham apa yang harus saya tulis kedepan. Jadi punya gambaran kedepannya J

Penguji kedua adalah Bapak Haryanto. Satu poin dari beliau adalah samakan format penulisan sesuai dengan yang dibuku panduan.

Berita Sedih
Di sela-sela waktu saya sedang menunggu antrian giliran seminar proposal, tiba-tiba bapak saya sms yang mengabarkan bahwa simbah putri masuk rumah sakit. Maka saya pun menjawab bahwa saya akan segera menyusul ke RSI Wonosobo setelah ujian seminar selesai.
Berita Bahagia
Setelah kabar berita gembira dan sedih diatas, di hari yang sama saya pun mendapat kabar gembira lagi. Arisan yang ibu saya ikuti menang. Namanya keluar ketika kotak yang berisi nama-nama orang yang mengikuti arisan di kocok. Saya pun tersenyum karena kebuntuan untuk mendaftar KPM dan membayar registrasi semester VIII terbuka jalannya. Hampir 2 juta uang yang harus saya siapkan. Penghasilan orang tua sebagai petani salak tak bisa diandalkan karena baru saja dipanen kemarin. Katanya satu bulan lebih, baru bisa dipenen kembali. Padahal kuota KPM hanya 600 orang dan itu seperti lomaba, siapa cepat itu yang dapat.

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan kepada Ilahi rabbi. Karena Dia selalu memberi jalan yang kadang tak terduga. Hati saya membatin, “Saya selalu takjub dengan cara kerja Tuhan”. Ya, Allah memang selalu punya jalan agar hamba-Nya bisa tersenyum. Semoga bisa ikut wisuda gelombang pertama. Aamiin.

*Semoga cepat sembuh mbah. Barakallahu ‘alaik wa thowwil umurik wa yasyfii mardhotik.


RSI Wonosobo, 21 Januari 2016 21:15 WIB

Game Untuk Mengetahui Kepribadian Seseorang

22:51:00 Add Comment
Apakah kamu Suka Bergadang ?
Hari teraakhir kegiatan Indonesian Youth Dream adalah Outbond. Kegiaatan yang begitu mengasyikan dan berisi nilai-nilai tentang pentingnya kerja sama.  Sebelumnya semua peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Yang mana setiap kelompok harus membuat yel-yel. Dan disini awal sebuah proses kreatifitas sangat diperlukan. Kecepatan untuk mencari ide dan tentunya sesaui dengan tema yang ada. Mengenai nama kelompok, ini sudah ditentukan panitia lewat kertas undian yang dibagi ke semua peserta. Kertas tersebutlah yang berisi nama kelompok serta menjadi kunci untuk mencari anggota lain yang namanya sesuai. Jenggo, demikian lah nama kelompok kami.

Proses outbond adalah proses dimana kecerian menjadi ciri khasnya. Karena beberapa hari sebelumnya selalu di ruangan. Membosankan, saya pribadi tidak merasakan hal itu karena selain mendapt ilmu baru saya merasa beruntung berada ditengah-tengah pemuda hebat se Nusantara. Suasana ruangan yang begitu hidup bahkan untuk bertanya pun harus lomba siapa cepat dia yang dapat. Pokoknya seru deh.

Nah, dalam tulisan ini saya ingin mereview tentang materi outbont di pos terakhir. Apa namanya? Entahlah saya lupa. Yang jelas intinya adalah untuk mengecek kepribadian seseorang baik itu sendiri maupun orang lain.
______________
Pertanyaan :
a.    Apa kamu suka bergadang?
b.    Apa kamu suka makan mie instan?
c.    Apa kamu mahir bermain catur?
d.    Apa kamu bisa berbicara dengan bahasa daerahmu dengan baik?
e.    Apa kamu bisa memanjat pohon?
f.     Apa kamu suka minum susu?
g.    Apa kamu mudah marah?
h.    Apa kamu pernah pergi ke luar negeri?
i.      Apa kamu mempunyai saudara kembar?
j.      Apa kamu pernah bekerja/ mencari nafkah sendiri?
Form TTD 
Game Kepribadian
Sistemnya adalah cari satu nama teman kamu dan satu teman Cuma boleh mengisi satu kolom saja. Kemudian harus mencari yang jawabannya “iya”.

No: diisi dengan nama pertanyaan (tulis poinnya misal pertanyaan A. Apa kamu suka bergadang? “Tulis saja A”) Nama : di isi dengan nama teman kamu TTD :Temanmu yang sudah mengisi disuruh untuk tanda tangan.

Awalnya kami pun berlomba-lomba untuk mengisi yang sebanyak-banyaknya. Hanya saja ketika di penghujung waktu yang ditentukan oleh fasilitor habis, kertas yang tadi kami tulis pun dikumpulkan. Di cek siapa yang menjawab pertanyaanmu.

Setelah selesai, Dreamer Ahmad menjelaskan bahwa permain tersebut salah satunya adalah untuk memberikan gambaran tentang kepribadian kita dan orang lain. Artinya kita tahu siapa kita dan kitapun tahu siapa mereka. Apa hobinya, apa kebiasaannya, apa sifatnya dst.
Mengenal Kepribadian, Pentingkah Hal Tersebut?
Tentu hal tersebut sangatlah penting. Kenapa? Karena dari situ kita bisa meningkatkan bakat apa yang kita miliki dan memperbaiki apa yang belum maksimal dalam diri kita. Sebagai salah satu cara untuk bercermin dan intropeksi diri.

Sudah tahukah kalian apa kelemahan dan kelebihan kalian? Jika belum, pertanyaan diatas mungkin bisa membantu. Untuk pertanyaan itu bisa kalain kembangkan sendiri sekreatif kalian J

Demikian, semoga bermanfaat.

#IYDCamp2015
#BeraniBerMIMPIBesar


Banjarnegara, 19 Januari 2016 22:39 WIB
Teruntuk Dosenku Mr. M

Teruntuk Dosenku Mr. M

18:16:00 Add Comment
“Karena otak tidak dapat memperhatikan semua hal, maka pelajaran yang tidak menarik, membosankan, atau tidak menggugah emosi, pastilah tidak akan diingat.” (Launa Ellison)

Entah kenapa sampai hari ini saya masih kepikiran dengan kejadian Jum’at lalu saat saya mau mengumpulkan tugas dan ternyata tidak diterima -untuk tidak mengatakan ditolak-. Nilai ? Bukan itu. Terus apa ? Entahlah, yang jelas saya ingin menuliskannya disini. Rumah sederhana tempat dimana saya akan mencurahkan hal yang saya rasa rasakan.

Selamat Sore Mr. M (biarkan saya saja yang tahu) gimana kabarnya hari ini? Semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan memudahkan segela urusan bapak. Aamin. Kejadian kemarin Jum’at, terima kasih pembelajarannya yang berharga walau ada hal yang membuat saya sampai hari ini masih belum bisa melupakan.

Baiklah, melalui tulisan ini saya hanya ingin agar hati saya plong, merasa kan kelegaan. Karena ada yang bilang salah satu terapi agar hati lega adalah menuliskannya. Dan itulah yang saya lakukan.

“Kamu kelamaan, baru saja saya setorkan”. Itulah yang bapak katakan waktu itu. Jika memang baru saja disetorkan, berarti saya hanya terpaut waktu sebentar donk pak. Kenapa bapak bersikukuh bahkan sampai berkata “Saya Tidak Mau” untuk mengambil daftar yang baru bapak setorkan. Akh .. padahal saya sudah menawarkan untuk mengambilkannya. Ketika saya menyetorkan tugas, kemudian bapak memberikan nilai. Apakah bapak harus mengambil kembali semua nilai ? Tidak bisakah misalkan bapak hanya menyetorkan nilai milik saya ? Serumit itu kah ?

Sama seperti mahasiswa lain, saya pun membayar sesuai dengan tagihan. Bukankah ketika saya telah memenuhi kewajiban, maka saya juga punya hak untuk mendapatkan hak saya?

Itu hanya unek-unek saya saja. Kenapa saya tuliskan? Karena saya tidak mau berdebat hanya masalah keterlambatan saya mengumpulkan tugas. Toh, saya sadar saya yang salah. Tapi tidak bisakah di lenturkan lagi keputusannya?

“Luk ada pesen dari pak M atas nama Heri, Rofiqoh, Alif, Madsolikhin suruh mengumpulkan tugas proposal hari ini di tunggu sampe jam 2 hari ini terakhir” (Tertanggal Rabu, 13 Jan 2016 Pukul 11.44 WIB)

Itulah pesan yang disampaikan oleh salah satu teman saya tertulis di group BBM. Jam 12, jika saya mengumpulkan jam 2 rasanya tidak mungkin karena waktu itu saya sedang mengantarkan Mba’ Nur ke pasar untuk membeli tas yang rencananya malam mau berangkat ke Jambi.

Untuk menyiasati hal itu saya pun mencari-cari teman yang mempunyai no bapak. Dan syukurlah saya memperoleh nomornya. Saya pun mengirim sms, memohon maaf tidak bisa mengumpulkan hari ini dan bertanya kira-kira kapan saya bisa mengumpulkan? Sayang, Tak Ada Jawaban. Ketika Jum’at bertemu, katanya tidak ada sms masuk. (Jawaban pertama). Ketika saya menanyakan benarkan nomor yang teman saya berikan? Bapak pun mengiyakan. Kemudian bilang, saya orang yang jarang buka sms (jawaban kedua).

Karena tak ada balasan, hari berikutnya saya mencoba untuk menambah koleksi daftar pustaka sebagiaman kata teman saya minimal harus 25. Hingga akhirnya, hari Jum’at lah saya berkesempatan untuk mengajukan ke Kaprodi sekaligus untuk mengumpulkan. Hanya saja nasib sedang tak berpihak, meskipun sudah di ACC tetapi tetap saja mengumpulkannya telat dan ya mau gimana lagi lha wong katanya udah disetorkan ke bosnya.

Terlambat. Iya harus saya akui dan bukankah sikap sejati seseorang ketika mau mengakui kesalahannya. Termasuk ketika tulisan ini saya buat, saya tak akan menggunakan sudat pandang saya saja. Saya salah, iya saya salah. Karena melebihi deadline yang diberikan. Ketika konsekuensi tugas di tolak, ya namanya saja juga resiko. Bukankah itu karena ulah saya sendiri. Rabu katanya terakhir, eh Jum’at baru mengumpulkan. Bukankah itu salah ?

Hmmm ... Harus ikhlas dan mau menanggung konsekuensi. Itulah kata terakhir sebelum saya keluar ruangan milik bapak. Kalau memang itu prinsip yang bapak pegang, saya pun harus menghargainya. Karena tak mungkin donk saya harus memohon sampai menangis agar bisa diterima tugasnya. Ketika saya mencoba melobi agar mendapat tugas tambahan atau tugas lain sebagai ganti atas keterlambatan yang saya lakukan. Tidak Bisa. Kalau mau ya silahkan ikut SP. What ..? Aduh, harus membayar lagi donk !!!

Saya kira cukup lah apa yang saya tuliskan di atas untuk mengobati greget di hati yang membuncah agar dituliskan. Semoga bisa menjadi pelajaran berharga buat saya agar kedepan bisa lebih baik. Terima kasih pak atas pembelajarannya meskipun harus melalui hal yang menyesakkan hati J.
_______
Bukankah salah satu tugas pendidik adalah agar muridnya berubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa dan dari salah menjadi benar. Bukankah itu proses? Tetapi kenapa ketika muridnya sedang berusaha untuk memperbaiki diri, malah ditebas semangatnya.


Pojok Kamar, 18 Januari 2016 17:50 WIB
Satu

Satu

07:06:00 Add Comment
Buku

“Aku ingin punya perpustakaan. Aku ingin suatu saat nanti salah satu karyaku nagkring di rak buku berjejer dengan deretan buku yang ada disana, Pasti.” Itulah harapan yang Rijal simpan dan selalu ia katakan dalam hati ketika berkunjung ke toko buku atau mengunjungi pameran bazar buku.

Menjadi penulis, sebuah mimpi yang beberapa tahun terakhir ini begitu menguat dalam kehidupannya. Sebelumnya, ia seolah tak punya cita-cita yang pasti. Hidup mengalir laiknya air. Tapi ketika membaca salah satu tulisan tentang passion ia akhirnya berpikir, “apa passion ku?”. Salah satu tulisan yang membuat ia tersadar adalah sebuah kata, “Bekerjalah sesuai passionmu, niscaya engkau akan bahagia dan menikmatinya.”

Pasca itu ia pun mencoba untuk merenungi tentang dirinya, apa kekurangan dan kelebihannya. Hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk mendalami dunia tulis menulis. Pilihannya itu tidak lain adalah hasil perenungan dan intropeksi diri yang ia lakukan salama ini. Selain itu pilihannya juga karena terinspirasi oleh para ulama yang kitab hasil tulisannya masih dikaji oleh para santri di pesantren seluruh nusantara. Akh .. betapa senangnya ilmunya bermanfaat dan walau sudah meninggal namun pahalanya masih saja mengalir bagaiakan air.

Ia pun selalu ingat dengan kata-katanya Pramodya Ananta Toer yang disampaikan oleh gurunya, bahwa orang boleh pandai setinggi langit, namun selama ia tidak berkarya maka iapun akan tenggelam dalam masyarkat dan dalam sejarah. Kata-kata itulah yang menjadi pelecut semangatnya.

“Hey, bengong saja. Mikirin apa? Jadi beli buku gak?” kata Rofik sambil menepuk punggung membuat Rijal kaget.

“Eh, jadi dong. Nafsuku gak kuat ku tahan lihat pameran buku gini kalau gak membelinya. Hahaha” balas Rijal sambil berkelekar.

“Fik, suatu saat nanti akan ada karyaku yang ikut berjejer dengan deretan buku baik di rak toko buku ataupun bazar seperti ini,”lanjut Rijal sambil menoleh ke arah Rofik.

“Aamiin. Semoga Allah mendengar dan mengabulkan harapanmu,” jawab Rafik sambil tertawa.

Kopi Sumatra di Amerika karya Yusran Darmawan dan Novel Kakak Batik karya Kak Seto, dua buku itulah yang dibeli oleh Rijal. Sementara Rofik hanya membeli satu buku, The Naked of Traveler karya Trinity. Dalam pemikiran keduanya buku menjadi investasi masa depan. Cara berpikirnya pun sederhana. Dari pada uangnya habis untuk membeli sesuatu yang cepet habis dan tak bersisa, mending disisihkan untuk membeli buku. Tahan lama dan pasti ada hal-hal baru yang bisa ditemukan dalam setiap buku yang dibelinya.

“Suatu saat nanti, aku akan membuat perpustakaan agar anak kecil di desaku menjadi gemar membaca dan tumbuh menjadi generasi yang mempunyai cakrawala yang luas,” kata Rijal dalam hati.


Banjarnegara, 16 Januari 2016 02:31 WIB
Proposal Skripsi

Proposal Skripsi

23:59:00 Add Comment
Jika ada dua peraturan, satu ketat dan satu longgar anda milih yang mana ..?
Saya pribadi memilih yang longgar. Tetapi keduanya pasti punya konsekuensi sendiri-sendiri. Nah, kalau dalam hal pendidikan seperti proposal skripsi kira-kira milih yang mana antara yang mudah di Acc ketika meminta rekomendasi atau yang sulit. Lagi-lagi saya memilih yang mudah. Hanya saja, kemudahan itu membuat saya rasanya kurang tertantang apalagi ketika meminta rekomendasi tak ada komentar apapun. Di lihat, dibolak-balik kemudian di coret yang terlihat salahnya mencolok kemudian di tulis, “Acc Diseminarkan” dibawahnya dibumbui dengan tanda tangan dan tanggal hari tersebut.

Melihat hal tersebut saya hanya tersenyum saja. Setidaknya saya bisa ikut seminar selasa besok yang artinya satu beban terselesaikan. Bukankah hidup laiknya sebuah tangga, ketika kita berhasil naik satu tangga masih banyak tangga yang harus didaki.

Tak ada komentar. Sudah benarkah? Entahlah yang jelas, ini hanya awal saja. Keputusan revisi dan perbaikan ada tugasnya sendiri, penguji. Ya, di tangan penguji lah nasib proposal saya nantinya harus seperti apa yang dari penguji tersebut salah satunya akan menjadi pembimbing.

Tentang proposal yang saya buat sebenarnya masih belum terlalu mantap, hanya saja karena terdesak oleh waktu dan jadwal kegiatan yang tak menentu sehingga penelitian tentang akhlak dengan mengkaji kitab akhlaqul banin menjadi pilihan saya. Sempat ingin ganti judul saat Pak Nurul Mubin memberikan komentar bahwa tanpa membaca tulisan saya, orang lain pun sudah paham apalagi orang pesantren. Bagaimana tidak, kitab akhlaqul banin adalah kitab dasar yang diajarkan di peantren. Artinya kitab akhlaqul banin ini sudah menjadi pengetahuan umum yang kebanyakan orang sudah mengetahui isinya.

Setidaknya apa yang saya tulis akan menjadi bahan pembelajaran buat saya pribadi. Itulah alasan kenapa saya tetap mempertahankan judul tersebut disamping ada rasa malas juga. Hehe Walaupun saya sangat berharap bahwa skripsi yang nantinya saya buat bisa dibukukan. Menimal di usia yang relatif masih muda (dibawah 25 tahun) saya sudah mempunyai karya. Itu harapan saya, akan tetapi jika Allah berkehendak lain, semoga ada jalan lain yang bisa saya tempuh untuk bisa menjembatani saya berkarya.

Kenapa berkarya? Karena sepandai dan sehebat apapun kita, kata Pramodya Ananta Tour ketika tidak berkarya maka akan hilang dalam dalam masyarakat dan sejarah.


Banjarnegara, 15 Januari 2016 23:48 WIB
Kenapa Ingin Jadi Blogger ?

Kenapa Ingin Jadi Blogger ?

22:46:00 6 Comments
Beberapa hari kemarin ketika berselancar di facebook entah awalnya dari mana saya nyasar dan tertarik dengan sebuah tautan tentang komunitas Bloger Semut. Ketika saya membaca tentang seluk beluknya tentang visi misi lengkap dengan filosofi kenapa memilih nama semut maka sayapun tertarik. Namun waktu itu saya hanya meninggalkan jejak di kolam komentar, “Wah sangat inspiratif mas …. Semoga bisa ikut gabung dan belajar lebih dalam ttg dunia blogging J”.

Malam ini ketika saya sedang bersantai sambil menikmati kopi, saya membuka lagi facebook milik mas Sandi Iswahyudi dan mengirim pesan di inbox sesuai dengan syarat yang tertulis ketika ingin bergabung di Blogger Semut. Tak menunggu lama, pesan balasan pun saya terima. Ketika saya bertanya mengenai perihal syarat, maka mas Sandi pun mengirim link tulisan yang sebenarnya sudah saya baca. Tetapi untuk meyakinkan dan memastikan bahwa saya mau gabung, maka saya pun mengirim pesan lewat inbox. Dan sebagaimana tertera di tulisan yang link nya mas Sandi kirimkan, saya harus menulis alasan kenapa saya ingin Jadi Blogger.
Alasan Kenapa Saya Ingin Jadi Blogger
Otak ku bukan lah komputer yang bisa menyimpan berbagai informasi dengan durasi yang begitu lama. Fitrah sebagai seorang manusia, Tuhan pun menganugrahkan sifat lupa. Maka untuk menyiasai hal tersebut, tulisan menjadi salah satu alternatif yang saya gunakan. Tulisanpun saya rasa tidak cukup kalau hanya di simpan di netbook. Kenapa ? Ketika netbook bermasalah, seperti rusak atau hilang maka raib pula semua tulisan yang pernah saya buat.

Blog adalah salah satu media yang saya rasa pas untuk mengatasi permasalahan di atas. Selain menyimpan tulisan, jika suatu saat kita mau membuka kembali tulisan yang pernah kita buat maka kita pun mudah menemukannya. Tentu membacanya juga lebih enak daripada membaca di Ms. Word. Satu lagi, dimanapun yang penting ada koneksi dengan internet kita bisa dengan mudah mengaksesnya. Bayangkan jika hanya di netbook, maka untuk membacanya pun terbatas. Ya kita harus membuka netbook, ya kalau di bawa kalau tidak ..?

Alasan lain kenapa saya ngeblog adalah karena saya merasa memiliki passion di bidang tulis menulis dan punya impian untuk menjadi seorang penulis. Dan syarat mutlak untuk menjadi seorang penulis ya menulis, menulis dan menulis. Selain didukung dengan faktor lain seperti membaca. Sehingga blog menjadi alasan untuk menjembatani saya meraih mimpi saya, Penulis.

Mengabadikan moment. Ada saat-saat dimana kita berada dalam kondisi bahagia, sedih atau mungkin mengalami kegagalan ataupun keberhasilan dalam suatu hal. Moment tersebut tentu akan berlalu karena kehidupan selalu berputar laiknya sebuah roda. Maka, untuk mengabadikan moment tersebut salah satunya adalah dengan tulisan. Beberapa tahun kemudian, mungkin akan menjadi pelajaran berharga dan bisa jadi membuat kita tersenyum ketika mengingatnya kembali.
Mimpi dan Harapan Saya Ketika Jadi Blogger
Apa mimpi dan harapan saya ketika jadi Blogger? Saya ingin jadi penulis. Saya ingin bisa berkarya sebagaimana lecutan semangat yang pernah Pramoedya Ananta Toer katakan, “Orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama dia tidak menulis maka dia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadaian”.

Ya, menulis adalah bekerja untuk keabadaian. Menulis adalah berkarya untuk kita bisa dikenang. Setidaknya tulisan akan membuktikan bahwa kita pernah ada. Membuktikan bahwa selama kita hidup ada hal yang bisa kita lakukan untuk orang lain.

Ingin berbagi. Ada hadits yang mengatakan bahwa, “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia yang lain”. Maka ketika saya tak bisa membantu orang lain dengan harta, setidaknya saya mempunyai tulisan yang mungkin bisa bermanfaat untuk orang lain. Laiknya misi dari Komunitas Blogger Semut, menyebarkan virus positif. Harapannya ketika banyak kontent yang positif maka pengguna internet atau lebih luasnya masyarakat Indonesia akan tersetrum oleh aliran positif tersebut sehingga mereka pun akan melakukan hal-hal yang positif.
Apa Isi Blog Saya
Apa isi blog yang saya miliki ..? Sebagaimana saya singgung diatas bahwa salah satu alasan kenapa saya ngeblog adalah untuk mengabadikan moment, maka blog yang saya miliki adalah tulisan hasil pengalaman dan sesuatu yang dalam kaca mata saya layak untuk di posting. Karena saya yakin bahwa dibalik setiap tulisan yang kita buat ada nilai-nilai yang terselip. Itu yang nantinya bisa membuat para pembaca terinspirasi dan bisa berubah menjadi lebih baik.

Selain itu, dalam beberapa kesempatan membaca buku ada hal-hal yang menarik dan kita rasa penting. Nah, hal yang menarik dan penting tersebut kan sayang jika terlewat begitu saja. Salah satu solusinya adalah menuliskannya dalam bentuk review. Iya kalau buku yang kita baca miliki kita, kalau buku tersebut hasil pinjeman kan susah.

Mas Sandi, mungkin itu beberapa alasan, mimpi, harapan dan apa isi blog yang saya miliki. Tertulis, syaratnya minimal menulis 500 kata. Saya kira ini sudah lebih dari 500 lho .. Hehe

Semoga bisa bergabung di Komunitas Blogger Semut untuk bisa menimba ilmu, bersinergi dan tentunya bisa berbagi untuk orang lain. Bersinergi untuk menyebarkan virus positif sehingga akan berdampat positif pula untuk generasi muda Indonesia J
Banjarnegara, 11 Januari 2015 22:36 WIB
Keputuasan

Keputuasan

17:35:00 Add Comment
Semut disebrang lautan nampak jelas, tetapi gajah dipelupuk mata tak terlihat.
Kira-kira seperti itulah salah satu peribahasa yang sudah sangat familier di masyarakat. Yang penafsirannya mengenai seseorang yang melakukan kesalahan kecil langsung terlihat tetapi kesalahan sendiri tidak terliahat sama sekali. Sttt .. Jangan salah tafsir terlebih dahulu. Di sini saya hanya menyoroti arti yang pertama bukan yang kedua.

Hari ini saya merasa dalam kondisi demikian. Tepatnya ketika saya menolak untuk menjadi pe***l*h. Tentu saya punya alasan tersendiri kenapa saya menolaknya. Pertama karena hati nurani saya menolak untuk membuat laporan abstrak yang tidak saya kerjakan. Walaupun mudah untuk membuatnya, tetapi ada beban moral tersendiri ketika saya membuatnya. Menulis apa yang tidak saya kerjakan. Itulah alasan yang membuat saya tidak menerima tawaran untuk mengajukan lamaran menjadi pe***l*h kembali.

Saya menyadari bahwa beliau bermaksud baik dan sangat baik malah. Tetapi bukankah kita yang menjalani konsekuensi atas apa yang kita pilih ..? Dan saya tidak mau tertekan dan merasa bersalah jika saya tak melakukan sesuai dengan kewajiban per bulan menyetorkan laporan. Selain itu, menjadi pe***l*h bukanlah keinginanku dan saat ini saya merasa tidak cocok. Saya lebih tertarik pada profesi lapangan yang bisa berkeliling dan berjelajah satu tempat ke tempat yang lain.
Keputuasan
Sabtu, 26 Desember 2015 tepatnya ketika saya mengirimkan sms untuk tidak ikut lagi. Sebenarnya ingin sowan, tetapi karena waktu yang tidak memungkinkan dan ada sms dari salah satu teman saya yang mengabarkan untuk memberikan kepastian, maka saya pun memberanikan diri untuk mengirimkan sms perihal ketidak ikutan saya di tahun berikutnya. Masalah nanti beliau marah atau sifatnya berubah kepada saya, biarlah. Setidaknya saya sudah berani mengambil keputusan sesuai dengan hati nurani saya sendiri. Daripada nanti saya yang mengutuk diri senndiri perihal ketakutan mengambil keputusan yang tidak berani untuk mengatakan “TIIDAK”. Lebih baik saya menegaskan di awal.

Karena tidak ada usaha maka tidak ada pula hasil. Nah, itu pun sudah saya pikir matang-matang. Namun saya pun yakin bahwa Allah Maha Kaya. Dia begitu mudah memberikan jalan rezeki kepada hamba-Nya. Saya pun yakin, pasti ada jalan lain yang Allah siapkan ketika saya mengambil keputusan di atas.

Masalah perasaan “tidak enak” ini lah yang terkadang membuat orang tidak berubah. Sebagaimana kamarin saya membaca buku yang bercerita tentang sekolah dimana sang Kepala Sekolah menerapkan sistem, siapapun yang terlambat baik itu siswa ataupun guru dan sataf tata usaha harus berlari mengitari halaman sebagaimana hasil musyawaroh untuk menerapkan pentingnya disiplin.

Sebelum kesepakatan tersebut dibuat, sang Kepala Sekolah tidak pernah terlambat. Suatu ketika sang Kepala Sekolah sengaja untuk datang terlambat, namun tidak ada satupun guru atau sataf tata usaha yang menghukum. Dengan kesadaran sendiri sang Kepala Sekolah pun berlari mengitari halaman yang ditonton oleh siswa dan guru.

Pada saat jam istirahat, sang Kepala Sekolah bertanya kepada guru dan sataf tata usaha yang ada di kantor, “Saya terlambat. Kenapa tidak ada yang menghukum ..?” Guru dan staf tata usaha pun menjawab, “Kami tidak enak kalau harus menghukum pimpinan kami.”

“Terima kasih jika bapak dan ibu merasa tidak enak untuk menghukum saya. Tetapi mohon diketahui bahwa sikap seperti itulah yang selalu menghambat perubahan. Karena menjadi tidak komit dan konsisten dengan kesepakatan kita. Karena bapak ibu tidak menghukum saya, maka saya pun menghukum diri saya sendiri,” demikianlah sang kepala Sekolah bertutur kepada guru dan staf tata usaha ketika itu.

Akh ... kok jadi ngelantur ya. Yang jelas saya sudah berani mengambil keputusan. Masalah itu membuat orang lain tidak berkenan, itu masalah lain. Dan apa pun konsekuensinya saya pun siap.
Bukankah setiap keputusan punya konsekuensi sendiri-sendiri ..?


Banjarnegara, 11 Januari 2016 17:29 WIB
Sebuah Harapan

Sebuah Harapan

10:51:00 Add Comment
Malam ini di tempat yang begitu dingin entah ada hawa apa keinginan untuk menulis tak kuasa ku bendung. Kegiatan yang beberapa waktu sempat ku abaikan. Akh ... bukan ku abaikan tetapi tak aku sempatkan walau sebenarnya banyak hal yang ingin aku tulis.

Cinta. Ya, engkaulah yang membuatku memaksa untuk menulis. Menulis tentang kerinduan yang aku pun tak bisa untuk menuliskan apa yang aku rasa. Rindu akan bisa bergurau denganmu.

Cinta, mau kah engkau mendengar ceritaku ? Cerita tentang kegalauan yang aku rasa saat ini. Mungkin bukan galau tetapi lebih tepatnya gelisah.

Jurnalis, penulis, wartawan. Itulah yang selama ini menjadi jawaban ketika ada seseorang bertanya mengenai jurusan yang aku pilih. Tarbiyah, guru. Maka dengan jawaban idealis aku selalu mengatakan bahwa aku tak ingin menjadi guru, tetapi wartawan. Kenapa ..? Tentu ada alasan tersendiri mengapa aku menjawab demikian. Salah satunya karena aku ingin meng-update kemampuan yang aku miliki dan belum tergali sehingga jika nantinya menjadi guru, aku bisa menginspirasi bukan hanya sekedar menyampaikan materi saja.

Cinta, itu alasanku. Tentu bukan bermaksud untuk mengendorkan semangat yang engkau miliki, bukan cinta. Ketika engkau punya motivasi tersendiri aku pun menyerahkan sepenuhnya kepadamu. Teruskan cinta, pilihlah apa yang hati kecilmu katakan. Karena aku pun yakin bahwa engaku punya alasan tersendiri.

Sekitar setengah tahun lagi insya allah S1 ku selesai. Saat itu pula pergulatan pun akan aku mulai, bisakah aku menjadi seperti yang aku impikan ..? Semoga saja Allah memudahkan jalannya. Karena aku yakin tak ada yang sulit jika Allah menghendaki. Tentu ikhtiyar sebagai penjemput kehendak-Nya tak bisa diabaikan.

*Di tulis ketika bermalam di rumah Mas Imam Faruq seusai dari Batur, kordinasi dengan MWC NU dan Ansor guna pembentukan kepengurusan PAC IPNU IPPNU Kec. Batur.


Wonosobo, 8 Januari 2016 00:08 WIB